'Collateral', Suatu Malam Ketika Jamie Foxx Menjadi Sopir Taksi
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/collateral-suatu-malam-ketika-jamie.html
![]() |
| Ilustrasi/spoilertown.com |
Max Durocher sudah dua belas tahun mengemudikan taksi di Los Angeles. Ia hafal jalan, tahu kapan lalu lintas mulai padat, tahu rute mana yang lebih cepat, tahu cara membuat penumpang merasa nyaman. Ia juga punya mimpi yang sangat sederhana: berhenti menjadi sopir taksi dan membuka perusahaan limusin sendiri. Di balik kaca depan taksinya terselip gambar sebuah pulau tropis. Ia bahkan menyebut Maldives sebagai tempat yang ingin didatanginya.
Masalah Max bukan karena ia tidak tahu apa yang diinginkannya. Masalahnya, ia terus menunda hidup yang diinginkannya.
Michael Mann membuat Collateral (2004) dari persoalan yang sebenarnya sangat kecil itu. Bukan terutama tentang seorang pembunuh bayaran yang harus menghabisi lima orang dalam satu malam, meskipun itulah mesin cerita yang membuat film terus bergerak. Film ini lebih tertarik pada seorang lelaki yang selama bertahun-tahun hidup dengan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa kehidupannya sekarang hanya sementara, sampai seorang penumpang bernama Vincent masuk ke dalam taksinya dan membuat kata “sementara” tidak lagi punya arti.
Vincent diperankan Tom Cruise. Pilihan itu luar biasa.
Cruise datang ke film dengan wajah yang selama puluhan tahun diasosiasikan dengan protagonis: pahlawan, orang baik, lelaki yang berlari menyelamatkan keadaan. Di Collateral, ia muncul dengan rambut abu-abu pendek, janggut tipis, setelan abu-abu yang rapi, dan wajah yang nyaris tidak menunjukkan rasa bersalah. Vincent tidak perlu mengancam orang dengan suara keras.
Ia membayar Max dengan beberapa lembar uang seratus dolar, duduk di kursi belakang, memberi instruksi dengan tenang, kemudian mengatakan bahwa ia hanya membutuhkan taksi sepanjang malam.
Lima tujuan. Lima orang. Satu malam.
Max menyetujui pekerjaan itu, karena uangnya terlalu bagus untuk ditolak. Beberapa menit kemudian, mayat jatuh dari lantai atas sebuah gedung dan menghantam atap taksinya. Tubuh itu tidak jatuh sebagai kejutan yang dibuat untuk membuat penonton berteriak. Tubuh itu menghantam mobil Max seperti benda berat yang merusak sesuatu yang ia miliki.
Vincent kemudian menjelaskan dengan caranya sendiri: orang itu sudah mati karena ditembak, bukan karena jatuh.
Kalimat semacam itu memperkenalkan cara berpikir Vincent. Ia membicarakan pembunuhan seperti orang lain membicarakan keterlambatan kereta.
Michael Mann tidak buru-buru menjadikan Vincent sebagai monster. Ia membiarkan keduanya duduk di dalam mobil, berbicara, berdebat, saling mengamati. Los Angeles malam hari menjadi ruang utama film. Lampu jalan memantul di kaca depan, gedung-gedung berubah menjadi bidang cahaya, jalan layang dan persimpangan terasa panjang, sementara musik James Newton Howard membuat kota terdengar dingin dan sedikit mabuk.
Mann menggunakan kamera digital HD untuk sebagian besar film, sebuah pilihan yang pada 2004 masih terasa kasar dibandingkan tampilan film seluloid yang lebih lazim. Hasilnya justru cocok dengan Los Angeles versinya: warna malam jadi berpendar, lampu kota tampak sedikit pecah, dan kota terasa seperti tempat yang tidak pernah benar-benar tidur.
Los Angeles dalam Collateral bukan kota yang ramai dalam pengertian biasa. Ia luas. Jalan-jalannya panjang. Orang-orang muncul sebentar kemudian hilang. Max bisa membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain tanpa benar-benar mengetahui siapa orang yang duduk di belakangnya.
Sampai Vincent masuk.
Hubungan mereka segera menjadi semacam percakapan paksa antara dua cara hidup. Max selalu mengatakan bahwa ia sedang menunggu waktu yang tepat. Vincent tidak percaya pada waktu yang tepat. Ia percaya pada pekerjaan yang harus selesai. Max menyimpan foto Maldives di depan matanya; Vincent bahkan tidak memiliki rumah yang perlu dirindukan.
Ketika Max mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai sopir taksi hanya sementara, Vincent mengutip John Lennon: hidup adalah apa yang terjadi ketika seseorang sibuk membuat rencana lain. Kutipan itu terdengar sok pintar kalau keluar dari karakter yang salah. Dari Vincent, kalimat itu terasa seperti sindiran. Lelaki ini tidak punya rencana untuk menjadi orang lain. Ia tahu apa yang ia lakukan, melakukannya, kemudian pergi.
Max justru memiliki terlalu banyak rencana.
Jamie Foxx memainkan pergeseran Max dengan sangat halus. Pada awal film, ia berbicara dengan Annie (Jada Pinkett Smith), seorang jaksa federal yang menjadi penumpang pertamanya malam itu. Percakapan mereka ringan. Annie sedang gugup menghadapi persidangan besar, Max mendengarkan, memberi saran kecil, dan mengantarnya ke pusat kota. Mereka berbicara tentang pekerjaan, tentang jalan, tentang hidup. Annie kemudian memberikan kartu namanya.
Adegan itu penting, karena Max masih memiliki kehidupan sebelum Vincent. Ia masih bisa membayangkan dirinya bersama seseorang. Ia masih memiliki kesempatan. Ia masih bisa memarkir taksinya suatu hari dan membuka bisnis sendiri.
Kemudian Vincent masuk.
Film berubah, tetapi Max tidak langsung berubah bersamanya. Ia masih mencoba mematuhi aturan. Ia berusaha mencari bantuan. Ia mencoba menawar. Ia mencoba meyakinkan Vincent. Ia bahkan sempat berharap polisi akan menyelesaikan semuanya. Tidak ada yang berhasil.
Perubahan terbesar Max terjadi bukan ketika ia memegang senjata, tetapi ketika ia mulai berhenti menerima keadaan sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah.
Salah satu adegan terbaik terjadi ketika Vincent membawa Max ke sebuah klub malam untuk menemui Daniel (Barry Shabaka Henley). Max tetap berada di dekat Vincent ketika pembunuh bayaran itu berbicara kepada target berikutnya. Suasana klub penuh cahaya biru, musik, manusia yang bergerak, dan percakapan yang terdengar biasa. Vincent duduk santai. Daniel berbicara dengannya. Max memperhatikan.
Beberapa menit kemudian, semuanya berubah.
Mann memiliki kemampuan langka untuk membuat kekerasan terasa sangat dekat tanpa harus membuat kamera menjerit. Senjata ditembakkan dengan suara yang tajam. Tubuh manusia memiliki berat. Mobil tidak berhenti dengan anggun ketika menabrak sesuatu. Ketika Max harus berhadapan dengan akibat kekerasan Vincent, wajah Foxx tidak terlihat seperti wajah pahlawan yang baru menemukan keberaniannya. Ia terlihat ketakutan. Itu jauh lebih masuk akal.
Foxx sedang berada di titik yang menarik dalam kariernya ketika film ini dibuat. Ia dikenal luas melalui komedi, terutama In Living Color dan The Jamie Foxx Show, sementara perannya dalam Ali sudah menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan dramatis. Collateral datang tepat sebelum Ray, film biografi Ray Charles yang kemudian memberinya Academy Award sebagai aktor terbaik. Roger Ebert bahkan menyebut penampilannya dalam Collateral sebagai sebuah “revelation”, karena Foxx mampu membuat Max tetap meyakinkan ketika bergerak dari ketakutan menuju keberanian.
Tom Cruise melakukan sesuatu yang berlawanan. Ia mengecilkan dirinya. Vincent tidak memiliki karisma heroik Cruise yang biasanya memenuhi layar. Ia tetap karismatik, tentu saja, tetapi karisma itu sekarang menjadi alat berbahaya. Senyum kecilnya terasa salah. Nada bicaranya terlalu tenang. Ia bisa menjelaskan sesuatu tentang kehidupan, jazz, atau kematian, dengan ekspresi orang yang sedang membahas menu makan malam.
Pada satu titik, Vincent berbicara tentang seorang tunawisma yang meninggal di kereta bawah tanah dan mengatakan bahwa hampir tidak seorang pun memperhatikannya. Pandangan Vincent terhadap manusia memang seperti itu: orang-orang adalah bagian dari arus kota. Lima targetnya hanyalah lima gangguan yang harus disingkirkan.
Max tidak bisa menerima cara berpikir tersebut. Ia juga tidak sepenuhnya mampu melawannya. Kontradiksi itulah yang membuat film terasa hidup.
Collateral kadang terlalu menikmati filsafat Vincent. Beberapa percakapannya terdengar seperti orang yang sudah membaca terlalu banyak buku eksistensialisme kemudian memutuskan untuk menjadi pembunuh bayaran. Vincent bisa sangat menarik ketika ia diam, bergerak, mengamati, dan bekerja. Ketika ia mulai menjelaskan pandangan hidupnya terlalu panjang, karakternya sedikit kehilangan misteri.
Film ini juga tidak selalu masuk akal. Cara Vincent memaksa Max terus mengikutinya membutuhkan beberapa kebetulan dan keputusan yang terlalu nyaman bagi skenario. Polisi, terutama detektif Ray Fanning yang dimainkan Mark Ruffalo, terus mendekati Vincent tetapi selalu tertinggal beberapa langkah. Struktur lima pembunuhan dalam satu malam juga terasa sangat dirancang.
Michael Mann tampaknya tidak terlalu peduli pada kelemahan tersebut. Ia lebih tertarik pada dua orang di dalam taksi.
Karena itulah adegan paling melekat justru sering kali tidak melibatkan tembakan. Max dan Vincent di dalam taksi. Mereka berbicara. Mereka melihat kota. Sesekali musik terdengar dari radio. Vincent mengatakan sesuatu yang membuat Max kesal. Max menjawab. Mobil terus bergerak.
Taksi itu menjadi ruang yang aneh: Vincent menguasai perjalanan, tetapi Max yang mengenal jalan. Vincent memiliki senjata, uang, dan kekuasaan. Max memiliki pengetahuan tentang kota.
Ketika Max akhirnya mulai melawan, yang digunakan bukan kemampuan rahasia yang selama ini disembunyikannya. Ia menggunakan apa yang sudah dimilikinya sejak awal: pengetahuan tentang jalan, mobil, waktu, dan kebiasaan manusia.
Mann juga tidak membuat Los Angeles menjadi sekadar latar. Ia memperlihatkan kota dari sudut yang jarang digunakan film Hollywood: jalan tol yang kosong, gedung kantor yang dingin, klub malam, gang, stasiun kereta, dan lampu-lampu yang tampak mengambang di kejauhan. Kota itu terasa sangat besar, tetapi Max tetap terkurung di dalam taksinya.
Sampai satu titik ia memutuskan untuk menghancurkan aturan permainan.
Adegan ketika Max mengambil keputusan besar di tengah malam itu terasa lebih penting daripada semua peluru yang ditembakkan sebelumnya. Seorang sopir taksi yang selama dua belas tahun menganggap dirinya sedang menunggu kehidupan yang sebenarnya akhirnya dipaksa melakukan sesuatu. Bukan karena ia tiba-tiba menjadi pemberani. Karena sudah tidak punya pilihan.
Ketika Collateral sampai pada pertemuan terakhirnya, kota mulai sepi. Kereta bergerak. Lampu berpendar di kaca. Napas terasa berat setelah satu malam yang terlalu panjang. Vincent masih berjalan dengan ketenangan yang sama, seolah-olah semua yang terjadi hanya gangguan kecil dalam jadwal kerjanya.
Max mengejarnya. Dua orang yang sejak awal film terjebak dalam perjalanan yang sama kini bergerak ke arah berbeda.
Kereta melaju. Pintu tertutup. Lampu di dalam gerbong berkedip sebentar. Kemudian Los Angeles kembali berjalan tanpa peduli siapa yang baru saja turun dari kereta.
Catatan terkait: Man on Fire: Maaf adalah Urusan Tuhan, Urusanku Menghabisi Kalian


