Orang Pintar di Tengah Orang-orang Pintar: Catatan dari Cambridge

Ilustrasi milik BSM
Di sebuah supervision Cambridge, seseorang bisa menghabiskan dua puluh menit menjelaskan sesuatu yang menurutnya sudah dipahami dengan baik, lalu seorang mahasiswa lain mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan yang membuat seluruh argumen tadi terasa kurang lengkap. Tidak ada yang menertawakan. Dosen hanya mengangguk, mahasiswa lain membuka catatan, pembicaraan bergerak terus. Orang yang baru saja berbicara mungkin ikut mengangguk seolah semuanya biasa saja, padahal telapak tangannya mulai berkeringat di bawah meja.

Saat berada di tengah orang-orang yang tampak sangat pintar, bahkan orang yang paling pintar kerap merasa dirinya tidak pintar-pintar amat.

Cambridge punya kondisi yang sempurna untuk membuat perasaan tersebut muncul. Universitas itu bukan hanya kumpulan mahasiswa berprestasi yang lolos seleksi akademik. Sistem supervision—kelompok kecil yang memungkinkan mahasiswa mendiskusikan pekerjaan dengan supervisor—membuat kemampuan berpikir seseorang terlihat jauh lebih terbuka daripada dalam kuliah besar. Orang tidak hanya dinilai dari jawaban ujian. Ia harus bicara, menjelaskan, mempertahankan argumen, menerima keberatan, mengakui ketika tidak tahu, kemudian mencoba lagi.

Bagi orang yang terbiasa menjadi salah satu murid paling pintar di kelasnya, pengalaman semacam itu bisa terasa seperti perubahan ukuran penggaris.

Sebelum datang ke Cambridge, seseorang mungkin sudah bertahun-tahun menerima sinyal bahwa dirinya pintar. Nilai bagus. Guru memuji. Orang tua bangga. Teman meminta bantuan mengerjakan soal. Ia mungkin tumbuh dengan identitas sederhana: ia termasuk orang yang bisa memahami sesuatu lebih cepat daripada kebanyakan orang.

Kemudian ia tiba di sebuah tempat yang penuh dengan orang-orang yang juga menerima sinyal yang sama sepanjang hidup mereka.

Seorang mahasiswa, yang di sekolahnya dulu selalu menjadi juara kelas, sekarang duduk bersama orang yang pernah memenangkan olimpiade nasional. Mahasiswa yang paling cepat memahami matematika bertemu orang yang sudah membaca buku kuliah tingkat lanjut ketika berusia enam belas tahun. Orang yang merasa tulisannya bagus bertemu mahasiswa yang dapat membahas satu paragraf Virginia Woolf selama empat puluh menit tanpa kehabisan sesuatu untuk dikatakan. 

Yang paling mengganggu justru ketika orang-orang itu tampak santai. Mereka minum kopi, bercanda, mengeluh tentang tugas, kemudian menjawab pertanyaan yang membuat kita pulang sambil memikirkan kebodohan sendiri.

Psikologi mempunyai istilah untuk sebagian pengalaman tersebut: impostor phenomenon. Pauline Clance dan Suzanne Imes memperkenalkan istilah itu pada 1978 setelah mengamati para perempuan berprestasi yang tetap merasa keberhasilan mereka tidak benar-benar membuktikan kemampuan mereka. Mereka menganggap keberhasilan sebagai hasil keberuntungan, kerja terlalu keras, atau faktor lain, sementara kegagalan dianggap sebagai bukti bahwa ketidakmampuan mereka akhirnya terbongkar. Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa fenomena itu tidak terbatas pada kelompok yang pertama kali diteliti Clance dan Imes.

Sebuah penelitian terhadap 278 mahasiswa universitas pada 2020 menemukan bahwa 38,5 persen peserta melaporkan pengalaman impostor yang sering dan 12,6 persen yang intens. Studi tersebut juga menemukan hubungan antara kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain dan pengalaman impostor.

Angka-angka itu tentu tidak berarti hampir separuh mahasiswa Cambridge mengalami hal yang sama. Penelitian tersebut dilakukan pada mahasiswa di Austria, bukan Cambridge, dan kita tidak seharusnya memindahkan persentasenya begitu saja ke Inggris. Yang berguna dari penelitian itu adalah mekanismenya: semakin seseorang memperhatikan kemampuan orang lain sebagai ukuran untuk menilai dirinya sendiri, semakin mudah keberhasilannya sendiri terasa tidak cukup.

Cambridge hanya menyediakan bahan bakar dalam jumlah besar.

Bayangkan seseorang mendapat nilai 72 untuk sebuah esai. Di tempat lain, angka itu mungkin terasa sangat bagus. Di lingkungan yang penuh mahasiswa berprestasi, pertanyaan berikutnya segera muncul: berapa nilai teman saya?

Ia mendengar seseorang mendapat 78. Orang lain mendapat 81. Seorang teman mengatakan dengan santai bahwa ia tidak puas karena hanya mendapat 75. Kalimat itu bisa lebih merusak daripada kritik dosen. Nilai 72 tadi tidak berubah. Kertasnya sama. Argumennya sama. Tetapi standar sosial di kepalanya sudah bergeser.

Perbandingan sosial bekerja dengan cara yang agak licin, karena kita jarang membandingkan diri dengan seluruh populasi. Kita memilih orang-orang yang berada dekat dengan kita. Mahasiswa Cambridge tidak bangun pagi dan membandingkan kemampuan akademiknya dengan rata-rata orang Inggris. Ia melihat teman sekamar, teman kuliah, teman supervision, orang yang duduk dua kursi di perpustakaan, atau seseorang yang menulis sesuatu di grup WhatsApp.

Orang-orang yang terlihat.

Karena itulah lingkungan yang sangat kompetitif bisa membuat seseorang merasa biasa-biasa saja tanpa prestasinya benar-benar berkurang.

Fenomena itu bahkan dapat semakin ganjil ketika orang yang kita jadikan pembanding ternyata juga merasa tidak cukup. Penelitian tentang mahasiswa doktoral menemukan bahwa struktur pendidikan yang penuh evaluasi, mekanisme seleksi berisiko tinggi, dan situasi yang terus mendorong perbandingan antarmahasiswa, dapat ikut membentuk perasaan impostor. Jadi kita mendapatkan sebuah ruangan yang penuh orang cerdas, dan cukup banyak dari mereka mungkin diam-diam merasa dirinya penipu.

Bayangkan betapa absurdnya situasi itu kalau dilihat dari luar.

Seorang mahasiswa berjalan menuju perpustakaan dengan buku-buku di tangan dan merasa semua orang di King's Parade lebih pintar darinya. Mahasiswa lain berjalan dari arah sebaliknya sambil memikirkan bahwa semua orang di kampus tampaknya lebih produktif daripada dirinya. Keduanya mungkin bertemu di antrean kedai kopi dan masing-masing menganggap yang lain lebih tenang, lebih pintar, lebih teratur.

Yang terlihat selalu bagian yang sudah selesai.

Kita melihat teman membuka laptop dan membaca jurnal. Kita tidak melihat empat puluh menit ketika ia menatap halaman yang sama tanpa memahami apa-apa. Kita melihat seseorang berbicara sangat lancar dalam seminar. Kita tidak mendengar percakapan di kamarnya malam sebelumnya ketika ia mengulang presentasi sampai tiga kali. Kita melihat nilai 78. Kita tidak melihat pesan kepada ibunya yang berbunyi, “Kayaknya aku nggak cukup bagus.”

Media sosial memperparah mekanisme itu, tetapi kampus sebenarnya sudah cukup kuat untuk melakukannya tanpa Instagram.

Lingkungan akademik memiliki kebiasaan membuat kemampuan menjadi sesuatu yang terlihat. Siapa yang cepat menjawab. Siapa yang punya bacaan paling banyak. Siapa yang mendapatkan first. Siapa yang memenangkan hadiah. Siapa yang masuk program pascasarjana yang bagus. Siapa yang mendapat tawaran kerja. Bahkan percakapan santai tentang rencana masa depan bisa berubah menjadi semacam papan skor tanpa seorang pun berniat membuatnya begitu.

Masalahnya, kecerdasan manusia tidak bekerja seperti papan skor.

Seseorang bisa sangat cepat memahami teori, tetapi buruk menjelaskan gagasannya. Orang lain membaca lebih lambat tetapi mengingat sesuatu bertahun-tahun. Ada yang hebat dalam ujian, dan kacau ketika harus bekerja dengan orang lain. Ada yang biasa saja pada usia dua puluh, tetapi baru menemukan bidangnya pada usia tiga puluh lima. Cambridge, atau universitas mana pun yang sangat selektif, tetap tidak mampu mengubah manusia menjadi distribusi nilai yang rapi.

Saya kira bagian paling kejam dari lingkungan semacam itu justru terletak pada hal yang tidak salah secara individual. Tidak ada yang harus bersikap sombong. Tidak ada dosen yang perlu menghina. Tidak ada teman yang harus merendahkan. Cukup kumpulkan seratus orang yang sangat kompeten ke dalam ruang yang sama, beri mereka ujian, beasiswa, penghargaan, dan masa depan yang dipertarungkan, kemudian biarkan mereka saling melihat.

Beberapa orang akan tumbuh. Beberapa akan belajar lebih keras. Beberapa akan menemukan teman. Sebagian lain mulai menyembunyikan kebingungan karena takut terlihat bodoh.

Orang yang paling sering berkata, “Aku sebenarnya nggak tahu apa-apa,” belum tentu paling tidak tahu. Ia mungkin hanya terlalu sering melihat orang-orang yang menguasai bagian lain dari sesuatu yang sedang ia pelajari.

Pukul 23.00 malam, perpustakaan mulai sepi. Lampu meja masih menyala di beberapa tempat. Seseorang menutup laptop, merapikan kertas, kemudian berhenti karena dari meja sebelah terdengar suara halaman buku dibalik dengan cepat. Ia melirik sebentar. Buku tebal. Catatan penuh. Orang di sana tampak sangat serius.

Ia membuka laptop lagi. Dokumen yang tadi sudah hendak ditutup kembali menyala di layar. Kursor berkedip di ujung paragraf yang belum selesai.


Related

Pendidikan 2463904511000905571

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link hidup ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item