Kushyar ibn Labban, Pakar Astronomi dan Matematika Komputasional

Ilustrasi milik BSM
Sebagian ilmuwan meninggalkan nama yang langsung dikenali. Orang mendengar nama mereka dan segera teringat teori besar, hukum fisika, atau penemuan yang mengubah dunia. Kushyar ibn Labban tidak beruntung dalam urusan itu. Namanya jarang muncul di buku sejarah populer. Bahkan di antara pencinta sejarah sains Islam, ia sering tenggelam di bawah bayang-bayang tokoh-tokoh seperti Al-Biruni, Ibn Sina, atau Al-Battani.

Padahal ada sesuatu yang menarik pada sosok seperti Kushyar. Ia termasuk jenis ilmuwan yang memungkinkan peradaban bekerja. Bukan tokoh yang berdiri di puncak menara sambil mengumumkan revolusi intelektual, tapi orang yang menyusun alat-alat berpikir, merapikan metode, menulis buku pelajaran, dan memastikan generasi berikutnya dapat melangkah lebih jauh.

Nama lengkapnya Abu al-Hasan Kushyar ibn Labban ibn Bashahri al-Jili. Julukan “al-Jili” menunjukkan asal-usulnya dari Gilan, wilayah hijau di pesisir selatan Laut Kaspia yang kini termasuk bagian Iran utara. Siapa pun yang pernah melihat peta kawasan itu akan segera menyadari betapa berbeda Gilan dari citra Persia yang biasanya hidup dalam imajinasi orang. Tempat itu bukan dataran gurun yang luas. Gilan dipenuhi hutan, pegunungan, hujan, dan kelembapan. Kabut turun dari lereng Pegunungan Alborz. Laut Kaspia yang kelabu membentang di utara. Bahkan hingga kini wilayah itu terasa memiliki kepribadian geografis sendiri.

Kushyar lahir sekitar pertengahan abad ke-10, kemungkinan sekitar tahun 971. Dunia Islam pada masa itu sedang mengalami masa yang aneh. Secara intelektual, sangat produktif. Secara politik, semakin terpecah. Dinasti Abbasiyah masih ada di Baghdad, tetapi kekuasaan nyata sering berada di tangan dinasti-dinasti regional seperti Buwaihiyah di Persia atau Hamdaniyah di Suriah.

Keadaan seperti itu sering menghasilkan sesuatu yang paradoksal. Politik terpecah, ilmu pengetahuan berkembang.

Kita tidak mengetahui banyak tentang masa kecil Kushyar. Riwayat hidupnya tidak dipenuhi kisah-kisah dramatis. Tidak ada cerita bahwa ia pernah menjadi budak lalu naik menjadi ilmuwan besar. Tidak ada legenda bahwa ia menghafal seluruh perpustakaan sebelum usia dua belas tahun. Yang tersisa terutama adalah karya-karyanya. Kadang sejarah yang paling jujur memang seperti itu.

Nama ayahnya, Labban, menarik perhatian banyak sejarawan. Dalam bahasa Persia dan Arab, kata tersebut berkaitan dengan perdagangan susu atau produk susu. Sebagian menduga keluarganya mungkin berasal dari lingkungan pedagang atau pengrajin. Tidak ada bukti yang cukup untuk memastikan. Tetap saja, saya menyukai detail semacam itu. Nama keluarga sering jadi fosil kecil yang menyimpan jejak dunia yang sudah lama hilang.

Ketika Kushyar mulai muncul dalam catatan sejarah, ia telah menjadi astronom dan matematikawan yang dihormati. Bidang utamanya adalah astronomi praktis dan matematika komputasional. Kalimat itu mungkin terdengar membosankan bagi telinga modern. Padahal pada abad ke-10, kemampuan menghitung posisi benda langit bukan urusan sepele. Dari situ bergantung navigasi, penanggalan, waktu ibadah, astrologi istana, dan berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Salah satu karya terbesarnya adalah sebuah zij, kumpulan tabel astronomi yang dikenal sebagai Zij al-Jami’ wa al-Baligh. Tabel astronomi pada masa itu memiliki fungsi yang kurang lebih setara dengan perangkat lunak ilmiah sekarang. Jika seorang astronom ingin mengetahui posisi Mars pada tanggal tertentu, ia tidak bisa membuka aplikasi di telepon genggam. Ia harus membuka halaman demi halaman tabel angka.

Ribuan angka. Angka yang harus dihitung dengan tangan. Angka yang harus diperiksa ulang. Kesalahan kecil dapat menyebar seperti retakan di kaca.

Membaca manuskrip astronomi abad pertengahan kadang membuat mata lelah hanya dengan melihat reproduksi halamannya. Baris demi baris angka rapat memenuhi kertas. Saya selalu membayangkan para penyalin manuskrip yang harus menulis ulang semuanya. Satu digit salah dapat merusak pekerjaan berminggu-minggu. 

Kushyar bukan hanya astronom. Ia juga menulis salah satu buku matematika yang cukup berpengaruh dalam tradisi Islam timur. Karyanya tentang aritmetika dikenal dengan judul Usul Hisab al-Hind atau Prinsip-Prinsip Perhitungan India. Judul itu langsung mengungkap sesuatu yang penting tentang dunia intelektual saat itu.

Matematika yang digunakan Kushyar berasal dari sistem angka India yang telah diadopsi dan dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim selama berabad-abad. Sistem itulah yang kelak dikenal di Eropa sebagai angka Arab, meskipun akarnya berasal dari India. Nol, nilai tempat, dan metode perhitungan desimal, menjadi bagian dari perangkat kerja para matematikawan.

Banyak orang mengetahui bahwa angka yang kita gunakan sehari-hari berasal dari tradisi tersebut. Jauh lebih sedikit yang mengetahui siapa saja yang membantu menyebarkannya. Kushyar termasuk salah satunya.

Buku aritmetikanya tidak sekadar menjelaskan teori. Ia menjelaskan langkah demi langkah operasi matematika praktis. Cara menghitung. Cara mengalikan. Cara membagi. Cara menangani pecahan. Dalam beberapa hal, buku itu lebih dekat dengan buku pelajaran daripada risalah filsafat.

Ada kecenderungan untuk menganggap karya semacam itu kurang bergengsi dibanding teori besar. Saya tidak setuju. Peradaban dibangun oleh orang-orang yang menciptakan alat kerja intelektual yang bisa dipakai banyak orang.

Pengaruh Kushyar meluas ke luar Persia. Karya-karyanya dipelajari selama berabad-abad. Salinan manuskripnya ditemukan di berbagai wilayah dunia Islam. Beberapa diterjemahkan dan dikomentari oleh generasi berikutnya.

Astronomi, matematika, astrologi—ketiga bidang itu bercampur lebih erat daripada yang dibayangkan banyak orang modern. Hari ini kita memisahkan astronomi dan astrologi dengan garis tegas. Pada masa Kushyar, garis itu jauh lebih kabur. Seorang astronom istana sering diminta menghitung horoskop penguasa. Seorang ahli matematika mungkin sekaligus menyusun tabel astrologi.

Kushyar juga menulis tentang astrologi. Sebagian pembaca modern mungkin tergoda menganggap itu sebagai noda dalam reputasi ilmiahnya. Saya melihatnya lebih sebagai pengingat bahwa manusia abad ke-10 hidup dalam dunia intelektual yang berbeda. Mereka belum mewarisi pemisahan disiplin yang kita anggap alami.

Ada sesuatu yang menarik ketika membaca kehidupan ilmuwan dari masa itu. Kita menemukan kecerdasan matematis yang luar biasa berdampingan dengan keyakinan astrologis yang hari ini dianggap keliru. Kenyataan sejarah jarang mengikuti kategori nyaman yang kita sukai.

Masa hidup Kushyar beririsan dengan masa hidup Al-Biruni. Keduanya bergerak dalam lingkungan intelektual yang relatif sama. Al-Biruni kemudian jauh lebih terkenal, sebagian karena keluasan minat dan ketajaman analisisnya yang luar biasa. Kushyar memilih jalur yang lebih teknis.

Tokoh-tokoh seperti Kushyar sering menjadi korban cara kita menulis sejarah. Kita menyukai genius yang tampak unik dan revolusioner. Kita kurang tertarik pada ilmuwan yang memperhalus metode, memperbaiki perhitungan, atau mengajarkan teknik pada generasi berikutnya.

Padahal ketika seorang murid membuka manuskrip matematika Kushyar sekitar seribu tahun lalu, pengalaman itu mungkin jauh lebih penting bagi kehidupannya dibanding perdebatan filsafat yang megah. Di atas meja kayu, di bawah cahaya lampu minyak yang berbau jelaga, seorang siswa belajar menggunakan angka desimal, menyusun operasi hitung, dan memahami tabel astronomi.

Pekerjaan seperti itu tidak menghasilkan legenda.

Kushyar meninggal sekitar tahun 1029. Tahun itu dunia masih belum mengenal mesin cetak, kompas magnetik belum umum di wilayah Islam, dan teleskop masih enam abad di masa depan. Manuskrip-manuskripnya terus disalin setelah kematiannya. Sebagian hilang. Sebagian rusak. Sebagian bertahan.

Ketika sejarawan modern menelusuri naskah-naskah matematika abad pertengahan di perpustakaan Istanbul, Teheran, Kairo, atau St. Petersburg, nama Kushyar masih muncul. Tidak dengan kemegahan seorang penakluk. Tidak dengan aura seorang nabi filsafat. Namanya muncul dalam judul buku, catatan pinggir manuskrip, daftar guru, dan referensi teknis. Ada sesuatu yang hampir keras kepala tentang cara nama-nama seperti itu bertahan.

Di suatu tempat di pesisir Laut Kaspia, seorang anak dari Gilan tumbuh di dunia yang dipenuhi hujan, hutan, dan jalur dagang. Berpuluh tahun kemudian ia menulis tabel-tabel angka yang akan dibaca orang yang tak pernah ia kenal. Tinta mengering. Manuskrip berpindah tangan. Dinasti-dinasti runtuh. Kota-kota berganti penguasa.

Angka-angka yang ditulis Kushyar tetap duduk di halaman mereka, menunggu seseorang membukanya lagi.


Related

Tokoh 8401665926978947188

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item