Mario Lavandeira a.k.a Perez Hilton dan Gosip Artis di Internet
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/mario-lavandeira-aka-perez-hilton-dan.html
![]() |
| Ilustrasi/elperiodico.com |
Pada masa tertentu di internet, nama Perez Hilton bisa muncul berkali-kali dalam sehari tanpa terasa berlebihan. Sebuah foto buram Britney Spears keluar dari mobil. Lindsay Lohan tertangkap kamera sedang mabuk. Paris Hilton berjalan memasuki klub malam. Beberapa menit kemudian, gambar itu muncul di sebuah situs dengan coretan tangan digital, lingkaran, panah, kata-kata mengejek, dan komentar Mario Lavandeira yang sengaja dibuat menyebalkan.
Pembaca tidak perlu menunggu majalah mingguan. Gosip sudah selesai diproses sebelum tinta majalah mengering.
Mario Lavandeira memulai situs itu pada 2004 dengan nama PageSixSixSix.com. Dalam waktu sekitar enam bulan, situs tersebut diluncurkan kembali sebagai PerezHilton.com, memakai nama samaran yang jelas-jelas memanfaatkan ketenaran Paris Hilton.
Menurut laman biografi resminya, situs itu kemudian mengklaim lebih dari 300 juta hit per bulan, sementara Forbes menempatkan Perez sebagai Web Celeb nomor satu selama tiga tahun berturut-turut, 2007 sampai 2009. Angka sebesar itu membuat seorang blogger tunggal terdengar seperti perusahaan media, padahal daya tarik utamanya justru berasal dari kesan bahwa seorang manusia sedang duduk di depan komputer dan mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain.
Itulah bagian yang membuat Perez Hilton berbeda dari majalah gosip lama. Us Weekly dan In Touch Weekly memiliki redaksi, fotografer, editor, ruang kantor, jadwal terbit. Perez memiliki halaman web yang bisa berubah sepanjang hari. Ia tidak harus menunggu edisi berikutnya untuk menanggapi sebuah foto atau rumor.
Ia bisa melihat apa yang sedang dibicarakan, menulis komentarnya, memasang gambar, kemudian menunggu pembaca datang lagi. Sistemnya sederhana dan brutal: semakin heboh seorang selebritas, semakin banyak alasan untuk membuka halaman tersebut.
Hollywood pada pertengahan 2000-an menyediakan bahan bakar yang nyaris tidak habis. Paris Hilton sedang membentuk jenis ketenaran baru yang sebagian besar hidup dari perhatian media. Britney Spears memasuki periode paling kacau dalam kehidupan publiknya. Lindsay Lohan menjadi sasaran kamera paparazzi hampir setiap kali keluar rumah. Nicole Richie juga berada dalam pusaran yang sama.
Paparazzi mengejar mereka karena foto menghasilkan uang; blog membutuhkan foto karena foto menghasilkan klik; pembaca datang karena ingin melihat apa yang terjadi. Rantai itu bekerja setiap hari, bahkan ketika orang yang difoto sedang jelas-jelas tidak baik-baik saja.
Perez memahami mesin tersebut, dan menjadikan dirinya bagian dari mesin. Ia tidak berusaha terdengar seperti reporter yang menjaga jarak. Gaya tulisannya penuh ejekan, julukan, gambar yang dicoret dengan tangan, dan komentar seksual atau menghina. Ia bisa menaikkan seorang artis dengan pujian, lalu menyerang orang lain beberapa baris kemudian. Dalam bukunya, Red Carpet Suicide, ia bahkan menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang memiliki kekuatan untuk membuat dunia segera mengetahui sebuah nama.
Kekuasaan semacam itu terdengar lucu jika dibayangkan dari standar media sekarang. Seorang pria dengan situs pribadi dan koneksi internet ternyata dapat mempengaruhi percakapan tentang selebritas Hollywood. Ia kemudian muncul di The View, CNN, MTV, Larry King Live, The New York Times, dan berbagai program televisi lain. Perez tidak lagi hanya menulis tentang selebritas. Perez sendiri menjadi selebritas.
Perubahan kecil itu penting. Gosip sebelumnya membutuhkan orang terkenal sebagai bahan. Perez membuat penggosipnya ikut terkenal. Ketika ia muncul di karpet merah, pembaca sudah mengenal wajah dan gaya bicaranya. Ketika ia bertengkar dengan seorang selebritas, pertengkarannya menjadi berita. Ketika ia mendapat akses ke pesta atau acara industri, kehadirannya sendiri menjadi bagian dari tontonan. Mesin gosip mulai memiliki tokoh utama yang bukan selebritas Hollywood.
Kekejaman dalam model tersebut juga bukan cacat sampingan. Ia merupakan bagian dari daya jual. Britney Spears tidak sekadar diberitakan; kondisi fisiknya, rambutnya, berat badannya, perceraian, kehamilan, dan perilakunya, dijadikan bahan komentar harian. Lohan menerima perlakuan serupa. Pembaca datang untuk melihat orang terkenal sedang jatuh, lalu tertawa bersama penulisnya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika budaya terhadap paparazzi dan perlakuan media kepada Britney berubah, banyak orang mulai melihat kembali betapa kejamnya standar yang dulu dianggap sebagai hiburan biasa.
Kontroversi hukumnya juga menumpuk. Pada 2005, Colin Farrell menggugat setelah Perez memasang tautan ke rekaman seks Farrell dan Nicole Narain. Pada 2007, Universal menggugat terkait foto Jennifer Aniston yang dipasang di situsnya. Zomba Label Group menggugat pada tahun yang sama setelah musik Britney Spears yang belum dirilis dipublikasikan di situs tersebut.
Sengketa semacam itu menunjukkan sisi lain dari budaya blog selebritas: kecepatan internet memungkinkan seseorang mengambil sesuatu dari tempat lain, mengemasnya dengan komentar sendiri, lalu memperoleh perhatian jauh lebih cepat daripada sistem hukum atau industri dapat bereaksi.
Ada ironi yang lebih kasar dalam hubungan Perez dengan Paris Hilton. Nama “Perez Hilton” adalah lelucon yang dibuat dari nama Paris. Paris menjadi salah satu subjek paling terkenal dalam budaya gosip, tetapi Perez juga mengaku berteman dengannya dan cenderung memberinya perlakuan yang lebih ramah daripada sebagian selebritas lain. Jadi orang yang memakai nama Paris untuk membangun identitas medianya sekaligus memperoleh posisi sebagai pengamat kehidupan Paris. Sulit membuat hubungan antara gosip dan kedekatan menjadi lebih kabur.
Kemudian internet berubah. Twitter membuat orang tidak perlu menunggu blog untuk mengetahui sebuah rumor. TMZ mempercepat industri berita selebritas dengan operasi yang jauh lebih besar. Instagram memungkinkan selebritas menerbitkan foto sendiri. YouTube, kemudian TikTok, menghapus kebutuhan akan perantara untuk membangun perhatian.
Perez masih ada, tetapi posisi yang dulu terasa luar biasa mulai menjadi biasa. Hari ini seorang influencer dapat mengomentari selebritas, merekam reaksinya, mengunggahnya, dan memperoleh jutaan penonton tanpa harus menjadi pemilik situs.
Yang hilang bukan gosipnya. Gosip justru semakin cepat. Yang hilang adalah kelangkaan gerbangnya.
Perez Hilton pernah menjadi salah satu orang yang berdiri di depan gerbang kecil itu, membuka dan menutupnya sesuka hati. Pada masa ketika seseorang harus memiliki blog, domain, server, foto, dan cukup banyak pembaca untuk membuat suaranya terdengar, kekuasaan tersebut terasa besar. Sekarang setiap orang membawa gerbangnya sendiri di dalam ponsel.
Mungkin karena itu halaman-halaman Perez dari pertengahan 2000-an terasa agak aneh ketika dibuka kembali. Font lama, foto paparazzi yang kasar, coretan merah di wajah selebritas, judul yang sengaja dibuat menjengkelkan. Semuanya tampak seperti peninggalan dari internet yang belum mengenal rasa malu terhadap dirinya sendiri.
Kemudian sebuah nama muncul di arsip. Britney. Satu foto. Satu komentar. Satu lagi.
Catatan terkait: Seorang Perempuan Kesepian Mencari Cinta dan Pasangan di Internet


