Healing dan Ketenangan di Bali Tidak Turun dari Langit

Ilustrasi milik BSM
Seorang turis datang ke Bali untuk mendengar dirinya sendiri. Ia bangun pagi di Ubud, mengikuti kelas yoga, minum jus hijau, berjalan tanpa alas kaki di halaman vila, lalu mengunggah foto sawah dengan keterangan tentang healing. Sore hari, ia mencari tempat yang menjual sound bath. Malamnya, ia mematikan notifikasi telepon dan mengatakan kepada teman-temannya bahwa Bali terasa berbeda dari kota tempat ia tinggal.

Beberapa kilometer dari sana, kendaraan bergerak sangat lambat.

Jalan menuju Canggu penuh sepeda motor, mobil sewaan, taksi daring, truk pengangkut material, dan kendaraan wisata. Klakson sesekali terdengar pendek-pendek. Helm terasa panas. Udara bercampur bau bensin dan asap knalpot. Orang yang sedang menuju retret untuk mencari ketenangan harus melewati lalu lintas yang sebagian ikut tumbuh karena orang-orang datang mencari ketenangan.

Kontradiksi Bali cukup kasar untuk terlihat tanpa teori.

Pulau itu telah lama dijual kepada dunia melalui gabungan yang sangat kuat: pura, upacara, sawah, pantai, yoga, spa, makanan sehat, vila, spiritualitas, dan gagasan tentang kehidupan yang lebih lambat. Dalam statistik pariwisata Indonesia, Bali tetap menjadi salah satu pusat utama kedatangan wisatawan mancanegara. Sepanjang 2024, Bali menerima sekitar 6,3 juta kunjungan wisatawan mancanegara secara langsung melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai, melewati angka sebelum pandemi. Pemerintah provinsi juga mencatat jumlah wisatawan domestik yang jauh lebih besar.

Enam juta orang asing tidak datang untuk tujuan yang sama. Sebagian datang untuk pesta, sebagian untuk bulan madu, sebagian untuk berselancar, sebagian untuk bekerja jarak jauh. Sebagian datang dengan pakaian putih untuk mencari ketenangan batin.

Semua memakai jalan yang sama.

Ubud mungkin merupakan contoh paling jelas tentang bagaimana spiritualitas dapat menjadi industri. Nama Ubud sendiri sudah cukup untuk membangkitkan gambaran tertentu bagi orang yang belum pernah ke sana: yoga, meditasi, seniman, sawah, kuil, makanan organik, buku tentang kesadaran diri. Novel “Eat, Pray, Love” ikut memperkuat imajinasi global tentang Bali sebagai tempat pelarian dan pemulihan diri, meskipun Ubud tentu jauh lebih rumit daripada versi yang muncul dalam budaya populer.

Ketika Elizabeth Gilbert datang ke Bali dalam cerita itu, ia mencari sesuatu yang sangat personal. Setelah bukunya menjadi fenomena, jutaan pembaca mengenali Bali melalui pengalaman semacam itu. Tempat yang dulu merupakan ruang hidup masyarakat kemudian menjadi lokasi pencarian diri orang asing.

Wisatawan tidak hanya membeli kamar. Mereka membeli suasana.

Masalahnya, suasana membutuhkan infrastruktur. Vila membutuhkan tanah. Restoran membutuhkan air. Kolam renang membutuhkan air. Laundry membutuhkan air. AC membutuhkan listrik. Jalan membutuhkan pelebaran. Sampah harus diangkut. Pekerja harus datang setiap pagi. Makanan harus dikirim. Bangunan harus didirikan. Sawah yang tampak begitu damai dari balkon vila ternyata mempunyai persoalan yang jauh lebih berisik ketika dilihat dari tanah.

Persoalan air di Bali telah lama didokumentasikan. Studi dan laporan tentang pariwisata di Bali menunjukkan ketimpangan pemanfaatan air antara kebutuhan pariwisata dan kebutuhan masyarakat lokal, terutama di kawasan dengan konsentrasi akomodasi tinggi. Hotel, vila, kolam renang, restoran, dan fasilitas wisata, memerlukan pasokan air dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, Bali menghadapi tekanan terhadap sumber daya air, perubahan tata guna lahan, serta masalah distribusi.

Seorang wisatawan mungkin mandi selama dua puluh menit setelah yoga karena tubuhnya berkeringat. Air hangat jatuh ke kepala. Bau sabun eucalyptus naik dari kamar mandi. Ia merasa sedang merawat dirinya.

Tidak ada yang terasa merusak dalam pengalaman itu.

Masalah lingkungan hampir selalu bekerja melalui kumpulan tindakan yang masing-masing tampak kecil.

Persoalan sampah bahkan lebih mudah dilihat. Pada musim hujan, sampah dari daratan dapat terbawa sungai menuju laut dan menumpuk di pantai. Bali memiliki program pengelolaan sampah dan kebijakan pembatasan plastik sekali pakai, tetapi pertumbuhan konsumsi pariwisata membuat persoalan tersebut terus berulang. Botol air mineral, gelas plastik, kemasan makanan, kantong belanja, perlengkapan hotel. Barang-barang yang digunakan selama beberapa menit harus dikelola jauh lebih lama.

Kita suka membicarakan Bali seolah-olah pulau itu memiliki kapasitas untuk menerima semua orang yang ingin menemukan dirinya.

Pulau tidak punya kapasitas seperti itu. Ia punya saluran air. Tempat pembuangan. Jalan. Lahan pertanian. Pantai. Sungai. Jaringan listrik. Penduduk yang harus pergi bekerja.

Perubahan ruang di Bali juga tidak berhenti pada lingkungan. Canggu, misalnya, mengalami perubahan yang sangat cepat dari kawasan pertanian dan permukiman menjadi pusat vila, kafe, restoran, ruang kerja bersama, klub, dan akomodasi jangka pendek. Kata “Canggu” sendiri sekarang bisa berarti banyak hal bagi banyak orang: bagi peselancar, ombak; bagi digital nomad, laptop dan Wi-Fi; bagi pemilik bisnis, pasar yang menguntungkan; bagi penduduk, kenaikan harga tanah dan perubahan lingkungan tempat tinggal.

Pada jam tertentu, motor turis memenuhi jalan-jalan sempit. Mereka bukan orang jahat. Itu justru yang membuat persoalannya menyebalkan.

Wisatawan datang karena Canggu menarik. Pengusaha membangun karena wisatawan datang. Orang lain membeli tanah karena bisnis terlihat menguntungkan. Harga tanah naik karena permintaan meningkat. Penduduk yang tidak memiliki aset besar menghadapi lingkungan yang semakin mahal. Kafe baru membuka pintu. Jalan semakin penuh. Turis berikutnya datang karena melihat foto kafe itu.

Begitu terus.

Ubud menghadapi bentuk perubahan yang berbeda. Di sekitar Jalan Monkey Forest, wisatawan berjalan dari toko ke toko, restoran, hotel, spa, galeri, dan tempat-tempat yang menjual pengalaman Bali dalam berbagai kemasan. Monkey Forest merupakan kawasan suci yang juga menjadi objek wisata besar, dengan ribuan pengunjung setiap hari. Monyet-monyet menjadi bagian dari pengalaman tersebut, sementara manusia datang membawa ponsel, makanan, tas, dan rasa ingin tahu.

Ada sesuatu yang agak ganjil ketika tempat suci harus dikelola seperti atraksi wisata.

Tetapi Bali memang hidup dari lapisan-lapisan yang bertumpuk seperti itu. Pura adalah tempat ibadah sekaligus tujuan wisata. Upacara adalah praktik keagamaan sekaligus sesuatu yang menarik difoto. Sawah adalah lahan produksi pangan sekaligus latar belakang foto yoga. Jalan desa adalah jalur warga sekaligus rute tur ATV. Vila menghadap sawah yang keberadaannya membantu membuat vila itu menarik.

Kehidupan lokal menjadi pemandangan. 

Pemandangan itu kemudian menjadi alasan orang datang.

Pemerintah Bali sendiri semakin sering berbicara tentang pariwisata berkualitas dan pariwisata berkelanjutan. Pada 2023, Bali menerapkan pungutan wisatawan asing sebesar Rp150.000 per orang, yang menurut pemerintah provinsi digunakan untuk perlindungan kebudayaan dan lingkungan Bali. Pemerintah juga memberlakukan aturan bagi wisatawan asing mengenai penghormatan terhadap tempat suci, adat, dan norma lokal. Itu menunjukkan bahwa pemerintah pun memahami bahwa persoalan Bali bukan sekadar bagaimana mendatangkan lebih banyak pengunjung.

Jumlah pengunjung sudah bukan masalah yang perlu diselesaikan dengan promosi. Sekarang yang perlu diatur adalah apa yang dilakukan jutaan orang tersebut terhadap sebuah pulau.

Di Ubud, seorang peserta retret mungkin duduk bersila di ruangan yang tenang, mendengar suara mangkuk tibet bergetar pelan. Nada logamnya masuk ke telinga, panjang, nyaris membuat tubuh terasa ringan. Di luar bangunan, seorang sopir menunggu di bawah matahari karena jadwal penjemputan mundur tiga puluh menit. Mesin mobil menyala. Jalan macet. Ia menatap layar ponselnya, lalu memeriksa pesan berikutnya.

Wisatawan di dalam sedang belajar melepaskan keterikatan. Sopir di luar sedang menunggu tarif berikutnya. Keduanya berada dalam ekonomi yang sama.

Itulah bagian yang membuat gagasan tentang Bali sebagai tempat “healing” terasa semakin ganjil. Ketenangan yang dicari wisatawan tidak turun dari langit. Ia membutuhkan orang yang mencuci seprai, memasak makanan, mengangkut sampah, membersihkan kolam, memperbaiki AC, mengemudikan mobil, membangun vila, menjaga keamanan, dan melayani meja restoran.

Semakin banyak orang datang untuk beristirahat, semakin banyak orang lain yang harus bekerja agar istirahat itu terasa alami.

Menjelang malam, musik dari sebuah bar di Canggu masih terdengar sampai jalan. Lampu vila menyala satu per satu. Di sebuah gang yang lebih kecil, seorang warga sedang menyiram tanaman di depan rumah. Suara air dari selang mengenai semen.

Beberapa meter dari sana, sebuah mobil wisatawan berhenti. Pengemudinya membuka pintu. “Where is the yoga studio?”

Warga itu menunjuk ke arah jalan besar.

Mobil bergerak pelan karena macet.


Related

Indonesia 8876027625260777675

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link hidup ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item