Ihya Ulum al-Din, Karya Terbesar Al-Ghazali di Puncak Kegelisahan

Ilustrasi/nuonliene.com
Sebuah buku setebal ribuan halaman jarang mengubah arah sejarah. Lebih jarang lagi jika buku itu berbicara tentang hal-hal yang tampaknya biasa: cara makan, cara tidur, cara marah, cara mencari nafkah, cara berteman, cara berdoa. 

Orang biasanya membayangkan karya besar lahir dari gagasan besar—teori tentang alam semesta, revolusi politik, atau penemuan ilmiah. Ihya Ulum al-Din karya Abu Hamid al-Ghazali justru bergerak ke arah yang berbeda. Buku itu berbicara tentang kehidupan sehari-hari. Tentang hal-hal yang begitu dekat sehingga sering luput dari perhatian.

Judulnya berarti “Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama”. Pilihan kata “menghidupkan kembali” menarik. Al-Ghazali tidak menulis Membangun Ilmu Agama. Ia tidak menulis Menemukan Ilmu Agama. Dalam pandangannya, sesuatu yang penting sudah ada, tetapi seperti tubuh yang masih utuh namun denyut nadinya melemah. Sesuatu telah hilang dari dunia Islam yang ia kenal.

Kita perlu melihat keadaan sebelum buku itu lahir.

Al-Ghazali bukan ulama pinggiran. Ia adalah bintang akademik pada zamannya. Lahir di Tus, wilayah Khurasan—kini bagian dari Iran—sekitar tahun 1058, ia meniti karier yang sangat sukses. Gurunya, Imam al-Juwayni, merupakan salah satu intelektual paling dihormati pada masanya. Setelah sang guru wafat, nama Al-Ghazali terus melambung. Ia akhirnya diangkat menjadi profesor di Madrasah Nizamiyah Baghdad, lembaga pendidikan paling prestisius di dunia Islam saat itu.

Bayangkan seseorang yang menjadi profesor di universitas paling bergengsi di dunia, disegani penguasa, dikagumi murid-murid, dan menjadi rujukan dalam perdebatan intelektual. Banyak orang menghabiskan hidup untuk mencapai posisi seperti itu. Al-Ghazali justru mengalami krisis.

Ia menulis sendiri tentang periode itu. Lidahnya mendadak kelu ketika mengajar. Makanan sulit ditelan. Tubuhnya melemah. Para tabib mencoba membantu, tetapi ia merasa sumber penyakitnya bukan tubuh. Ia mulai meragukan motivasinya sendiri. Mengapa ia mengajar? Mengapa ia menulis? Mengapa ia berdebat?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Kenyataannya bisa menghancurkan hidup seseorang.

Al-Ghazali melihat sesuatu yang membuatnya gelisah: agama dapat berubah menjadi profesi. Ilmu dapat berubah menjadi alat mencari status. Kesalehan dapat berubah menjadi pertunjukan. Seorang ulama bisa berbicara tentang Tuhan sepanjang hari tanpa pernah benar-benar mencari Tuhan.

Kegelisahan itu mendorongnya meninggalkan Baghdad sekitar tahun 1095. Karier gemilang ditinggalkan begitu saja. Ia mengembara ke Damaskus, Yerusalem, Hebron, dan berbagai tempat lain. Dalam sejumlah riwayat, ia menghabiskan waktu berbulan-bulan menyendiri di menara Masjid Umayyah di Damaskus. Sulit membuktikan detail-detail tertentu dari kisah pengembaraan itu, tetapi arah umumnya jelas: Al-Ghazali sedang mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. 

Ihya Ulum al-Din lahir dari perjalanan tersebut.

Yang membuat buku itu berbeda bukan sekadar isinya. Banyak ulama sebelum Al-Ghazali telah menulis tentang fikih, hadis, akhlak, atau tasawuf. Keistimewaan Ihya terletak pada cara semuanya dirangkai menjadi satu tubuh utuh.

Al-Ghazali tidak puas dengan agama yang hanya berhenti pada hukum. Ia juga tidak puas dengan mistisisme yang mengabaikan syariat. Ia mencoba menjahit kembali bagian-bagian yang menurutnya telah tercerai-berai.

Struktur bukunya sudah menunjukkan ambisi itu. Ihya dibagi menjadi empat bagian besar: ibadah, kebiasaan hidup sehari-hari, penyakit-penyakit hati, dan jalan menuju keselamatan. Total empat puluh kitab kecil berada di dalamnya.

Ketika membuka halaman-halamannya, kita tidak hanya menemukan pembahasan tentang shalat atau puasa. Kita menemukan uraian tentang cara makan, etika bertetangga, bahaya cinta dunia, penyakit riya, kesombongan, dengki, kemarahan, bahkan pembicaraan tentang musik dan persahabatan.

Saya selalu menganggap bagian paling menggelisahkan dari Ihya justru bukan pembahasan ibadahnya. Pembahasan tentang niat jauh lebih menggelisahkan. 

Al-Ghazali berkali-kali menekan satu gagasan: manusia pandai menipu dirinya sendiri. Seseorang bisa mengira dirinya sedang beribadah, padahal sedang mengejar pujian. Seseorang bisa mengira dirinya sedang mencari ilmu, padahal sedang mencari kedudukan. Bahkan kesalehan dapat menjadi bentuk kesombongan yang sangat halus.

Membaca bagian-bagian itu terasa tidak nyaman, karena Al-Ghazali tidak menyerang musuh di luar sana. Ia menyerang ruang yang jauh lebih dekat. Ia menyerang pembaca.

Sebagian orang menyukai karya filsafat karena memberi jawaban. Al-Ghazali sering kali terasa seperti seseorang yang mengacak-acak laci yang selama ini kita anggap rapi.

Kritik terhadap Ihya tentu tidak pernah berhenti. Sejumlah ulama hadis menganggap Al-Ghazali menggunakan beberapa riwayat yang lemah. Tokoh seperti Ibn al-Jawzi mengkritik bagian-bagian tertentu dalam bukunya. Berabad-abad kemudian, kritik serupa muncul lagi dari berbagai arah.

Buku sebesar itu memang mustahil lolos dari perdebatan. Fakta yang sulit diabaikan adalah pengaruhnya.

Di Maroko, Mesir, Yaman, Suriah, Anatolia, India, Nusantara, nama Ihya terus muncul selama berabad-abad. Banyak ulama mengajar darinya. Banyak pesantren menjadikannya rujukan. Banyak karya ringkasan lahir karena ukuran buku aslinya terlalu besar untuk sebagian pembaca.

Di Jawa, misalnya, nama Ihya Ulum al-Din dikenal jauh melampaui lingkungan akademik. Santri yang mungkin tidak pernah membaca seluruh empat jilidnya tetap mengenal reputasinya. Kitab itu seperti gunung yang terlihat dari kejauhan. Tidak semua orang mendakinya, tetapi semua orang tahu gunung itu ada.

Kadang saya membayangkan Al-Ghazali duduk di ruang kerjanya di Tus menjelang akhir hidupnya. Tinta hitam. Lembaran kertas. Cahaya lampu minyak. Bunyi gesekan pena. Tidak ada cara baginya untuk mengetahui bahwa berabad-abad kemudian kitabnya masih dibaca dari Fez sampai Surabaya.

Yang lebih aneh lagi, banyak bagian dalam Ihya terasa modern dalam cara yang tidak disengaja. Ketika Al-Ghazali berbicara tentang kecanduan pujian, tentang ego yang lapar pengakuan, tentang manusia yang sibuk membangun citra diri, pembaca abad ke-21 bisa menemukan bayangan media sosial di sana, meskipun tentu Al-Ghazali tidak pernah membayangkan telepon pintar. Ia menulis untuk manusia, dan beberapa kelemahan manusia ternyata sangat tahan lama.

Di rak-rak perpustakaan Islam, banyak kitab lebih canggih secara filsafat. Banyak kitab lebih kuat secara hadis. Banyak kitab lebih sistematis secara hukum. Tetapi sedikit sekali yang memiliki denyut kehidupan seperti Ihya.

Karena Al-Ghazali tidak sedang menulis ensiklopedia. Ia sedang menulis surat panjang kepada orang-orang yang mulai lupa mengapa mereka melakukan semua ini. Dan surat itu terus beredar hampir seribu tahun kemudian, dari tangan ke tangan, dari rak ke rak, sementara tinta pada halaman-halaman tua perlahan memudar.


Related

Keislaman 8033709543754791546

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item