Oleg Penkovsky, Intelijen Soviet yang Dibakar Hidup-hidup di Krematorium

Ilustrasi/id.rbth.com
Ruang sidang Soviet punya atmosfer yang membuat tenggorokan terasa kering bahkan dari foto hitam-putihnya. Lampu terang jatuh keras ke wajah terdakwa. Seragam militer rapi. Hakim membaca dakwaan dengan nada datar seperti pegawai kantor pos. Di kursi terdakwa, duduk seorang kolonel GRU bernama Oleg Penkovsky, pria yang pernah begitu dekat dengan mesin militer Soviet sampai ia tahu bagian mana yang sebenarnya rapuh.

Tubuhnya tampak kurus saat persidangan 1963 itu. Mata cekung. Rambut menipis. Tidak ada aura James Bond. Tidak ada romantisme mata-mata. Yang terlihat justru kelelahan seorang lelaki yang terlalu lama hidup dengan ketakutan menempel di tengkuknya.

Beberapa bulan sebelumnya, dunia nyaris masuk perang nuklir.

Washington dan Moskow sedang bermain poker dengan misil sungguhan. Foto-foto pengintaian U-2 menunjukkan rudal Soviet di Kuba. Gedung Putih panik. John F. Kennedy ditekan jenderal-jenderalnya untuk menyerang. 

Di Kremlin, Nikita Khrushchev menggertak balik. 

Orang-orang sekarang sering membicarakan Krisis Rudal Kuba dengan nada akademis yang rapi, padahal kenyataannya jauh lebih primitif; sekelompok pria tua dengan ego besar, rokok tanpa henti, telepon panas, dan senjata yang bisa mengubah Miami atau Kiev menjadi debu bercahaya.

Penkovsky membantu Barat memahami sesuatu yang sangat penting; Soviet tidak sekuat propaganda yang mereka koar-koarkan.

Informasi yang ia bocorkan ke CIA dan MI6 memberi gambaran nyata tentang kemampuan rudal Soviet. Banyak misil Soviet ternyata belum operasional penuh. Jumlahnya tidak semassif yang dibayangkan Washington. Khrushchev ternyata banyak bermain gertakan geopolitik. Pengetahuan itu memberi ruang bernapas untuk Kennedy. Sedikit saja perhitungan berbeda waktu itu, dunia bisa berubah menjadi ladang abu radioaktif.

Nama Penkovsky muncul di tengah dunia Soviet yang penuh beton kusam, paranoia, dan antrean panjang. Ia lahir pada 1919 di Vladikavkaz. Ayahnya pernah bertempur di pihak Tentara Putih anti-Bolshevik dalam Perang Saudara Rusia—fakta yang sebenarnya sudah cukup membuat hidup seseorang sulit di Uni Soviet. Sistem Soviet tidak gampang lupa garis keturunan.

Penkovsky tumbuh menjadi perwira ambisius. Ia masuk GRU, intelijen militer Soviet, lembaga yang bahkan punya rivalitas penuh racun dengan KGB. Di foto-foto lama, wajahnya tampak seperti birokrat militer biasa; dahi lebar, senyum tipis, mata yang terlihat terus menghitung sesuatu.

Ia menyukai gaya hidup lebih mewah dibanding citra ideal “manusia Soviet baru”. Itu penting. Banyak mata-mata lahir bukan hanya dari ideologi, tapi juga dari rasa kecewa sosial yang kecil-kecil lalu menumpuk. Penkovsky ingin naik lebih tinggi di struktur kekuasaan Soviet dan merasa jalurnya terhambat. Ia punya koneksi dengan Marsekal Sergei Varentsov, tokoh artileri Soviet berpengaruh. Saat Varentsov jatuh secara politik, karier Penkovsky ikut terguncang.

Di Moskow awal 1960-an, orang bisa hancur hanya karena pelindung politiknya kehilangan posisi.

Kisah perekrutan Penkovsky terasa absurd sekaligus nekat. Ia sendiri yang mendekati Barat. Bukan Barat yang pertama menemukan dia. Ada cerita tentang dirinya mendekati dua mahasiswa Amerika di Jembatan Moskvoretsky. Ada episode ketika ia memberikan paket kepada seorang warga Inggris di Moskow. Ia tampak seperti orang yang begitu ingin diperhatikan intelijen Barat sampai nyaris bunuh diri sosial.

CIA sempat curiga itu jebakan KGB. Terlalu mudah. Terlalu berani.

Ternyata bukan.

Selama berbulan-bulan, Penkovsky menyerahkan ribuan dokumen rahasia kepada MI6 dan CIA. Manual misil. Struktur militer. Foto. Detail teknis yang bahkan membuat analis Barat terkejut karena tingkat aksesnya sangat tinggi. Di London dan Washington, orang-orang lembur membaca dokumen-dokumen itu sampai dini hari. Tumpukan kertas tebal, bau kopi dingin, abu rokok memenuhi meja.

Kadang dunia berubah bukan karena pidato besar, tapi karena seseorang diam-diam memotret dokumen dengan kamera Minox kecil di apartemen tertutup tirai.

Penkovsky punya kolega Inggris bernama Greville Wynne, seorang pengusaha yang jauh dari citra mata-mata glamor. Wynne lebih mirip salesman lelah yang terlalu sering naik pesawat. Mereka bertemu di hotel-hotel Eropa, ruang konferensi perdagangan, tempat-tempat yang sengaja dipilih karena tampak membosankan.

Sistem intelijen sering bergantung pada lokasi yang membosankan. Lift hotel dengan karpet kusam. Restoran setengah kosong di Wina. Koper dengan dokumen diselipkan di antara botol minuman dan pakaian dalam.

Film-film suka menghapus detail seperti bau keringat di bawah mantel wol atau rasa panik ketika seseorang mengetuk pintu kamar hotel terlalu keras.

Penkovsky juga tampak menikmati perannya. Itu bagian yang agak mengganggu. Beberapa laporan menggambarkannya suka berbicara terlalu banyak, terlalu dramatis, terlalu ingin dianggap penting. Ia bukan agen dingin sempurna ala novel John le Carré. Kadang ia terasa seperti pria Soviet yang muak hidup di sistem penuh kebohongan, lalu menemukan sensasi baru dalam pengkhianatan.

Atau mungkin ia memang percaya Uni Soviet sedang dipimpin orang-orang berbahaya.

Moskow saat itu penuh ketegangan pasca-Stalin. Khrushchev mencoba tampil lebih longgar dibanding era teror Stalin, tetapi Soviet tetap negara yang menelan manusia dengan mudah. Gedung Lubyanka masih berdiri angkuh dengan reputasinya yang membuat orang menurunkan suara saat menyebut namanya. Koridor-koridor panjang. Lampu pucat. Bau disinfektan dan kertas tua.

KGB mulai curiga pada Penkovsky pada 1962. Ada perdebatan tentang bagaimana ia terbongkar. Sebagian menyebut pengawasan internal Soviet makin ketat. Sebagian lain menuduh ada kebocoran dari mata-mata ganda seperti George Blake atau mungkin bahkan Kim Philby. Dunia intelijen penuh orang yang saling mengkhianati pengkhianat lain.

Penangkapan Penkovsky berlangsung cepat. Ia dibawa pergi, diinterogasi, dipaksa menghadapi mesin negara Soviet yang terkenal brutal bahkan di antara standar negara-negara totaliter lain. Wajahnya saat persidangan tampak seperti orang yang sudah kurang tidur selama berminggu-minggu.

Uni Soviet sengaja menjadikan sidangnya tontonan publik. Pesannya jelas; negara melihat semuanya.

Greville Wynne juga ditangkap dan dipenjara di Moskow sebelum akhirnya ditukar tahanan. Memoarnya kemudian ikut membentuk legenda Penkovsky di Barat. Sebagian kisahnya mungkin dilebih-lebihkan. Dunia mata-mata suka memproduksi mitologi sendiri.

Eksekusi Penkovsky menjadi salah satu bagian paling gelap. Versi resmi Soviet menyatakan ia ditembak mati pada 1963. Cukup sederhana. Cukup administratif. Selembar dokumen, regu tembak, selesai.

Lalu muncul cerita lain yang jauh lebih mengerikan. Viktor Suvorov, mantan perwira GRU yang membelot ke Barat, menulis bahwa Penkovsky dibakar hidup-hidup di krematorium industri. Tubuhnya didorong ke tungku dalam keadaan masih sadar sebagai bentuk hukuman simbolik terhadap pengkhianat. Cerita itu begitu brutal sampai terdengar seperti propaganda anti-Soviet murahan. Masalahnya, Uni Soviet memang punya sejarah kekerasan yang membuat cerita semacam itu sulit sepenuhnya diabaikan.

Sulit menghapus bayangan tentang ruang krematorium industri Soviet; besi panas, suara mesin berat, bau logam dan abu. Bahkan jika cerita itu tidak benar sekalipun, fakta bahwa banyak orang langsung percaya menunjukkan reputasi seperti apa yang dimiliki negara Soviet saat itu.

KGB membangun reputasi lewat rasa takut yang konkret. Orang hilang. Orang dipaksa mengaku. Orang pulang dari interogasi dengan wajah berubah.

Penkovsky mungkin salah satu mata-mata paling penting abad ke-20. Ironisnya, sebagian besar orang sekarang bahkan tidak mengenali wajahnya. Nama-nama seperti James Bond jauh lebih terkenal dibanding lelaki asli yang membantu mencegah perang nuklir sambil hidup dalam paranoia dan kemungkinan mati mengenaskan.

Di arsip-arsip lama Perang Dingin, foto Penkovsky masih ada; berdasi rapi, tersenyum tipis, tampak seperti pegawai kementerian biasa yang mungkin mengeluh soal cuaca atau harga roti.

Lalu seseorang membuka laci logam abu-abu di Lubyanka.


Related

Tokoh 9155464130210855151

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item