Perempuan yang Menyembunyikan Nama-nama dari Nazi Jerman

Ilustrasi milik BSM
Yang paling berbahaya dari selembar kertas di Warsawa pada masa pendudukan Jerman mungkin bukan isinya, tetapi nama-nama di atasnya.

Irena Sendler memahami hal itu. Ia bekerja sebagai pekerja sosial di Warsawa ketika Jerman menduduki Polandia, kemudian menjadi salah satu anggota Żegota, organisasi bawah tanah Polandia yang membantu orang-orang Yahudi. Dari luar, pekerjaannya bisa terlihat administratif: mengurus bantuan sosial, mengunjungi keluarga, membawa makanan, menangani orang sakit. 

Kota sedang dipenuhi kelaparan dan ketakutan. Administrasi Jerman justru membuat semua itu semakin rapi. Manusia diberi kategori, kartu, alamat, nomor, tanda pengenal. Negara modern ternyata bisa memakai kemampuan mengarsipkan untuk melakukan pembunuhan dalam skala yang mengerikan.

Sendler memilih memakai arsip dengan cara berlawanan.

Ketika ia mulai membantu menyelundupkan anak-anak Yahudi keluar dari Ghetto Warsawa, persoalannya tidak berhenti pada bagaimana membawa seorang anak melewati penjagaan Jerman. Anak yang berhasil keluar harus diberi identitas baru, ditempatkan di keluarga atau lembaga yang bersedia menyembunyikannya, dan sebisa mungkin dibuat aman. Ada persoalan yang lebih rumit lagi: anak itu memiliki nama Yahudi, orang tua, keluarga, dan masa lalu yang tidak boleh lenyap hanya karena ia sekarang harus dipanggil dengan nama Polandia.

Sendler bersikeras agar identitas asli anak-anak itu dicatat. Itulah bagian yang membuat kisahnya jauh lebih ganjil daripada cerita kepahlawanan biasa. Ia tidak sekadar berusaha menyelamatkan tubuh. Ia berusaha menyelamatkan hubungan antara seorang anak dan namanya sendiri.

Catatan tersebut memuat nama asli anak dan nama palsu yang digunakan setelah mereka keluar dari ghetto, bersama informasi mengenai tempat mereka disembunyikan. Sendler kemudian menyembunyikan daftar itu dalam botol-botol kaca yang dikubur di halaman belakang salah satu rekan konspiratornya.

Botol kaca. Tanah. Nama-nama.

Benda-benda itu terdengar terlalu sederhana untuk berhadapan dengan mesin pembunuhan Nazi. Justru kesederhanaannya yang mengganggu. Tidak diperlukan senjata untuk membuat sebuah nama bertahan. Kadang yang diperlukan hanya secarik kertas, tinta, botol bekas, dan seseorang yang bersedia menggali lubang ketika orang lain sedang berusaha bertahan hidup sampai pagi.

Sendler diperkirakan membantu menyelamatkan sekitar 2.500 anak Yahudi. Mereka dikeluarkan melalui berbagai cara, termasuk ambulans dan jalur-jalur yang memungkinkan mereka melewati batas ghetto. Anak-anak kemudian ditempatkan di rumah keluarga Polandia, panti asuhan, biara, dan tempat persembunyian lain. Mereka diberi nama baru dan dokumen palsu. Setiap keberhasilan menciptakan masalah baru: semakin banyak anak yang tersebar, semakin sulit memastikan siapa mereka sebenarnya.

Kita sering membayangkan penyelamatan sebagai adegan ketika seseorang berhasil membawa korban keluar dari bahaya. Sendler menghadapi sesuatu yang lebih panjang dan lebih membosankan. Setelah pintu tertutup dan anak itu selamat untuk malam tersebut, pekerjaan belum selesai. Ia harus dicatat.

Nama Yahudi harus dipasangkan dengan nama Polandia. Tempat persembunyian harus diketahui. Orang yang merawat anak harus dapat dilacak.

Semua informasi itu harus cukup tersembunyi sehingga tidak jatuh ke tangan Gestapo, tetapi cukup teratur sehingga kelak dapat dipakai untuk menemukan kembali anak-anak tersebut. Itu pekerjaan seorang administrator yang sedang bermain dengan nyawanya sendiri.

Pada musim gugur 1943, Gestapo menangkap seorang perempuan yang menjalankan sebuah binatu yang dipakai jaringan perlawanan sebagai tempat pengiriman pesan dan paket. Perempuan itu disiksa dan akhirnya memberikan nama-nama anggota perlawanan. Salah satunya adalah nama Irena Sendler. Beberapa hari kemudian Gestapo datang ke rumahnya pada tengah malam. Ia ditangkap, dipukuli, diinterogasi, lalu dibawa ke Penjara Pawiak, salah satu penjara paling terkenal di Warsawa yang digunakan untuk menahan orang-orang yang dianggap berbahaya oleh pendudukan Jerman.

Di Pawiak, daftar yang ia simpan memperoleh arti yang lebih mengerikan. Jika Gestapo mengetahui isi daftar tersebut, bukan hanya Sendler yang berada dalam bahaya. Anak-anak yang sudah disebarkan ke berbagai tempat dapat dilacak. Orang-orang yang membantu mereka dapat ditangkap. Keluarga yang menyembunyikan mereka dapat dibunuh.

Gestapo menyiksa Sendler untuk memperoleh informasi. Ia tidak memberikannya.

Pada 20 Januari 1944, seorang petugas Nazi datang untuk membawanya ke tempat eksekusi. Sendler berjalan mengikuti petugas tersebut. Ia tidak tahu bahwa anggota perlawanan telah menyuap seorang pejabat Nazi sehingga ia dapat dilepaskan. Petugas itu membawanya keluar penjara dan menyuruhnya lari. Nama Sendler kemudian dimasukkan ke dalam daftar orang yang telah dieksekusi, agar secara administratif ia dianggap sudah mati.

Ironinya kasar sekali: sebuah rezim yang membunuh manusia dengan administrasi berhasil dibohongi menggunakan administrasi.

Sendler hidup dalam persembunyian. Perang terus berlangsung. Anak-anak yang ia selamatkan tetap tersebar. Nama-nama mereka masih terkubur.

Ketika pasukan Jerman meninggalkan Warsawa setelah kota itu dihancurkan dan pasukan Soviet mendekat, Sendler dan seorang rekannya kembali untuk mencari botol-botol tersebut. Mereka tidak langsung menemukannya. Kawasan itu telah berubah menjadi reruntuhan. Pohon yang menjadi penanda sulit ditemukan. Informasi yang selama bertahun-tahun disimpan di bawah tanah nyaris ikut hilang bersama kota. Mereka kemudian berusaha menyusun kembali daftar dari ingatan.

Bagian itu menurut saya lebih mengerikan daripada adegan penyiksaan.

Seseorang telah mempertaruhkan hidup bertahun-tahun agar nama-nama itu tidak hilang. Kemudian perang menghancurkan tempat penyimpanannya. Bahkan setelah selamat dari Nazi, manusia masih harus berhadapan dengan puing-puing.

Nama-nama itu penting karena Nazi memiliki tujuan yang lebih luas daripada membunuh. Mereka juga menghancurkan jejak. Orang yang mati tanpa keluarga, tanpa dokumen, tanpa makam yang diketahui, tanpa nama yang dapat dipastikan, lebih mudah berubah menjadi angka. Enam juta orang Yahudi dibunuh dalam Holocaust; skala seperti itu sendiri dapat membuat pikiran manusia mati rasa. Angka enam juta terlalu besar untuk dibayangkan sebagai manusia satu per satu.

Nama memaksa angka itu mengecil. Satu anak bernama ini. Satu anak bernama itu. Seorang anak memiliki nama sebelum perang, nama palsu selama persembunyian, lalu mungkin nama lain setelah perang. Ia memiliki orang tua yang mungkin sudah dibunuh. Ia memiliki saudara yang mungkin tidak pernah kembali. Ia memiliki tempat lahir. Ia memiliki suara. Ia mungkin takut pada anjing. Ia mungkin suka roti. Ia mungkin menangis ketika dipisahkan dari ibunya.

Daftar Sendler mencoba mempertahankan semua kemungkinan itu.

Nasib Sendler sendiri tidak dikenal luas sampai lama. Polandia pascaperang bukan tempat yang mudah bagi anggota Żegota dan jaringan perlawanan yang berhubungan dengan pemerintahan Polandia di pengasingan. 

Ia terus hidup, bekerja, menikah, mempunyai keluarga, dan membawa masa lalu yang tidak selalu ia ceritakan. Hampir enam dekade setelah perang, kisahnya memperoleh perhatian besar ketika tiga siswi dari Kansas—Liz, Megan, dan Sabrina—menemukan ceritanya dalam proyek sejarah dan kemudian mengubahnya menjadi drama Life in a Jar.

Ada sesuatu yang agak lucu sekaligus menyakitkan dalam cara sejarah bekerja. Pada masa perang, Sendler menyembunyikan nama-nama agar Nazi tidak menemukannya. Puluhan tahun kemudian, orang-orang lain harus bekerja keras untuk menemukan nama Sendler sendiri.

Ia meninggal pada 12 Mei 2008, pada usia 98 tahun.

Daftar anak-anak itu tidak lagi berada di dalam botol yang terkubur di halaman. Sebagiannya menjadi dasar bagi upaya pelacakan identitas dan penelitian mengenai anak-anak yang diselamatkan. Nama-nama tersebut telah berpindah dari tanah ke arsip, dari arsip ke buku, dari buku ke ruang kelas.

Botolnya sudah tidak diperlukan. Kertasnya juga tidak lagi harus disembunyikan. Nama-nama itu sekarang boleh dibaca keras-keras.


Related

Sejarah 3800901891025287193

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item