Kisah jBatik: Dicibir di Negeri Sendiri, Dipuji Dunia Internasional
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/kisah-jbatik-dicibir-di-negeri-sendiri.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Kecurigaan terhadap teknologi sering menyamar sebagai cinta budaya. Kalimat itu terdengar keras, tetapi kisah tiga anak muda Bandung yang menciptakan jBatik membuat saya sulit mencari kata yang lebih lunak. Ceritanya terlalu khas Indonesia. Begitu khas, sampai terasa seperti skenario film yang ditulis oleh orang yang sedang kesal.
Sekelompok anak muda datang membawa gagasan baru. Mereka mencoba menjelaskan bahwa tradisi tidak sedang mereka rusak. Mereka justru sedang berusaha memahaminya dari sudut yang berbeda. Tapi pintu ditutup. Mereka dianggap aneh. Mereka dianggap tidak mengerti budaya. Mereka dianggap terlalu banyak bermain komputer.
Beberapa tahun kemudian, penghargaan internasional datang. Orang-orang yang sebelumnya mencibir mulai diam. Sebagian ikut berfoto.
Bandung memang kota yang sering melahirkan kombinasi yang tidak biasa. Di satu sudut terdapat kampung-kampung pembatik. Di sudut lain berdiri kampus teknologi. Di antara keduanya muncul tiga nama: Muhamad Lukman, Yun Hariadi, dan Nancy Margried. Mereka tergabung dalam kelompok yang kemudian dikenal sebagai Pixel People Project. Ketiganya mengembangkan gagasan yang terdengar nyeleneh bagi banyak orang saat itu: menggunakan matematika fraktal dan perangkat lunak komputer untuk menghasilkan motif batik baru.
Fraktal bukan kata yang lazim terdengar di pasar tekstil. Orang lebih mudah membayangkan canting, malam panas, atau kain mori, daripada persamaan matematika. Fraktal adalah pola yang mengandung pengulangan bentuk pada berbagai skala. Cabang pohon, garis pantai, susunan daun pakis—banyak bentuk di alam memiliki sifat seperti itu.
Lukman dan kawan-kawan melihat sesuatu yang menarik: batik juga penuh pengulangan. Motif tumbuh dari motif. Pola melahirkan pola lain. Sebuah susunan kecil bisa menjadi bagian dari susunan yang lebih besar. Mereka menemukan jembatan antara matematika dan warisan budaya.
Dari sana lahirlah jBatik, perangkat lunak yang memungkinkan desainer mengeksplorasi motif-motif baru melalui parameter matematis. Sudut bisa diubah. Pengulangan bisa diubah. Ketebalan garis bisa diubah. Dari satu pola dasar, muncul ribuan variasi yang sebelumnya tidak pernah digambar tangan manusia. Nancy Margried pernah menjelaskan bahwa jutaan variasi desain dapat muncul hanya dengan mengubah satu parameter tertentu.
Sebagian orang langsung melihat kemungkinan yang luar biasa. Sebagian lain melihat ancaman.
Saya selalu heran dengan jenis ketakutan seperti itu. Seolah-olah budaya adalah benda rapuh yang akan hancur jika disentuh teknologi. Seolah-olah leluhur kita menghabiskan ratusan tahun menciptakan batik agar generasi berikutnya tidak boleh bereksperimen lagi. Pandangan semacam itu aneh jika dipikirkan lebih lama dari lima menit.
Batik yang kita kenal hari ini merupakan hasil perubahan terus-menerus. Motif pesisir dipengaruhi perdagangan internasional. Motif tertentu memuat unsur Tiongkok. Motif lain memperlihatkan jejak India, Arab, bahkan Eropa. Kain batik yang diakui dunia bukan produk kebekuan budaya. Ia justru hasil dari budaya yang terus bergerak.
Suasana Indonesia pada pertengahan 2000-an juga membuat cerita ini terasa lebih tajam. Saat itu internet belum menjadi bagian sehari-hari seperti sekarang. Smartphone belum mendominasi kehidupan. Kata "startup" bahkan belum menjadi mantra nasional seperti satu dekade kemudian. Banyak birokrasi masih memandang komputer sebagai alat administrasi, bukan alat kreativitas.
Ketika jBatik diperkenalkan, sebagian pihak melihat komputer masuk ke wilayah yang dianggap sakral. Reaksi defensif muncul. Tuduhan bahwa teknologi tersebut mencemari tradisi beredar. Kisah semacam itu berulang dalam banyak bentuk di Indonesia. Orang sering mengira cara terbaik melindungi budaya adalah membekukannya. Padahal benda yang dibekukan biasanya mati.
Lukman, Yun, dan Nancy tidak berhenti. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka. Salah satu mitra yang kemudian terlibat adalah Rumah Batik Komar di Bandung, yang membantu membawa hasil eksperimen digital itu ke dunia batik nyata. Kain tetap dibuat dengan proses membatik. Canting tetap digunakan. Lilin tetap dipanaskan. Komputer hanya membantu proses penciptaan motif.
Kisahnya mulai berubah ketika dunia luar melihat apa yang sedang mereka kerjakan.
Tahun 2008, Batik Fractal memperoleh UNESCO Award of Excellence. Penghargaan tersebut berfungsi sebagai semacam cap kualitas internasional bagi produk budaya dan kerajinan yang dinilai memiliki mutu tinggi dan potensi besar di pasar global. Nama Pixel People Project tiba-tiba muncul dalam percakapan yang sebelumnya tidak memberi mereka tempat. Produk mereka bahkan dipamerkan di Bangkok International BIG Fair.
Pada tahun yang sama, jBatik juga meraih penghargaan Asia-Pacific ICT Award dalam kategori budaya dan pariwisata. Sebuah perangkat lunak batik berbasis matematika yang sebelumnya dianggap aneh justru memperoleh pengakuan dari komunitas teknologi dan budaya internasional.
Bagian yang sering membuat saya menggeleng bukan penghargaan itu sendiri. Dunia internasional memang sering lebih cepat melihat nilai suatu inovasi dibanding lingkungan terdekat penciptanya. Yang membuat cerita ini terasa seperti satire adalah pola reaksinya. Pengakuan dari luar negeri sering menjadi semacam surat izin agar sebuah karya dianggap layak di negeri sendiri.
Ketika seorang peneliti Indonesia mendapat penghargaan di Tokyo atau Berlin, kita mendadak bangga. Ketika seorang seniman dipamerkan di Paris, kita mendadak menganggapnya penting. Sebelum itu, tidak jarang mereka harus menjelaskan diri berkali-kali kepada orang yang bahkan tidak memahami bidang yang sedang mereka kerjakan.
Saya tidak tahu berapa kali Lukman dan kawan-kawan harus menjawab pertanyaan yang sama. Mengapa batik dicampur matematika? Mengapa budaya harus memakai komputer? Mengapa motif baru diperlukan?
Pertanyaan terakhir itu lucu. Karena sejarah batik sendiri penuh motif baru.
Fraktal yang mereka gunakan bukan benda asing yang jatuh dari planet lain. Ia hanya bahasa matematika untuk menggambarkan pola yang sebenarnya sudah lama hidup di sekitar manusia. Orang bisa melihat prinsip serupa pada percabangan pohon flamboyan di Jalan Ir. H. Juanda Bandung, pada susunan daun pakis di Lembang, pada garis-garis yang terbentuk ketika sungai membelah tanah dari udara.
Kadang saya curiga konflik seperti ini sebenarnya bukan pertarungan antara tradisi dan teknologi. Konfliknya lebih sederhana. Imajinasi melawan kebiasaan. Teknologi hanya kebetulan berada di salah satu sisi.
Batik Fractal kemudian berkembang lebih jauh. jBatik digunakan untuk membantu perancangan motif dan membuka kemungkinan kreatif yang jauh lebih luas bagi para desainer batik. Pengguna dapat menggambar, mengedit, bahkan membangun pola baru dengan memanfaatkan prinsip-prinsip matematika fraktal yang diterjemahkan ke dalam perangkat lunak.
Di sebuah layar komputer, seseorang mengubah satu angka. Motif berubah. Satu angka lagi. Motif lain muncul. Jutaan kemungkinan sedang bergerak di depan mata.
Sementara di tempat lain, seseorang masih sibuk menjelaskan mengapa komputer tidak otomatis membuat batik jadi “kurang Indonesia”.
Catatan terkait: Bonus Demografi, Indonesia Emas: Antara Optimisme dan Realitas
.jpg)

