Karl Marx Menulis Das Kapital, Dibantu Friedrich Engels yang Kapitalis

Ilustrasi milik BSM
Asap cerutu memenuhi ruang kerja sempit di Dean Street, Soho, London. Kertas bertumpuk di meja. Tagihan belum dibayar. Anak-anak sakit. Pemilik rumah datang menagih sewa. Karl Marx duduk membungkuk dengan mantel lusuh, menulis tentang bagaimana kapitalisme mengisap tenaga kerja manusia sampai ke sumsumnya.

Lalu uang datang. Bukan dari revolusi proletariat. Bukan dari koperasi buruh. Bukan dari serikat pekerja internasional. Uang datang dari Friedrich Engels, anak pengusaha tekstil. Sulit menemukan ironi sejarah yang lebih tajam daripada itu.

Karl Marx menulis Das Kapital—salah satu serangan intelektual paling berpengaruh terhadap kapitalisme—sambil bertahan hidup berkat transfer uang rutin dari Friedrich Engels, yang keluarganya memiliki pabrik kapas di Manchester, pusat Revolusi Industri Inggris. Kota yang oleh Marx sendiri dipandang sebagai laboratorium kekejaman kapitalisme modern.

Cerita ini sering dipakai untuk mengejek Marx. “Lihat? Anti-kapitalis kok dibiayai kapitalis.” Meme internet menyukai ironi sederhana seperti itu. Mudah dicerna. Cepat lucu. Tapi kisah aslinya lebih aneh daripada sekadar lelucon politik.

Engels memang benar-benar bekerja di dunia bisnis keluarga. Perusahaannya bernama Ermen & Engels, pabrik tekstil di Manchester. Manchester abad ke-19 bukan kota yang romantis. Langitnya penuh asap batu bara. Sungai Irwell kotor. Pabrik-pabrik berdiri seperti monster bata merah dengan jendela panjang. Anak-anak bekerja berjam-jam. Udara dipenuhi debu kapas halus yang masuk ke paru-paru buruh.

Engels melihat semua itu secara langsung. Ia bukan kapitalis yang cuma membaca laporan keuntungan sambil minum anggur. Ia masuk ke distrik kumuh pekerja Manchester bersama Mary Burns, perempuan pekerja Irlandia yang menjadi pasangannya bertahun-tahun. Burns memperlihatkan sisi kota yang biasanya tidak dilihat kelas menengah Inggris; lorong-lorong bau limbah, kamar sempit tanpa ventilasi, tubuh-tubuh buruh yang cepat tua sebelum usia 40.

Dari pengalaman itu, lahirlah buku The Condition of the Working Class in England tahun 1845. Engels menulis tentang anak-anak kurus, alkoholisme, penyakit paru, dan cara industrialisasi mengubah manusia jadi komponen mesin ekonomi.

Ironinya belum berhenti di situ. Keuntungan dari sistem yang ia benci justru dipakai Engels untuk membantu membiayai teori penghancuran sistem tersebut. Ada sesuatu yang hampir absurd di sana. Seperti pemilik restoran diam-diam mendanai buku panduan membakar dapurnya sendiri.

Karl Marx sendiri hidup dalam kekacauan finansial kronis. Orang sering membayangkannya sebagai intelektual dingin yang disiplin seperti profesor modern. Kenyataannya lebih dekat ke kombinasi antara jenius, peminjam uang abadi, dan lelaki yang sangat buruk mengatur hidup sehari-hari.

Ia tinggal di London dalam kondisi sering memprihatinkan. Surat-surat pribadinya penuh cerita utang. Kadang keluarganya tidak punya uang membeli batu bara untuk musim dingin. Kadang pakaian mereka digadaikan. Anak-anak Marx beberapa kali sakit parah. Tiga anaknya meninggal muda.

Ada detail yang brutal dalam biografi Marx; salah satu putrinya pernah menulis bahwa mereka bahkan kesulitan membeli peti mati saat seorang anak meninggal. Rumah mereka di Dean Street penuh bau lembap dan asap. Marx sendiri sering terserang bisul besar di tubuh, akibat stres dan kondisi hidup buruk. Ia mengeluh soal bisul itu terus-menerus dalam surat kepada Engels. Sangat manusiawi, dan sedikit menjijikkan.

Sementara itu, Engels hidup jauh lebih nyaman. Ia bisa berkuda. Bisa berburu rubah. Memakai pakaian bagus. Bersosialisasi dengan kalangan borjuis Manchester. Pada siang hari, ia bekerja di bisnis kapitalis keluarganya; malamnya ia berdiskusi tentang revolusi proletariat sambil minum dan merokok bersama Marx. Dua kehidupan berjalan paralel dalam satu tubuh.

Banyak orang modern membaca hubungan mereka seperti komedi hipokrisi. Saya rasa itu terlalu malas. Yang lebih menarik justru bagaimana Engels sendiri tampaknya sadar penuh akan kontradiksi itu. Ia membenci dunia industri kapitalis sekaligus terjebak di dalamnya secara material.

Engels pernah menyebut pekerjaan bisnisnya sebagai sesuatu yang memuakkan. Tapi ia tetap menjalankannya selama bertahun-tahun demi menopang Marx dan gerakan sosialis yang mereka bangun.

Bayangkan absurditas praktisnya; setiap kali buruh tekstil Manchester menghasilkan keuntungan tambahan untuk keluarga Engels, sebagian uang itu mungkin akhirnya dipakai membeli tinta, rokok, atau makanan bagi Marx untuk menulis kritik tentang eksploitasi buruh tekstil Manchester. Kapitalisme mendanai kritik paling mematikannya sendiri.

Ada lapisan lain yang lebih rumit. Marx sebenarnya tidak pernah mengutuk individu kapitalis semata sebagai monster pribadi. Fokus utamanya adalah sistem. Dalam teorinya, bahkan kapitalis sendiri adalah produk struktur ekonomi yang lebih besar. Jadi fakta bahwa Engels seorang pengusaha tidak otomatis membuat analisis Marx runtuh. Bagi Marx, persoalannya bukan “orang jahat versus orang baik”, tapi mekanisme ekonomi yang memaksa semua pihak bermain dalam logika akumulasi modal.

Tetap saja, secara visual ceritanya sulit ditolak. Marx duduk di British Museum Reading Room menulis tentang nilai lebih (surplus value), sementara uang sewa rumahnya datang dari laba industri tekstil.

British Museum waktu itu jadi semacam kantor kedua Marx. Ia menghabiskan bertahun-tahun membaca laporan ekonomi, statistik perdagangan, dan dokumen industri di sana. Rambutnya acak-acakan. Mantelnya sering tampak usang. Beberapa pustakawan mengenalnya sebagai pengunjung tetap yang keras kepala dan jarang rapi.

Di luar ruang baca megah itu, London era Victoria sedang berkembang liar; bank, rel kereta, saham, pabrik, perdagangan global. Kekaisaran Inggris mengalirkan kapas dari India dan Amerika. Buruh bekerja di pabrik-pabrik Lancashire. Semua bahan mentah sistem kapitalis modern ada di sekitar Marx secara fisik.

Lalu Engels mengirim uang lagi.

Hubungan mereka juga jauh lebih emosional daripada yang sering dibayangkan. Engels bukan sekadar “ATM revolusi”. Ketika Marx meninggal tahun 1883, Engels sangat terpukul. Ia kemudian menghabiskan banyak waktu menyusun dan menerbitkan jilid-jilid lanjutan Das Kapital dari catatan Marx yang berantakan. Tanpa Engels, kemungkinan besar banyak karya Marx tidak pernah selesai dipublikasikan secara utuh.

Jadi, ya, memang ada ironi besar di sini. Sulit menyangkalnya. Kritik paling terkenal terhadap kapitalisme sebagian ditopang keuntungan kapitalisme sendiri. Tapi sejarah intelektual memang sering bergerak lewat kontradiksi aneh seperti itu.

Gereja abad pertengahan mendanai seni yang kadang diam-diam mengkritik gereja. Negara mendanai universitas yang menghasilkan oposisi terhadap negara. Silicon Valley hari ini membiayai platform media sosial tempat orang mengutuk miliarder teknologi setiap hari. Sistem besar sering menghasilkan musuh dari dalam tubuhnya sendiri.

Orang-orang yang ingin menertawakan Marx biasanya berhenti di lapisan “haha, anti-kapitalis dibantu kapitalis.” Padahal yang lebih mengganggu justru fakta bahwa Marx mungkin memang benar tentang kemampuan kapitalisme menyerap segalanya, termasuk kritik terhadap dirinya sendiri.

Kapitalisme tidak selalu menghancurkan lawannya. Kadang ia menggajinya.

Engels meninggal sebagai lelaki cukup kaya. Marx meninggal lebih dulu dalam kondisi kesehatan buruk dan hidup yang tidak pernah benar-benar stabil. Di Pemakaman Highgate, London, makam Marx sekarang jadi tempat wisata politik. Orang datang membawa bunga, buku, atau selfie.

Tak jauh dari sana, dunia terus bergerak dengan logika pasar yang bahkan jauh lebih ganas daripada Manchester abad ke-19. Bursa saham buka tiap pagi. Triliunan dolar berpindah dalam hitungan detik. Buruh gudang Amazon dikejar target algoritma. Anak muda menjual tenaga dan perhatian mereka lewat aplikasi.

Di salah satu suratnya, Engels pernah mengirim uang sambil meminta maaf karena jumlahnya tidak terlalu besar bulan itu. Bisnis sedang sulit.

Revolusi kadang memang dibayar lewat transfer bank.


Related

Tokoh 4174223838348599408

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item