Ritual Setan di Pekalongan: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/ritual-setan-di-pekalongan-apa-yang.html
![]() |
| Ilustrasi/minanews.net |
Video pendek yang beredar di media sosial memang punya semua bahan untuk membuat orang berhenti menggulir layar: malam hari, kostum makhluk mengerikan, kepala atau tubuh kambing, darah, figur yang tampak seperti monster, dan simbol-simbol geometris yang bagi sebagian orang langsung terasa “okultis”. Dari Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, potongan-potongan visual itu kemudian beredar dengan satu kesimpulan yang jauh lebih cepat daripada pemeriksaan faktanya: ritual setan.
Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 memang digelar pada Kamis malam, 10 September, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan masyarakat Simbang Kulon. Acara itu bukan pertunjukan kecil yang berlangsung diam-diam. Sebanyak 25 tim kreasi ikut tampil, membawa ogoh-ogoh, tarian, marching band, sound ala horeg, sepeda hias, dan berbagai karakter. Kegiatan tersebut berkaitan dengan tradisi khitanan massal yang telah memasuki penyelenggaraan ke-61, sekaligus rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Plt Bupati Pekalongan, Sukirman, bahkan hadir dalam acara itu.
Potongan video yang paling kontroversial memperlihatkan adegan teatrikal penyembelihan kambing. Dari sanalah persoalan membesar. Beberapa pemberitaan menyebut visual tersebut “mirip ritual satanic”, sementara di media sosial kalimatnya sering berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tegas: “ritual satanic”, “pemujaan setan”, bahkan berbagai dugaan lain yang tidak lagi memakai kata “mirip”.
Perubahan satu kata itu penting. “Mirip” adalah pengamatan visual. “Ritual satanic” adalah klaim tentang maksud dan kegiatan keagamaan seseorang. Keduanya tidak setara.
Kita bisa mengatakan sebuah adegan terlihat seperti ritual horor. Kita bisa mengatakan penggunaan simbol tertentu memang lazim ditemukan dalam budaya okultisme modern. Kita bahkan bisa mengatakan penyembelihan hewan dalam pertunjukan publik yang dirangkai dengan Maulid terasa janggal dan pantas dipertanyakan. Semua itu masih berada dalam wilayah yang bisa dipertanggungjawabkan. Melompat dari sana menjadi “mereka sedang melakukan ritual pemujaan setan” membutuhkan bukti lain: benarkah tujuannya memang itu, apakah konsepnya memang itu, apakah maksud simbolnya memang itu, apakah narasinya memang begitu, dan apakah memang ada praktik keagamaan atau ritual tertentu di balik pertunjukan itu.
Sampai pemberitaan yang tersedia sekarang, dasar untuk memastikan kesimpulan terakhir itu belum terlihat. Bahkan laporan yang membahas kontroversi tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa makna adegan tidak dapat dipastikan hanya dari potongan video dan tampilan kostum.
Persoalan simbol jadi lebih menarik lagi. Media sosial gemar memperlakukan simbol seolah-olah setiap bentuk mempunyai satu arti permanen. Padahal sejarah simbol hampir selalu lebih berantakan.
Ambil contoh Bintang Daud. Bentuknya sangat mudah dikenali: dua segitiga sama sisi yang saling bertumpuk sehingga membentuk bintang enam sudut, dalam bahasa Ibrani dikenal sebagai “Magen David”. Kini ia merupakan salah satu simbol paling dikenal dalam Yudaisme dan juga tampil di bendera Israel. Tetapi sejarahnya tidak sesederhana “bintang milik orang Yahudi sejak zaman kuno”. Penggunaan Bintang Daud sebagai lambang identitas Yahudi berkembang secara bertahap, dan simbol tersebut kemudian memperoleh sejarah yang sangat pahit ketika Nazi menjadikannya alat identifikasi dan penghinaan terhadap orang Yahudi.
Pada 1941, rezim Nazi mewajibkan orang Yahudi yang berusia enam tahun ke atas di wilayah Reich memakai bintang kuning berujung enam dengan kata “Jude” di dalamnya. Simbol yang sebelumnya memiliki sejarah keagamaan dan budaya dipaksa menjadi tanda yang mengatakan kepada seluruh masyarakat: orang ini adalah Yahudi, awasi dia, pisahkan dia.
Jadi kalau sebuah bentuk Bintang Daud muncul dalam suatu gambar, kita perlu bertanya: digunakan sebagai apa? Dalam konteks apa? Siapa yang membuatnya? Apa yang mengelilinginya? Bintang enam sudut tidak tiba-tiba menjadi “kode satanisme” hanya karena ditempatkan di sebuah pertunjukan menyeramkan. Bahkan koleksi seni Islam di Metropolitan Museum of Art memiliki benda-benda dengan motif bintang enam sebagai ornamen geometris.
Hal yang sama berlaku untuk “mata satu”. Simbol mata dalam segitiga sering disebut Eye of Providence atau All-Seeing Eye. Di internet, ia hampir otomatis diseret kepada Illuminati, Freemasonry, elite global, atau satanisme. Sejarahnya jauh lebih tua dan lebih membosankan daripada teori konspirasi.
Dalam ikonografi Kristen Eropa, mata di dalam segitiga digunakan untuk menggambarkan pengawasan atau kemahatahuan Tuhan; segitiga sendiri dapat merujuk pada Tritunggal. Simbol itu kemudian digunakan dalam berbagai tradisi, termasuk Freemasonry. Eye of Providence juga masuk ke desain Great Seal Amerika Serikat pada 1782 dan akhirnya muncul di sisi belakang uang satu dolar.
Karena itu, melihat sebuah mata dalam segitiga lalu berkata “Illuminati” sebenarnya baru menyebut satu kemungkinan asosiasi modern, bukan mengidentifikasi maksud pembuat gambar. Mata tersebut bisa memiliki makna religius, simbolis, dekoratif, atau memang dipakai untuk membangun estetika misterius. Bentuknya sama; konteksnya yang berbeda.
Pentagram bahkan lebih rumit. Bintang lima sudut bukan ciptaan satanisme. Artefak Mesir dari periode 664–525 SM saja sudah memperlihatkan penggunaan bintang lima sudut. Dalam sejarah yang panjang, bentuk tersebut digunakan dalam berbagai kebudayaan dan tradisi simbolik. Penggunaan pentagram terbalik dalam Satanisme modern memang membuat bentuk itu memperoleh asosiasi gelap yang kuat, tetapi asosiasi tersebut merupakan lapisan sejarah tertentu, bukan sifat bawaan dari setiap bintang lima sudut.
Di sinilah orang sering melakukan kesalahan yang sama: menemukan sebuah simbol yang memang “pernah” digunakan kelompok tertentu, kemudian menganggap setiap kemunculannya pasti menunjukkan kelompok tersebut. Kalau logika semacam itu dipakai terus, simbol agama, lambang negara, bentuk geometris, bahkan mata manusia, akan menjadi tersangka. Itu namanya tidak ilmiah, tidak akademis, dan sak peneke dewe.
Penyembelihan kambing memang persoalan yang berbeda karena ia bukan sekadar bentuk geometris. Visual darah dan hewan yang disembelih tentu memiliki daya kejut yang jauh lebih besar. Wajar jika penonton bertanya mengapa adegan semacam itu dipilih untuk sebuah karnaval yang berada dalam rangkaian Maulid Nabi. Pertanyaan itu sah. Bahkan menurut saya justru itu pertanyaan yang lebih berguna daripada buru-buru menyebut satanisme.
Kita perlu tahu apakah adegan tersebut dimaksudkan sebagai teatrikal, bagian dari cerita tertentu, simbol karakter jahat, sekadar pertunjukan ekstrem, atau memang memiliki makna ritual. Kalau memang ada praktik ritual keagamaan tertentu, penyelenggara harus bisa menjelaskannya. Kalau sekadar pertunjukan, mereka juga perlu menjelaskan mengapa memilih bentuk pertunjukan yang secara visual sangat mudah dibaca sebagai pemujaan setan.
Itu persoalan komunikasi publik, bukan ilmu gaib.
Berdasarkan pemberitaan media yang saya baca, pelaku pertunjukan itu menyatakan bahwa “ritual penyembelihan kambing” dalam pertunjukan cuma teatrikal. Memang ada kambing dibawa ke acara itu, katanya, tapi sebenarnya tidak benar-benar disembelih di sana. Mereka sudah mempersiapkan satu kepala kambing yang mereka beli secara khusus, dan kepala kambing itulah yang lalu mereka angkat di acara tersebut, seolah-olah memang ada penyembelihan.
Omong-omong, acara di Simbang Kulon memperlihatkan bagaimana sebuah acara rakyat bisa mencampurkan banyak hal sekaligus: Maulid, khitanan massal, ogoh-ogoh, marching band, kostum, lomba kreativitas, dan ribuan penonton. Laporan Suara Merdeka bahkan menyebut beberapa tim mengeluarkan biaya hingga puluhan juta rupiah untuk mempersiapkan penampilan. Dalam suasana seperti itu, tidak mengherankan jika peserta berlomba membuat sesuatu yang semakin besar, semakin keras, semakin aneh, semakin mudah direkam kamera ponsel.
Masalahnya, kamera ponsel tidak membawa footnote apalagi daftar pustaka. Ia hanya membawa gambar.
Orang yang melihat video lima belas detik mungkin tidak tahu siapa yang membuat kostum, apa nama kelompoknya, apa tema penampilannya, atau adegan apa yang terjadi sebelum dan sesudah potongan video tersebut. Tetapi otak manusia tidak suka ruang kosong. Ia mengisinya sendiri. Kepala kambing menjadi ritual. Mata menjadi Illuminati. Bintang menjadi satanisme. Kostum monster menjadi bukti. Satu video pendek berubah menjadi cerita lengkap.
Padahal cerita lengkapnya belum tentu kita miliki.
Kita bahkan melihat pola yang sama ketika seorang peserta bernama Ahmad Faiz diberitakan meninggal setelah mengikuti karnaval. Peristiwa kematian itu ikut diseret ke dalam percakapan mengenai “ritual” tersebut, meskipun keluarga meminta agar kematian Ahmad tidak dikaitkan sembarangan dengan kostum atau adegan karnaval. Peristiwa yang berbeda mulai dijahit menjadi satu cerita karena semuanya terjadi pada malam yang sama.
Di media sosial, cerita semacam itu jauh lebih enak dikonsumsi daripada kalimat sederhana: “Kita belum tahu maksud adegan tersebut.”
Kalimat terakhir memang tidak terlalu viral.
Karnaval Simbang Kulon tetap layak dikritik. Kalau benar ada penyembelihan kambing hidup di tengah pertunjukan, orang berhak mempertanyakan aspek etika dan kesejahteraan hewan. Kalau simbol yang dipakai menimbulkan tafsir yang sangat jauh dari konteks acara Maulid, panitia juga pantas ditanya soal kurasi. Kalau konsep pertunjukannya memang mengambil unsur okultisme, publik berhak mengetahui dengan terang.
Semua itu bisa dilakukan tanpa menambahkan satu fakta yang belum terbukti: bahwa warga Simbang Kulon sedang melakukan ritual pemujaan setan.
Karena ketika sebuah bintang enam sudut, sebuah mata, sebuah pentagram, seekor kambing, darah, dan kostum monster sudah dikumpulkan dalam satu video, pekerjaan paling mudah memang menunjuk layar dan berkata, “Setan.”
Pekerjaan yang sedikit lebih merepotkan adalah bertanya, “Simbol yang mana? Dari tradisi mana? Digunakan oleh siapa? Dalam konteks apa?”
Video berikutnya mungkin akan lebih panjang. Penjelasannya juga mungkin muncul. Untuk sementara, gambar-gambar itu masih bergerak di layar ponsel orang-orang, dipotong menjadi lima belas detik, diberi musik yang menegangkan, kemudian dikirim lagi ke grup WhatsApp keluarga.
Catatan terkait: Mama Ghufron Bisa Berbahasa Semut dan Bahasa Angin, Katanya


