Muqaddimah, Kitab Pemikiran Ibn Khaldun yang Melampaui Zaman

Ilustrasi milik BSM
Sejarah sering dimulai dengan seorang raja, lalu berhenti pada seorang raja. Ibn Khaldun tidak puas dengan pola semacam itu. Ia melihat sebuah dinasti berdiri, tumbuh, menjadi kaya, membangun istana, memperbesar birokrasi, memungut pajak, memperkuat tentara, lalu perlahan kehilangan tenaga. Raja berganti. Bendera berganti. Nama dinasti berubah. Mekanismenya, menurut Ibn Khaldun, jauh lebih menarik daripada nama orang yang duduk di singgasana.

Abd al-Rahman Ibn Khaldun lahir di Tunis pada 732 H/1332 M dari keluarga Andalusia yang telah lama memiliki kedudukan administratif dan politik. Masa mudanya berlangsung di Afrika Utara yang penuh pergantian penguasa. Tunis, Fez, Tlemcen, Béjaïa, dan wilayah-wilayah Maghrib Barat, berada dalam jaringan kerajaan, suku, ulama, pejabat, dan kelompok militer yang saling berkompetisi. Ibn Khaldun sendiri masuk ke dunia politik itu. Ia menjadi sekretaris, diplomat, pejabat istana, dan penasihat beberapa penguasa.

Pengalaman tersebut penting. Ia tidak mengamati politik dari bangku penonton. Ia tahu bahwa sebuah keputusan raja tidak pernah benar-benar hanya keputusan raja. Di belakangnya terdapat pejabat yang harus menjalankan perintah, tentara yang harus dibayar, petani yang menghasilkan pajak, kelompok suku yang menyediakan dukungan militer, pedagang yang menggerakkan barang, dan elite yang terus menghitung apakah mereka masih memperoleh keuntungan dari kekuasaan yang sedang berjalan.

Pengalaman politiknya juga membuat hidupnya penuh perpindahan. Pada 1362 ia pergi ke Granada dan bekerja untuk Sultan Nasrid Muhammad V. Ia pernah menjadi diplomat untuk kerajaan Granada, termasuk menjalankan misi kepada Pedro I dari Kastilia. Ia kemudian kembali ke Afrika Utara, masuk lagi ke politik istana, dan beberapa kali terseret dalam pergantian penguasa. 

Pada suatu tahap ia menarik diri ke sebuah tempat bernama Qal‘at Ibn Salamah di wilayah Aljazair sekarang. Di sana, selama sekitar empat tahun, ia mengerjakan bagian besar dari karya yang kelak menjadi Muqaddimah.

Pengasingan relatif itu terasa penting karena kitab tersebut bukan hasil seorang akademisi yang hidup jauh dari politik. Ia ditulis oleh orang yang sudah melihat bagaimana kekuasaan bekerja dari jarak dekat, termasuk bagaimana seorang pejabat bisa naik, kehilangan perlindungan, berpindah kesetiaan, lalu kembali muncul di istana lain.

Hal pertama yang ingin dilakukan Ibn Khaldun adalah membersihkan sejarah dari berita yang tidak masuk akal. Ia menyebut perlunya sebuah ilmu untuk menilai kemungkinan dan kemustahilan peristiwa berdasarkan keadaan masyarakat. Dalam bahasa Arab yang ia gunakan, persoalannya berkaitan dengan ‘umran, kehidupan sosial manusia dan pola pembentukan masyarakat.

Itu gagasan yang sangat besar.

Sejarawan sebelum Ibn Khaldun tentu juga menilai sumber. Kritik terhadap riwayat sudah memiliki tradisi panjang dalam ilmu hadis dan historiografi Islam. Ibn Khaldun tidak tiba-tiba menemukan bahwa berita bisa salah. Sumbangan pikirannya terletak pada sesuatu yang lebih spesifik: struktur sosial itu sendiri dapat digunakan sebagai alat untuk menguji berita sejarah. 

Kalau sebuah kronik menyebut jumlah pasukan tertentu, periksa kemampuan masyarakat yang mengirimkannya. Kalau seorang penguasa disebut memiliki kekayaan yang luar biasa, lihat dari mana penerimaan negara berasal. Kalau sebuah kota dikatakan mampu memberi makan populasi yang sangat besar, lihat kondisi pertanian dan perdagangan wilayah tersebut.

Berita sejarah mulai berhadapan dengan aritmetika kehidupan.

Di sini Ibn Khaldun terasa sangat modern, meskipun istilah “sosiologi” tentu belum ada. Ia berbicara tentang pembagian kerja, produksi, perdagangan, perpajakan, kepadatan penduduk, kekuasaan politik, pendidikan, dan kemewahan. Semua itu bukan hiasan di sekitar sejarah. Semua itu ikut menentukan apa yang mungkin terjadi.

Konsep ‘asabiyyah menjadi salah satu bagian paling terkenal. Istilah itu biasanya diterjemahkan sebagai solidaritas kelompok atau kohesi sosial. Kelompok yang memiliki ‘asabiyyah kuat mampu bertahan, berperang, saling membantu, dan merebut kekuasaan. Dalam banyak analisis Ibn Khaldun, kelompok yang hidup dalam kondisi lebih keras memiliki ikatan sosial yang kuat. Ketika kelompok tersebut berhasil menaklukkan wilayah dan mendirikan dinasti, kekayaan mulai meningkat.

Masalahnya justru dimulai setelah kemenangan. Generasi berikutnya menikmati hasil yang diperoleh generasi pendiri. Istana jadi lebih megah. Kebutuhan hidup elite meningkat. Administrasi bertambah. Penguasa membutuhkan pemasukan lebih besar. Pajak naik. Ketika pajak semakin berat, kegiatan ekonomi dapat melemah. Basis penerimaan negara ikut menyusut. Penguasa merespons dengan mencari pemasukan lebih besar lagi.

Ibn Khaldun bahkan membuat pengamatan terkenal tentang pajak: tingkat pajak yang terlalu tinggi dapat mengurangi insentif produksi, dan pada akhirnya menghasilkan penerimaan yang lebih kecil. Dalam bahasa sekarang, orang mungkin tergoda menyebutnya teori insentif fiskal. Ibn Khaldun tentu tidak menggunakan istilah tersebut. Ia melihat hubungan antara pajak, aktivitas ekonomi, dan kapasitas negara dari pengamatan terhadap masyarakat yang ia kenal.

Kekuasaan, ekonomi, dan masyarakat, terus saling menarik.

Dinasti yang pada awalnya hidup sederhana perlahan menjadi mahal. Elite yang sebelumnya mampu bergerak dengan sedikit sumber daya mulai membutuhkan pelayan, bangunan, pakaian, makanan, hadiah, pasukan, dan birokrasi. Kemewahan bukan hanya persoalan moral pribadi dalam analisis Ibn Khaldun. Ia memiliki konsekuensi politik.

Ketika negara semakin bergantung pada pasukan profesional dan birokrasi, hubungan langsung antara penguasa dan kelompok yang sebelumnya menopang dinasti dapat melemah. ‘Asabiyyah yang sebelumnya memungkinkan sebuah kelompok menaklukkan kerajaan tidak otomatis bertahan setelah kelompok tersebut menjadi kelas penguasa yang nyaman.

Ibn Khaldun melihat semacam siklus dinasti: kelompok dengan solidaritas kuat merebut kekuasaan, membangun pemerintahan, menikmati kemakmuran, kehilangan sebagian kohesi awal, lalu menjadi rentan terhadap kelompok baru yang memiliki solidaritas lebih kuat. Siklus itu bukan jam mekanis yang selalu bergerak dalam jumlah tahun yang sama. Ia lebih menyerupai pola kecenderungan sosial.

Persoalan yang ia hadapi ternyata tidak berhenti pada teori dinasti. Muqaddimah juga penuh pengamatan yang sekarang terasa sangat biasa bagi ilmu sosial: manusia membutuhkan kerja sama; pekerjaan jadi lebih produktif ketika dibagi; kota menghasilkan bentuk kehidupan yang berbeda dari masyarakat pedalaman; kemakmuran mengubah kebutuhan manusia; pendidikan dan kebiasaan membentuk kemampuan; perdagangan dan produksi bergantung pada kondisi sosial.

Semua itu ditulis berabad-abad sebelum universitas modern memiliki departemen ekonomi atau sosiologi.

Ada bagian yang membuat Ibn Khaldun bahkan lebih menarik: ia tidak terlalu percaya pada cerita yang terlalu bagus. Dalam historiografi politik, jumlah pasukan bisa dibesar-besarkan untuk memperbesar kemenangan seorang raja. Kekayaan kota dapat dilebih-lebihkan untuk membuat masa lalu tampak gemilang. Kisah tentang kerajaan yang memiliki sumber daya tak terbatas mudah tumbuh karena penulis sejarah sering bekerja dekat dengan penguasa dan menerima informasi dari pihak yang mempunyai kepentingan.

Ibn Khaldun memahami bahwa hal-hal semacam itu kadang cuma “ngibul”, dan menempatkan cerita semacam itu di bawah tekanan realitas sosial.

Kalau populasi sebuah wilayah tidak memungkinkan pengerahan tentara dalam jumlah yang disebut kronik, angka itu patut dicurigai. Kalau pemasukan negara tidak memungkinkan pengeluaran yang dilaporkan, cerita itu perlu diperiksa. Kalau struktur sosial suatu masyarakat bertentangan dengan gambaran yang diberikan sejarawan, masalahnya bukan pada masyarakat. Bisa jadi masalahnya berada dalam kroniknya.

Di situlah Muqaddimah jadi sangat mengguncang pikiran daripada sekadar kitab tua tentang sejarah Islam. Ia mengajari pembaca untuk curiga terhadap narasi yang terlalu lancar.

Ibn Khaldun bukan ilmuwan modern yang bekerja dengan statistik, survei populasi, atau data nasional. Banyak teorinya mengenai siklus dinasti juga tidak dapat diperlakukan sebagai hukum universal. Ia memiliki keterbatasan, generalisasi, dan asumsi yang berasal dari dunia abad ke-14. Membaca dirinya sebagai “sosiolog pertama” lalu berhenti di sana justru membuatnya lebih kecil daripada dirinya sendiri.

Ia adalah sejarawan yang mulai memperlakukan masyarakat sebagai sesuatu yang mempunyai mekanisme.

Ketika melihat sebuah negara makmur, ia mencari struktur yang memungkinkan kemakmuran itu. Ketika melihat negara melemah, ia mencari perubahan dalam pajak, pengeluaran, solidaritas, kemewahan, dan hubungan sosial. Ketika membaca sebuah kronik, ia tidak hanya bertanya siapa yang menulisnya. Ia bertanya apakah dunia yang digambarkan penulis itu mungkin menghasilkan peristiwa yang dikisahkannya.

Itu cara membaca yang membuat sejarah jadi sedikit tidak nyaman.

Nama raja masih tercatat. Tahun perang masih bisa dicari. Istana masih dapat difoto. Tetapi Ibn Khaldun meminta pembaca menghitung hal-hal yang biasanya tidak masuk lukisan sejarah: gandum, pajak, jumlah pekerja, harga barang, tentara yang harus diberi makan, orang-orang yang meninggalkan desa, pejabat yang mengambil bagian dari penerimaan, dan kelompok sosial yang mulai tidak mau lagi membayar untuk mempertahankan sebuah kekuasaan.

Pada akhirnya, bahkan sebuah kerajaan besar harus makan.

Ibn Khaldun tahu itu. Kronik-kronik istana sering lupa.


Related

Keislaman 8128429030828492871

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item