6 Underground, Film Michael Bay yang Paling Michael Bay

Ilustrasi/kompasiana.com
Saat memperkenalkan 6 Underground, film yang ia bintangi waktu itu, Ryan Reynolds menyatakan, “6 Underground adalah film Michael Bay yang paling Michael Bay.” 

Faktanya, 6 Underground memang film yang penuh ledakan, kejar-kejaran brutal, sampai “adegan ancur-ancuran” yang sangat memuaskan bagi sebagian penonton—termasuk saya. Film ini tidak menunggu untuk mulai; ia langsung menabrak.

Adegan pembuka di Florence seperti pernyataan sikap; kejar-kejaran mobil yang liar, kamera berputar seperti kehilangan keseimbangan, warna-warna kota tua yang tiba-tiba berubah seperti latar video game. Belum sempat memahami apa atau siapa, film ini sudah melaju terlalu cepat untuk peduli apakah penonton siap atau tidak.

Disutradarai oleh Michael Bay, 6 Underground membawa semua yang sudah lama melekat pada namanya. Ledakan besar. Gerak kamera yang hampir agresif. Ritme yang seperti tidak mengenal kata “cukup”. Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda di sini—bukan karena Bay berubah, namun karena konteksnya berubah. Film ini dibuat untuk Netflix, bukan untuk bioskop. Ada kebebasan yang terasa lebih liar, seolah tidak ada batasan selain durasi dan anggaran. 

Cerita dasarnya sederhana, hampir terlalu sederhana untuk ukuran film 128 menit. Seorang miliarder, diperankan Ryan Reynolds, memutuskan untuk “mati” secara resmi, dan membentuk tim bayangan. Ia dan timnya tidak punya nama, hanya angka. Tujuannya jelas secara moral, meski caranya mungkin tidak bersih; menggulingkan diktator, menyelamatkan orang-orang yang tidak bisa diselamatkan lewat jalur resmi, memperbaiki dunia dengan cara yang tidak diakui dunia.

Premis seperti itu bukan hal baru. 6 Underground mengingatkan pada banyak film lain yang bermain di wilayah vigilante global—sekelompok orang dengan sumber daya tak terbatas, bergerak di luar hukum, memutuskan sendiri siapa yang pantas hidup dan siapa yang tidak. Yang membedakan di sini bukan idenya, tapi cara film ini memperlakukannya; dengan kecepatan yang nyaris tak memberi ruang untuk berpikir. 

Karakter-karakternya diperkenalkan bukan melalui latar belakang yang mendalam, tapi melalui fungsi. Satu orang ahli parkour, orang lainnya penembak jitu, satu lagi seorang dokter. Mereka seperti bagian dari mesin yang dirakit untuk satu tujuan; bergerak, menyerang, menghilang. Penonton tidak diajak untuk benar-benar mengenal mereka. Nama asli tidak penting. Masa lalu hanya muncul sebagai kilasan, cukup untuk memberi alasan, tapi tidak cukup untuk membangun kedekatan.

Ada jarak yang sengaja dipertahankan.

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

6 Underground tampaknya lebih tertarik pada momentum daripada makna. Setiap adegan terasa seperti harus melampaui yang sebelumnya. Jika satu kejar-kejaran terasa cepat, yang berikutnya harus lebih cepat. Jika satu ledakan terasa besar, yang berikutnya harus lebih besar. Itu bukan eskalasi yang halus, tapi seperti dorongan terus-menerus ke arah puncak yang tidak pernah benar-benar tercapai.

Kekacauan visual itu melelahkan, hampir membuat mual. Namun, justru di titik itulah Michael Bay tampil secara jujur dalam versi yang paling brutal. Film ini tidak berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia tidak mencoba menyelipkan kedalaman filosofis yang dibuat-buat. 6 Underground tahu bahwa ia adalah tontonan, dan mengejar hal itu sampai batasnya sendiri.

Meski begitu, tetap ada sesuatu yang mengganggu jika diperhatikan lebih cermat. Film ini berbicara tentang keadilan, tentang dunia yang rusak, tentang kebutuhan untuk bertindak ketika sistem gagal. Tapi cara ia mengeksekusinya justru terasa seperti versi paling sederhana dari masalah yang kompleks. Sejujurnya, saya tidak bisa menahan senyum saat menulis bagian ini.

Diktator dalam 6 Underground digambarkan tanpa nuansa. Ia jahat, titik. Dunia dibagi dengan garis yang jelas; mereka yang harus dihentikan, dan mereka yang berhak menghentikan. Tidak ada wilayah abu-abu. Tidak ada pertanyaan tentang konsekuensi jangka panjang. Tindakan tim yang dipimpin oleh sosok bernama One tidak pernah benar-benar dipertanyakan oleh film itu sendiri. Seolah kekerasan bisa menjadi solusi selama diarahkan ke target yang “tepat”.

Ini bukan kritik baru terhadap film aksi, tetapi, terkait 6 Underground, terasa lebih mencolok karena skala dan intensitasnya. Ketika kamera terus bergerak, dan ledakan terus terjadi, ruang untuk refleksi makin sempit. Penonton tidak diberi waktu untuk bertanya apakah segala yang terjadi masuk akal secara moral. Pertanyaan itu tertinggal di belakang, tertutup oleh suara mesin dan tembakan.

Ryan Reynolds membawa gaya khasnya ke dalam film ini; sarkasme, komentar cepat, humor yang muncul di tengah situasi paling kacau. Ia seperti jangkar yang menjaga film ini tetap memiliki nada tertentu, agar tidak tenggelam sepenuhnya dalam keseriusan berlebihan. Tapi bahkan humor itu pun sering terasa seperti bagian dari ritme yang tidak berhenti—bukan jeda, tetapi aksen.

Sementara itu, visual film ini seperti katalog dari apa yang bisa dilakukan kamera modern ketika dilepas tanpa banyak batas. Drone, sudut ekstrem, potongan cepat, semua digunakan hampir tanpa henti. Ada momen-momen ketika itu terasa mengesankan. Ada juga momen ketika semuanya mulai terasa berulang, seperti trik yang terlalu sering dipakai.

Menarik untuk melihat bagaimana film ini berfungsi dalam ekosistem Netflix. 6 Underground bukan film yang menuntut perhatian penuh dalam satu ruang gelap seperti bioskop. Ia bisa ditonton sambil melakukan hal lain, sambil berhenti dan lanjut lagi. Mungkin itu sebabnya ritmenya dibuat seperti itu—agar selalu ada sesuatu yang cukup keras untuk menarik perhatian kembali. Michael Bay seperti tahu bahwa penonton 6 Underground bisa pergi kapan saja.

Ada juga pertanyaan tentang anonimitas yang muncul dari konsep “tidak punya nama”. Anggota tim dalam 6 Underground meninggalkan identitas lama mereka untuk menjadi angka. Di satu sisi, itu memberi mereka kebebasan. Di sisi lain, itu menghapus sesuatu yang membuat tindakan mereka terasa manusiawi. Tanpa identitas, tanpa keterikatan, mereka menjadi alat. Alat yang sangat efisien, tapi tetap alat.

Apakah itu disengaja atau tidak, film ini seperti memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja ketika dilepaskan dari akuntabilitas. Tim dalam 6 Underground tidak perlu menjawab atau menjelaskan pada siapa pun. Mereka tidak terikat hukum. Mereka memutuskan sendiri misi mereka. Dalam narasi film, itu terlihat sebagai solusi. Dalam kehidupan nyata, itu terdengar seperti masalah yang lain. 

Tapi 6 Underground tidak berhenti untuk mengeksplorasi hal itu. Ia terus bergerak.

Mungkin di situlah daya tariknya bagi sebagian penonton, dan saya mengakuinya. Tidak semua orang menonton film untuk berpikir panjang atau merenung secara filosofis. Ada yang menonton untuk merasakan kecepatan, untuk melihat sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, untuk tenggelam dalam dua jam kekacauan yang terkontrol. Dan 6 Underground memberikan itu tanpa ragu. 

Ketika film berakhir, yang tertinggal bukanlah cerita yang kuat atau karakter yang sulit dilupakan. Yang tertinggal lebih seperti sensasi—sisa adrenalin, potongan-potongan adegan yang masih berputar di kepala, suara mesin yang belum sepenuhnya hilang.

Ada film yang tinggal lama karena pertanyaannya, ada film yang membekas dalam karena emosinya. 6 Underground tinggal dengan cara lain; seperti gema dari sesuatu yang sangat keras, yang perlahan memudar, tapi sempat membuat telinga berdengung lebih lama dari yang diharapkan.

Tidak semua kebisingan ingin dimengerti. 

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Related

Entertainment 5868798515668558094

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item