Pedro de Valdivia, Penjahat yang Diabadikan Sebagai Nama Kota

Ilustrasi milik BSM
Patung Pedro de Valdivia pernah berdiri dengan tenang di Plaza de Armas, Santiago. Kuda perunggunya tegak, pedang mengarah ke depan, pose klasik penakluk Eropa yang tampaknya selalu dibuat seolah mereka baru saja menyelamatkan dunia dari kekacauan. Burung merpati bertengger di helmnya. Orang-orang makan es krim di bangku taman, beberapa meter dari sana. Bus kota lewat. Anak sekolah bercanda sambil memainkan ponsel.

Di bagian selatan Chili, terutama di wilayah yang lama dihuni Mapuche, nama Valdivia tidak pernah sepenuhnya jinak.

Ada sesuatu yang aneh tentang cara Amerika Latin merawat memori conquistador. Kota-kota memakai nama mereka. Jalan raya memakai nama mereka. Monumen mereka dipoles. Sementara kronik asli penaklukan sering terasa seperti catatan demam manusia-manusia yang sudah terlalu lama hidup bersama emas, darah, dan kelaparan.

Valdivia lahir di Extremadura, Spanyol. Wilayah yang juga melahirkan banyak conquistador lain seperti Hernán Cortés. Tanah Extremadura keras dan miskin. Banyak pemuda di sana tumbuh dengan imajinasi tentang Dunia Baru sebagai tempat keluar dari kemiskinan dan kebosanan feodal Eropa. Amerika Selatan bagi mereka bukan sekadar benua; lebih mirip mesin penghasil peluang brutal.

Ia pernah menjadi tentara di Eropa sebelum berlayar ke Amerika. Pengalaman perang membentuk banyak conquistador. Mereka terbiasa melihat tubuh robek dan kota terbakar sebelum tiba di Andes.

Valdivia awalnya ikut jaringan penaklukan Peru di bawah Francisco Pizarro. Dunia Spanyol di Amerika waktu itu penuh persaingan antar-penakluk sendiri. Pengkhianatan, perebutan emas, perang saudara kecil antar-faksi conquistador. Orang-orang itu membawa salib dan surat kerajaan Spanyol, tapi juga membawa keserakahan yang nyaris telanjang.

Ketika Valdivia bergerak ke selatan menuju wilayah Chili sekitar tahun 1540, rombongannya terdiri dari ratusan orang Spanyol, beberapa budak Afrika, ribuan sekutu pribumi dari wilayah lain, kuda, babi, anjing perang. Mereka menyeberangi gurun Atacama yang brutal—debu, panas, langit pucat yang seperti tidak punya belas kasihan. Beberapa kronik menggambarkan orang-orang minum air bercampur lumpur dan darah hewan demi bertahan hidup.

Santiago didirikan Valdivia tahun 1541 di lembah Sungai Mapocho. Kota itu awalnya kecil dan rapuh. Rumah-rumah lumpur. Benteng sederhana. Ancaman serangan selalu dekat.

Beberapa bulan kemudian, pemimpin pribumi Michimalonco menyerang Santiago. Kota dibakar. Api melahap bangunan kayu dan jerami. Spanyol nyaris kalah total.

Di tengah kekacauan itu, muncul nama Inés de Suárez, perempuan Spanyol yang ikut ekspedisi Valdivia dan juga kekasihnya. Kronik lama menggambarkan Inés memenggal tawanan kepala suku, lalu melempar kepala mereka ke arah penyerang untuk menakut-nakuti pasukan pribumi.

Sulit membaca detail seperti itu tanpa merasa tenggorokan sedikit mengering.

Kisah penaklukan Amerika Selatan sering dijual dalam gaya petualangan romantis; peta tua, kapal layar, hutan eksotis, pria berjanggut mencari kejayaan. Kronik aslinya jauh lebih bau. Bau luka infeksi, keringat zirah logam, muntah kuda, tubuh membusuk setelah pengepungan.

Valdivia sendiri sangat ambisius. Ia menulis surat panjang kepada Raja Spanyol tentang potensi Chili; tanah subur, emas, tenaga kerja pribumi. Hampir semua proyek kolonial akhirnya kembali ke tiga hal itu—tanah, logam, tenaga kerja.

Orang-orang Mapuche ternyata lawan yang berbeda dibanding kerajaan besar seperti Aztec atau Inca. Mereka tidak punya ibu kota besar yang bisa direbut lalu perang selesai. Struktur sosial mereka lebih tersebar. Mereka bertempur fleksibel, mengenal medan, cepat belajar.

Perang Arauco dimulai, dan berubah jadi konflik panjang berdarah yang berlangsung ratusan tahun.

Valdivia membangun kota-kota baru seperti La Serena, Concepción, Valdivia. Nama belakangnya sendiri berubah jadi nama kota. Tradisi kolonial selalu suka menempelkan nama penakluk pada geografi, seolah tanah harus diberi stempel kepemilikan pribadi.

Di wilayah-wilayah baru itu, sistem encomienda berkembang. Penduduk pribumi dipaksa bekerja untuk pemukim Spanyol dengan dalih perlindungan dan kristenisasi. Dalam praktiknya, sering mendekati kerja paksa brutal. Tambang emas, pertanian, pembangunan.

Kronik-kronik Spanyol sendiri mencatat hukuman fisik, pembakaran desa, mutilasi. Banyak desa Mapuche dihancurkan untuk mematahkan perlawanan. Tahanan disiksa demi informasi atau intimidasi.

Anjing perang mastiff dipakai conquistador untuk menyerang manusia. Detail itu sering hilang dalam film-film petualangan kolonial. Bayangkan suara gonggongan besar di tengah desa terbakar malam hari.

Valdivia menganggap dirinya pembangun peradaban Kristen. Banyak conquistador memang percaya penuh pada itu. Mereka bisa mendengar misa pagi lalu memerintahkan penyiksaan siang hari tanpa merasa identitas moral mereka terganggu.

Mapuche belajar cepat menggunakan kuda dan taktik perang Spanyol. Pemimpin muda bernama Lautaro—yang pernah jadi pelayan Valdivia sendiri—berbalik memimpin perlawanan besar. Itu salah satu ironi paling tajam dalam sejarah kolonial; penjajah sering melatih orang yang kelak menghancurkan mereka.

Lautaro memahami pola kavaleri Spanyol karena pernah hidup dekat mereka. Ia tahu kelemahan mereka. Tahun 1553, pasukan Mapuche menyerang benteng Tucapel.

Valdivia tertangkap.

Cara kematiannya bercampur antara fakta dan legenda karena kronik berbeda-beda. Beberapa cerita menyebut ia dibunuh cepat. Versi lain jauh lebih liar; emas cair dituangkan ke tenggorokannya, tubuhnya dimutilasi, atau hatinya dimakan secara simbolik oleh musuh. Sejarawan modern meragukan beberapa detail paling sensasional itu, tapi keberadaan legenda-legenda tersebut menunjukkan betapa intens kebencian dan trauma perang saat itu.

Orang Mapuche tidak benar-benar ditaklukkan penuh selama masa Spanyol. Itu penting. Banyak wilayah selatan tetap melawan selama berabad-abad. Sungai Biobío lama menjadi garis batas de facto antara wilayah kolonial Spanyol dan dunia Mapuche.

Chili modern sering membangun identitas nasional dengan paradoks aneh; bangga pada warisan Hispanik kolonial sekaligus mengklaim semangat perlawanan Mapuche sebagai bagian identitas nasional. Patung conquistador berdiri di kota-kota, sementara simbol Mapuche dipakai dalam demonstrasi politik modern.

Di Temuco dan Araucanía, konflik tanah dengan komunitas Mapuche masih hidup sampai sekarang. Truk dibakar. Polisi bersenjata. Tuduhan terorisme. Nama-nama kolonial lama masih terasa punya ekor panjang.

Ada sekolah di Chili yang dulu mengajarkan Valdivia seperti tokoh pendiri gagah berani. Anak-anak menghafal ekspedisi dan pembangunan kota. Lebih sedikit yang diajarkan tentang tubuh-tubuh pribumi tergantung setelah penyiksaan atau desa yang dibakar demi jalur ekspansi.

Kota Valdivia sekarang terkenal dengan sungai indah, hujan dingin, bir craft Jerman, dan pasar ikan laut. Singa laut suka tidur dekat dermaga sambil menunggu sisa makanan turis. Nama penakluk itu berubah jadi identitas kota yang tampak damai.

Di museum tertentu, baju zirah conquistador dipajang di balik kaca bersih dengan pencahayaan lembut. Besi tua itu terlihat artistik dari jauh.

Dekat Araucanía, beberapa komunitas Mapuche masih mengadakan upacara adat sambil membawa bendera biru-hijau-merah mereka. Drum kultrún dipukul perlahan. Asap kayu naik tipis di udara dingin selatan Chili.

Nama Lautaro sering terdengar lebih hidup di sana dibanding nama Valdivia.


Related

Tokoh 2270049881999251674

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item