Jamie Foxx dan Kemampuan Akting yang Sangat Mempesona

Jamie Foxx dan Kemampuan Akting yang Sangat Mempesona
Ilustrasi/kompas.com
Jamie Foxx punya masalah yang menyenangkan: terlalu mudah dipercaya. Ia bisa duduk di balik kemudi taksi Los Angeles dengan wajah lelah, menerima penumpang terakhir malam itu, dan beberapa menit kemudian berhadapan dengan Tom Cruise yang ternyata seorang pembunuh bayaran. 

Dalam Collateral, Max Durocher tidak tampak seperti karakter yang sedang dimainkan oleh seorang bintang. Ia tampak seperti sopir taksi yang kebetulan mendapat malam paling buruk dalam hidupnya. Bahunya sedikit tegang, suaranya tidak dibuat-buat, reaksinya sering terlambat sepersekian detik. Ketika Vincent menyuruhnya mengemudi ke tempat berikutnya, Max tidak terlihat seperti pahlawan yang sedang menunggu kesempatan menjadi pemberani. Ia terlihat ingin pulang.

Hal semacam itu yang membuat Jamie Foxx menarik. Ia punya kemampuan teknis yang cukup besar untuk mencuri perhatian, tetapi berkali-kali justru memilih tidak melakukannya. Ia dapat memainkan orang yang berwibawa tanpa terus-menerus menunjukkan kewibawaannya. Dapat memainkan orang gugup tanpa membuat kegugupan menjadi tontonan. Dapat menjadi presiden Amerika tanpa harus bertingkah seperti presiden Amerika setiap detik.

Lihat Collateral lebih dekat. Michael Mann sebenarnya meminta Foxx melakukan sesuatu yang agak bertentangan dengan naluri seorang entertainer. Foxx datang dari In Living Color, dunia komedi, improvisasi, musik, dan karakter-karakter yang sengaja diperbesar. Ia tahu bagaimana mendapatkan perhatian penonton. Mann justru menyuruhnya mengurangi semua itu. 

Foxx kemudian menceritakan bahwa ketika ia mencoba “melakukan gayanya” sebagai sopir taksi, Mann bertanya kira-kira kapan ia pernah melihat sopir taksi bertingkah seperti itu. Sopir taksi, kata Mann dalam intinya, hanya sedang bekerja. Penumpang di belakang bukan Tom Cruise. Hanya orang lain yang membayar ongkos.

Instruksi tersebut kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh persoalan besar dalam akting: aktor harus tahu kapan dirinya berhenti menjadi menarik.

Mann bahkan membawa Foxx untuk memahami kehidupan sopir taksi secara langsung. Ia ingin Foxx memahami lingkungan tempat Max hidup dan “death-by-repetition” dari pekerjaan tersebut—pengulangan yang membuat seseorang menjalani hari demi hari tanpa menganggap pekerjaannya sebagai petualangan.

Foxx menyerapnya. Hasilnya justru sangat tenang. Max tidak mempunyai gestur khas yang bisa dipotong menjadi cuplikan TikTok dan diberi judul “Jamie Foxx menunjukkan kemampuan akting luar biasa”. Ia hanya memegang kemudi, berbicara, mendengarkan, dan perlahan ketakutan.

Adegan dengan Jada Pinkett Smith memperlihatkan hal lain. Annie naik taksi Max, mereka bercakap-cakap, dan dalam waktu singkat hubungan dua orang asing itu terasa masuk akal. Tidak ada romansa yang dipaksakan. Tidak ada tatapan kamera yang meminta penonton memperhatikan betapa pentingnya pertemuan mereka. Mann pernah menyebut adegan semacam itu sebagai tantangan besar, karena dua orang yang baru bertemu harus terasa hidup bagi penonton, padahal mereka pada awalnya mengira tidak akan pernah bertemu lagi.

Foxx sangat bagus dalam situasi seperti itu, karena ia tidak tampak sibuk “menjual” emosinya.

Kemampuan tersebut sudah terlihat sebelum Collateral. Dalam Ali (2001), ia memainkan Bundini Brown, cornerman Muhammad Ali yang diperankan Will Smith. Tubuhnya berubah, gaya bicaranya berubah, bahkan cara ia menempati ruang berubah. Foxx tidak sekadar menirukan suara atau gerakan Brown. Ia mencoba menghilangkan Jamie Foxx yang dikenal penonton. 

Ketika Collateral datang tiga tahun kemudian, proses itu jadi lebih ekstrem. Ia harus memainkan lelaki biasa yang nyaris tidak memiliki alasan untuk dianggap istimewa.

Kemudian datang Ray.

Peralihan dari Max Durocher ke Ray Charles adalah lompatan yang gila. Ray Charles adalah figur yang sudah dikenal melalui suara, gaya tubuh, cara berjalan, cara memainkan piano, dan kebiasaan kecil yang mudah dikenali. Foxx tidak hanya perlu membuat penonton percaya bahwa ia seorang musisi buta; ia harus menghidupkan seseorang yang sudah memiliki citra publik yang sangat kuat. Hasilnya memenangkan Oscar Aktor Terbaik pada 2005. 

Setahun sebelumnya, ia mendapatkan nominasi Aktor Pendukung untuk Collateral. Dalam rentang pendek, ia membuktikan dua hal yang biasanya sulit hidup berdampingan: kemampuan menghilang ke dalam karakter, dan kemampuan menjadi pusat perhatian ketika karakter memang menuntutnya. Itu yang membuat film-film Jamie Foxx terasa agak aneh jika ditonton berurutan.

Dalam Law Abiding Citizen, ia menjadi Nick Rice, jaksa Philadelphia yang terbiasa bekerja dengan sistem hukum dan tahu bagaimana mengatur kemenangan di ruang sidang. Nick tidak dimainkan sebagai pengacara film yang setiap kalimatnya harus terdengar cerdas. Ia licin, cepat, percaya diri, kadang menyebalkan. Foxx membiarkan karakter tersebut memiliki sisi yang tidak terlalu menyenangkan. 

Ketika berhadapan dengan Clyde Shelton, yang dimainkan Gerard Butler, rasa percaya diri Nick perlahan terganggu. Wajahnya mulai menunjukkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar keberanian: ia mulai tidak mengerti bagaimana mengendalikan situasi.

Beberapa tahun kemudian, The Amazing Spider-Man 2 memberi Foxx jenis karakter yang sama sekali berbeda. Max Dillon adalah teknisi Oscorp yang canggung, kesepian, dan terlalu terobsesi pada Spider-Man. Rambut, gigi, kacamata, pakaian, postur tubuh—semuanya membantu Foxx menjauh dari citra dirinya. Tetapi bagian terbaik karakter itu justru bukan perubahan fisiknya. Max punya kegugupan sosial yang membuat percakapannya terasa seret. Ia terlalu cepat berbicara, terlalu ingin disukai, terlalu senang ketika seseorang akhirnya memperhatikannya.

Ketika kemudian berubah menjadi Electro, filmnya jadi jauh lebih besar daripada karakternya. Tubuhnya bercahaya, listrik menyambar, New York menjadi arena pertarungan. Foxx masih membawa sesuatu dari Max Dillon ke dalam sosok tersebut. Bahkan dalam film superhero yang penuh efek digital, kita masih bisa merasakan lelaki kesepian yang sebelumnya hanya ingin dianggap penting oleh seseorang.

Kemampuan beradaptasi Foxx juga terlihat ketika ia pindah ke film yang jauh lebih ringan seperti White House Down. Sebagai Presiden James Sawyer, ia harus memiliki kewibawaan seorang kepala negara sekaligus energi komedi seorang Jamie Foxx. 

Film itu tidak membutuhkan presiden yang realistis sepenuhnya. Ia membutuhkan presiden yang bisa berbicara tentang politik, menembak teroris, berlari di lorong Gedung Putih, lalu tetap membuat penonton tertawa. Foxx tidak kelihatan terlalu sibuk menjaga martabat karakter. Ia membiarkan Sawyer menjadi manusia.

Itu mungkin bagian yang paling khas dari aktingnya: ia tidak takut karakter terlihat konyol.

Padahal Jamie Foxx sendiri adalah entertainer yang sangat besar. Ia komedian, penyanyi, pianis, peniru suara, pembawa acara, aktor. Sebelum karier filmnya benar-benar meledak, ia sudah dikenal melalui In Living Color dan kemudian The Jamie Foxx Show. Ia mempunyai naluri pertunjukan yang kuat. Secara teori, naluri seperti itu bisa membuat seorang aktor terlalu terlihat. Foxx justru belajar mengeremnya.

Michael Mann pernah mengatakan bahwa Foxx memiliki kemampuan membuat karakter melalui observasi dan menaruh hasil observasi itu dalam semacam “database”, sehingga karakter bisa dipanggil kembali ketika dibutuhkan.

Foxx sendiri pernah menjelaskan bahwa ia datang ke Collateral dengan naluri untuk “melakukan sesuatu”, kemudian Mann memaksanya memahami bahwa Max tidak akan melakukan itu. Ia harus menyingkirkan dirinya sendiri terlebih dulu.

Kalimat itu menjelaskan banyak hal tentang kariernya.

Jamie Foxx tidak selalu memilih film bagus. Ia juga pernah muncul dalam film-film yang tidak memberi ruang besar bagi kemampuan aktingnya. Beberapa penampilannya bahkan terasa seperti pengingat bahwa aktor sehebat apa pun bisa berada dalam proyek yang tidak terlalu menarik. 

Tetapi ketika materialnya tepat, ia punya elastisitas yang jarang. Ia dapat berubah dari lelaki yang ketakutan di kursi pengemudi menjadi Ray Charles di depan piano, dari jaksa yang percaya diri menjadi teknisi Oscorp yang menyedihkan, dari presiden yang berusaha mempertahankan Gedung Putih menjadi seorang pria yang duduk tenang di dalam taksi.

Mata penonton biasanya menangkap perubahan besar: kostum, gaya rambut, aksen, tubuh. Pada Foxx, perubahan yang lebih penting sering terjadi pada hal-hal kecil. Cara duduk. Kecepatan menjawab. Seberapa lama ia menatap lawan bicara. Seberapa cepat senyum muncul lalu hilang. Cara tangan bergerak ketika karakter gugup. Hal-hal yang bahkan tidak terasa sebagai “akting” ketika adegannya berjalan.

Mungkin karena itu Max Durocher masih terasa sebagai salah satu penampilannya yang paling kuat. Ia tidak membutuhkan transformasi spektakuler. Seorang lelaki masuk ke taksi, Tom Cruise duduk di belakangnya, malam Los Angeles menjadi semakin gelap, dan Foxx hanya perlu terlihat seperti orang yang ingin menyelesaikan pekerjaannya.

Untuk beberapa menit pertama, kita hampir lupa bahwa orang di balik kemudi itu adalah Jamie Foxx.


Related

Tokoh 4580411040461509320

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item