Paradoks Internet Era Kini: Konten Makin Banyak, Jejak Makin Sedikit

Ilustrasi milik BSM
Saya sering merasa, internet hari ini jauh lebih kaya dibanding internet sepuluh tahun yang lalu. Tapi entah kenapa, saya juga merasa jumlah situs/website hari ini sepertinya lebih sedikit (menyusut) dibanding sepuluh tahun lalu. Belakangan, saya menyadari bahwa dua hal yang tampaknya bertentangan itu terjadi secara bersamaan.

Kalau dilihat dari jumlah domain dan situs web secara global, internet sebenarnya masih terus bertambah. Setiap tahun jutaan domain baru didaftarkan. Domain .com saja sekarang jumlahnya ratusan juta. Kalau menghitung semua TLD (.com, .org, .id, .xyz, .ai, dan seterusnya), totalnya jauh lebih besar lagi.

Tetapi jumlah situs yang benar-benar hidup dan sering diperbarui kemungkinan justru menurun sebagai proporsi dari seluruh web. Itulah yang mungkin saya rasakan.

Sepertinya perubahan terbesar bukan pada ukuran internet, tetapi pada bentuk internet. Sekitar tahun 1998–2010, internet hampir identik dengan situs web. Kalau seseorang ingin berbicara kepada dunia, ia membuat situs pribadi, blog, forum, fansite, portal. Setiap orang seperti memiliki rumah sendiri.

Hari ini situasinya berbeda. Kalau seseorang ingin berbicara kepada dunia, ia membuat akun TikTok, Instagram, Facebook, X, LinkedIn, Discord, Telegram, YouTube. Rumahnya pindah ke apartemen.

Internet awal mirip kota yang dipenuhi rumah-rumah kecil. Masing-masing dicat sesuka hati. Punya pagar berbeda. Punya halaman berbeda. Punya papan nama berbeda. Hari ini, internet lebih mirip beberapa kompleks apartemen raksasa. Semua orang tinggal di gedung yang sama. Alamatnya bukan lagi www.namahobi.com tetapi instagram.com/...,  youtube.com/..., tiktok.com/...

Dari luar, internet tampak semakin besar. Padahal jumlah "rumah" mandiri berkurang. Khusus Indonesia, tampaknya perubahan itu bahkan lebih ekstrem.

Saya masih ingat masa ketika Blogger, WordPress, Multiply, Blogdetik, dan berbagai komunitas blog sangat hidup. Nama-nama seperti Dagdigdug, Blogfam, Blogdetik, Blogsome, Multiply Indonesia, pernah menjadi ekosistem sendiri. Belum lagi ribuan blog pribadi di Blogspot.

Sekarang? Sebagian besar sudah mati. Orangnya belum tentu berhenti menulis. Mereka pindah ke Instagram. Pindah ke Threads. Pindah ke LinkedIn. Pindah ke Medium. Pindah ke Substack. Pindah ke Facebook.

Forum juga mengalami nasib serupa. Dulu hampir setiap hobi memiliki forum sendiri. Forum fotografi. Forum burung. Forum mobil. Forum Linux. Forum anime. Forum sepak bola.

Sekarang? Sebagian besar komunitas itu pindah ke Discord, Reddit, Telegram, atau Facebook Group. Forum-forumnya masih ada. Penghuninya sudah pindah.

Google sendiri ikut mempercepat perubahan itu. Dulu Google mengirim trafik ke jutaan situs kecil. Sekarang hasil pencarian semakin dipenuhi oleh Reddit, YouTube, Wikipedia, Quora, dan situs media besar.

Belum lagi AI Overview yang mulai menjawab pertanyaan langsung tanpa pengguna harus membuka situs sumber. Banyak pemilik situs kecil merasa mereka semakin sulit ditemukan. Ironisnya, internet menjadi semakin tersentralisasi justru ketika jumlah halaman terus bertambah.

Ada satu perubahan lain yang menurut saya jauh lebih besar daripada semua itu. Dulu internet dibangun oleh amatir. Guru membuat situs. Mahasiswa membuat blog. Anak SMA membuat fansite. Orang pensiunan membuat halaman tentang koleksi prangko. Tidak ada yang berharap jadi influencer.

Hari ini sebagian besar konten dibuat dengan tujuan memperoleh view, subscriber, monetisasi, sponsor, afiliasi. Motivasinya berubah. Suasananya ikut berubah.

Saya bahkan punya dugaan yang agak liar. Kita mungkin sedang hidup pada masa ketika web terbuka (open web) perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih kecil dibanding "internet" secara keseluruhan.

Orang sering menganggap internet dan web adalah hal yang sama. Padahal tidak. Internet adalah infrastrukturnya. Web hanyalah salah satu layanannya.

Sekarang sebagian besar waktu orang di internet justru dihabiskan di ruang-ruang yang tidak lagi benar-benar bagian dari web terbuka: feed TikTok, aplikasi Instagram, WhatsApp, Discord, Telegram, Netflix, Spotify.

Crawler Google hampir tidak bisa melihat banyak dari ruang-ruang itu. Crawler Internet Archive lebih sulit lagi.

Ada satu observasi yang menurut saya cukup menyedihkan. Kalau pada tahun 2005 seorang anak berusia 16 tahun membuat blog tentang dinosaurus, kemungkinan besar blog itu bisa ditemukan Google, ditautkan oleh blog lain, masuk ke arsip Internet Archive, lalu bertahan sebagai bagian dari sejarah web.

Kalau hari ini anak berusia 16 tahun membuat akun TikTok tentang dinosaurus, videonya mungkin ditonton jutaan orang dalam seminggu. Enam bulan kemudian tenggelam. Dua tahun kemudian sulit dicari. Sepuluh tahun kemudian mungkin hilang sama sekali.

Paradoksnya terasa aneh. Kita menghasilkan konten digital dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi sebagian besar hidupnya justru semakin pendek.

Saya sering merasa bahwa internet awal dibangun untuk meninggalkan jejak, sedangkan internet sekarang dibangun untuk terus mengalir. Yang hilang bukan hanya blog-blog lama, tetapi juga kebiasaan membuat sesuatu yang kita harapkan masih bisa ditemukan bertahun-tahun setelah kita selesai menulisnya.


Related

Internet 5548230353586392704

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item