Hiu adalah Makhluk Purba yang Jauh Lebih Tua dari Dinosaurus
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/hiu-adalah-makhluk-purba-yang-jauh.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Seekor hiu berenang di laut purba. Di sekelilingnya tidak ada pohon. Tidak ada hutan. Tidak ada daun yang berguguran. Tidak ada burung yang hinggap di ranting. Tidak ada ranting.
Kalimat terakhir terasa seperti kesalahan. Otak manusia menolaknya. Hiu dan pohon sama-sama terlihat tua. Sama-sama terasa purba. Keduanya tampak berasal dari dunia yang sangat jauh sebelum manusia. Insting kita mengelompokkannya dalam kategori yang sama: benda-benda kuno.
Masalahnya, insting itu salah.
Fosil hiu tertua yang diketahui berasal dari sekitar 450 juta tahun lalu, pada periode Ordovisium. Bentuknya belum persis seperti hiu modern, tetapi garis keturunannya sudah berenang di lautan Bumi ketika daratan masih tampak asing. Pohon pertama yang benar-benar dapat disebut pohon baru muncul sekitar 385 juta tahun lalu. Selisih waktunya kira-kira 60 juta tahun.
Enam puluh juta tahun. Angka itu bahkan sulit dirasakan. Enam puluh juta tahun lebih lama daripada rentang waktu yang memisahkan kita dari Tyrannosaurus rex. Dinosaurus ikonik itu hidup sekitar 68 juta tahun lalu. Dengan kata lain, jarak antara hiu pertama dan pohon pertama hampir setara dengan jarak antara manusia modern dan T. rex.
Kadang saya merasa sejarah alam semesta memiliki kebiasaan buruk mempermalukan intuisi manusia.
Banyak orang tumbuh dengan gambar mental yang sama. Dunia purba dibayangkan sebagai tempat penuh dinosaurus yang berjalan di antara pohon-pohon raksasa, sementara hiu berenang di laut dekat pantai. Semua elemen itu dicampur menjadi satu adegan besar bernama "zaman dahulu". Padahal kenyataannya jauh lebih berantakan.
Ketika hiu awal muncul, Bumi tampak sangat berbeda. Benua-benua belum berada di posisi sekarang. Samudra memiliki bentuk lain. Daratan sebagian besar tandus. Warna hijau yang sekarang mendominasi pemandangan dunia belum mengambil alih planet ini.
Bayangkan berdiri di sebuah pantai 430 juta tahun lalu. Angin mungkin masih terasa sama. Ombak masih menghantam garis pantai. Langit tetap biru. Matahari tetap menyilaukan sampai mata pedih jika menatap terlalu lama. Keakraban itu berhenti di sana.
Tatapan ke arah daratan akan menemukan bentangan yang aneh. Tidak ada hutan pinus. Tidak ada pohon jati. Tidak ada pohon ek. Tidak ada kelapa. Tidak ada suara dedaunan yang bergesekan. Daratan lebih menyerupai dunia asing.
Tumbuhan memang sudah mulai menjajah permukaan bumi dalam bentuk sederhana. Lumut dan tumbuhan kecil mulai muncul. Tingginya hanya beberapa centimeter atau puluhan centimeter. Lanskapnya datar, rendah, dan kosong menurut standar yang kita kenal. Sementara itu, hiu sudah menjalani hidupnya seperti biasa.
Fakta itu jadi semakin liar ketika menyadari bahwa hiu bukan sekadar bertahan hidup sejak masa itu. Mereka melewati hampir seluruh babak besar sejarah kehidupan. Mereka selamat dari kepunahan massal Ordovisium. Selamat dari kepunahan Devon Akhir. Selamat dari kepunahan Perm-Trias sekitar 252 juta tahun lalu, bencana terbesar dalam sejarah kehidupan yang memusnahkan lebih dari 90 persen spesies laut.
Kepunahan Perm-Trias begitu dahsyat sehingga, jika manusia hidup saat itu, kemungkinan besar kita tidak akan memiliki kata-kata yang cukup untuk menggambarkannya. Gunung-gunung berapi raksasa di wilayah yang kini menjadi Siberia memuntahkan material selama ratusan ribu tahun. Lautan kehilangan oksigen. Ekosistem runtuh.
Hiu tetap ada. Mereka kemudian menyaksikan munculnya dinosaurus.
Kata "menyaksikan" tentu tidak harfiah. Hiu tidak membuat catatan harian. Mereka tidak duduk sambil bertanya-tanya mengapa makhluk berkaki dua mulai berkeliaran di daratan. Namun secara biologis, garis keturunan mereka benar-benar sudah hadir ketika dinosaurus pertama muncul sekitar 230 juta tahun lalu.
Pikiran manusia sering memperlakukan dinosaurus sebagai simbol masa lalu yang sangat jauh. Kenyataannya, hiu bahkan lebih tua.
Seekor hiu modern yang berenang hari ini memiliki hubungan yang lebih dekat dengan dunia prasejarah daripada banyak makhluk yang kita sebut "purba".
Masalah lain muncul ketika orang membayangkan hiu sebagai spesies yang tidak berubah sejak awal waktu. Itu juga keliru. Hiu berevolusi terus-menerus. Bentuk mereka berubah. Banyak garis keturunan punah. Banyak spesies baru muncul.
Lautan masa lalu dihuni makhluk-makhluk yang terdengar seperti hasil imajinasi anak kecil yang diberi kebebasan penuh. Salah satunya adalah Megalodon, predator laut raksasa yang hidup jauh setelah dinosaurus punah. Panjangnya mungkin mencapai lebih dari 15 meter. Giginya sebesar telapak tangan orang dewasa.
Memegang fosil gigi Megalodon di museum sering menghasilkan sensasi yang aneh. Benda itu berat. Permukaannya dingin. Bentuknya sederhana. Tidak ada teknologi. Tidak ada keajaiban mekanis. Hanya sepotong gigi.
Otak kemudian mencoba menghitung ukuran mulut yang pernah memegang gigi tersebut. Lautan memiliki cara sendiri untuk membuat manusia merasa kecil.
Fakta tentang hiu dan pohon sebenarnya menyimpan kejutan lain yang lebih besar. Waktu geologi tidak berjalan seperti waktu manusia. Kita cenderung berpikir dalam puluhan tahun. Sejarawan berpikir dalam ratusan atau ribuan tahun. Geologi bergerak dalam jutaan tahun, dan pada skala itu urutan kejadian jadi sangat tidak intuitif.
Tyrannosaurus rex hidup lebih dekat ke manusia modern daripada ke Stegosaurus. Cincin Saturnus mungkin lebih muda daripada beberapa spesies hiu. Pegunungan Himalaya masih relatif muda dibandingkan usia kehidupan kompleks di Bumi. Daftar semacam itu bisa diperpanjang terus.
Kita hidup di atas planet yang sangat tua, sehingga bahasa sehari-hari sering gagal menggambarkannya. Kata "lama" kehilangan arti ketika rentang waktunya ratusan juta tahun. Angka-angka berubah menjadi kabut.
Mungkin karena itulah fakta hiu dan pohon terasa begitu mengganggu. Fakta itu merusak peta mental yang diam-diam kita gunakan untuk memahami masa lalu. Ternyata "kuno" bukan satu kategori besar. Masa lalu memiliki lapisan-lapisan yang sangat dalam.
Seekor hiu berenang di lautan. Puluhan juta tahun berlalu. Benua bergerak beberapa centimeter setiap tahun. Gunung muncul dan terkikis habis. Spesies datang dan menghilang.
Kemudian, pada suatu masa yang bagi geologi hampir terasa sekejap, pohon pertama akhirnya tumbuh menjulang dari tanah. Hiu-hiu di laut sudah menjadi veteran dunia yang sangat tua saat batang-batang kayu pertama mulai membelah langit.
Catatan terkait: Nagatitan, Dinosaurus yang Hidup di Thailand Sebelum Ada Agama
.jpg)

