Majalah Aneka, Kiblat Gaya Hidup Remaja Indonesia Era ‘90-an
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/majalah-aneka-kiblat-gaya-hidup-remaja.html
![]() |
| Ilustrasi/tribunnews.com |
Pada masa ketika internet belum menjadi tempat untuk mencari jodoh, pekerjaan, popularitas, bahkan identitas diri, seorang remaja yang ingin terkenal harus mencari pintu masuk yang bentuknya sangat sederhana: selembar formulir, beberapa foto, lalu majalah yang terbit dua minggu sekali. Foto dikirim. Nama ditulis. Tinggi badan dicantumkan. Setelah itu tinggal menunggu. Menunggu sampai sebuah nomor Majalah Aneka terbit dan mungkin, kalau nasib sedang baik, wajahmu muncul di sana.
Bagi remaja Indonesia pada 1990-an, Aneka punya kekuasaan yang agak berlebihan untuk ukuran sebuah majalah. Ia tidak sekadar memberi tahu siapa artis yang sedang terkenal. Ia menentukan wajah siapa yang pantas dilihat, gaya rambut mana yang terlihat keren, pakaian seperti apa yang sedang dipakai anak muda, lagu apa yang sedang ramai, dan yang paling menggiurkan: siapa di antara pembacanya yang bisa ikut masuk ke dunia hiburan.
Aneka Ria, nama awal majalah tersebut, pertama terbit pada 1990 di bawah PT Yess! Group. Kantor iklannya mula-mula berada di Jalan Proklamasi 84, Jakarta Pusat, sedangkan redaksinya di Jalan Pemuda 11, Jakarta Timur. Pada 1993, keduanya dipindahkan ke Ruko Jalan Raden Saleh, sebelum perusahaan menempati gedung sendiri di Jalan Salemba Tengah 58 pada 1998.
Nama Aneka Ria kemudian berubah menjadi Aneka Yess! pada 1994. Perubahan itu bukan sekadar mengganti tulisan di kepala majalah. Isinya semakin lebar: musik, fashion, feature, cerpen, gosip artis, tips, foto model. Pada 2004, slogan Yess! berubah menjadi “Young Energetic Smart ’n Stylish”, sebuah kalimat yang sekarang terdengar sangat khas bahasa pemasaran awal 2000-an. Ketika majalah itu mulai dikenal luas, ketebalannya bahkan mencapai sekitar 180 halaman.
Sampul Aneka punya fungsi yang jauh lebih besar daripada sampul majalah sekarang. Ia semacam papan pengumuman nasional untuk remaja. Wajah di sana bisa berasal dari penyanyi, aktor, grup musik, atau seorang anak sekolah yang beberapa minggu sebelumnya tidak dikenal siapa-siapa. Setelah wajahnya masuk halaman depan, status sosialnya berubah. Teman-temannya punya bahan untuk menggodanya. Foto bisa dipotong, disimpan, ditempel di kamar, atau dijadikan koleksi.
Pada masa ketika kamera ponsel belum ada, selembar foto majalah memiliki nilai sentimental yang tidak masuk akal menurut standar sekarang.
Yang membuat Aneka benar-benar kuat adalah kontesnya. Cover Girl, Cover Boy, Top Guest. Nama-nama tersebut kemudian menjadi jalur masuk ke industri hiburan bagi begitu banyak orang. Model Cover Boy bahkan sudah berlangsung sejak 1994 dan baru berhenti pada 2013. Pemenang pertamanya adalah Avianto Agung P, disusul Surya Saputra dan M. Iqbal. Pada daftar finalis tahun-tahun berikutnya, muncul nama-nama Indra Bruggman, Tengku Firmansyah, Ali Syehan, sampai Primus Yustisio.
Bagi remaja laki-laki, menjadi Cover Boy berarti sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tampil ganteng di majalah. Ada kemungkinan masuk sinetron, iklan, pemotretan, bahkan menjadi nama yang kelak dikenal. Perempuan memiliki jalur Cover Girl. Top Guest menjadi pintu lain. Aneka tidak hanya membuat majalah; ia menciptakan mesin pencari bakat sendiri.
Titi Kamal pernah melewati pintu itu. Pada 1997, ia menjadi juara pertama Cover Girl Aneka. Luna Maya mengikuti pemilihan Cover Girl Aneka Yes! pada 1999. Umi Pipik menjadi cover girl pada 1995–1997. Jihane Almira, yang jauh lebih muda, menjadi runner-up Cover Girl Aneka pada 2011, sebelum kemudian muncul dalam kontes Puteri Indonesia.
Nama-nama itu membuat sejarah Aneka terasa agak aneh: banyak orang yang sekarang kita kenal sebagai artis pernah terlebih dulu menjadi wajah kecil di kertas yang dibeli anak sekolah.
Raffi Ahmad, Dwi Andhika, Andhika Pratama, Irfan Hakim, Sahrul Gunawan, Indra Bruggman, Hengky Kurniawan, dan banyak nama lain, juga terhubung dengan ajang atau pemotretan Aneka. Daftarnya panjang sekali. Terlalu panjang untuk disebut kebetulan. Aneka punya jaringan pencarian bakat yang bekerja bertahun-tahun sebelum istilah talent scouting terdengar keren di industri digital.
Yang paling menarik justru mekanismenya. Remaja pada masa itu belum bisa membuat akun lalu mengunggah video dance setiap sore. Mereka harus menunggu sebuah perusahaan media mengadakan seleksi. Foto harus dicetak. Formulir harus diisi. Kiriman harus sampai ke kantor redaksi. Setelah itu peserta menunggu pengumuman di edisi berikutnya. Kalau lolos, mungkin ada panggilan. Kalau tidak, majalah berikutnya tetap terbit dan hidup berjalan seperti biasa.
Kecepatan internet belum merusak sistem tersebut, karena internet memang belum punya kekuatan untuk merusaknya.
Aneka bahkan pernah masuk televisi. Model Cover Boy ditayangkan di RCTI pada 1995–1999. Jadi kontes yang semula berawal dari halaman majalah berkembang menjadi tontonan televisi. Itu penting karena memperlihatkan bagaimana majalah remaja pada masa itu bekerja: kertas menemukan wajah, acara televisi memperbesarnya, industri hiburan mengambil sebagian dari wajah tersebut, kemudian majalah kembali menampilkan mereka sebagai bintang. Sebuah lingkaran bisnis yang cerdas.
Remaja yang mengikuti kontes juga tidak sedang sekadar mengejar foto sampul. Mereka sedang mengejar kemungkinan hidup yang berbeda. Ketika seseorang berusia 15 atau 16 tahun melihat Titi Kamal atau Luna Maya di halaman majalah, jarak antara “anak sekolah” dan “orang terkenal” tampak tidak terlalu jauh. Cukup cantik. Cukup percaya diri. Kirim foto. Ikut seleksi. Siapa tahu.
Aneka menjual “siapa tahu” itu dalam jumlah sangat besar. Sekadar nostalgia, teman-teman SMA saya dulu bahkan ada yang ikut kontes itu. Bikin foto di studio, mengisi formulir Cover Boy atau Cover Girl, lalu mengirimkannya ke alamat majalah.
Majalah itu juga mempunyai kemampuan membuat tren terasa resmi. Kalau model rambut tertentu muncul di beberapa halaman, kalau sebuah band mendapat ruang besar, kalau artis tertentu terus muncul di sampul, pembaca segera mengetahui bahwa orang itu sedang penting. Sebelum Instagram membuat jumlah pengikut menjadi ukuran popularitas, majalah punya halaman depan. Sebelum TikTok membuat wajah seseorang dikenal dalam tiga hari, majalah membutuhkan proses produksi, percetakan, distribusi, dan kios. Kelambatan tersebut justru memberikan aura tertentu. Seseorang harus menunggu agar bisa terkenal.
Internet menghancurkan kebutuhan untuk menunggu.
Aneka sebenarnya sempat mencoba masuk ke dunia digital. Situs Yess-online.com pernah digunakan sebagai bagian dari upaya menghadirkan media tersebut di internet. Penelitian mengenai strategi jejaring sosial Aneka Yess! mencatat bahwa majalah itu sudah terbit dalam dua platform, cetak dan online. Namun pada awal April 2014, Vivid Fitri Argarini, CEO Aneka Yess!, mengumumkan bahwa majalah tersebut tidak lagi terbit. Situsnya pun kemudian tidak bisa diakses sebagaimana mestinya.
Tahun 2014 terasa terlambat, terutama karena dunia yang hendak dilayani Aneka sudah berubah total.
Remaja tidak lagi membutuhkan majalah untuk mengetahui siapa yang keren. Mereka punya Twitter, Instagram, YouTube, Facebook, blog, forum, dan kemudian berbagai platform yang memungkinkan seorang anak sekolah menjadi terkenal tanpa pernah mengirim satu foto pun ke redaksi. Kontes pencarian bakat pun berpindah. Televisi mengadakan Indonesian Idol, ajang pencarian bakat semakin banyak, sementara internet membuka jalur yang lebih liar karena tidak ada redaktur yang harus memutuskan siapa yang pantas masuk halaman 1.
Aneka pernah menjadi penjaga gerbang. Internet kemudian merobohkan gerbangnya.
Yang paling menyedihkan dari kematian Aneka bukan hilangnya berita artis. Konten semacam itu justru tidak pernah sebanyak sekarang. Yang hilang adalah sensasi membuka majalah dan menemukan wajah anak seusia sendiri di sana. Perasaan aneh ketika teman sekelas tiba-tiba berkata, “Eh, fotomu masuk Aneka!” Foto yang sebelumnya hanya benda biasa mendadak terasa berat ketika dibawa pulang.
Kini foto bisa diunggah dalam hitungan detik dan dilihat ribuan orang sebelum makan malam selesai.
Pada 2014, Aneka berhenti terbit. Sebagian sumber menyebut awal April sebagai masa terakhirnya, sementara banyak arsip populer hanya mencatat 2014 sebagai tahun penutup. Majalah yang bermula sebagai Aneka Ria pada 1990 itu tidak ikut berubah menjadi situs besar yang sanggup menggantikan pengaruh versi cetaknya. Ia berhenti.
Hari ini majalah Aneka Yess! bekas masih diperjualbelikan. Nomor 1994, 1996, 1999, 2002, 2005, 2008 masih muncul di pasar barang koleksi. Sampulnya memuat nama-nama yang sekarang sudah menjadi aktor, presenter, penyanyi, pejabat, atau sekadar wajah lama yang tiba-tiba membuat orang berhenti menggulir layar.
Sebuah edisi lama mungkin dibuka dengan hati-hati karena kertasnya sudah menguning. Foto Luna Maya masih ada. Titi Kamal masih belia. Tulisan “Cover Girl” masih tercetak besar. Di halaman lain, seorang remaja yang sekarang sudah berumur empat puluhan sedang tersenyum ke kamera, menunggu pembaca masa itu memutuskan apakah ia layak terkenal.
Mereka dulu menunggu majalah terbit. Sekarang majalahnya yang menunggu ditemukan.
Catatan terkait: Intisari, Majalah Bagus yang Tenggelam di Tengah Kecepatan Internet


