Richard Sorge, Mata-mata yang Suka Mabuk dan Tidur dengan Banyak Wanita

Ilustrasi/thecollector.com
Pesta-pesta di Tokyo sebelum perang kadang terasa seperti adegan mabuk yang terlalu panjang. Diplomat Jerman menyanyi keras. Asap rokok memenuhi ruangan. Gelas sake dan cognac berpindah tangan. Musik jazz Barat bercampur suara sepatu militer di lantai kayu. Di tengah semua itu, Richard Sorge biasanya tampak terlalu santai untuk ukuran seorang agen rahasia.

Sorge suka minum sampai nyaris roboh. Naik motor dengan ugal-ugalan. Tidur dengan perempuan-perempuan yang seharusnya membuat hidup operasionalnya lebih berbahaya. Wartawan Jerman. Diplomat. Lingkaran elite Tokyo. Orang seperti itu, dalam film modern, biasanya mati di menit tiga puluh karena ceroboh.  Nyatanya, ia menjadi salah satu mata-mata paling efektif abad ke-20.

Sorge punya wajah yang cocok untuk dipercaya. Tinggi, maskulin, mata tajam, aura intelektual Eropa yang percaya diri. Ia lahir di Baku, wilayah Kekaisaran Rusia, dari ayah Jerman dan ibu Rusia. Masa mudanya brutal. Ia bertempur untuk Jerman dalam Perang Dunia I dan terluka parah beberapa kali. Kakinya pincang permanen setelah serpihan artileri menghantamnya.

Perang membuat banyak orang jadi nasionalis fanatik. Sorge malah bergerak ke komunisme. Setelah perang, ia belajar ilmu politik di Hamburg dan akhirnya direkrut intelijen Soviet.

GRU melihat sesuatu dalam dirinya; kemampuan menyelinap ke lingkungan elite sambil membuat orang lupa bahwa ia sedang mengamati mereka.

Tokyo pada 1930-an adalah tempat yang aneh untuk operasi semacam itu. Kota modern yang bergerak cepat, penuh nasionalisme militer Jepang, diplomat asing, jaringan bisnis internasional, dan polisi rahasia Tokko yang terkenal obsesif memburu komunis. Sorge masuk ke kota itu dengan identitas sebagai jurnalis Jerman untuk Frankfurter Zeitung.

Penyamarannya sangat bagus, sampai ia berhasil mendekati lingkaran Kedutaan Besar Jerman Nazi sendiri.

Ada detail yang hampir absurd; Sorge bahkan menjadi teman dekat Eugen Ott, duta besar Jerman untuk Jepang. Ott mempercayainya begitu dalam sampai sering membiarkannya membaca dokumen diplomatik sensitif. Sorge minum bersama mereka, bercanda bersama mereka, mendengarkan gosip militer sambil diam-diam mengirim informasi ke Moskow.

Ia bukan tipe mata-mata dingin ala mesin. Kehidupannya berantakan. Banyak kesaksian menyebut ia nyaris alkoholik. Perempuan datang dan pergi dari apartemennya. Kadang ia mabuk berat, lalu tetap bekerja besok paginya seperti tidak terjadi apa-apa.

Mungkin karena itu ia tampak meyakinkan. Orang-orang cenderung curiga pada manusia yang terlalu sempurna.

Jaringan Sorge di Tokyo cukup kecil tetapi luar biasa efektif. Salah satu aset terpentingnya adalah Hotsumi Ozaki, jurnalis dan penasihat kabinet Jepang yang punya akses ke lingkaran pemerintahan Perdana Menteri Fumimaro Konoe. Dari Ozaki, Sorge memperoleh gambaran strategis arah kebijakan Jepang. Bukan cuma rumor. Bukan sekadar obrolan mabuk di bar.

Informasi yang dikirim Sorge ke Moskow sering sangat spesifik. Termasuk salah satu pesan paling penting dalam Perang Dunia II; Jepang tidak akan menyerang Uni Soviet dari timur pada 1941.

Konteksnya penting. Nazi Jerman sedang menghantam Soviet lewat Operasi Barbarossa. Tentara Wehrmacht bergerak cepat menuju Moskow. Stalin khawatir Jepang akan ikut menyerang dari Manchuria, sehingga Soviet harus membagi pasukan di dua front.

Sorge mengirim laporan bahwa Jepang lebih tertarik bergerak ke Asia Tenggara dan Pasifik dibanding menyerang Siberia.

Masalahnya, Stalin punya hubungan buruk dengan realitas, ketika realitas tidak cocok dengan paranoia pribadinya. Ia sudah menerima banyak peringatan sebelum invasi Jerman—termasuk dari agen lain—tetapi sering menolak percaya. Sorge sendiri pernah mengirim laporan rinci tentang rencana invasi Nazi sebelum Barbarossa dimulai. Stalin mengabaikannya.

Bayangkan frustrasi itu. Kamu mempertaruhkan hidupmu untuk mengirim informasi vital dari Tokyo, lalu orang di Kremlin menganggapmu mungkin berlebihan atau salah.

Di satu titik, laporan Sorge soal Jepang akhirnya cukup dipercaya untuk membuat Stalin memindahkan divisi-divisi Siberia ke front Moskow. Pasukan Siberia terkenal tahan cuaca ekstrem. Mereka datang dengan mantel putih musim dingin, ski, pengalaman tempur dalam suhu brutal. Ketika musim dingin menghantam tentara Nazi di luar Moskow akhir 1941, divisi-divisi Siberia membantu menghentikan laju Jerman.

Sejarah dunia mungkin berubah sebagian karena seorang pemabuk di Tokyo yang terlalu sering tidur dengan banyak perempuan.

Kalimat seperti itu terdengar tidak sopan bagi sejarah resmi, tetapi dunia intelijen memang sering dibentuk manusia-manusia yang kacau secara pribadi. Terlalu banyak film menggambarkan mata-mata sebagai manusia super disiplin dengan jas mahal dan pistol elegan. Dunia nyata lebih penuh pria insomnia yang minum terlalu banyak sambil menghapus kode radio dengan tangan gemetar.

Sorge sendiri punya kebiasaan mengendarai BMW dengan cepat di jalanan Tokyo. Ia beberapa kali mengalami kecelakaan. Tubuhnya makin rusak. Operasi intelijennya berjalan makin berbahaya karena polisi Jepang mulai mencium keberadaan jaringan Soviet.

Tokko akhirnya bergerak pada Oktober 1941. Penangkapan dimulai perlahan. Interogasi brutal. Penyiksaan. Polisi Jepang terkenal telaten menghancurkan psikologi tahanan politik. Sorge ditangkap setelah jaringan radionya terlacak.

Ada detail kecil yang mengganggu; ketika apartemennya digeledah, polisi menemukan berbagai catatan kode, radio, dan bukti operasi. Dunia rahasia yang bertahun-tahun tersembunyi mendadak berubah jadi benda-benda biasa di meja pemeriksaan polisi. Kabel. Kertas. Mesin tik.

Sorge mengaku sebagai agen Soviet selama interogasi. Mungkin ia sadar permainan selesai. Jepang mencoba menukar dirinya dengan tahanan Jepang di Soviet, tetapi Moskow menolak mengakuinya. Negara yang selama ini ia layani praktis membiarkannya membusuk di penjara Sugamo. Bagian itu terasa kejam bahkan untuk standar intelijen Soviet.

Sorge digantung pada November 1944. Usianya 49 tahun. Beberapa laporan menyebut kata-kata terakhirnya memuji Tentara Merah dan Partai Komunis. Sulit untuk tahu mana fakta, mana dramatisasi pascaperang. 

Tubuhnya dikubur secara sederhana di Tokyo. Bertahun-tahun kemudian, seorang perempuan Jepang bernama Hanako Ishii—mantan kekasih Sorge—mencari makamnya dan merawatnya. Ada sesuatu yang muram dalam detail itu. Mata-mata besar, operasi global, nasib perang dunia, lalu ujungnya seorang perempuan membersihkan makam yang nyaris dilupakan.

Uni Soviet baru benar-benar mengakui jasa Sorge pada 1964 di era Khrushchev. Ia dianugerahi gelar Hero of the Soviet Union secara anumerta. Terlambat dua dekade.

Foto-foto Sorge sekarang masih terasa aneh jika dilihat lama-lama. Ia tampak terlalu hidup untuk jadi simbol ideologi. Senyumnya lebih mirip wartawan bandel daripada agen rahasia legendaris. Mata sedikit lelah. Wajah orang yang tidur tidak teratur.

Tokyo tempat ia beroperasi sekarang penuh layar LED dan kereta cepat. Distrik Roppongi dan Ginza berubah total. Orang-orang minum di bar sambil menatap ponsel, mungkin tanpa sadar bahwa dulu kota yang sama pernah menjadi panggung permainan intelijen yang membantu menentukan nasib Moskow.

Di beberapa malam, Sorge mungkin berjalan pulang dalam keadaan mabuk melewati lampu jalan Tokyo sambil membawa informasi yang nilainya lebih besar daripada satu divisi tank.


Related

Tokoh 4768331038284364508

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item