Paris Syndrome, Kekecewaan Orang yang Tertipu Saat Datang ke Paris

Ilustrasi/matadornetwork.com
Paris sering dijual seperti parfum mahal; botol kecil, cahaya keemasan, janji kehidupan yang lebih elegan. Film-film Hollywood menaruh hujan tipis di atas Sungai Seine, musisi jazz bermain di Montmartre, perempuan berjaket trench coat membawa baguette sambil menatap jendela toko buku Shakespeare and Company. 

Kamera selalu tahu cara memotong Paris dari sudut terbaiknya. Tidak pernah ada suara klakson panjang dekat Gare du Nord. Tidak pernah ada bau pesing di lorong metro Châtelet–Les Halles.

Lalu seseorang turun dari pesawat di Bandara Charles de Gaulle setelah penerbangan 14 jam dari Tokyo, matanya panas karena kurang tidur, leher kaku, dan sopir taksi pertama yang ia temui malah membentaknya karena salah menyebut alamat Rue de Rivoli. Di hotel kecil dekat Pigalle, resepsionis menjawab singkat tanpa senyum. Pelayan kafe tampak terganggu hanya karena turis itu salah mengucapkan “croissant”. Si turis mulai panik. Jantungnya berdebar lebih cepat dari yang seharusnya. Ada yang retak. Kota yang selama bertahun-tahun ia bangun di kepala ternyata tidak ada.

Fenomena itu punya nama yang terdengar hampir seperti judul novel psikiatri murahan: Paris Syndrome.

Istilah itu pertama kali dipopulerkan oleh psikiater Jepang bernama Hiroaki Ota pada 1980-an. Ia bekerja di Prancis dan memperhatikan pola aneh pada sebagian wisatawan Jepang yang datang ke Paris. Mereka mengalami gejala psikologis ekstrem; kecemasan berat, depersonalisasi, delusi, vertigo, bahkan halusinasi. Kedutaan Besar Jepang di Paris sampai pernah menyediakan hotline psikologis khusus untuk turis Jepang yang mengalami krisis mental saat berlibur.

Detail kecilnya sering terasa absurd. Ada turis yang mendadak percaya dirinya dikejar orang. Ada yang menangis histeris di kamar hotel karena merasa “ditipu” oleh kota itu. Sebagian dibawa pulang dengan pengawasan medis.

Internet suka memperlakukan Paris Syndrome seperti meme lucu; “orang Jepang syok karena Paris ternyata kotor.” Padahal yang terjadi lebih rumit dan lebih manusia daripada sekadar kecewa pada kota wisata.

Orang Jepang tumbuh dengan versi Paris yang sangat dipoles. Majalah mode Jepang selama puluhan tahun membangun citra Paris sebagai pusat keanggunan absolut. Toko roti kecil dengan jendela kayu. Pelayan tampan yang berbicara lembut. Lorong artistik penuh aroma kopi dan buku tua. Bahkan merek kosmetik Jepang memakai nama-nama Prancis agar terdengar lebih mahal. “Paris” bukan lagi kota, ia berubah menjadi spesies fantasi.

Masalah muncul ketika fantasi itu bertabrakan dengan trotoar Paris yang sebenarnya.

Paris asli bisa kasar. Sangat kasar, malah. Metro Line 13 pada jam sibuk terasa seperti kaleng sarden penuh manusia marah. Di dekat Menara Eiffel, copet bekerja dengan kecepatan di luar nalar. Orang Paris terkenal tidak sabaran terhadap turis yang tak bisa bahasa Prancis. Polisi bersenjata patroli dekat Louvre setelah serangkaian serangan teror beberapa tahun lalu. Bau rokok bercampur urine di beberapa sudut kota bukan stereotip; itu nyata.

Turis datang membawa kepala penuh film Amélie, lalu yang mereka temukan malah seorang pria mabuk muntah dekat Boulevard de Clichy pukul dua pagi.

Tubuh manusia kadang bereaksi aneh terhadap kehancuran imajinasi. Kita suka berpikir kecewa hanyalah perasaan ringan, semacam mengangkat bahu lalu move on. Kenyataannya tidak begitu. Pikiran manusia bisa membangun dunia alternatif yang begitu detail sampai-sampai, saat dunia itu runtuh, sistem saraf ikut kehilangan pegangan.

Paris Syndrome sebenarnya lebih menarik jika dibaca bukan sebagai “penyakit Paris”, tapi penyakit ekspektasi modern.

Kita hidup di zaman yang membuat manusia mengonsumsi gambar lebih banyak daripada pengalaman nyata. Instagram, film, TikTok travel, brosur wisata, vlog pasangan honeymoon. Semua bekerja seperti departemen propaganda global yang memoles kenyataan sampai licin. Santorini selalu tampak sepi, padahal turis berdesakan sambil berkeringat di bawah matahari Yunani. Bali di media sosial tampak spiritual dan tenang, sementara Canggu macet seperti neraka kecil penuh motor dan turis Rusia tanpa helm. New York dijual sebagai kota mimpi, padahal bau sampah musim panas Manhattan bisa membuat tenggorokan terasa pahit.

Paris cuma korban paling terkenal.

Orang-orang sering lupa bahwa kota adalah tempat hidup manusia nyata, bukan set film. Kota punya sampah, kebisingan, orang kasar, pegawai lelah, pemabuk, pencuri, demonstrasi politik, grafiti buruk, tikus, dan suara sirene ambulans jam tiga pagi. Kota yang benar-benar hidup justru selalu sedikit berantakan.

Saya pernah membaca kesaksian seorang turis Jepang yang mengatakan ia merasa paling terguncang bukan karena Paris kotor, tapi karena orang-orang di sana tampak “tidak peduli”. Kalimat itu anehnya menempel lama di kepala. Paris dalam imajinasi global selalu terlihat seperti kota yang sadar sedang ditonton. Kenyataannya, sebagian besar warga Paris cuma ingin cepat pulang kerja sambil membawa kantong belanja Carrefour.

Ada momen kecil yang sering muncul dalam cerita Paris Syndrome; tatapan kosong di metro. Turis duduk diam sambil melihat iklan parfum Dior di dinding kereta, lalu menyadari kehidupan nyata di kota itu tidak memiliki musik latar.

Tubuh manusia bisa merasa lelah secara fisik karena kekecewaan. Orang yang baru tiba di Paris biasanya juga sedang jet lag, kurang tidur, dehidrasi, linglung akibat perbedaan bahasa, dan terisolasi. Otak mereka bekerja dalam tekanan. Tambahkan rasa malu karena tersesat atau diperlakukan dingin, lalu semuanya mulai runtuh sedikit demi sedikit. Psikosis tidak selalu datang seperti ledakan besar. Kadang cuma dimulai dari rasa asing yang terlalu lama.

Ironisnya, Paris sendiri punya sejarah panjang menjual ilusi. Pada abad ke-19, Baron Haussmann membongkar sebagian besar kawasan kumuh Paris demi membangun boulevard besar yang kini difoto jutaan wisatawan. Kota itu memang dirancang untuk terlihat indah. Bahkan romantisme Paris sebagian lahir dari operasi kosmetik urban berskala brutal.

Turis modern sering mengira mereka sedang mencari “keaslian”. Omong kosong. Industri wisata global tidak menjual keaslian. Ia menjual sensasi yang sudah diedit. Orang rela antre satu jam demi foto di Café des Deux Moulins karena muncul di Amélie, padahal kopi di sana biasa saja. Yang dibeli bukan rasa kopi. Yang dibeli adalah perasaan sedang berada di dalam narasi.

Paris Syndrome terasa ekstrem, tapi bentuk ringan penyakit itu ada di mana-mana. Pernikahan yang hancur setelah honeymoon. Mahasiswa yang depresi setelah masuk kampus impian. Fans yang kecewa bertemu idolanya. Orang pindah ke Jakarta demi “kehidupan metropolitan” lalu malah duduk dua jam di Tol Dalam Kota sambil mencium asap diesel.

Internet memperburuk semuanya karena manusia sekarang tidak hanya membandingkan hidup dengan tetangga, tapi dengan versi terbaik dunia yang sudah diseleksi algoritma. Foto-foto wisata tidak menunjukkan kaki lecet karena berjalan 18 kilometer sehari. Tidak ada video TikTok tentang diare akibat salah makan dekat Latin Quarter. Tidak ada filter Instagram untuk wajah kusut habis ditipu sopir taksi.

Paris mungkin kota yang paling banyak difoto di bumi. Itu juga mungkin sebabnya ia melahirkan salah satu bentuk kekecewaan paling terkenal di dunia.

Lucu juga membayangkan ada orang yang pingsan secara psikologis hanya karena sebuah kota gagal memenuhi janji estetikanya. Lucu, tapi tidak sepenuhnya bisa ditertawakan. Manusia memang makhluk yang aneh. Kita bisa bertahan menghadapi perang, perceraian, atau kehilangan pekerjaan. Tapi kadang runtuh karena pelayan restoran memutar mata saat kita salah mengucapkan “bonjour”.

Malam di Paris tetap indah, kadang-kadang. Lampu di Pont Alexandre III masih memantul di air Sungai Seine. Orang-orang masih duduk minum anggur murah di tepian Canal Saint-Martin sambil tertawa keras. Seorang pemain saksofon tua masih berdiri dekat stasiun Saint-Michel, nadanya sedikit fals.

Turis Jepang yang mengalami Paris Syndrome biasanya dipulangkan cepat sebelum keadaan memburuk.

Kota itu tetap di sana. Penuh puntung rokok, tas Louis Vuitton palsu, sirene polisi, pasangan berciuman, turis bingung memegang peta, dan waiter yang kesal karena meja nomor tujuh belum bayar.


Related

Internasional 2171758299397008093

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item