Palung Mariana, Kegelapan Pekat di Lubang Terdalam Lautan

Ilustrasi/referensiberita.com
Palung Mariana tidak terlihat dari luar. Itulah hal pertama yang membuatnya berbeda dari hampir semua tempat terkenal di Bumi.

Gunung Everest menjulang ke langit. Grand Canyon menganga di tengah daratan. Air Terjun Niagara menggemuruh begitu keras hingga suara percakapan nyaris tenggelam. Orang bisa berdiri di depan semua tempat itu dan berkata, “Ya, saya pernah melihatnya.”

Palung Mariana tidak memberi kemewahan semacam itu. Kapal yang melintas di atasnya hanya melihat permukaan laut Pasifik yang tampak biasa: ombak, angin, langit, dan burung laut sesekali. Tidak ada tanda bahwa tepat di bawah lambung kapal terbentang jurang raksasa yang begitu dalam sehingga Everest, jika dijatuhkan ke sana, puncaknya masih akan berada lebih dari satu kilometer di bawah permukaan laut.

Fakta itu selalu terasa sedikit tidak masuk akal.

Lokasinya berada di Samudra Pasifik bagian barat, dekat Kepulauan Mariana, sekitar 200 kilometer sebelah timur Guam. Palung itu membentang sepanjang sekitar 2.500 kilometer. Titik terdalamnya dikenal sebagai Challenger Deep. Pengukuran modern menghasilkan angka yang sedikit berbeda-beda, tetapi kedalamannya berada di kisaran 10.900 meter hingga hampir 11.000 meter. Angka-angka semacam itu mudah dibaca, sulit dirasakan.

Saat menyelam beberapa meter di laut, telinga manusia sudah mulai terasa tertekan. Pada kedalaman puluhan meter, penyelam membutuhkan peralatan khusus. Pada kedalaman ratusan meter, kegelapan mulai mengambil alih. Di Challenger Deep, tekanan air mencapai lebih dari seribu kali tekanan atmosfer di permukaan. Kurang lebih setara dengan berat puluhan pesawat jumbo yang ditekan ke tubuh manusia.

Tubuh manusia tidak dirancang untuk tempat seperti itu.

Aneh juga. Kita hidup di planet yang 71 persen permukaannya tertutup air, tetapi sebagian besar manusia lebih mengenal permukaan Bulan dibanding dasar samudra terdalam.

Banyak orang mengira Palung Mariana misterius karena kemungkinan adanya monster laut atau makhluk aneh yang belum ditemukan. Itu memang bagian dari daya tariknya, tetapi misteri sesungguhnya jauh lebih sederhana sekaligus lebih mengganggu: kita benar-benar tidak tahu banyak tentang tempat itu.

Peta Mars terus diperbarui. Teleskop memotret galaksi yang jaraknya miliaran tahun cahaya. Kendaraan robot menjelajahi permukaan planet lain. Dasar laut terdalam di planet tempat kita tinggal sendiri masih seperti wilayah yang hanya disurvei sekilas.

Kesan itu semakin kuat ketika melihat sejarah eksplorasinya. Pada Januari 1960, dua orang turun ke Challenger Deep menggunakan kapal selam kecil bernama Trieste. Salah satunya adalah Jacques Piccard, putra ilmuwan Swiss terkenal Auguste Piccard. Orang lainnya perwira Angkatan Laut Amerika Serikat bernama Don Walsh. Perjalanan turun memakan waktu hampir lima jam.

Bayangkan duduk di dalam bola logam sempit berdiameter sekitar dua meter. Dindingnya tebal. Cahaya matahari menghilang sedikit demi sedikit. Laut berubah jadi hitam total. Tidak ada jendela panorama seperti dalam film fiksi ilmiah. Hanya beberapa lubang pandang kecil.

Ketika mereka mencapai dasar, terdengar bunyi retakan keras. Salah satu jendela luar mengalami kerusakan parsial akibat tekanan. Bunyi itu cukup membuat siapa pun berkeringat dingin. Tubuh mungkin tetap diam, tetapi jantung pasti bergerak lebih cepat.

Mereka hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit di dasar sebelum kembali naik. Dua puluh menit.

Perjalanan menuju titik terdalam lautan membutuhkan hampir sehari penuh, dan waktu pengamatannya bahkan tidak sepanjang satu episode serial televisi.

Lebih dari lima puluh tahun kemudian, sutradara film terkenal, James Cameron, turun sendirian ke Challenger Deep menggunakan Deepsea Challenger. Banyak orang mengenalnya sebagai pembuat film Titanic. Sebagian tidak sadar bahwa Cameron menghabiskan bertahun-tahun mengembangkan obsesi terhadap eksplorasi laut dalam.

Ketika ia mencapai dasar palung pada 2012, ia menggambarkan pemandangan di luar sebagai tempat yang sunyi, asing, dan hampir seperti dunia lain. Ungkapan itu sering dipakai berlebihan. Dalam kasus Palung Mariana, deskripsinya terasa masuk akal.

Mata manusia berkembang untuk melihat dunia yang diterangi Matahari. Dasar Palung Mariana tidak pernah melihat cahaya Matahari. Tidak pernah. Satu foton pun tidak berhasil mencapai kedalaman tersebut. Siang dan malam tidak memiliki arti. Musim tidak memiliki arti. Matahari yang menentukan ritme kehidupan hampir semua makhluk di Bumi tidak memiliki kekuasaan di sana.

Meski begitu, kehidupan tetap muncul. Bagian itu sering terasa lebih aneh daripada cerita monster laut.

Para ilmuwan menemukan amphipoda transparan yang menyerupai udang kecil, teripang laut aneh, mikroorganisme yang mampu bertahan dalam tekanan luar biasa, serta berbagai bentuk kehidupan yang tampaknya tidak peduli bahwa mereka hidup di salah satu lingkungan paling ekstrem di planet ini. Tubuh mereka tidak melawan tekanan. Mereka beradaptasi dengannya.

Sebagian besar makhluk laut dalam terlihat seperti hasil sketsa seseorang yang sedang kurang tidur. Mata yang terlalu besar. Tubuh seperti gel. Rahang yang tidak proporsional. Bentuk-bentuk yang membuat ikan biasa tampak konservatif.

Saya pernah melihat rekaman beberapa organisme laut dalam di layar besar. Pikiran terasa melayang setelah menatap lama. Bukan karena menakutkan. Lebih karena otak kesulitan mengkategorikan apa yang sedang dilihat.

Palung Mariana juga menyimpan ironi yang tidak menyenangkan. Ketika ilmuwan mengirim wahana ke dasar palung, mereka menemukan sampah manusia. Kantong plastik. Kaleng. Serat sintetis. Mikroplastik.

Planet ini memiliki tempat yang begitu jauh dari peradaban sehingga hanya segelintir manusia pernah mengunjunginya, tetapi jejak manusia berhasil tiba lebih dulu daripada sebagian besar ilmuwan. Gambaran itu terasa agak memalukan.

Kisah Palung Mariana sebenarnya bukan kisah tentang kedalaman semata. Banyak tempat dalam di alam. Tambang bisa sangat dalam. Gua bisa sangat dalam.

Yang membuat palung itu berbeda adalah kombinasi beberapa hal sekaligus: tekanan ekstrem, kegelapan permanen, keterasingan geografis, dan fakta bahwa sebagian besar wilayahnya belum pernah diamati secara langsung.

Ketika orang mengatakan bahwa kita mengetahui lebih banyak tentang permukaan Bulan daripada dasar samudra terdalam, kalimat tersebut sering diperdebatkan secara teknis. Dalam beberapa aspek tertentu, pernyataan itu memang penyederhanaan. Namun sebagai gambaran umum, arahnya tidak jauh meleset.

Manusia sudah mengirim belasan astronot ke Bulan. Jumlah manusia yang pernah mencapai Challenger Deep bisa dihitung dengan sangat mudah. Kesenjangan itu terasa ganjil.

Spesies yang mampu memotret lubang hitam, menghitung usia bintang, dan mengirim mesin ke Mars, masih memiliki wilayah di planet asalnya yang tampak seperti halaman kosong pada peta.

Di atas Palung Mariana, kapal-kapal terus melintas. Ombak terus bergerak. Matahari terbit dan tenggelam seperti biasa. Penumpang pesawat yang melintas ribuan meter di atasnya mungkin sibuk menonton film atau tidur.

Hampir sebelas kilometer di bawah mereka, kegelapan tetap menunggu, dingin, sunyi, dan berat. Tidak melakukan apa-apa. Tidak perlu melakukan apa-apa.

Tempat itu sudah berada di sana sebelum piramida Mesir dibangun. Tempat itu tetap berada di sana ketika komputer pertama ditemukan. Tempat itu tetap berada di sana ketika manusia mendarat di Bulan.

Dan ketika layar sonar kapal sesekali menggambar garis-garis kasar bentuk dasarnya, rasanya seperti sedang mengintip sebagian kecil dari sesuatu yang belum selesai dipahami.


Related

Nature 140566966135326765

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item