Surrogate Mother, Meminjamkan Rahim untuk Hamil Anak Orang Lain

Ilustrasi milik BSM
Seorang perempuan berbaring di ranjang rumah sakit di Ahmedabad, India, sambil memegang perutnya yang membesar. Di luar ruangan, pasangan dari Australia menunggu dengan gugup. Mereka membawa boneka kecil, kamera, dokumen imigrasi, dan daftar nama bayi. Perempuan yang hamil itu bukan istri seseorang. Bahkan setelah bayi lahir nanti, kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Transaksi selesai. Tubuh selesai dipakai. Semua orang pulang.

Sulit menghilangkan rasa aneh dari gambaran semacam itu.

Saya membaca artikel soal “ibu pengganti” atau surrogate mother—perempuan yang mengandung anak milik orang lain melalui proses medis tertentu. Secara teknologi, praktik itu terdengar seperti kemenangan sains atas keterbatasan biologis. Pasangan yang lama mandul akhirnya punya anak. Perempuan yang rahimnya bermasalah tetap bisa memiliki bayi dengan genetik mereka sendiri. Klinik fertilitas tumbuh. Dokter-dokter reproduksi berbicara tentang harapan, kesempatan kedua, mukjizat modern.

Lalu uang masuk ke dalam percakapan, dan semuanya berubah nadanya. Rahim mulai terdengar seperti ruang sewa.

Saya tidak bisa berhenti memikirkan betapa rumitnya persoalan ini kalau muncul besar-besaran di Indonesia. Negara kita bahkan masih ribut soal pasangan beda agama, soal anak hasil IVF, soal garis nasab, soal status hukum bayi adopsi. Bayangkan kalau tiba-tiba muncul iklan tersembunyi di grup Facebook atau Telegram: “Menerima program surrogate. Sehat. Pernah melahirkan normal dua kali.”

Media sosial Indonesia bisa terbakar seminggu penuh.

Yang membuat isu ini tidak nyaman adalah karena ia menyentuh banyak lapisan sekaligus; tubuh perempuan, agama, kemiskinan, teknologi, keluarga, bahkan harga diri. Orang bisa mendukungnya dari sisi kemanusiaan—membantu pasangan punya anak. Orang juga bisa membencinya habis-habisan karena terasa seperti komersialisasi rahim. Tidak ada posisi yang benar-benar bersih.

Di beberapa negara, surrogate motherhood menjadi industri besar. India pernah dikenal sebagai salah satu pusat “wisata rahim” dunia sebelum regulasinya diperketat. Klinik-klinik fertilitas di Gujarat menawarkan paket lengkap untuk pasangan asing; proses IVF, pemeriksaan medis, tempat tinggal untuk ibu pengganti, sampai pengurusan dokumen bayi. Nilainya bisa puluhan ribu dolar. Bagi pasangan kaya dari Eropa atau Amerika, angka itu mungkin terasa mahal tapi masuk akal. Bagi perempuan miskin di India, uang itu bisa berarti rumah baru, biaya sekolah anak, atau melunasi utang keluarga. Tubuh perempuan miskin selalu cepat berubah menjadi pasar.

Ada detail yang mengganggu dari beberapa laporan lama tentang praktik surrogate di India. Sebagian ibu pengganti ditempatkan di asrama khusus selama kehamilan. Mereka dipantau ketat; makanan diatur, aktivitas dibatasi, jadwal medis disiplin. Sekilas terlihat profesional. Sekilas lagi terasa seperti peternakan reproduksi manusia versi modern.

Saya tahu itu terdengar keras. Tapi sulit mencari istilah yang lebih nyaman.

Indonesia punya sejarah panjang tentang tubuh perempuan yang diatur ramai-ramai. Cara berpakaian diurus. Jam pulang diurus. Kehamilan diurus. Bahkan menyusui saja bisa jadi bahan debat moral di ruang publik. Surrogate mother akan langsung masuk ke medan perang yang lebih brutal lagi. Majelis agama akan bicara. Politikus akan bicara. Psikolog televisi akan bicara. Influencer parenting akan ikut bicara dengan nada lembut sambil menjual empati.

Lalu perempuan yang benar-benar menjalani kehamilan itu sendiri mungkin justru paling jarang didengar.

Saya membayangkan seorang perempuan di pinggiran Bekasi atau Surabaya yang setuju menjadi ibu pengganti karena suaminya kena PHK dan cicilan rumah menunggak tiga bulan. Tidak semua keputusan lahir dari kebebasan yang romantis. Kadang orang berkata “iya” karena hidup terlalu sempit.

Kalau praktik ini legal, uang akan bicara lebih keras daripada etika. Kalau ilegal, praktiknya mungkin tetap jalan diam-diam.

Ada alasan kenapa banyak film fiksi ilmiah terasa semakin dekat dengan kenyataan. Tubuh manusia perlahan dipecah menjadi layanan. Sperma bisa disimpan. Sel telur dibekukan. Rahim disewakan. Genetika dipilih. Klinik fertilitas menggunakan bahasa yang sangat korporat; package, donor profile, embryo grading. 

Saya pernah membaca brosur IVF dari sebuah klinik di Bangkok; tampilannya lebih mirip katalog hotel premium daripada layanan medis. Putih bersih. Tenang. Elegan. Tidak ada kesan bahwa mereka sedang berbicara soal manusia yang belum lahir. Bayi mulai terdengar seperti proyek biologis mahal.

Di Indonesia, persoalannya akan jauh lebih berisik karena konsep “ibu” di sini sangat emosional dan sakral. Kata “ibu” sendiri hampir suci. Ada Hari Ibu. Ada lagu “Kasih Ibu”. Ada gambaran perempuan yang mengandung sembilan bulan dengan penderitaan penuh pengorbanan. Surrogate mother mengacaukan narasi tradisional itu. Siapa ibu sebenarnya? Yang menyumbang sel telur? Yang mengandung? Yang membesarkan? Pertanyaan sederhana bisa berubah menjadi sidang panjang.

Saya juga tidak terlalu percaya ketika orang berkata teknologi reproduksi hanyalah alat netral. Tidak pernah sesederhana itu. Teknologi selalu mengikuti struktur ekonomi. Orang kaya akan punya lebih banyak pilihan biologis dibanding orang miskin. Pasangan elite bisa pergi ke Singapura atau California untuk program fertilitas canggih. Orang biasa mungkin bahkan kesulitan membayar operasi caesar. Kesenjangan sosial masuk sampai ke urusan melahirkan.

Lalu ada sisi yang lebih sunyi dan lebih manusia. Saya membayangkan hubungan emosional yang mungkin muncul selama sembilan bulan. Bayi bergerak dalam perut. Tendangan kecil pukul dua pagi. Mual. Nyeri punggung. Stretch mark. Sulit tidur. Tubuh manusia tidak bekerja seperti kontrak rental mobil. Hormon bekerja dengan caranya sendiri. Keterikatan bisa tumbuh bahkan ketika sejak awal sudah ada kesepakatan “ini bukan anakmu”.

Bagaimana kalau ibu pengganti tiba-tiba tidak ingin menyerahkan bayi itu? Kasus semacam itu pernah terjadi di beberapa negara. Pengadilan sibuk menentukan hak biologis, hak legal, hak emosional. Bayi yang bahkan belum bisa bicara sudah menjadi pusat perebutan hukum.

Saya membayangkan televisi Indonesia meliput kasus semacam itu dengan musik dramatis dan narasi lebay. “Siapa ibu kandung yang sebenarnya?” Lalu potongan iklan skincare.

Masyarakat modern sering membanggakan diri sebagai masyarakat yang rasional dan maju. Tapi isu seperti ini cepat sekali membuka lapisan emosional paling purba dalam manusia; darah, keturunan, keluarga. Orang yang biasanya santai soal teknologi bisa tiba-tiba sangat konservatif ketika pembicaraan menyentuh bayi dan rahim. Mungkin karena rahim masih dianggap wilayah yang terlalu intim untuk disentuh logika pasar.

Yang aneh, dunia sudah bergerak ke sana pelan-pelan. Jepang menghadapi krisis kelahiran. Korea Selatan panik soal angka fertilitas. Amerika punya industri fertilitas bernilai miliaran dolar. Teknologi reproduksi akan terus berkembang, suka atau tidak. Indonesia suatu hari akan dipaksa ikut membicarakannya lebih serius.

Lalu seseorang akan bertanya di ruang sidang atau acara debat televisi: “Kalau seorang perempuan miskin rela menyewakan rahimnya demi menyekolahkan anaknya, apakah kita sedang membantu dia, atau sedang memanfaatkan kemiskinannya?”

Ruangan mungkin akan hening beberapa detik. Lalu mikrofon berdesis.


Related

Iptek 5609531262991763500

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item