Dua Remaja di Tengah Kekejaman Perang dan Nazi Jerman
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/dua-remaja-di-tengah-di-kekejaman.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Joe Holm datang ke rumah Rose ketika kelompok partisan mulai menerima beberapa perempuan. Ia tidak membawa pidato, tidak membawa penjelasan panjang tentang perang, bahkan tidak memberi waktu pada Rose untuk membuat keputusan yang terdengar masuk akal. Ia hanya mengatakan, “I’m going; you come with me.”
Rose ikut.
Kalimat pendek itu mungkin merupakan salah satu keputusan paling besar dalam hidup Rose Duman. Mereka masih muda. Dunia di sekitar mereka sedang dihancurkan oleh pendudukan Jerman. Keluarga mereka telah dibunuh. Hutan di depan mereka bukan tempat romantis untuk bersembunyi dari tentara Jerman. Hutan berarti kelaparan, dingin, penyakit, senjata yang tidak cukup, dan kemungkinan ditembak setiap kali keluar mencari makanan. Rose tetap pergi bersama Joe.
Nama mereka kemudian menjadi Joe dan Rose Holm, pasangan yang bertahan hidup sebagai partisan Yahudi di hutan Eropa Timur, menikah setelah perang, pindah ke Amerika Serikat, membangun keluarga dan usaha, kemudian hidup selama puluhan tahun sebagai pasangan tua di New York. Joe meninggal pada 2009. Mereka telah menikah selama 65 tahun.
Kisahnya terasa lebih keras kalau dimulai sebelum ajakan itu.
Joe lahir sebagai Jurek Cholomsky. Rose adalah Rose Duman. Mereka berasal dari desa-desa yang berdekatan dekat Zaliscze, wilayah Polandia sebelum perang. Keluarga Rose memiliki pertanian yang cukup makmur. Joe sering menginap di rumah keluarga Rose pada malam Sabat. Hubungan mereka sudah terbentuk sebelum kehidupan mereka berubah menjadi perang dan pelarian. Ia mengenal rumah itu, mengenal keluarganya, dan mengenal Rose.
Kemudian Jerman datang.
Pada 1941, ibu Joe, lima saudara laki-lakinya, dan sekitar dua puluh anggota keluarganya, dibunuh oleh Jerman. Joe berusia 19 tahun ketika masuk ke hutan, tempat ia tahu orang-orang Yahudi lain sedang berkumpul. Ia tidak masuk ke sana sebagai pahlawan yang sudah siap dengan identitas baru. Ia masuk karena pilihan yang tersedia makin sedikit.
Di hutan, ia bertemu Chiel Grynspan, pemimpin partisan Yahudi. Joe ternyata berguna. Ia pandai menggunakan senjata, menguasai bahan peledak, mengenal jalan-jalan di hutan, mengenal desa-desa di sekitarnya, dan dapat keluar masuk wilayah pendudukan untuk mencari makanan serta obat-obatan. Pengetahuan lokal semacam itu jauh lebih penting daripada keberanian yang terdengar gagah dalam buku sejarah. Orang yang tahu jalan kecil menuju sebuah desa bisa lebih berguna daripada orang yang pandai berpidato tentang perlawanan.
Rose masih berada bersama keluarganya. Kemudian keluarganya menjadi korban kekejaman Nazi.
Sebuah kesaksian yang lebih panjang mengenai Rose mencatat bahwa ketika ia berusia sekitar 16 tahun, ia pernah bersembunyi bersama keluarganya dan puluhan orang Yahudi lain di sebuah bunker dekat Parczew. Orang-orang datang untuk membunuh mereka. Rose mengingat dirinya terbaring di antara mayat-mayat dan tidak tahu apakah ia masih hidup atau sudah dianggap mati. Kesaksian tersebut menggambarkan skala kekerasan yang jauh lebih besar daripada kisah dua anak muda yang kemudian bergabung dengan partisan.
Karena itu ketika Joe datang ke rumah Rose, kalimat “ikut denganku” memiliki arti yang sangat berbeda dari ajakan seorang pemuda kepada gadis yang disukainya.
Ia mengajak Rose masuk ke perang.
Rose menerima.
Kelompok partisan yang dipimpin Grynspan kemudian menjadi rumah mereka selama lebih dari tiga tahun. Rose harus belajar hidup dengan ritme yang sama sekali berbeda: bergerak ketika perlu, diam ketika perlu, tidur di hutan, mencari makanan, menghindari patroli, dan membawa senjata. Ia tidak berada di belakang garis depan. Ia berada di dalamnya.
Salah satu kejadian menunjukkan betapa tipis jarak antara hidup dan mati bagi mereka.
Joe dan Rose pernah bergerak bersama seorang jenderal Polandia menuju hutan ketika kelompok mereka disergap. Tembakan pecah. Mereka berlari melewati rentetan peluru dan berhasil membawa sang jenderal sampai ke kamp dengan selamat.
Setelah itu Rose melihat lubang-lubang peluru di sweater-nya. Bukan pada tubuhnya. Pada sweater.
Detail semacam itu lebih mengganggu daripada angka korban yang besar. Kain yang dipakai seseorang dapat menunjukkan jarak antara hidup dan mati dengan cara yang sangat sederhana. Satu lubang lagi, satu peluru sedikit bergeser, dan cerita tentang Rose mungkin berhenti di sana.
Kisah Joe bahkan lebih kasar. Dalam suatu kesempatan, Joe, sepupunya, Jack Pomeranc, dan sekitar delapan puluh partisan lain, ditangkap dan berdiri di hadapan regu tembak. Mereka sudah dipersiapkan untuk dieksekusi. Tidak ada banyak ruang untuk berpikir. Senjata diarahkan kepada mereka.
Joe berkata kepada Jack, “Watch me, and do what I do.” Ia merebut senjata dari seorang tentara Jerman dan mulai menembak.
Joe tertembak di lengan. Ia tetap berhasil melarikan diri bersama Jack dan dua tahanan lainnya.
Delapan puluh orang yang berdiri bersama mereka tidak semuanya memiliki kesempatan yang sama. Mereka dibunuh.
Kalimat Joe kepada Jack mungkin terdengar seperti dialog film jika dipisahkan dari konteks. Dalam kenyataan, seseorang sedang berdiri beberapa detik sebelum dieksekusi, dan memilih melakukan sesuatu yang hampir pasti membuatnya ditembak lebih cepat. Tidak ada koreografi. Tidak ada jaminan bahwa orang lain akan mengikuti. Ia hanya memberi instruksi.
Rose tidak berada dalam adegan regu tembak itu, setidaknya menurut catatan yang tersedia. Namun mereka menjalani perang yang sama di hutan yang sama. Mereka menjalankan puluhan misi bersama. Hubungan mereka tidak berkembang dalam keadaan normal. Tidak ada restoran, bioskop, jalan sore, atau keluarga yang menunggu mereka pulang. Mereka bertemu di tengah kehancuran.
Itu membuat kalimat Joe di rumah Rose terasa semakin aneh. “I’m going; you come with me.”
Ia tidak berkata, “Kita akan selamat.” Ia tidak berkata, “Hutan aman.” Ia bahkan tidak memiliki sesuatu yang bisa disebut rencana masa depan. Ia pergi. Rose ikut.
Setelah perang berakhir, mereka keluar dari Polandia menuju Jerman. Mereka kemudian berimigrasi ke Amerika Serikat dan menetap di New York. Joe membuka toko daging sekitar sepuluh tahun, lalu mereka membangun sebuah pabrik yang memproduksi sweater perempuan. Mereka memiliki dua anak. Kehidupan yang muncul sesudah perang hampir terasa terlalu biasa jika dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya: bisnis, rumah, anak-anak, foto keluarga, cucu.
Joe meninggal pada 2009.
Rose tetap hidup sambil membawa ingatan yang tidak mudah ditaruh di rak. Dalam sebuah kesaksian, ia mengatakan bahwa kadang-kadang ia berbaring di tempat tidur dan bertanya kepada dirinya sendiri apakah semua itu benar-benar pernah terjadi. Ia merasa seperti sedang membaca kisah hidup orang lain, bukan kisah hidupnya sendiri.
Itu mungkin salah satu hal paling jujur dari kesaksian seorang penyintas. Ingatan perang tidak selalu hadir sebagai rangkaian adegan yang tersusun rapi. Kadang ia datang sebagai sesuatu yang terasa mustahil, bahkan bagi orang yang mengalaminya sendiri.
Rose kemudian berbicara kepada generasi muda tentang pengalaman mereka sebagai partisan. Pesannya keras: anak-anak harus belajar melawan, berbicara, berdiri ketika melihat sesuatu yang salah. Ia tidak mengubah masa lalunya menjadi cerita sentimental tentang cinta. Joe memang suaminya, tetapi sebelum menjadi suami, ia adalah lelaki yang pernah datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa ia akan pergi ke hutan.
Rose ikut.
Mereka tinggal di hutan selama lebih dari tiga tahun. Mereka membawa senjata, menjalankan misi, berlari dari penyergapan, mencari makanan dan obat-obatan. Rose pernah menemukan lubang peluru di sweater-nya setelah berhasil lolos bersama Joe dan seorang jenderal Polandia.
Sesudah perang, sweater itu tidak lagi diperlukan. Mereka membuka usaha. Mereka punya anak. Joe menua.
Foto-foto keluarga mulai memenuhi rumah mereka di New York. Dalam salah satu foto bertahun-tahun kemudian, Rose duduk sambil memegang foto Joe yang sudah meninggal. Lelaki di foto itu adalah lelaki yang dulu datang ke rumahnya ketika partisan mulai menerima perempuan.
“I’m going; you come with me.”
Rose ikut.
Sisanya berlangsung selama 65 tahun.
Catatan terkait: Surat yang Datang Setelah Penulisnya Mati di Medan Perang


