Andrew Melendrez dan Memoar Perang dalam Album Pribadi

Ilustrasi milik BSM
Perang biasanya diwariskan dalam bentuk yang sudah dibereskan: peta dengan garis panah, daftar divisi, tanggal pendaratan, nama jenderal, jumlah korban. Album Andrew Melendrez tidak terlalu peduli dengan semua itu. Foto-foto yang ia bawa pulang dari Eropa jauh lebih kecil skalanya. Wajah, jalan, kendaraan, bangunan, orang-orang yang mungkin bahkan tidak ia kenal lagi namanya. 

Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menulis memoar, ingatannya masih membawa satu kalimat yang kasar dan hampir tanpa hiasan: “It was always push push push forward, taking back the land the Germans had taken; the wounded and dead were left behind.” Terus maju. Merebut kembali tanah. Yang terluka dan mati ditinggalkan.

Andrew Melendrez Sr. adalah seorang prajurit Amerika keturunan Hispanik yang masuk Angkatan Darat melalui wajib militer. Ia bertugas sejak 1943 sampai 1945 dan mencapai pangkat sersan. Unitnya adalah Company H, 2nd Battalion, 30th Infantry Division, salah satu divisi yang kelak mendapat julukan “Old Hickory”. Rute perang Melendrez terbentang di hampir seluruh Eropa Barat: Inggris, Prancis, Belgia, Belanda, kemudian Jerman. Library of Congress menyimpan jejak perjalanan itu dalam sebuah koleksi pribadi yang terdiri atas rekaman wawancara, foto-foto yang dikumpulkan pada 1945, dan sebuah memoar yang ia tulis pada reuni veteran di Washington, D.C., pada 2004.

Tanggal 2004 itu penting. Ketika Melendrez menulis memoarnya, perang sudah berjarak hampir enam puluh tahun. Orang yang menulis bukan lagi pemuda yang baru turun dari kapal dan belum tahu apakah dirinya akan pulang. Ia seorang lelaki tua yang telah menjalani sebagian besar hidup setelah perang. Ingatan telah memperoleh kesempatan untuk mengendap, bercampur dengan cerita keluarga, berita surat kabar, foto, dan kematian teman-teman lama. Anehnya, kalimat yang tersisa tidak terdengar seperti nostalgia.

“Push push push forward.”

Ada kelelahan di dalam pengulangan itu. Bukan kelelahan sastra, tetapi kelelahan seorang infanteri yang memahami perang dari jarak beberapa meter. Ia tidak menulis tentang garis depan sebagai konsep. Ia mengingat gerakan kaki dan kendaraan, tanah yang direbut, kemudian bergerak lagi. Orang yang jatuh tidak selalu bisa dibawa. Unit harus terus maju.

Kalimat tersebut juga menjelaskan sesuatu yang tidak tampak dalam album.

Foto perang sering membuat kehidupan militer kelihatan lebih tenang daripada kenyataannya. Kamera membutuhkan seseorang berhenti cukup lama untuk mengambil gambar. Seorang prajurit berdiri di depan kendaraan. Sekelompok lelaki tersenyum. Jalan sebuah kota tampak kosong. Rumah-rumah masih berdiri. Bahkan foto yang diambil di wilayah perang memiliki kecenderungan aneh untuk menghasilkan potongan waktu yang diam.

Infanteri tidak hidup dalam potongan waktu. Ia bergerak. Melendrez dan orang-orang dalam Company H menempuh jarak yang bagi pembaca modern gampang dihitung di Google Maps. Bagi mereka, jarak itu berupa jalan yang berlumpur, kendaraan yang macet, bangunan yang rusak, tidur yang tidak cukup, makanan yang harus dibawa, amunisi, perlengkapan, dan tubuh teman yang kadang tidak ikut bergerak lagi. Library of Congress tidak menyimpan seluruh medan itu dalam koleksi Melendrez. Justru karena itulah foto-fotonya menarik. Mereka hanya menyimpan sebagian kecil dari apa yang dilihat matanya.

30th Infantry Division tiba di Eropa sebagai bagian dari kekuatan Amerika yang akan menghantam pertahanan Jerman dari Prancis menuju Jerman. Divisi tersebut mendarat di Normandia pada akhir Juni 1944, kemudian bertempur dalam kampanye Eropa Barat. Pertempuran Saint-Lô menjadi salah satu pengalaman awalnya yang berat. Setelah menerobos keluar dari Normandia, pasukan Amerika bergerak ke Belgia dan Belanda, kemudian menghadapi serangan besar Jerman dalam Battle of the Bulge.

Melendrez mengalami perang itu dari bawah. Perspektif tersebut sering hilang ketika sejarah militer dibaca melalui nama operasi. “Breakout from Normandy” terdengar seperti sebuah gerakan strategis. Bagi seorang sersan infanteri, itu berarti menerima perintah, mengumpulkan orang, bergerak lagi, memeriksa perlengkapan, memastikan siapa yang masih ada, mencari tempat tidur, bangun, kemudian bergerak lagi. Peta tidak menunjukkan berapa lama seorang prajurit berdiri dengan sepatu basah. Peta juga tidak menunjukkan bau pakaian yang tidak pernah benar-benar kering.

Album pribadi mengisi sebagian lubang itu, meskipun tidak seluruhnya.

Library of Congress mencatat tiga foto yang dikumpulkan Melendrez pada 1945. Tiga foto terdengar sedikit jika dibandingkan dengan ribuan gambar yang kini beredar dari Perang Dunia II. Justru jumlah kecil tersebut membuat kita berhenti. Seorang prajurit yang membawa kamera tidak sedang membuat arsip nasional. Ia mengambil gambar karena sesuatu menarik perhatiannya pada saat itu. Bisa jadi seorang teman. Bisa jadi tempat yang menurutnya aneh. Bisa jadi sesuatu yang ingin ia tunjukkan kepada keluarga ketika pulang.

Kamera memiliki pilihan sendiri. Ingatan juga. Keduanya tidak pernah sama.

Melendrez baru memberikan kesaksiannya kepada Library of Congress pada 2004. Rekaman wawancara itu kemudian menjadi bagian dari Veterans History Project, program yang mengumpulkan pengalaman pribadi veteran Amerika agar suara mereka tidak hanya tersisa dalam laporan resmi militer. Dalam rekaman tersebut, Melendrez hadir bukan sebagai nama di daftar personel, tetapi sebagai manusia yang pernah berada di tempat-tempat itu.

Koleksi semacam itu menurut saya lebih berharga daripada foto perang yang berdiri sendirian. Foto dapat menunjukkan seorang lelaki berusia dua puluh sekian tahun dengan seragam lengkap. Wawancara dapat memberi tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan. Memoar dapat memperlihatkan bagian mana dari pengalaman tersebut yang masih mengganggu setelah enam puluh tahun.

Urutannya juga agak ganjil: perang, foto, diam selama puluhan tahun, kemudian suara.

Kita cenderung membayangkan ingatan sebagai sesuatu yang semakin kabur saat semakin tua. Dalam kenyataan, beberapa hal justru jadi lebih keras. Melendrez tidak menulis seluruh sejarah kampanyenya dengan detail yang sama. Ia meninggalkan satu gambaran yang sangat sederhana: maju terus, mengambil kembali tanah, meninggalkan korban.

Kalimat itu tidak membutuhkan penjelasan tambahan.

Ada persoalan lain dalam melihat koleksi pribadi seorang prajurit. Album keluarga hampir selalu membuat perang terlihat lebih manusiawi karena ukurannya kecil. Kita melihat orang-orang yang memiliki wajah, bukan angka korban. Seorang prajurit yang sedang berdiri di samping kendaraan mempunyai ibu. Ia mungkin mempunyai saudara perempuan. Ia mungkin sedang menunggu surat. Ia mungkin telah menulis sesuatu di belakang foto.

Dokumen militer tidak membutuhkan semua itu. Bagi militer, Melendrez adalah bagian dari Company H, 2nd Battalion, 30th Infantry Division.

Bagi keluarganya, ia adalah Andrew.

Perbedaan itu kecil di atas kertas, tetapi menentukan cara seseorang mengingat perang. Negara mengingat divisi. Tentara mengingat unit. Keluarga mengingat lelaki yang pulang.

Melendrez sendiri tampaknya membawa ketiganya. Foto-fotonya adalah benda keluarga. Memoarnya menjadi kesaksian. Catatan Library of Congress mengubah semuanya menjadi arsip publik.

Kemudian muncul persoalan yang agak tidak nyaman: berapa banyak perang yang sebenarnya tidak pernah masuk arsip karena tidak ada prajurit yang membawa kamera, tidak ada yang menulis memoar, atau tidak ada anak dan cucu yang bersedia mengorek kotak tua?

Melendrez beruntung dalam arti tertentu. Ia meninggalkan cukup banyak jejak untuk membuat orang lain dapat menemukan kembali perjalanan militernya.

Foto-foto itu dikumpulkan pada 1945. Memoar ditulis pada 2004. Wawancara direkam. Semuanya kemudian ditempatkan di Library of Congress. Empat lapisan waktu menumpuk pada satu nama.

Yang paling mengganggu justru kalimat yang paling sederhana: yang terluka dan mati ditinggalkan.

Melendrez tidak menulis siapa saja yang dimaksud. Tidak semua nama masuk memoar. Sebagian mungkin sudah hilang dari ingatan, sebagian mungkin masih tersimpan di dalam kepala lelaki tua yang berbicara di depan mikrofon pada 2004. Kamera tidak dapat menolong kita di sini.

Foto hanya tahu siapa yang berdiri di depannya. Andrew Melendrez tahu siapa yang tidak lagi berdiri.

Koleksinya sekarang dapat dibuka siapa saja melalui katalog Library of Congress. Di sana terdapat foto, rekaman suara, dan memoar. Kita bisa melihat benda-benda yang ia bawa dari Eropa, membaca kata-kata yang ia tulis hampir enam dekade setelah perang, kemudian kembali pada keterangan singkat yang diberikan lembaga arsip: Army, 1943–1945; Company H; 30th Infantry Division; France, Germany, England, Belgium, Holland.

Begitu rapi. Hampir terlalu rapi.

Di antara lima negara itu ada jalan yang panjang, orang-orang yang mati, orang-orang yang terluka, dan seorang sersan yang bertahun-tahun kemudian masih mengingat bahwa pekerjaan mereka pada dasarnya cuma satu: terus maju.

Push push push forward. Sisanya tertinggal di belakang.


Related

Sejarah 8487938224039852281

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item