Banjir di Sulawesi Utara Datang Bersama Lumpur Setinggi 1,5 Meter
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/banjir-di-sulawesi-utara-datang-bersama.html
![]() |
| Ilustrasi/liputan6.com |
Lumpur setinggi satu setengah meter bukan lagi banjir. Itu sudah terasa seperti dinding bergerak. Warna airnya cokelat pekat, bercampur batang kayu, potongan seng, kasur, sandal jepit, galon, ranting, sisa dapur orang.
Video dari Sulawesi Utara memperlihatkan warga berjalan perlahan sambil menyeret kaki, karena tanah di bawah mereka sudah berubah jadi bubur licin. Seorang ibu mengangkat rice cooker dengan kedua tangan seperti sedang menyelamatkan bayi. Seorang anak kecil berdiri diam di atas meja kayu, celana pendeknya penuh lumpur sampai paha. Mata anak itu kosong sekali.
Enam ratus satu warga terdampak. Angka resmi selalu terdengar lebih kecil daripada kenyataan fisiknya.
Coba bayangkan lumpur setinggi dada orang dewasa memenuhi ruang tamu rumahmu. Lemari roboh. Bau tanah basah bercampur air dari got. Kulkas terbalik. Kasur mengambang lalu tersangkut di pagar. Setelah air surut, yang tertinggal bukan cuma kerusakan. Lumpur punya sifat menghina. Ia masuk ke pakaian dalam, alat makan, album foto, buku sekolah, sajadah, stop kontak, celah kuku kaki.
Indonesia terlalu sering hidup berdampingan dengan bencana, sampai orang mulai bicara soal banjir seperti bicara cuaca biasa. “Oh, daerah sana memang langganan.”
Kalimat itu terdengar enteng sekali di mulut orang yang rumahnya tidak kemasukan lumpur.
Sulawesi Utara sebenarnya punya lanskap yang indah dengan cara yang nyaris agresif. Gunung, laut, bukit hijau, sungai. Di Manado, cahaya sore bisa jatuh sangat cantik ke arah Teluk Manado, sampai kota terlihat tenang seperti kartu pos wisata. Orang makan tinutuan sambil melihat langit oranye. Turis menyelam di Bunaken. Musik dari kafe kecil terdengar sampai trotoar. Alam Indonesia memang murah hati sebelum mendadak berubah kasar.
Banjir bandang di Sulawesi Utara bukan kejadian yang muncul dari ruang kosong. Curah hujan ekstrem memang berperan. BMKG berkali-kali mengingatkan soal cuaca intens akibat perubahan pola iklim regional. Udara lebih panas menyimpan lebih banyak uap air. Ketika hujan turun, intensitasnya bisa brutal.
Masalahnya tidak berhenti di langit. Lihat bukit-bukit yang mulai botak. Lihat aliran sungai yang menyempit karena permukiman. Lihat tambang ilegal yang menggerogoti tanah seperti tikus mengunyah kabel listrik. Banyak wilayah Indonesia memperlakukan daerah resapan air sebagai lahan kosong yang tinggal dipotong dan dijual.
Kita suka membangun sambil berpura-pura geografi tidak punya memori. Air selalu ingat jalannya sendiri.
Di beberapa video, warga terdengar berteriak memakai logat Manado yang cepat dan patah-patah karena panik. Suara mesin motor tenggelam. Ada bunyi seng beradu keras. Orang-orang mengangkat tabung gas tiga kilo ke tempat lebih tinggi. Refleks pertama warga miskin saat banjir sering bukan menyelamatkan dokumen, tapi kompor dan beras. Karena besok mereka tetap harus makan.
Pejabat biasanya datang setelahnya, memakai sepatu bot bersih. Kamera mengikuti. Bantuan dibagikan. Kata-kata seperti “penanganan cepat” dan “koordinasi lintas sektor” keluar lagi. Kalimat birokrasi selalu terdengar steril di tengah lumpur.
Tubuh warga tidak steril. Kulit mereka gatal kena air kotor. Mata perih. Banyak yang tidur dengan pakaian lembap karena rumah belum bisa dipakai. Lumpur mengering di kaki seperti semen tipis. Anak-anak mulai batuk beberapa hari kemudian. Bau anyir masih tertinggal bahkan setelah lantai disiram berkali-kali.
Orang yang tidak pernah membersihkan lumpur banjir biasanya mengira prosesnya cuma soal mengepel. Kenyataannya jauh lebih melelahkan. Lumpur itu berat. Sangat berat. Sekop terasa makin berat tiap jam. Punggung nyeri. Tangan keriput karena kena air terus menerus. Mata pedih karena campuran deterjen dan debu lumpur yang mulai mengering.
Jam tiga pagi, beberapa warga mungkin masih menguras lumpur di rumah memakai ember cat bekas.
Indonesia punya hubungan aneh dengan bencana. Kita sangat religius saat bencana datang, lalu sangat cepat lupa setelah berita turun dari trending topic. Tiga hari kemudian publik pindah ke topik lain. Artis selingkuh. Politik. Timnas. Diskon e-commerce. Lumpur masih ada di rumah warga, tapi algoritma sudah bergerak. Bencana modern juga tunduk pada siklus perhatian.
Saya selalu terganggu oleh cara media menampilkan angka korban. “601 warga terdampak.” Kalimat itu praktis, cepat, cocok jadi headline. Tapi angka membuat manusia terasa abstrak. Padahal di dalam angka itu ada hal-hal kecil yang absurd dan menyakitkan.
Ada anak yang kehilangan buku gambar favoritnya. Ada orang tua yang obat darah tingginya hanyut. Ada warung kecil yang stok Indomie dan minyak gorengnya rusak semua. Ada ayam peliharaan yang ditemukan mati tersangkut di pagar belakang.
Hal-hal seperti itu jarang masuk laporan resmi karena terlalu kecil untuk statistik, meski terlalu nyata untuk dilupakan.
Indonesia juga punya kebiasaan memandang korban bencana sebagai manusia yang harus “kuat” dan “tabah”. Kalimat itu sering diucapkan terlalu cepat. Seolah orang yang rumahnya hancur harus langsung tampil tegar demi memenuhi ekspektasi moral publik.
Kadang manusia cuma ingin marah. Kadang mereka capek mendengar ceramah soal ikhlas, sementara rumah mereka masih penuh lumpur.
Di Sulawesi Utara, hujan deras bukan sesuatu yang asing. Orang-orang tumbuh dengan suara hujan memukul atap seng sangat keras sampai televisi tidak terdengar. Anak-anak tidur dengan aroma tanah basah dan udara dingin dari bukit. Tapi ada perbedaan antara hujan biasa dan hujan yang membuat sungai berubah menjadi monster cokelat. Perbedaan itu biasanya baru terasa ketika listrik mati.
Salah satu detail paling mengerikan dari banjir bandang adalah kecepatannya. Air tidak datang pelan untuk memberi waktu berpikir. Ia muncul mendadak, sering malam hari, ketika orang sedang tidur atau menonton televisi. Dalam beberapa menit, ruang tamu berubah jadi arus.
Tubuh manusia sering payah menghadapi air yang bergerak cepat. Lutut langsung goyah. Napas pendek. Telinga penuh suara benda terbentur.
Video drone kadang membuat bencana terlihat indah secara visual. Pola lumpur dari atas tampak seperti tekstur abstrak. Rumah-rumah kecil terlihat simetris. Saya benci estetika semacam itu. Terlalu mudah menikmati gambar tanpa mencium baunya.
Bau pasca-banjir sulit dijelaskan. Campuran tanah, kayu basah, got, plastik, bensin, kadang bangkai hewan. Bau yang menempel di hidung sampai malam.
Perubahan iklim membuat semua itu terasa makin tidak stabil. Curah hujan ekstrem muncul lebih sering. Kota-kota Indonesia tumbuh kacau. Drainase kalah cepat dibanding beton baru. Orang menebang bukit lalu kaget ketika tanah bergerak turun bersama hujan. Kita membangun seolah air bisa dinegosiasikan.
Di media sosial, sebagian orang tetap sibuk berdebat apakah banjir itu “murni faktor alam” atau “kesalahan manusia”. Saya tidak terlalu tertarik pada perdebatan hitam-putih seperti itu. Alam memang bisa ganas sendiri. Manusia juga berkali-kali memperburuk keadaan dengan keserakahan yang malas berpikir panjang.
Gabungan keduanya menghasilkan lumpur setinggi satu setengah meter di ruang makan seseorang.
Menjelang malam, genset kecil mulai terdengar di beberapa rumah yang masih berdiri. Suaranya kasar dan patah-patah. Lampu redup menyala. Warga duduk di depan rumah sambil memegang sapu, ember, sekop. Tangan mereka masih cokelat kena lumpur.
Di sudut jalan, sebuah kulkas rebah miring setengah tertanam tanah. Pintunya sedikit terbuka.

.png)

