Accident Man: Hitman’s Holiday, Film yang Cuma Jualan Scott Adkins

Ilustrasi/theplaylist.net
Scott Adkins pernah membuat Accident Man terasa seperti penemuan kecil yang menyenangkan. Mike Fallon adalah pembunuh bayaran yang punya kebiasaan aneh: ia membunuh orang dan membuat kematian mereka terlihat seperti kecelakaan. Karakternya brengsek, cerewet, sangat percaya diri, tetapi punya kemampuan bela diri yang memang layak dipamerkan. 

Film pertama yang rilis pada 2018 berhasil menemukan keseimbangan yang pas antara komedi hitam, kekerasan, dan koreografi pertarungan. Ia tidak terlalu besar, tidak terlalu serius, dan tidak terlalu berusaha membuat penonton kagum.

Empat tahun kemudian, Mike Fallon pergi ke Malta.

Entah siapa yang memutuskan bahwa liburan Mike harus berisi seorang mafia muda bernama Dante Zuuzer, pembunuh berdarah dingin yang dijuluki Yendi the Vampire, pembunuh bertopeng badut bernama Poco, seorang ninja bernama Oyumi, perempuan yang mengaku sebagai keturunan Wong Fei-hung, serta Ray Stevenson dengan kumis yang ukurannya tampak lebih besar daripada sebagian subplot film. Itulah Accident Man: Hitman's Holiday.

Judulnya sudah memberi peringatan. Film ini memang ingin bersenang-senang. Masalahnya, setelah sekitar dua puluh menit, penonton mulai bertanya kapan filmnya dimulai.

Mike pindah dari London ke Malta setelah kejadian film pertama. Ia bekerja sebagai pembunuh bayaran lepas dan berusaha melupakan masa lalunya. Suatu malam, Finicky Fred, teman lama Mike yang diperankan Perry Benson, muncul membawa kabar buruk: Big Ray, mentor sekaligus figur ayah Mike, kehilangan bar pembunuh bayaran miliknya. Fred sendiri sedang dalam masalah karena uangnya habis setelah mengirim sejumlah besar uang kepada perempuan yang dikenalnya lewat internet.

Kemudian datang Dante. Ia adalah anak Mrs. Zuuzer, bos mafia yang menguasai sebuah jaringan kriminal. Mike diminta menjaga Dante tetap hidup. Fred dipertaruhkan sebagai jaminan. Sesudah itu cerita praktis berubah menjadi rangkaian orang aneh yang datang untuk membunuh Mike dan Dante.

Tidak ada yang salah dengan premis semacam itu. Film aksi kelas B justru sering hidup dari kegilaan semacam itu. Persoalannya terletak pada cara film menggunakan kegilaan tersebut.

Poco the Killer Clown datang membawa palu raksasa. Yendi minum darah korbannya. Oyumi menggunakan pedang dan teknik ninja. Wong Siu-ling, diperankan Sarah Chang, muncul sebagai petarung muda yang ingin belajar dari Mike. Semua karakter seolah dibuat setelah seseorang menulis daftar “hal-hal yang kelihatan keren kalau dipukul satu sama lain”.

Film pertama memiliki karakter yang terasa seperti manusia meskipun mereka semua pembunuh. Di Hitman's Holiday, karakter-karakternya semakin dekat menjadi kostum.

Scott Adkins sebenarnya masih bagus sebagai Mike Fallon. Tubuhnya tetap bekerja dengan presisi yang membuat adegan pertarungan terasa jauh lebih mahal daripada kemungkinan anggaran filmnya. Tendangan, sapuan kaki, pukulan siku, dan gerakan tubuhnya memiliki kejelasan yang tidak dimiliki banyak film aksi modern. Adkins memang tahu bagaimana menggunakan tubuhnya di depan kamera.

Itulah sebabnya kegagalan film ini terasa semakin menjengkelkan. Kita punya Scott Adkins. Mengapa harus membuat Mike berbicara begitu banyak?

Mike Fallon seharusnya menjadi karakter yang bisa mematikan seseorang dengan cara kreatif, lalu melontarkan komentar sarkastis tanpa perlu menjelaskan dirinya sendiri. Di film ini, ia terlalu sering menjadi pembawa acara bagi filmnya sendiri. Ia memperkenalkan situasi, mengomentari lawan, menjelaskan hubungan antarkarakter, kemudian kembali bercanda. Humor yang pada film pertama terasa seperti bagian dari kepribadian Mike mulai terasa seperti instruksi agar penonton tertawa.

Beberapa lelucon bahkan seperti tidak percaya bahwa penonton memahami leluconnya.

Film ini juga punya kebiasaan membuat setiap pembunuh harus memiliki gimmick. Itu mungkin terdengar menyenangkan di atas kertas, tetapi ketika semua orang dibuat eksentrik, tidak ada lagi yang eksentrik. Yendi the Vampire tidak terasa mengerikan karena ia minum darah. Poco tidak menjadi lebih lucu karena memakai kostum badut. Oyumi tidak otomatis jadi menarik hanya karena membawa pedang.

Kita pernah melihat karakter semacam itu dalam film lain. Yang membuatnya bekerja biasanya bukan kostumnya, tetapi bagaimana karakter tersebut ditempatkan dalam cerita. Hitman's Holiday hampir tidak memiliki kesabaran untuk bagian itu.

Film pertama memiliki hubungan emosional yang cukup jelas: kematian Beth membuat Mike memburu orang-orang yang bertanggung jawab, dan hubungan Mike dengan komunitas pembunuh di Oasis memberi bentuk pada dunia kriminal tersebut. Hitman's Holiday mencoba mengganti semua itu dengan persahabatan Mike dan Fred, tetapi hubungan keduanya tidak cukup kuat untuk menopang film.

Fred memang lucu. Perry Benson juga punya timing komedi yang bagus. Ia adalah pencipta senjata-senjata aneh dan teman Mike yang tampaknya lebih pintar daripada penampilannya. Tetapi ketika film mengatakan bahwa Fred adalah satu-satunya sahabat Mike, informasi itu terasa lebih seperti kebutuhan naskah daripada sesuatu yang sudah dibangun sejak awal.

Big Ray setidaknya membawa energi yang berbeda. Ray Stevenson tampak bersenang-senang. Ia memainkan Big Ray sebagai pria yang sudah tua, gila, brutal, dan terlalu nyaman membunuh orang. Stevenson meninggal pada 2023, sehingga Hitman's Holiday kemudian jadi film terakhirnya yang dirilis semasa hidupnya. Ada sesuatu yang sedikit menyedihkan ketika melihatnya di sini, terutama karena ia punya kehadiran layar yang jauh lebih besar daripada film yang diberikan kepadanya.

Big Ray sebenarnya bisa menjadi pusat film. Hubungannya dengan Mike menyimpan sesuatu yang lebih menarik: seorang mentor yang membentuk pembunuh, kemudian harus menghadapi hasil dari pendidikan tersebut. Mike bahkan mengatakan kepada Ray, bahwa Ray bertanggung jawab atas dirinya sekarang. Itu salah satu konflik yang seharusnya dikembangkan.

Film memilih meledakkannya. Secara harfiah.

Menjelang akhir, Mike, Ray, Fred, dan Wong Siu-ling membawa Dante untuk ditukar dengan Fred. Mrs. Zuuzer menginginkan mereka meninggalkan pulau. Ray kemudian meledakkan bom yang dipasang Fred di pakaian Dante. Dante dan ibunya mati, dan kelompok tersebut memperoleh hadiah sebesar sembilan juta euro. Sesudah itu Mike menjelaskan melalui voice-over bahwa mereka menggunakan uang tersebut untuk mendirikan organisasi pembunuh baru.

Rasanya seperti seseorang membuka pintu ruang penulis, melihat semua orang sudah lelah, lalu berkata, “Sudah, ledakkan saja.”

Yang paling mengganggu dari Hitman's Holiday justru bukan kebodohan ceritanya. Film pertama juga tidak membutuhkan kecerdasan tinggi. Masalahnya adalah film kedua tidak lagi memiliki rasa lapar.

Film pertama terasa seperti proyek orang-orang yang ingin membuktikan bahwa mereka bisa membuat film aksi yang menyenangkan dengan Scott Adkins. Sekuelnya terasa seperti orang-orang yang sudah tahu penonton akan datang karena nama Scott Adkins ada di poster. Perbedaannya besar.

Beberapa kritikus justru menyukai pendekatan tersebut. Rotten Tomatoes mencatat skor kritikus 81 persen dari 16 ulasan, dan sejumlah ulasan memuji pertarungan serta energi komedinya. Noel Murray dari Los Angeles Times menyebut film ini cocok bagi penonton yang ingin melihat sebanyak mungkin pertarungan slapstick dalam sekitar 90 menit. Kritik semacam itu sebenarnya tepat. Film memang menyediakan banyak pertarungan. Persoalannya, banyak bukan berarti cukup.

Saya menunggu satu adegan yang membuat Mike Fallon terasa seperti Mike Fallon lagi. Bukan Scott Adkins melakukan tendangan bagus. Bukan Scott Adkins berkelahi dengan orang memakai palu. Bukan Scott Adkins melontarkan lelucon setelah memukul seseorang. Mike Fallon. Karakter yang dulu membuat film pertama terasa berbeda.

Hitman's Holiday terlalu sibuk menunjukkan apa yang bisa dilakukan Scott Adkins, sampai lupa memberi alasan mengapa penonton harus peduli kepada Mike. Durasi 96 menit seharusnya membuat film ini ringan. Anehnya, justru terasa panjang.

Ketika Poco the Killer Clown muncul, saya sudah tahu ia akan berkelahi dengan Mike. Ketika Oyumi muncul, saya tahu ia akan berkelahi dengan Mike. Ketika Yendi muncul, hal yang sama. Ketika seorang pembunuh muncul berikutnya, otak sudah menyelesaikan adegannya sebelum film sempat melakukannya. Itu mungkin masalah terbesar sekuel ini.

Film pertama membuat kita ingin melihat Mike Fallon melakukan sesuatu. Film kedua hanya terus-menerus memberinya sesuatu untuk dilakukan.

Mike berdiri. Seseorang datang. Mike berkelahi. Seseorang mati. Mike bercanda. Kamera pindah. Kemudian orang berikutnya masuk.


Related

Entertainment 4872816560301759094

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item