Sonia Orbuch, Seorang Perempuan yang Membawa Dua Granat
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/sonia-orbuch-seorang-perempuan-yang.html
![]() |
| Ilustrasi/cbsnews.com |
Seorang perempuan membawa dua granat. Satu untuk musuh, satu untuk dirinya sendiri jika tertangkap.
Ia belum pernah mendapat pendidikan medis. Ia tidak dibentuk sebagai tentara. Beberapa waktu sebelumnya ia bahkan belum dapat diterima oleh kelompok partisan yang dimasuki saudara laki-lakinya, karena kelompok itu hanya menerima laki-laki. Sekarang ia berada di hutan, memegang granat, menjaga pos, membantu merawat orang-orang yang tubuhnya baru saja dihancurkan peluru dan serpihan logam. Namanya pun sudah berubah. Sarah Shainwald telah menjadi Sonia Orbuch.
Perubahan nama itu bukan bagian kecil dari kisahnya. Dan karena itu cerita Sonia terasa ganjil. Nazi ingin membunuhnya karena ia seorang Yahudi. Kelompok partisan yang kelak menyelamatkannya juga tidak serta-merta melihat seorang gadis Yahudi sebagai calon pejuang yang berguna. Ia harus mempunyai alasan untuk diterima. Alasan itu datang melalui orang lain: pamannya, Tzvi.
Sarah lahir dan tumbuh di Luboml, kota kecil di Volhynia yang ketika itu berada di Polandia. Komunitas Yahudinya besar; kehidupan keluarga, sekolah, sinagoga, perdagangan, tetangga, semua masih berlangsung sebelum perang merobeknya. Setelah invasi Jerman ke Uni Soviet pada Juni 1941, Luboml jatuh ke bawah pendudukan Jerman. Penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi meningkat dan, ketika likuidasi ghetto berlangsung pada Oktober 1942, keluarga Shainwald melarikan diri.
Mereka tidak langsung menemukan partisan. Mereka masuk ke hutan.
Musim dingin 1942–1943 menjadi ujian yang lebih sederhana dan lebih brutal daripada gambaran perang yang biasa kita kenal: dingin, lapar, pakaian kotor, kutu, salju yang harus dicairkan untuk mendapatkan air, dan kebutuhan untuk terus bergerak agar tidak ditemukan. Sonia kemudian mengatakan bahwa sebelum bergabung dengan partisan, hidup di hutan membuat mereka kelaparan dan basah; mereka bahkan pernah tidak mencuci diri selama setahun. Kakinya pernah terbakar parah karena kedinginan. Ketika duduk dekat api, ia tidak segera menyadari bahwa daging di kakinya sendiri sedang kepanasan.
Saudaranya sudah lebih dulu mencoba jalan lain. Ia melarikan diri bersama beberapa pemuda untuk bergabung dengan partisan. Sonia ingin melakukan hal yang sama. Kelompok itu tidak menerimanya. Ia perempuan.
Penolakan itu terasa hampir sepele jika dibandingkan dengan pembunuhan massal yang sedang berlangsung, tetapi justru detail semacam itu membuat kehidupan pelarian jadi lebih nyata. Dalam keadaan normal, seseorang bisa memilih pekerjaan, sekolah, rumah, pasangan. Di hutan, bahkan pilihan untuk melawan pun dapat ditutup oleh jenis kelamin.
Keluarga itu kemudian bertemu seorang petani lokal bernama Tichon. Ia sedang berada di hutan ketika menemukan mereka. Menurut kisah yang digunakan Facing History, ia tergerak melihat kondisi Sonia, dan berjanji membantu. Bantuan itu membawa mereka pada kelompok partisan Soviet. Tetapi kelompok tersebut tidak menerima keluarga Yahudi hanya karena kasihan.
Tzvi menyelamatkan mereka. Pamannya pernah menjadi scout dan mengenal medan. Pengetahuan tentang jalan, hutan, desa, dan wilayah sekitar, mempunyai nilai militer. JPEF menyebut bahwa tanpa kemampuan Tzvi, Sonia dan keluarganya kemungkinan besar akan ditolak. Itu bagian yang sering hilang ketika kisah partisan diceritakan sebagai cerita heroik sederhana: bahkan orang yang sedang melarikan diri dari pembantaian harus membuktikan bahwa keberadaannya tidak menjadi beban bagi kelompok bersenjata.
Begitu diterima, Sarah menghilang.
Seorang petugas mencatat nama-nama anggota baru. Ketika Sarah menyebut namanya, ia diberi tahu: “Here, there are no Sarahs.” Namanya menjadi Sonia. Dalam memoarnya, ia mengingat bahwa ia tidak membantah. Ia sendiri sudah merasa berubah, dan nama Rusia tersebut terasa cocok dengan kehidupannya yang baru.
Nama itu memiliki fungsi praktis. Jika tertangkap, identitas Yahudi harus disembunyikan. Tetapi ada ironi yang lebih kasar: Sonia kelak mempertahankan nama tersebut sepanjang hidupnya. Nama yang diberikan kepadanya untuk bertahan hidup di hutan akhirnya menjadi nama yang dikenal orang sampai ia meninggal pada 2018.
Kehidupan di kamp partisan tidak romantis. Sonia membantu dokter, belajar menangani luka tanpa pendidikan medis formal, menjaga kamp, dan kemudian dikirim dalam misi. Dalam beberapa kesempatan ia membantu menyabotase jalur kereta api.
Pada 1944, ketika pertempuran semakin dekat, ia dikirim ke garis depan. Kesaksiannya tentang sekitar sepuluh hari di front Kovel menggambarkan pekerjaan yang hampir tidak masuk akal bagi seorang gadis remaja: sedikit makan, hampir tidak tidur, merawat korban, menghadapi tubuh yang hancur, dan bekerja ketika pesawat Jerman berada di atas mereka.
Ia tidak tiba-tiba menjadi pemberani dalam pengertian yang bersih. Tubuh manusia tidak bekerja seperti itu. Rasa takut tetap ada, tetapi pekerjaan mendesak rasa takut ke belakang. Ia pernah mengatakan bahwa dirinya yang dulu takut pada seekor lalat tiba-tiba tidak takut pada bom.
Dua granat tetap berada bersamanya. Satu untuk orang yang mungkin menangkapnya. Satu untuk dirinya sendiri.
Pada musim semi 1944, batalionnya masuk ke Red Army. Sonia dan orang tuanya kemudian meninggalkan kehidupan partisan dan berlindung di sebuah rumah kosong. Rumah tersebut ternyata telah terjangkit tifus. Ibunya jatuh sakit dan meninggal. Sonia sendiri kemudian terserang tifus dengan demam tinggi.
Perang belum benar-benar selesai ketika kemenangan sudah mulai tampak di kejauhan. Itulah bagian yang paling mengganggu dari kisah Sonia. Bertahan hidup sebagai partisan tidak berarti keluarga itu selamat. Saudaranya tidak selamat. Pamannya tidak selamat. Ibunya tidak selamat. Sonia hidup, tetapi daftar orang yang tidak ikut keluar dari perang semakin panjang.
Pada 1945, ia kembali ke Luboml dan bekerja di kantor pos. Kota yang pernah menjadi rumah itu sudah kehilangan sebagian besar komunitas Yahudinya. Kemudian ia menikah dengan Isaak Orbuch, menjalani kehidupan pengungsi di Jerman, dan akhirnya pergi ke Amerika Serikat. Puluhan tahun kemudian, ia menulis memoarnya bersama Fred Rosenbaum. Judulnya mengambil nama yang diberikan kepadanya di hutan: Here, There Are No Sarahs.
Judul itu terdengar seperti kalimat dari seorang petugas yang sedang mengisi buku daftar nama. Memang sesederhana itu. Sarah dipanggil Sonia, dan Sarah tetap hidup.
Akhirnya, mungkin yang paling aneh bukan bahwa seorang gadis berusia enam belas atau tujuh belas tahun mampu bertahan di hutan bersalju. Yang lebih aneh adalah betapa banyak hal dalam hidupnya berubah melalui keputusan-keputusan kecil yang nyaris administratif: seorang petani berhenti ketika melihat keluarga yang kelaparan; seorang paman menyebutkan keterampilan yang ia miliki; seorang petugas menulis nama baru di sebuah buku; seorang gadis menerima dua granat; seorang dokter membutuhkan tangan tambahan.
Bertahun-tahun kemudian Sonia masih membawa nama itu.
Sarah sudah pergi dari buku.
Catatan terkait: Dua Remaja di Tengah Kekejaman Perang dan Nazi Jerman


