Rocky Gerung, Intelektual Publik yang Suka Bikin Orang Marah
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/rocky-gerung-intelektual-publik-yang.html
![]() |
| Ilustrasi.bisnis.com |
Orang-orang sering lupa bahwa sebelum sering muncul dalam potongan video berdurasi satu menit di media sosial, Rocky Gerung sudah lebih dulu menghabiskan waktu bertahun-tahun di ruang kuliah. Sosok yang kini dikenal lewat kalimat-kalimat tajam itu sebenarnya lahir dari dunia yang justru menuntut kesabaran: membaca buku tebal, mengurai konsep, dan berdebat berjam-jam tanpa satu pun penonton. Perjalanan itu membuat saya melihat Rocky Gerung sebagai tokoh yang sering disalahpahami, baik oleh para pengagumnya maupun oleh para pembencinya.
Di layar televisi, ia tampak seperti mesin penghasil kontroversi. Satu kalimat dilempar, meja diskusi langsung panas. Wajah lawan bicara berubah tegang. Potongan video segera beredar ke WhatsApp, TikTok, YouTube, dan X. Orang yang setuju menganggapnya pemberani. Orang yang tidak setuju menyebutnya provokator. Kedua kelompok sama-sama sibuk mengutip kalimatnya, padahal kekuatan Rocky Gerung sejak awal bukan terletak pada kesimpulan, tetapi pada cara ia membongkar cara berpikir lawannya.
Ia lahir di Manado pada 1959 dan menempuh studi filsafat di Universitas Indonesia. Nama-nama seperti Immanuel Kant, Friedrich Nietzsche, Karl Popper, Michel Foucault, hingga Jacques Derrida, bukan sekadar referensi yang sesekali dikutip agar terdengar pintar. Orang yang pernah mengikuti kuliahnya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI sering menceritakan kebiasaannya melompat dari Aristoteles ke politik Indonesia dalam hitungan menit, kemudian kembali lagi ke epistemologi. Cara berpikir seperti itu membuat mahasiswa bisa merasa tercerahkan, tetapi juga bisa pulang dengan kepala pening.
Rocky Gerung tidak pernah menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Ia juga tidak membangun karier akademik seperti banyak dosen filsafat lainnya. Sebagian orang menganggapnya kegagalan akademis. Saya justru melihat pilihan yang berbeda. Dunia kampus Indonesia sering menghargai gelar lebih tinggi daripada gagasan. Rocky Gerung tampaknya memilih keluar dari jalur itu dan hidup sebagai intelektual publik, sesuatu yang sebenarnya cukup langka di Indonesia.
Istilah "intelektual publik" terdengar megah, padahal pekerjaan itu melelahkan. Seseorang harus mampu membaca persoalan politik sehari-hari dengan perangkat filsafat, lalu menjelaskannya dalam bahasa yang dipahami orang awam. Sebagian besar akademisi gagal melakukannya, karena terlalu teknis. Sebagian komentator politik gagal, karena terlalu dangkal. Rocky Gerung berada di titik yang unik. Ia cukup filosofis untuk membuat lawan berpikir dua kali, cukup teatrikal untuk membuat penonton bertahan sampai acara selesai.
Teatrikal memang kata yang tepat.
Orang yang hanya membaca transkrip ucapannya sering kehilangan satu unsur penting: ekspresi wajah, jeda, senyum tipis, cara ia menaikkan alis, tawa pendek yang muncul sebelum melempar kritik paling keras. Seluruh tubuhnya ikut berbicara. Ruang diskusi berubah menjadi panggung. Filsafat berubah menjadi pertunjukan.
Banyak filsuf mungkin akan merasa tidak nyaman dengan cara seperti itu.
Ironisnya, zaman sekarang justru membutuhkan kemampuan semacam itu. Buku filsafat semakin jarang dibaca. Video berdurasi sembilan puluh detik bisa ditonton jutaan kali. Rocky Gerung memahami logika zaman ini lebih cepat dibanding banyak akademisi lain. Ia tahu bahwa perhatian publik adalah komoditas paling mahal. Kalimat harus pendek. Contoh harus konkret. Kritik harus memiliki bunyi yang mudah diingat.
Kalimat "akal sehat" mungkin menjadi contoh terbaik. Istilah itu berulang-ulang muncul dalam ceramah maupun wawancaranya hingga akhirnya melekat sebagai identitas. Padahal konsep common sense sendiri memiliki sejarah panjang dalam filsafat Barat, mulai dari Thomas Reid hingga Antonio Gramsci. Rocky Gerung menyederhanakannya menjadi istilah yang dapat dipahami pengemudi ojek maupun profesor.
Penyederhanaan semacam itu mengandung risiko. Filsafat hidup dari ketelitian. Politik hidup dari kecepatan. Rocky Gerung sering memilih kecepatan.
Sebagian kritik terhadap dirinya juga lahir dari situ. Ia kerap dituduh terlalu mudah membuat generalisasi, terlalu cepat mengambil simpulan, atau terlalu menikmati efek dramatis dari kalimat-kalimatnya. Kritik tersebut tidak sepenuhnya keliru. Orang yang mendengar ceramahnya secara utuh sering memperoleh nuansa yang lebih kaya daripada orang yang hanya melihat potongan tiga puluh detik di media sosial. Namun Rocky Gerung sendiri tampaknya sadar bahwa ia sedang bermain di ruang yang memang menyukai potongan-potongan pendek.
Hubungannya dengan kekuasaan juga menarik. Sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, posisinya hampir selalu berada di luar lingkaran kekuasaan. Kritiknya paling keras memang banyak diarahkan kepada pemerintahan Jokowi, terutama pada periode kedua. Pernyataannya mengenai "bajingan tolol" pada 2023 memicu laporan pidana dan polemik nasional. Pendukung pemerintah menganggapnya telah melewati batas. Pendukung Rocky Gerung melihatnya sebagai bentuk kebebasan berpendapat.
Perdebatan itu sebenarnya menutupi persoalan lain. Mengapa satu kalimat dari seorang filsuf bisa mengguncang ruang publik sedemikian rupa?
Jawabannya mungkin bukan karena kalimat itu luar biasa, tetapi karena ruang publik Indonesia memang kekurangan orang yang berani berbicara tanpa membawa jabatan resmi. Sebagian intelektual memilih diam agar hubungan dengan penguasa tetap baik. Sebagian masuk partai politik. Sebagian sibuk mengejar proyek penelitian. Rocky Gerung mengambil jalan yang berbeda. Jalan itu membuatnya bebas, tetapi juga membuatnya harus hidup dari undangan diskusi, seminar, podcast, dan ceramah publik.
Saya kadang memperhatikan hal kecil ketika ia diwawancarai di rumahnya di kawasan Sentul, Bogor. Rak-rak buku memenuhi dinding. Buku-buku tampak bertumpuk di meja, di lantai, bahkan di kursi. Rumah itu tidak terlihat seperti rumah seorang selebritas politik. Lebih mirip rumah orang yang terus membeli buku tanpa lagi memikirkan ruang penyimpanannya.
Detail semacam itu penting.
Banyak pengkritik Rocky Gerung menyerangnya seolah-olah ia hanyalah pembicara yang pandai bermain kata. Orang boleh tidak sepakat dengan pandangannya, tetapi sulit menyangkal bahwa kebiasaan membacanya nyata. Ia dapat mengutip Hannah Arendt ketika membahas birokrasi, berpindah ke René Descartes saat membicarakan keraguan, kemudian meloncat ke Charles Darwin ketika mengulas politik elektoral. Kadang hubungan antargagasan itu terasa dipaksakan. Kadang justru mengejutkan.
Kelemahan Rocky Gerung mungkin juga berasal dari kekuatan yang sama. Ia menikmati debat. Debat membutuhkan lawan. Setelah bertahun-tahun hidup dalam arena semacam itu, gaya berpikirnya ikut berubah jadi konfrontatif. Hampir setiap persoalan dicari titik benturannya. Pendekatan seperti itu efektif membangunkan publik dari rasa kantuk politik, tetapi tidak selalu efektif membangun percakapan yang tenang.
Filsafat sebenarnya memiliki tradisi panjang untuk mengajukan pertanyaan tanpa harus selalu memenangkan perdebatan. Socrates berjalan di Agora Athena bukan untuk mengumpulkan pendukung. Ia bertanya sampai orang lain menyadari kelemahan pikirannya sendiri. Rocky Gerung sering disebut Socrates Indonesia. Julukan itu menurut saya terlalu jauh. Socrates tidak hidup dalam ekosistem kamera. Rocky Gerung hidup di tengah algoritma yang memberi hadiah kepada kalimat paling keras.
Mungkin memang tidak ada pilihan lain. Seorang dosen filsafat yang berbicara pelan selama dua jam hampir pasti kalah dari video pendek berisi teriakan politik. Rocky Gerung memilih masuk ke arena itu dengan seluruh perangkat yang ia miliki: logika, ironi, humor, sindiran, provokasi. Banyak orang datang karena provokasinya, sebagian bertahan karena pikirannya, sebagian lagi pergi sambil marah.
Rak buku di rumahnya mungkin masih terus bertambah. Kamera-kamera akan terus berdatangan. Potongan video baru akan kembali memenuhi linimasa. Entah berapa banyak orang yang nanti mengutip satu kalimatnya tanpa pernah tahu buku apa yang sedang terbuka di meja kerjanya pagi itu.
Catatan terkait: Jacob Neusner, Intelektual dengan Produktivitas Tak Masuk Akal


