Bertrand Russell, Filsuf dan Intelektual Paling Terkenal Abad 20
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/bertrand-russell-filsuf-dan-intelektual.html
![]() |
| Ilustrasi/kompasiana.com |
Banyak filsuf hidup di perpustakaan. Bertrand Russell hidup di perpustakaan, di penjara, di ruang kuliah, di jalanan demonstrasi, di studio radio BBC, di meja perundingan politik, dan sesekali di pusat badai kemarahan publik.
Ia tampak seperti seseorang yang tidak pernah sepenuhnya nyaman berada di satu tempat.
Foto-foto masa tuanya selalu menarik perhatian saya. Rambut putih berantakan seperti awan yang baru saja disambar angin. Wajah keriput tajam. Mata yang terlihat lelah sekaligus waspada. Pada usia ketika banyak orang mulai membatasi aktivitas pada urusan keluarga dan kesehatan, Russell justru sibuk menulis surat terbuka kepada pemimpin dunia, mengkritik perang, mengecam senjata nuklir, dan membuat pemerintah berbagai negara kesal.
Ia menerima Hadiah Nobel Sastra pada 1950. Ia juga pernah masuk penjara. Kombinasi itu cukup menjelaskan jenis manusia yang sedang kita bicarakan.
Sebagian tokoh besar dikenal karena satu karya. Sebagian lagi karena satu penemuan. Russell sulit diringkas. Ia menulis tentang logika matematika yang membuat banyak pembaca biasa menyerah setelah beberapa halaman. Ia menulis tentang pendidikan, seks, agama, perang, kebahagiaan, politik, dan pernikahan. Rak buku tentang Russell sering terlihat seperti rak buku yang salah susun karena topiknya terlalu beragam.
Salah satu ironi dalam hidupnya adalah kenyataan bahwa pria yang membantu mengubah dasar-dasar logika modern juga menjadi salah satu intelektual publik paling terkenal di abad ke-20.
Biasanya kedua dunia itu tidak bertemu. Orang yang menghabiskan waktu memikirkan struktur logis matematika jarang menjadi selebritas intelektual internasional. Russell berhasil menjadi keduanya.
Ia lahir dalam keluarga aristokrat Inggris pada 1872. Nama lengkapnya panjang: Bertrand Arthur William Russell. Keluarganya bukan kalangan biasa. Kakeknya adalah Lord John Russell, mantan Perdana Menteri Inggris. Rumah-rumah besar, pelayan, tradisi aristokrasi, dan jaringan kekuasaan, sudah mengelilinginya sejak kecil.
Masa kecilnya jauh dari bahagia. Ibunya meninggal ketika ia masih sangat kecil. Ayahnya menyusul tidak lama kemudian. Russell tumbuh dalam lingkungan yang ketat dan religius di bawah pengawasan neneknya, Lady Frances Russell. Kesepian menjadi tema yang muncul berulang kali dalam autobiografinya.
Pada usia remaja, matematika datang seperti gangguan yang menyenangkan. Euclid masuk ke hidupnya.
Banyak orang membaca buku geometri dan merasa bosan. Russell justru menemukan sesuatu yang hampir menyerupai keselamatan. Di dalam teorema dan pembuktian, dunia terasa lebih masuk akal daripada hubungan antarmanusia.
Ketika masuk Trinity College, Cambridge, bakatnya berkembang pesat. Cambridge saat itu merupakan salah satu pusat intelektual paling bergengsi di dunia. Nama-nama besar berlalu-lalang di koridor yang sama. Batu-batu tua bangunan kampus menyimpan ratusan tahun perdebatan akademik.
Russell tidak datang untuk menjadi penjaga tradisi. Ia datang untuk membongkarnya. Bersama Alfred North Whitehead, ia menulis Principia Mathematica, salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah logika modern. Buku itu terkenal sekaligus ditakuti. Sebagian besar orang tidak pernah membacanya. Sebagian besar yang mencoba membacanya tidak menyelesaikannya.
Salah satu bagian paling terkenal dari karya tersebut adalah pembuktian bahwa 1 + 1 = 2, yang baru muncul setelah ratusan halaman argumentasi logis.
Banyak orang mendengar fakta itu lalu tertawa. Russell sendiri tampaknya tidak terlalu peduli apakah dunia menganggap pekerjaannya absurd. Ia sedang mengejar sesuatu yang jauh lebih besar: fondasi pengetahuan yang kokoh.
Ambisi semacam itu terdengar hampir gila ketika dipikirkan secara serius. Seorang manusia duduk di meja kerja, dan mencoba memastikan bahwa matematika berdiri di atas dasar yang tidak retak.
Abad ke-20 kemudian datang dengan cara yang kasar. Perang Dunia Pertama meledak. Russell menentangnya.
Sikap tersebut tidak populer di Inggris yang sedang berperang melawan Jerman. Ia kehilangan jabatan akademik. Ia didenda. Ia diawasi pemerintah. Pada 1918 ia bahkan dipenjara karena aktivitas anti-perangnya.
Saya selalu tertarik pada kontras itu. Di satu ruangan, Russell memikirkan simbol logika yang rumit. Di ruangan lain, pemerintah menganggapnya cukup berbahaya hingga dimasukkan ke penjara.
Penjara Brixton bukan tempat yang biasanya diasosiasikan dengan filsafat. Russell memanfaatkannya untuk membaca dan menulis. Kebiasaan berpikir rupanya sulit dihentikan oleh jeruji.
Pandangan politik Russell sering membuat banyak pihak jengkel secara bergantian. Kaum konservatif menganggapnya terlalu radikal. Kaum revolusioner kadang menganggapnya terlalu moderat. Ia mengunjungi Uni Soviet setelah Revolusi Bolshevik dan bertemu Vladimir Lenin. Russell awalnya tertarik pada eksperimen sosial tersebut.
Kekaguman itu tidak bertahan lama. Ia pulang dengan kritik yang tajam terhadap otoritarianisme Soviet. Banyak intelektual Barat pada masa itu memandang Moskwa dengan antusiasme yang hampir religius. Russell tidak. Ia melihat terlalu banyak tanda bahaya.
Ia juga menyerang agama dengan kegigihan yang membuat namanya terus dikutip hingga hari ini. Esainya yang terkenal, Why I Am Not a Christian, masih dibaca puluhan tahun setelah kematiannya. Kritiknya terhadap agama tidak muncul dari amarah semata. Ia menganggap keyakinan harus tunduk pada pemeriksaan rasional.
Pandangan itu membuatnya menjadi pahlawan bagi sebagian orang dan musuh bagi yang lain. Russell tampaknya sudah terbiasa.
Daftar kontroversinya panjang. Pernikahannya empat kali. Pandangannya mengenai seks dianggap terlalu liberal pada masanya. Pada 1940, pengangkatannya sebagai profesor di City College of New York dibatalkan setelah gugatan hukum yang menyebut ajaran-ajarannya tidak bermoral.
Ironis sekali. Seorang filsuf yang membantu membentuk logika modern dianggap terlalu berbahaya untuk mengajar mahasiswa. Telinga publik lebih sensitif terhadap pandangan tentang seks daripada teori matematika.
Perang Dunia Kedua berakhir. Ancaman baru muncul. Bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Dunia memasuki era nuklir.
Russell yang sudah berusia lanjut tidak melambat. Ia justru semakin keras. Bersama Albert Einstein, ia menandatangani Manifesto Russell-Einstein pada 1955 yang memperingatkan bahaya perang nuklir. Nama-nama ilmuwan besar berkumpul di sekitar dokumen tersebut seperti alarm yang sedang berbunyi.
Manusia telah menemukan cara untuk memusnahkan dirinya sendiri. Masalahnya bukan lagi apakah perang bisa dimenangkan. Masalahnya apakah peradaban bisa bertahan.
Pada usia hampir sembilan puluh tahun, Russell masih turun ke jalan memprotes senjata nuklir. Polisi menangkapnya lagi pada 1961. Bayangkan pemandangan itu. Seorang bangsawan Inggris, filsuf terkenal dunia, peraih Nobel, berusia hampir sembilan puluh tahun, berhadapan dengan aparat karena demonstrasi.
Kebanyakan orang seusianya sibuk memilih kursi yang nyaman untuk menikmati masa pensiun. Russell masih sibuk membuat masalah.
Warisannya sering diringkas dalam kata-kata besar seperti logika, rasionalitas, kebebasan berpikir, hak asasi manusia, atau perdamaian dunia. Semua itu benar, tetapi terasa terlalu bersih.
Pria yang muncul dari arsip sejarah jauh lebih berisik. Ia berubah pikiran ketika merasa salah. Ia menciptakan musuh. Ia membuat kesalahan. Ia terlibat pertengkaran intelektual yang panjang. Ia tidak selalu konsisten.
Saya justru menyukai bagian itu. Terlalu banyak tokoh sejarah dipoles sampai menyerupai patung. Russell lebih menyerupai manusia yang sangat cerdas dan sangat keras kepala, yang kebetulan hidup hampir satu abad penuh, dari zaman kereta kuda hingga zaman rudal nuklir.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, surat-surat masih berdatangan ke rumahnya di Penrhyndeudraeth, sebuah kota kecil di Wales utara. Pemimpin negara menulis kepadanya. Aktivis menulis kepadanya. Wartawan menulis kepadanya. Dunia masih ingin mendengar pendapatnya.
Di atas meja kerja seorang lelaki tua dengan rambut putih yang tampak tidak pernah mau rapi, kertas-kertas terus menumpuk.


