Ron Hubbard: “Kalau Ingin Kaya, Dirikan Agama”—Lalu Dia Bikin Agama

Ron Hubbard: “Kalau Ingin Kaya, Dirikan Agama”—Lalu Dia Bikin Agama
Ilustrasi milik BSM
Lampu kristal menggantung besar di langit-langit aula. Mobil-mobil mewah parkir rapi di halaman masjid. Kamera YouTube menyala. Seorang ustaz terkenal turun dari SUV hitam dengan jam tangan yang nilainya mungkin cukup untuk membayar kontrakan satu kampung selama setahun. Orang-orang berebut salaman sambil merekam dengan ponsel. Di dalam ruangan, ia bicara tentang zuhud. Tentang jangan cinta dunia. Kata “ikhlas” keluar dari mulut orang yang terbiasa dengan fashion mahal.

L. Ron Hubbard, pendiri sekte Scientology, konon pernah berkata, “Kalau ingin kaya, dirikan agama.” Banyak peneliti Scientology masih memperdebatkan sumber kalimat itu. Ada yang bilang berasal dari percakapan santai di konvensi science fiction akhir 1940-an. Ada yang bilang kutipan palsu yang telanjur hidup sendiri. Tapi kalimat itu bertahan karena terdengar terlalu cocok dengan kenyataan tertentu. Kalimat yang bertahan biasanya punya semacam daging pengalaman di dalamnya. 

Hubbard sendiri contoh yang sulit diabaikan. Penulis pulp science fiction yang hidup pas-pasan berubah menjadi pendiri organisasi global dengan properti mewah, armada kapal, jaringan internasional, dan sistem kursus spiritual berbayar yang nilainya bisa sangat mahal. Scientology, yang belakangan dianggap agama, tidak tumbuh seperti agama kuno yang lahir dari mitos berabad-abad. Ia lahir di era mesin tik, invoice, marketing, rekaman audio, dan strategi hukum korporat modern. Agama bertemu model bisnis Amerika.

Orang sering terlalu cepat defensif ketika topik uang dan agama dibicarakan bersamaan. Padahal sejarah manusia penuh sekali dengan hubungan itu. Gereja abad pertengahan menjual indulgensi. Televangelist Amerika hidup di mansion sambil meminta donasi dari pensiunan miskin. Guru spiritual India menerima Rolls-Royce dari pengikut. Biksu Buddha di beberapa negara Asia terlibat skandal uang dan properti. Fenomena itu lintas agama, lintas budaya, lintas zaman.

Karena manusia membawa nafsu yang sama ke mana-mana, termasuk ke tempat ibadah.

Saya pernah menonton siaran televangelist Amerika larut malam, beberapa tahun lalu. Studio televisinya terasa seperti gabungan gereja dan pusat belanja premium. Musik orkestra naik perlahan. Pendeta berjas mahal bicara tentang mujizat finansial sambil menatap kamera dengan intensitas salesman timeshare Florida. Di layar bawah muncul nomor rekening donasi. Ada ibu-ibu tua menangis lewat sambungan telepon, bilang hidupnya berubah setelah “seed offering” sekian dolar. 

Saya takjub, dan tanpa sadar ternganga.

Jim Bakker pernah membangun kerajaan religius bernama PTL Club pada 1970-an dan 1980-an. Taman hiburan Kristen. Hotel. Program televisi besar. Semua runtuh karena skandal seks dan keuangan. Jimmy Swaggart menangis di televisi setelah ketahuan memakai jasa pekerja seks. Kenneth Copeland punya jet pribadi dan pernah terlihat marah ketika ditanya kenapa perlu pesawat mewah. Wajahnya di wawancara itu aneh sekali—mata terbuka lebar, senyum terlalu tipis, seperti karakter dalam film horor yang menyamar jadi pendeta.

Di Indonesia bentuknya lebih halus, lebih tersenyum. Penceramah datang ke podcast dengan sneakers limited edition. Ceramah dipotong jadi konten TikTok dengan subtitle neon. Ada ustaz yang tarif ceramahnya puluhan juta rupiah sekali tampil. Ada yang punya bisnis travel umrah, skincare, properti syariah, restoran, sampai clothing line. Kadang lucu mendengar ceramah tentang kesederhanaan dari orang yang masuk studio sambil dikawal beberapa staf dan videografer. Tapi publik tetap mencintai mereka.

Bagian paling rumit dari semua itu, tidak semua penceramah kaya otomatis penipu. Itu terlalu malas sebagai analisis. Orang bisa berdakwah dengan tulus sekaligus menikmati uang dan popularitas. Manusia tidak sesederhana tokoh antagonis sinetron. Masalah muncul ketika kemewahan mulai menyatu dengan aura kesucian, lalu kritik dianggap dosa. Di situ hubungan kuasa mulai terasa busuk.

Agama punya sesuatu yang sangat langka dalam dunia manusia; legitimasi moral. Orang rela memberikan uang kepada tokoh agama bukan hanya karena kagum, tapi karena merasa sedang membeli kedekatan dengan sesuatu yang suci. Itu kekuatan luar biasa besar. Seorang motivator biasa mungkin bisa menjual seminar mahal. Tokoh agama bisa membuat orang menyerahkan tabungan sambil merasa bersyukur. Perbedaannya besar sekali.

Hubbard memahami psikologi itu dengan naluri hampir predatoris. Scientology membangun sistem level spiritual bertingkat yang harus ditebus dengan kursus dan auditing mahal. Orang bisa menghabiskan ratusan ribu dolar demi naik level “Operating Thetan”. Kritik terhadap Scientology sering menyebutnya lebih mirip perusahaan multi-level marketing spiritual dibanding agama tradisional.

Tetap saja pengikut bertahan. Kebutuhan manusia untuk percaya sering lebih kuat daripada alarm logika.

Saya kadang merasa internet memperparah semuanya, sekaligus membuka topengnya. Dulu tokoh agama hidup di mimbar lokal. Sekarang mereka punya lighting profesional, thumbnail YouTube, analytics engagement, sponsor produk, algoritma. Dakwah berubah jadi industri perhatian. Orang yang paling emosional, paling dramatis, paling pandai memainkan kemarahan atau harapan, biasanya menang. Sistem digital menghadiahi intensitas.

Ada ustaz yang videonya dipenuhi potongan musik sendu dan close-up jamaah menangis. Ada pendeta viral yang bicara dengan gaya stand-up comedy. Ada guru spiritual yang memahami angle kamera lebih baik daripada sebagian sineas indie. Sebagian dari mereka mungkin tidak sadar sedang berubah jadi brand. Sebagian lain sadar penuh dan sangat menikmati prosesnya.

Tubuh manusia gampang sekali mengaitkan kekayaan dengan kebenaran. Itu kelemahan tua. Orang melihat rumah besar, pengikut banyak, panggung megah, lalu otak diam-diam berbisik; mungkin orang ini memang diberkahi.

Padahal mafia juga bisa kaya. Politisi korup juga bisa kaya. Kartel narkoba juga bisa kaya.

Tapi ketika kekayaan dibungkus bahasa agama, kritik jadi lebih sulit. Ada rasa takut dianggap iri, kafir, kurang iman, pembenci ulama, atau tidak menghormati guru spiritual. Aura sakral menciptakan semacam tameng sosial yang sangat efektif.

Saya pernah menghadiri pengajian besar bertahun lalu di lapangan kota kecil Jawa Tengah. Panas sekali. Debu aspal naik. Anak-anak menangis karena bosan. Penjual es teh keliling teriak di belakang. Penceramah utama datang terlambat hampir dua jam, karena baru landing dari kota lain. Ketika akhirnya tiba, panitia langsung sibuk membuka jalan seperti menyambut pejabat negara.

Mobilnya Alphard putih. Ceramah malam itu tentang bahaya cinta dunia.

Ada momen kecil yang terus menempel di kepala saya; seorang bapak tua duduk di belakang, memasukkan uang lusuh ke kotak donasi, sementara bajunya penuh tambalan tipis di siku. Di panggung depan, layar LED besar memutar close-up wajah sang ustaz dengan kualitas HD sangat tajam, sampai pori-pori wajahnya terlihat.

Kadang ketimpangan terasa sangat fisik. Bau parfum mahal. Bau keringat jamaah. Suara tepuk tangan.

Orang-orang modern suka merasa lebih rasional dibanding manusia abad lampau. Saya tidak terlalu percaya itu. Kita tetap punya kebutuhan yang sama; ingin dipimpin, ingin diyakinkan hidup punya makna, ingin merasa penderitaan kita dilihat oleh sesuatu yang lebih tinggi. Tokoh agama yang karismatik memahami kebutuhan itu seperti pemain piano memahami tuts.

Mereka tahu kapan harus lembut. Kapan harus marah. Kapan harus menangis. Kapan harus diam beberapa detik sebelum meminta donasi.

Kalimat Hubbard terasa mengganggu justru karena ia terlalu sinis sekaligus terlalu realistis. Ia memotret sisi agama sebagai struktur kekuasaan manusia, bukan semata wahyu langit. Banyak orang religius marah pada kalimat itu karena merasa iman direduksi jadi bisnis. Tapi rasa marah itu sendiri mungkin muncul karena ada bagian kecil yang terasa benar.

Saya tidak bilang agama sebagai tipu daya. Itu kesimpulan murahan dan terlalu gampang. Banyak orang tulus hidup sederhana demi keyakinan mereka. Banyak pemuka agama yang benar-benar membantu orang, tanpa hidup mewah. Mereka ada. Tapi mereka biasanya lebih sunyi. Tidak selalu viral. Tidak selalu punya studio podcast dan tim media sosial. Ekonomi perhatian jarang memilih orang paling tulus.

Malam hari, setelah ceramah selesai, jamaah pulang pelan-pelan sambil membawa kotak nasi. Lampu panggung mulai dimatikan. Kru media membereskan tripod. Mobil ustaz keluar duluan dikawal panitia.

Di dekat pagar lapangan, seorang ibu masih berdiri memeluk anak kecil yang tertidur di pundaknya. Tangannya menggenggam brosur donasi pembangunan pesantren.


Related

Umum 2588603692303561315

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item