Surat yang Baru Sampai Pada Penerimanya Setelah 72 Tahun

Ilustrasi milik BSM
Pada usia 96 tahun, Rolf Christoffersen mendengar suara istrinya, Virginia, dari masa ketika tubuhnya sendiri masih muda. Bukan dari rekaman, bukan dari ingatan yang tiba-tiba muncul, tetapi dari selembar surat yang baru saja dibacakan kepadanya oleh anaknya di California. Virginia sudah meninggal enam tahun sebelumnya. Surat itu ditulis pada Mei 1945. Tujuh puluh dua tahun ketika akhirnya sampai kepada orang yang dituju.

Ada sesuatu yang ganjil dalam cara surat itu kembali. Ia tidak datang melalui kantor pos. Tidak ada prangko baru, petugas pos yang kebingungan, atau amplop yang dibawa melintasi benua. Surat itu ditemukan di Westfield, New Jersey, di rumah yang dulu pernah dihuni keluarga Christoffersen. 

Rumah tersebut belakangan dibeli Melissa Fahy. Suatu hari, ketika ia dan ayahnya, Allen Cook, sedang merenovasi rumah tersebut, mereka menemukan sebuah amplop tua terselip di celah dekat bawah tangga. Amplopnya menguning. Isinya masih utuh. Tertulis nama Rolf Christoffersen. Di bagian depan terdapat keterangan yang menjelaskan kegagalannya sendiri, “Return to Sender.”

Surat itu berasal dari 4 Mei 1945. Virginia menulisnya pada jam makan siang. Detail kecil itu membuat cerita tersebut terasa lebih dekat. Ia tidak sedang duduk di meja besar dengan suasana romantis yang sengaja diciptakan. Ia hanya punya beberapa menit sebelum kembali bekerja. Ia sedang memikirkan suaminya, dan memutuskan menggunakan waktu istirahat itu untuk menulis. 

“I still have a few minutes on my lunch hour and I was dreaming about you,” tulisnya, sebelum menyebut Rolf sebagai “my favourite pin-up boy.” Kemudian ia bertanya apakah Rolf sama kesepiannya seperti dirinya.

Virginia sedang hamil, waktu itu.

Rolf berada jauh darinya, bertugas sebagai pelaut Angkatan Laut Norwegia. Perang di Eropa praktis sedang memasuki halaman terakhirnya. Jerman menyerah pada 8 Mei 1945, hanya empat hari setelah surat itu ditulis. 

Kita tahu tanggal tersebut sekarang, karena sejarah sudah merapikan semuanya: VE Day, foto-foto kemenangan, orang-orang turun ke jalan. Virginia tidak memiliki kemewahan itu ketika mengetik suratnya. Pada 4 Mei, perang belum selesai. Suaminya masih jauh. Bayi mereka belum lahir. Ia menulis kepada seseorang yang keberadaannya tidak bisa ia lihat.

Surat cinta biasanya dianggap sebagai bentuk komunikasi. Kalimat bergerak dari seseorang menuju seseorang lain. Ada pengirim, ada alamat, ada prangko, ada petugas yang memindahkan benda kecil itu dari satu tempat ke tempat lain. Surat Virginia mengalami kegagalan total dalam fungsi tersebut. Ia tidak pernah sampai kepada Rolf. Ia dikembalikan. Kemudian, entah bagaimana, terselip di bawah tangga rumah mereka dan menghilang dari kehidupan keluarga selama puluhan tahun.

Justru karena gagal dikirim, surat itu bertahan.

Bagian itu terasa hampir menyebalkan karena terlalu bagus untuk sebuah kebetulan. Surat-surat lain milik Virginia dan Rolf tidak bertahan. Menurut laporan Atlas Obscura yang mengutip keluarga, surat-surat cinta mereka yang lain hilang ketika keluarga berpindah rumah. Surat yang satu itu selamat karena mengalami kecelakaan fisik: terjatuh ke celah dekat tangga, dan luput dari pandangan manusia selama lebih dari tujuh dekade.

Benda-benda pribadi sering memiliki nasib yang jauh lebih kasar daripada manusia yang memilikinya. Foto dibuang. Kertas dibakar. Buku masuk toko barang bekas. Surat lama menjadi sampah ketika seseorang membersihkan laci. Kita sering menganggap benda sentimental bertahan karena seseorang sengaja menjaganya. Surat Virginia menunjukkan kemungkinan yang lebih konyol: kadang sebuah benda justru bertahan karena manusia lupa bahwa benda itu ada.

Bayangkan betapa biasa gerakan terakhir sebelum surat tersebut lenyap. Seseorang mungkin menerima surat itu dari pos—sebagai surat yang dikembalikan ke pengirimnya—lalu membawanya melewati tangga. Amplop terlepas. Jatuh. Masuk ke celah sempit. Tidak terdengar suara apa pun. 

Virginia mungkin tidak tahu bahwa suratnya kembali kepadanya. Mungkin ia mengira surat itu hilang di perjalanan. Mungkin ia menganggap Rolf tidak menjawab karena alasan tertentu. Rumah itu terus dipakai. Anak lahir. Perang selesai. Tahun berganti. Orang-orang yang pernah mengenal rumah itu terus menua. Kayu tetap berada di tempatnya.

Tujuh puluh dua tahun kemudian, tangan orang lain tanpa sengaja membuka celah tempat surat tersebut.

Melissa Fahy tidak punya hubungan khusus dengan keluarga Christoffersen ketika menemukan surat itu. Ia hanya penghuni rumah yang sedang melakukan renovasi. Yang membuat penemuan itu berubah jadi sesuatu yang jauh lebih besar adalah keputusan sederhana untuk mencari nama Rolf di internet. 

Karena tidak tahu siapa Rolf Christoffersen, Fahy menggunakan Facebook untuk meminta bantuan. Dalam hitungan jam, pengguna media sosial berhasil membantu menemukan putra pasangan tersebut di California. Dari sebuah rumah tua di Westfield, pencarian itu melompat menuju Santa Barbara.

Di sini teknologi modern masuk ke dalam cerita dengan cara yang agak lucu. Surat tersebut ditulis menggunakan mesin komunikasi yang lambat: kertas, tinta, amplop, prangko. Ia gagal. Tujuh puluh dua tahun kemudian, sebuah unggahan Facebook melakukan sesuatu yang tidak sanggup dilakukan sistem pos pada 1945: menemukan keluarga Christoffersen dalam beberapa jam.

Putra Rolf kemudian membacakan surat itu kepada ayahnya yang telah berusia 96 tahun.

Virginia menulis, dalam surat itu, “I love you Rolf, as I love the warm sun.” Ia kemudian mengatakan bahwa Rolf adalah matahari dalam hidupnya, pusat yang membuat segala sesuatu yang lain berputar.

Kalimat itu mudah dijadikan kutipan manis di media sosial. Saya justru tertarik pada sesuatu yang lebih kasar: Virginia menulisnya ketika suaminya tidak ada di hadapannya. Ia sedang hamil, bekerja, menunggu perang berakhir, dan berbicara kepada seseorang yang tidak bisa menjawab pada saat itu. Surat cinta memiliki sifat yang agak menyedihkan dalam bentuk aslinya. Ia adalah percakapan yang sengaja dikirim dengan jeda.

Surat digital hari ini hampir menghapus jeda tersebut. Pesan bisa dibalas dalam hitungan detik. Tanda “seen” bahkan memberi kita informasi bahwa seseorang sudah menerima keberadaan kita, meskipun belum menjawab. Pada 1945, Virginia tidak punya “seen”. Ia hanya punya alamat, prangko, dan harapan bahwa seseorang di tempat jauh akan membuka amplopnya.

Rolf tidak pernah membukanya.

Ia baru mendengar tulisan istrinya ketika berusia 96 tahun.

Virginia meninggal pada 2011. Jadi ketika surat itu ditemukan pada 2017, orang yang menulisnya sudah tidak mungkin menjelaskan maksud kalimat-kalimatnya, tidak mungkin tertawa karena kesalahan ejaan, tidak mungkin mengatakan, “Saya sudah lupa menulis itu,” atau “Saya sedang sangat rindu waktu itu.” Surat tersebut telah kehilangan pengarangnya. Yang tersisa hanya teks.

Mungkin itu bagian paling aneh dari benda tersebut. Surat cinta biasanya dibuat untuk masa depan yang sangat dekat. Virginia menulis kepada Rolf dengan asumsi bahwa pembacanya adalah suaminya, seorang pria yang akan menerima surat itu beberapa hari atau beberapa minggu kemudian. Ia sama sekali tidak menulis untuk anaknya. Tidak untuk cucu. Tidak untuk orang asing yang merenovasi rumah. Tidak untuk seorang pria berusia 96 tahun yang sudah kehilangan istrinya.

Tetapi begitulah surat tersebut berakhir. Bukan di tangan Rolf muda yang sedang bertugas sebagai pelaut Norwegia, tetapi di hadapan Rolf tua yang sudah membawa hampir seluruh abad ke-20 di tubuhnya.

Surat itu datang terlambat dalam arti yang sangat harfiah. Terlambat untuk mengubah apa pun. Terlambat untuk membuat Virginia tahu bahwa pesannya berhasil. Terlambat untuk menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pasangan tersebut. Terlambat bahkan untuk membuat pengirimnya merasa lega.

Tetapi tidak terlambat untuk dibaca.

Ada perbedaan besar antara kedua hal itu.

Pada akhirnya, surat tersebut dikembalikan kepada keluarga Christoffersen melalui rute yang hampir absurd: Westfield, Facebook, California, lalu seorang anak yang membacakan suara ibunya kepada ayahnya. Benda kecil yang pernah dinyatakan “Return to Sender” itu ternyata membutuhkan 72 tahun untuk menemukan alamat sebenarnya.

Di luar rumah, dunia pada Mei 1945 sedang berubah nama. Perang Eropa selesai. Orang-orang menghitung korban, kapal pulang, tentara membuka seragam. Virginia hanya menulis surat pada jam makan siangnya.

Surat itu masuk ke celah tangga.

Rolf menunggu tujuh puluh dua tahun untuk mendengarnya.


Related

Peristiwa 9218658532941054032

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item