Artis Terkenal Berubah Jadi Penjual Barang Bekas di Pinggir Jalan

Ilustrasi/setn.com
Seseorang memotret pria berkepala plontos yang duduk bersila di trotoar. Di depannya terhampar barang-barang bekas: benda-benda yang biasanya kita lewati tanpa menoleh. Foto itu beredar di Thailand dan membuat banyak orang mengucek mata. 

Nama pria tersebut adalah Arthit Taongsawatrat, lebih dikenal sebagai Ryu Athit. Pada dekade 1990-an, wajahnya muncul di televisi, di poster iklan, di layar drama. Puluhan tahun kemudian, ia menjual barang bekas di pinggir jalan dan tidur berpindah-pindah tempat karena tidak memiliki rumah.

Yang membuat kisah ini terasa mengganggu bukan karena kemiskinan adalah sesuatu yang langka. Kota-kota Asia penuh dengan orang yang kehilangan pekerjaan, kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal. Yang mengganggu adalah kontrasnya. Otak manusia memang lemah menghadapi kontras. Kita bisa menerima seorang gelandangan sebagai gelandangan. Kita bisa menerima seorang bintang sebagai bintang. Ketika dua gambar itu ternyata orang yang sama, pikiran seperti tersendat sesaat.

Thailand pada 1990-an memiliki industri hiburan yang sedang tumbuh cepat. Stasiun televisi berlomba memproduksi lakorn, drama televisi yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Wajah-wajah populer memperoleh status yang hampir menyerupai bangsawan modern. 

Ryu termasuk di dalam kelompok itu. Ia bukan sekadar aktor yang sesekali muncul dalam satu dua produksi. Namanya cukup dikenal untuk menjadi bintang iklan berbagai produk komersial. Dalam dunia hiburan, itu sering jadi ukuran yang lebih penting daripada penghargaan akting. Pengiklan tidak membeli kemampuan berakting. Mereka membeli daya tarik. Mereka membeli kemampuan seseorang untuk membuat jutaan orang berhenti beberapa detik dan memperhatikan layar.

Uang datang deras pada masa-masa seperti itu. Terlalu deras, mungkin.

Banyak artikel tentang kejatuhan selebritas biasanya memilih satu penyebab sederhana. Kesalahan finansial. Narkoba. Alkohol. Perceraian. Lingkungan buruk. Cerita jadi rapi dan mudah dipahami. Hidup jarang bekerja serapi itu. Pada kasus Ryu, laporan media Thailand selama bertahun-tahun menyebut kombinasi yang lebih berantakan: pengeluaran yang tidak terkendali, kehidupan yang berlebihan, lalu gangguan bipolar yang semakin memburuk.

Gangguan bipolar sering dipahami secara dangkal oleh publik. Orang membayangkannya hanya sebagai perubahan suasana hati. Kenyataannya jauh lebih brutal. Dalam fase mania, seseorang dapat merasa sangat percaya diri, sangat impulsif, sangat yakin bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan terbaik. Uang bisa habis tanpa terasa. Hubungan bisa rusak tanpa disadari. Dunia tampak seperti tempat yang tidak memiliki rem. Ketika fase depresi datang, situasinya berbalik dengan kekuatan yang sama.

Membaca kisah hidup Ryu membuat saya lebih tertarik pada bagian itu daripada bagian selebritasnya. Industri hiburan selalu menyukai orang yang bersinar terang. Industri yang sama sering tidak tahu harus berbuat apa ketika cahaya itu mulai berkedip-kedip.

Rumah sakit mulai jadi bagian dari hidupnya. Perawatan kesehatan mental memakan biaya. Karier mulai melemah. Produser cenderung memilih aktor yang bisa datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan tanpa masalah, dan tidak membawa ketidakpastian ke lokasi syuting. Dunia hiburan sangat sentimental di depan kamera dan sangat pragmatis di belakang kamera.

Penurunan karier biasanya tidak terjadi dalam satu ledakan besar. Lebih sering menyerupai cat yang mengelupas perlahan dari dinding. Satu proyek hilang. Satu kontrak tidak diperpanjang. Telepon mulai jarang berdering. Orang-orang yang dulu tertawa paling keras atas lelucon kita mendadak sulit dihubungi.

Kehidupan pribadinya ikut runtuh. Pernikahan pertamanya menghasilkan dua putra, Pham dan Paho. Pernikahan itu berakhir dengan perceraian. Pernikahan kedua memberinya seorang putri bernama Link. Hubungan itu juga kandas. Dalam berbagai laporan media, disebutkan bahwa ia tidak lagi bertemu dengan ketiga anaknya. Bagian tersebut terasa lebih menyakitkan daripada kisah kehilangan uang.

Uang adalah benda mati. Rumah bisa dijual. Mobil bisa hilang. Jam tangan mewah bisa berpindah tangan. Kehilangan hubungan dengan anak memiliki tekstur yang berbeda. Tidak ada asuransi untuk itu. Tidak ada investor yang bisa menyuntikkan modal baru.

Sekitar lima belas tahun ia menghilang dari sorotan publik. Publik selalu punya kebiasaan aneh terhadap selebritas yang menghilang. Kita menganggap mereka berhenti eksis. Padahal mereka tetap bangun pagi, tetap sakit kepala, tetap mencari makan, tetap bertambah tua. Hanya saja kamera tidak lagi mengikuti mereka.

Kemunculannya kembali terjadi bukan karena film baru atau acara televisi spesial. Seorang mantan idola nasional muncul dalam foto yang memperlihatkan dirinya menjual barang bekas di jalanan. Kepala plontos. Duduk bersila. Wajah yang dulu membantu menjual produk-produk terkenal kini berusaha menjual benda-benda bekas yang nilainya mungkin bahkan tidak cukup untuk membeli makan malam mewah yang pernah ia nikmati pada masa kejayaan.

Saya memperhatikan satu hal saat melihat foto-foto yang beredar. Bukan kondisi dagangannya. Bukan pakaiannya. Mata saya justru tertarik pada ekspresi yang sulit diterjemahkan. Wajah manusia yang pernah hidup di dua dunia yang sangat jauh. Dunia pertama dipenuhi lampu studio, kru produksi, kontrak iklan, dan penggemar. Dunia kedua dipenuhi panas aspal, debu jalanan, dan ketidakpastian soal tempat tidur malam nanti.

Masyarakat modern sering berbicara tentang kesuksesan seolah-olah kesuksesan adalah identitas permanen. Seseorang sukses. Seseorang gagal. Label ditempel seperti stiker pada dahi manusia. Kisah Ryu mengganggu cara berpikir itu. Kesuksesan ternyata lebih menyerupai cuaca daripada identitas. Cuaca bisa bertahan lama. Cuaca juga bisa berubah.

Hollywood punya banyak cerita serupa. Industri hiburan Korea punya cerita serupa. Jepang punya cerita serupa. India punya cerita serupa. Polanya berulang terus. Publik menikmati puncak gunung karena puncak terlihat jelas. Jurang lebih jarang diperhatikan.

Kisah Ryu Athit juga menunjukkan sesuatu yang tidak nyaman untuk diakui: masyarakat jauh lebih tertarik pada kejatuhan selebritas daripada perjuangan orang biasa. Foto seorang mantan aktor terkenal yang menjual barang bekas menyebar luas karena publik mengenali wajah lamanya. Ribuan orang lain melakukan pekerjaan yang sama setiap hari tanpa menarik perhatian siapa pun.

Kadang saya bingung setiap kali membaca berita semacam itu. Bukan karena tragedinya terlalu besar. Justru karena tragedinya terasa biasa. Kehancuran hidup sering tidak datang dengan musik latar yang megah. Tidak disertai hujan deras. Tidak disertai pidato panjang. Seseorang hanya perlahan kehilangan satu hal, lalu hal lain, lalu hal berikutnya.

Di suatu titik, seorang mantan bintang televisi duduk bersila di pinggir jalan bersama tumpukan barang bekas yang menunggu pembeli.

Orang-orang lewat. Sebagian mungkin mengenalinya. Sebagian mungkin tidak.


Related

Internasional 3511662231134373855

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item