Aum Shinrikyo, Sekte Gila dan Mematikan yang Bikin Jepang Terguncang

Ilustrasi/scmp.com
Pagi di Tokyo terdengar seperti mesin yang bekerja sempurna. Pintu kereta terbuka. Sepatu berderap cepat di lantai stasiun. Pengumuman elektronik berbunyi datar. Orang-orang berdiri diam sambil memegang tas kerja hitam dan koran lipat. Kota itu bergerak dengan disiplin yang hampir mekanis.

Lalu sesuatu yang aneh mulai terjadi. Seorang pria di jalur Marunouchi mengira dirinya masuk angin. Penumpang lain mulai batuk. Ada yang kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai gerbong. Seorang perempuan muntah di dekat pintu otomatis. Tubuh orang-orang mulai berkedut aneh seperti sinyal listrik yang salah sambung.

Petugas stasiun Kasumigaseki melihat penumpang keluar sambil memegangi dada dan mata. Beberapa merangkak di lantai peron. Bau cairan kimia samar bercampur bau besi rel kereta dan parfum pagi.

Tokyo diserang tanpa ledakan. Gas sarin hampir tidak terlihat. Tidak punya drama visual seperti api atau bom besar. Ia bekerja diam-diam, masuk ke sistem saraf, mengacaukan komunikasi tubuh sendiri. Otot mengencang. Paru-paru mulai gagal memahami cara bernapas.

Ada sesuatu yang sangat dingin dari jenis kekerasan seperti itu. Pembunuhan yang tidak memakai amarah.

Pelakunya bukan negara musuh. Bukan tentara asing. Bukan organisasi bawah tanah yang hidup di gua.

Aum Shinrikyo punya studio rekaman sendiri. Mereka menerbitkan manga. Mereka menjual komputer rakitan murah di distrik Akihabara. Sebagian pengikutnya lulusan universitas elite Jepang. Anak-anak yang dulu mendapat nilai sempurna di kelas fisika dan teknik mesin.

Itu bagian yang terus mengganggu dari Aum Shinrikyo. Kelompok itu tidak dibangun dari kebodohan mentah. Mereka punya kimiawan, dokter, programmer, ahli laser, insinyur. Mereka mencoba memproduksi senjata biologis dan kimia dalam kompleks milik sendiri di kaki Gunung Fuji. Sekte apokaliptik dengan laboratorium. Rasanya seperti cerita cyberpunk yang terlalu mabuk.

Pemimpinnya, Shoko Asahara, lahir dengan nama Chizuo Matsumoto. Ia hampir buta sejak kecil karena glaukoma. Anak miskin dari Kumamoto yang tumbuh di sekolah khusus tunanetra. Ada cerita bahwa ia suka memalak murid lain dengan memanfaatkan penglihatannya yang sedikit lebih baik dibanding teman-temannya. Sulit memverifikasi detail-detail semacam itu sekarang; kisah monster selalu dipenuhi anekdot retroaktif.

Foto-foto Asahara lama terlihat aneh sekali. Rambut kusut seperti baru bangun tidur, janggut tipis, mata setengah kosong. Ia tampak seperti musisi eksperimental gagal yang terlalu lama tidak mandi. Jepang era 1980-an penuh guru spiritual baru, jadi awalnya Asahara tidak tampak terlalu luar biasa. Ia mengajar yoga dan meditasi. Buku-bukunya laku. Orang-orang muda Jepang sedang lapar sesuatu selain budaya kerja korporat yang membunuh perlahan.

Ekonomi Jepang waktu itu meledak. Gedung naik di mana-mana. Uang berputar cepat. Orang bekerja sampai tengah malam lalu tidur mabuk di kereta. Kesepian tumbuh diam-diam di balik neon Tokyo.

Aum Shinrikyo menawarkan sesuatu yang jarang diberikan masyarakat modern; makna total. Penjelasan besar tentang dunia. Musuh yang jelas. Jalan keselamatan. Paket lengkap.

Asahara mencampur Buddhisme Tibet, yoga Hindu, nubuat Nostradamus, kiamat Kristen, perang nuklir Amerika-Jepang, teori konspirasi Yahudi, dan anime kiamat, menjadi satu bubur ideologi yang kacau. Anehnya, banyak orang pintar justru tertarik pada sistem kepercayaan yang sangat kacau. Mungkin otak cerdas kadang terlalu percaya diri bahwa ia mampu menavigasi kegilaan tanpa tenggelam.

Di markas Aum Shinrikyo dekat Gunung Fuji, anggota hidup komunal dan menyerahkan uang mereka kepada sekte. Beberapa dipaksa minum darah Asahara atau cairan mandi bekas tubuhnya yang dijual mahal sebagai “air suci”. Kedengarannya absurd, tapi kultus sering bekerja bukan dengan satu lompatan besar menuju kegilaan. Lebih mirip eskalasi kecil yang terus bergerak. Hari ini meditasi. Besok puasa. Minggu depan meminum air bekas mandi mesias. 

Tubuh manusia punya kemampuan menyesuaikan diri terhadap hal-hal aneh dengan cepat sekali.

Aum Shinrikyo juga terobsesi dengan teknologi. Mereka membeli helikopter Mil Mi-17 dari Rusia. Mereka mencoba membuat senjata biologis anthrax dan botulinum toxin, meski gagal karena inkompetensi teknis. Mereka merekrut ilmuwan muda langsung dari universitas top Jepang. Bayangkan mahasiswa teknik brilian yang awalnya cuma mencari komunitas spiritual, lalu beberapa tahun kemudian berdiri di laboratorium mencampur prekursor sarin. 

Sarin pertama kali dikembangkan Nazi Jerman pada 1938. Cairan bening tanpa warna. Sedikit saja cukup membuat tubuh manusia kolaps. Aum Shinrikyo memproduksinya di fasilitas rahasia bernama Satyan 7. Kompleks itu tampak seperti pabrik biasa dari luar. 

Sebelum serangan Tokyo, Aum Shinrikyo sudah membunuh orang. Tahun 1994 mereka melepaskan gas sarin di Matsumoto untuk membunuh hakim yang menangani kasus properti melawan sekte. Tujuh orang tewas. Polisi awalnya malah mencurigai warga biasa. Aum Shinrikyo lolos.  Mungkin itu memberi mereka rasa tak terkalahkan.

Serangan 20 Maret 1995 dilakukan lima anggota di beberapa jalur kereta. Mereka membawa kantong plastik berisi sarin cair yang dibungkus koran. Saat kereta penuh penumpang mendekati pusat pemerintahan Tokyo, mereka menusuk kantong itu memakai ujung payung, lalu turun di stasiun berikutnya. Sesederhana itu.

Saya pernah melihat rekaman arsip dari pagi mengerikan itu. Seorang petugas stasiun mengangkat kantong bocor tanpa sarung tangan, tidak tahu ia sedang memegang zat saraf mematikan. Beberapa menit kemudian ia ikut kolaps. Ambulans berdatangan. Orang-orang terbaring di trotoar dengan mata merah dan napas pendek. Seorang perempuan muda duduk di lantai sambil memegangi tenggorokan seperti mencoba menarik udara dari tempat yang sudah kosong.

Televisi Jepang saat itu dipenuhi gambar orang berjas bisnis dibawa dengan tandu. Wajah mereka pucat. Ada detail kecil yang sulit hilang dari kepala; sepatu kerja masih rapi di kaki korban. Bahkan ketika tubuh mulai gagal, Tokyo tetap terlihat formal.

Tiga belas orang tewas secara langsung. Ribuan terluka. Banyak korban mengalami gangguan penglihatan dan trauma bertahun-tahun. Beberapa penyintas mengatakan mereka masih panik ketika mencium bau kimia tertentu di kereta bawah tanah.

Polisi akhirnya menyerbu fasilitas Aum Shinrikyo. Mereka menemukan bahan kimia, masker gas, dokumen eksperimen, sel tahanan kecil untuk anggota yang melawan. Jepang terguncang bukan cuma karena jumlah korban, tapi karena rasa malu nasional. Negara yang terkenal aman ternyata bisa ditembus oleh sekte kiamat berteknologi tinggi yang tumbuh di depan mata. 

Aum Shinrikyo tidak benar-benar mati setelah itu. Kelompok itu pecah menjadi beberapa cabang, seperti Aleph dan Hikari no Wa. Masih ada pengikut yang percaya Asahara mencapai pencerahan tertinggi. Foto-fotonya masih dipajang di beberapa tempat. Orang-orang masih datang untuk meditasi. 

Sulit memahami bagian itu kalau memakai logika biasa. Sesudah semua pembunuhan, sesudah gas sarin, sesudah dunia melihat mayat-mayat di peron, masih ada orang yang melihat Asahara dan berpikir; ya, pria ini mungkin mesias.

Tahun 2018, Asahara dieksekusi gantung bersama beberapa anggota inti Aum Shinrikyo. Jepang merahasiakan tanggal eksekusi sampai menit terakhir. Tubuhnya dikremasi. Abu jenazahnya diperebutkan keluarga dan pengikut. 

Ada foto lama Asahara duduk bersila sambil tersenyum kecil ke kamera. Mata setengah tertutup. Wajahnya terlihat lembek dan lelah, seperti pegawai toko elektronik yang kurang tidur.

Sulit menerima bahwa seorang pria dengan tampilan seperti itu pernah membuat salah satu kota paling sibuk di bumi berhenti bernapas selama beberapa jam pada pagi hari biasa.


Related

Umum 3130579804191115731

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item