Utang Negara, Kiamat Fiskal, dan Masalah Paling Berbahaya di Dunia

Ilustrasi/unair.ac.id
Salah satu benda paling berbahaya di dunia tidak memiliki suara, tidak memiliki wajah, dan hampir tidak pernah masuk berita utama. Ia tersimpan dalam angka-angka panjang di layar Bloomberg, dalam tabel Kementerian Keuangan, dalam lembar obligasi yang diperdagangkan ribuan kali setiap detik oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah bertemu satu sama lain.

Namanya utang negara. 

Kedengarannya membosankan. Itulah masalahnya.

Orang bisa berjam-jam membicarakan kecerdasan buatan, perang dagang, roket, atau Bitcoin. Utang negara jarang membangkitkan adrenalin. Padahal beberapa krisis terbesar dalam sejarah modern bermula dari sesuatu yang tampak sangat teknis: pemerintah meminjam terlalu banyak uang, lalu dunia mulai bertanya apakah uang itu akan kembali. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Efeknya bisa mengubah nasib negara.

Pagi hari di Athena pada 2010 tidak terlihat seperti awal sebuah tragedi global. Wisatawan masih berjalan di sekitar Acropolis. Kafe-kafe masih buka. Laut Aegea tetap berkilau seperti biasa. Seorang pengunjung yang duduk minum kopi di Monastiraki mungkin tidak akan merasakan bahwa negara itu sedang bergerak menuju salah satu krisis utang paling terkenal abad ke-21.

Masalahnya tidak muncul dalam satu malam. Utang Yunani telah menumpuk bertahun-tahun. Anggaran defisit terus berjalan. Pemerintah berutang lebih banyak. Investor tetap membeli obligasi karena menganggap Yunani aman sebagai bagian dari zona euro. Kepercayaan sering terlihat kokoh sampai hari ketika ia tidak lagi kokoh.

Ketika investor mulai meragukan angka-angka fiskal Yunani, biaya pinjaman melonjak. Obligasi yang sebelumnya dianggap aman mendadak tampak beracun. Pemerintah harus membayar bunga lebih tinggi untuk mendapatkan uang baru. Kondisi itu memperburuk keadaan. Lingkaran setan terbentuk.

Saya selalu menganggap krisis utang memiliki kualitas psikologis yang aneh. Pada dasarnya ia adalah krisis kepercayaan. Uang memang penting, tetapi yang lebih penting adalah keyakinan bahwa uang itu akan dibayar kembali.

Selama keyakinan itu hidup, sistem berjalan. Ketika keyakinan itu retak, matematika berubah menjadi kepanikan.

Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, menghabiskan puluhan tahun mempelajari pola tersebut. Dalam kerangka pikirnya, sejarah ekonomi bergerak dalam siklus utang jangka panjang. Generasi demi generasi membangun sistem kredit yang semakin besar. Utang bertambah karena semua pihak merasa nyaman. Pemerintah meminjam. Perusahaan meminjam. Rumah tangga meminjam. Pertumbuhan ekonomi membuat semuanya terlihat masuk akal.

Utang yang kecil mudah dikelola. Utang yang besar masih bisa dikelola jika suku bunga rendah. Persoalan muncul ketika dua hal bertabrakan: utang sudah sangat besar, sementara biaya pinjaman meningkat. Kondisi seperti itulah yang sedang membuat banyak ekonom sekarang gelisah. 

Amerika Serikat memberikan contoh yang menarik. Utang federal telah melampaui puluhan triliun dolar. Angka itu begitu besar hingga kehilangan makna emosional. Otak manusia tidak dirancang untuk membayangkan satu triliun, apalagi puluhan triliun. Seseorang bisa melihat angka tersebut di layar dan tetap tenang karena skalanya terlalu abstrak.

Bunga tidak abstrak. Ketika suku bunga mendekati nol selama bertahun-tahun, pemerintah dapat meminjam dengan relatif murah. Saat bank sentral menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi, biaya pembayaran utang ikut naik.

Muncul situasi yang agak ironis. Semakin banyak pemerintah berutang, semakin sensitif mereka terhadap perubahan suku bunga. Setiap kenaikan kecil berubah menjadi tagihan raksasa. Kertas-kertas obligasi yang terlihat tenang mulai terasa berat. Bukan berat secara metaforis. Berat sungguhan. Berat dalam bentuk ratusan miliar dolar pembayaran bunga tambahan.

Laporan fiskal modern sering mengingatkan saya pada rumah tua yang masih berdiri tegak, tetapi mulai mengeluarkan suara aneh dari balik dinding. Dari luar, semuanya tampak normal. Cat masih menempel. Lampu masih menyala. Lalu terdengar bunyi retakan kecil.

Ekonom mulai menghitung rasio utang terhadap PDB. Investor mulai menghitung kebutuhan pembiayaan pemerintah. Bank sentral mulai menghitung berapa lama suku bunga tinggi dapat dipertahankan.

Kebanyakan orang tidak memperhatikan. Kebanyakan orang juga tidak memperhatikan pasar obligasi, sampai pasar obligasi memaksa mereka memperhatikan.

Pada September 2022, Inggris memberikan pelajaran yang cukup brutal. Pemerintahan singkat Liz Truss mengumumkan paket pemotongan pajak besar yang tidak memiliki sumber pendanaan yang jelas. Investor bereaksi negatif. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris melonjak sangat cepat. Dana pensiun menghadapi tekanan besar. Bank of England harus turun tangan untuk menstabilkan situasi.

Peristiwa itu berlangsung di negara yang dianggap salah satu pusat keuangan paling matang di dunia.

Pasar obligasi memiliki cara yang kasar dalam menyampaikan pendapatnya. Pemerintah yang menghadapi beban utang besar biasanya memiliki pilihan yang tidak menyenangkan. Daftarnya sudah dikenal sejak lama. Pajak bisa dinaikkan. Belanja bisa dipotong. Uang bisa dicetak lebih banyak. Utang bisa direstrukturisasi. Setiap pilihan menciptakan kelompok yang marah.

Kenaikan pajak memperlambat aktivitas ekonomi. Pemotongan anggaran memicu konflik politik. Pencetakan uang berisiko memunculkan inflasi. Restrukturisasi utang dapat menghancurkan kepercayaan investor selama bertahun-tahun. Tidak ada tombol ajaib di meja siapa pun.

Karena itulah saya sering merasa diskusi publik mengenai utang terlalu sederhana. Banyak orang membayangkan pemerintah seperti rumah tangga: jika utang besar, tinggal kurangi pengeluaran. Negara tidak bekerja sesederhana itu.

Negara memiliki mata uang, bank sentral, sistem perpajakan, serta kemampuan meminjam yang tidak dimiliki individu. Pada saat yang sama, negara juga terjebak dalam jaringan ekspektasi global yang jauh lebih rumit daripada neraca keluarga.

Satu keputusan fiskal di Washington dapat mempengaruhi pasar di Tokyo, Frankfurt, São Paulo, dan Jakarta, dalam hitungan jam. Keringat seorang trader obligasi di Manhattan bisa mempengaruhi nilai tukar mata uang ribuan kilometer jauhnya.

Ketika ketidakpastian meningkat, perilaku investor ikut berubah. Sebagian mencari perlindungan di emas. Sebagian membeli komoditas. Sebagian lagi berpindah ke Bitcoin.

Pilihan-pilihan tersebut sering diperlakukan seolah berasal dari keyakinan ideologis tertentu. Saya melihatnya lebih sebagai gejala psikologis. Orang mencari sesuatu yang berada di luar jangkauan keputusan politik sehari-hari. Emas tidak memiliki menteri keuangan. Bitcoin tidak memiliki rapat kabinet.

Emas batangan seberat satu kilogram terasa dingin dan padat ketika dipegang. Beratnya mengejutkan. Tidak banyak benda berukuran sekecil itu yang memberikan sensasi fisik seberat emas. Sensasi itu mungkin ikut menjelaskan mengapa manusia terus kembali kepada emas selama ribuan tahun.

Bitcoin menawarkan jenis daya tarik yang berbeda. Tidak ada kilau logam. Tidak ada berat di tangan. Hanya deretan angka dan kode kriptografi.

Ironisnya, aset yang paling kuno dan aset yang paling baru sering muncul dalam percakapan yang sama ketika kepercayaan terhadap sistem keuangan mulai goyah.

Saya tidak sepenuhnya menerima pandangan bahwa dunia sedang menuju krisis utang besar yang tak terhindarkan. Sejarah penuh dengan prediksi kiamat fiskal yang tidak pernah datang. Ekonomi sering menemukan jalan keluar yang tidak diperkirakan siapa pun sebelumnya.

Tetapi saya juga tidak menganggap remeh tanda-tanda yang sedang berkumpul. Utang meningkat. Populasi menua di banyak negara maju. Biaya bunga naik. Ketegangan geopolitik bertambah. Tagihan-tagihan lama masih berada di meja. Seseorang tetap harus membayarnya.

Di ruang perdagangan obligasi, layar-layar terus menyala sepanjang malam. Angka bergerak sepersekian detik. Warna merah berganti hijau lalu merah lagi. Kopi mulai dingin di samping keyboard. Mata terasa perih setelah menatap grafik terlalu lama.

Di tempat lain, seorang menteri keuangan membuka dokumen anggaran tahun depan, dan menemukan kolom pembayaran bunga kembali membengkak.


Related

Internasional 3091367073670315198

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item