Cambridge Five, Lima Mahasiswa yang Jadi Mata-mata Soviet di Inggris

Ilustrasi.historyhit.com
Asbak penuh puntung rokok di apartemen kecil di Moskow. Karpet Soviet murahan. Wajah tua dengan mata sembab yang dulu pernah sangat dihormati di London. Di dinding tergantung potret Lenin. Kim Philby duduk sambil menuang vodka dengan tangan yang mulai gemetar. Orang Inggris yang sepanjang hidupnya sukses menipu Inggris.

Sulit mencari penghinaan yang lebih telanjang bagi MI6 selain lelaki itu.

Di St James’s Street, di klub-klub eksklusif London, orang seperti Philby nyaris dianggap otomatis dapat dipercaya. Ia punya semua atribut yang disukai formalitas Inggris; didikan Trinity College Cambridge, aksen yang terdengar seperti lahir dari ruang makan bangsawan, ayah yang terkenal—Harry St John Philby, diplomat sekaligus orientalis eksentrik yang dekat dengan Ibn Saud. Kim Philby bukan orang luar. Ia lahir dari jantung sistem. Dan justru karena itulah ia bisa merusak Inggris begitu lama.

Orang-orang sering membayangkan mata-mata sebagai sosok gelap dengan mantel panjang, wajah dingin, pistol tersembunyi. Dunia nyata lebih absurd. Philby tampak seperti pria yang cocok membahas cricket sambil memegang gelas gin. Ia tertawa di pesta. Ia bercakap tentang sastra. Ia tahu cara berdiri di ruangan elite Inggris tanpa terlihat canggung. 

Banyak pejabat MI6 berasal dari kelas sosial yang sama dengannya. Mereka makan di meja yang sama, minum di tempat yang sama, punya jaringan sekolah yang sama. Curiga pada Philby terasa seperti curiga pada diri sendiri.

Cambridge tahun 1930-an punya bau khas intelektualisme yang bercampur kepanikan. Fasisme sedang naik di Eropa. Hitler muncul. Pengangguran massal menghantam Inggris. Banyak mahasiswa elite mulai melihat komunisme bukan sebagai ancaman, tetapi mode moral. Ruang-ruang diskusi di Trinity dan King’s College penuh debat tentang Spanyol, Marx, revolusi, buruh, kapitalisme yang dianggap membusuk.

Di situlah Soviet berburu. Arnold Deutsch, perekrut NKVD asal Austria dengan wajah dosen matematika, mendekati mahasiswa-mahasiswa muda yang dianggap cerdas sekaligus frustrasi pada kelas mereka sendiri. Bukan proletar yang direkrut. Soviet justru mengincar anak-anak aristokrat Inggris. Orang-orang yang suatu hari bisa masuk Foreign Office, BBC, MI5, MI6.

Donald Maclean anak diplomat. Guy Burgess produk Eton yang kacau dan brilian. Anthony Blunt sejarawan seni yang kelak menjadi penasihat Ratu. John Cairncross kutu buku Skotlandia yang nyaris selalu tampak seperti pegawai arsip membosankan. Philby paling berbahaya karena ia punya kesabaran predator. Mereka direkrut dan kemudian dikenal sebagai Cambridge Five.

Guy Burgess terasa seperti karakter yang ditulis terlalu berlebihan untuk dipercaya. Mabuk hampir setiap hari. Ceroboh. Mulutnya sulit dikendalikan. Ia suka ngebut atau mengemudi ugal-ugalan di London. Banyak orang menganggapnya menjengkelkan. Bahkan dalam lingkaran intelijen sendiri, Burgess punya reputasi kacau. Tetap saja ia lolos.

Kadang sejarah intelijen terlihat kurang seperti permainan kecerdasan tinggi, dan lebih seperti pesta makan malam kelas atas yang kebetulan menyimpan dokumen rahasia. Orang-orang terlalu sibuk memperhatikan aksen dan silsilah.

Philby masuk MI6 selama Perang Dunia II dan melesat cepat. Ia bahkan menjadi kepala seksi anti-Soviet. Ada ironi yang begitu kasar di sana sampai terdengar seperti satire. Uni Soviet memiliki orangnya sendiri di jantung operasi pemburu Soviet.

Banyak operasi Barat runtuh karena Philby membocorkannya ke Moskow. Agen-agennya dibunuh. Jaringan anti-komunis di Albania hancur. Operasi-operasi rahasia CIA dan MI6 bocor sebelum benar-benar berjalan. Di Washington, James Jesus Angleton dari CIA justru bersahabat dekat dengan Philby. Mereka makan malam bersama, minum bourbon bersama. Angleton mengagumi kecerdasannya.

Bayangkan rasa malu yang muncul bertahun-tahun kemudian ketika semua itu terbongkar.

Berkas-berkas lama tentang Philby kadang terasa mengerikan bukan karena kecanggihan spionasenya, tapi karena betapa lama orang-orang menolak menerima kenyataan. Kecurigaan sebenarnya sudah muncul sejak awal 1950-an setelah Burgess dan Maclean kabur ke Moskow pada 1951. Maclean sedang hampir ketahuan karena pesan-pesan rahasia Venona mulai mengarah kepadanya. Burgess ikut melarikan diri secara impulsif, mungkin karena panik, mungkin karena mabuk, mungkin keduanya.

Philby seharusnya ikut hancur saat itu. Tapi tidak terjadi. Ia malah sempat dibela establishment Inggris. Menteri Luar Negeri Harold Macmillan bahkan berbicara di House of Commons pada 1955, nyaris membersihkan nama Philby. Kalangan elite Inggris waktu itu masih sulit menerima bahwa “orang seperti dia” bisa menjadi pengkhianat.

Frasa “orang seperti dia” penting di sini. Sangat penting. Sistem kelas Inggris bukan sekadar urusan uang. Itu semacam parfum sosial yang menempel di suara, cara berjalan, pilihan kata, sekolah lama, bahkan bentuk humor. Philby punya semuanya. Banyak pejabat lebih siap mencurigai pegawai rendahan dibanding lelaki dengan jas tweed dan koneksi Oxbridge.

Sementara itu, Soviet memahami kelemahan psikologis Inggris lebih baik daripada Inggris memahami dirinya sendiri.

Di Beirut awal 1960-an, Philby bekerja sebagai jurnalis untuk The Observer dan The Economist sambil diam-diam masih bermain mata-mata. Beirut waktu itu belum hancur oleh perang saudara; bar-bar penuh diplomat, wartawan, agen intelijen, perempuan Lebanon dengan parfum tajam, musik Prancis mengalun di klub malam Hamra. Philby minum terlalu banyak. Tubuhnya mulai rusak oleh alkohol. Banyak orang di sekitarnya sebenarnya mulai curiga lagi.

Nicholas Elliott, teman dekat Philby dari MI6, datang ke Beirut untuk menginterogasinya secara informal pada Januari 1963. Mereka minum bersama. Dua pria Inggris tua dari kelas yang sama, berbicara tentang pengkhianatan sambil mungkin masih memakai gaya percakapan sekolah elite.

Philby menghilang tak lama kemudian. Kapal Soviet membawanya ke Odessa.

Inggris tampak seperti lelaki kaya yang baru sadar brankas rumahnya terbuka sejak puluhan tahun lalu, sementara pencurinya selama ini duduk di ruang tamu sambil minum wiski bersama keluarga.

Moskow ternyata bukan surga romantis yang dulu dibayangkan banyak intelektual kiri Barat. Philby tidak benar-benar bahagia di sana. Ia jadi selebritas propaganda Soviet, tetapi juga orang asing. Ia minum makin parah. Pernikahannya berantakan. Orang Rusia sendiri kadang memandangnya dengan jarak tertentu. Mata-mata yang sukses berbohong kepada negaranya sendiri tentu juga sulit dipercaya sepenuhnya oleh negara barunya.

Foto-foto Philby di masa tua terasa suram. Wajah membengkak, mata lelah, apartemen kusam. Tidak ada aura James Bond. Bau vodka dan abu rokok terasa hampir keluar dari foto-foto itu.

Anthony Blunt mendapat nasib berbeda. Ia lama dilindungi diam-diam setelah mengaku pada MI5 tahun 1964. Bertahun-tahun publik Inggris tidak tahu bahwa Surveyor of the Queen’s Pictures—orang yang mengurus koleksi seni kerajaan—adalah mantan agen Soviet. Ketika Margaret Thatcher akhirnya membuka identitasnya pada 1979 di House of Commons, Inggris kembali dipermalukan. Blunt dicabut gelarnya. Wajahnya di televisi tampak pucat seperti mayat yang dipaksa hadir di pengadilan.

John Cairncross paling tidak glamor dari semuanya. Tidak seterkenal Philby atau Burgess. Ia bekerja di Bletchley Park selama perang dan membocorkan informasi penting kepada Soviet, termasuk data tentang rencana Jerman di Kursk. Ironisnya, sebagian informasi itu memang membantu Uni Soviet melawan Nazi. Sejarah kadang menjijikkan karena motif dan hasilnya saling bertabrakan.

Ada detail kecil yang selalu terasa mengganggu dari kisah Cambridge Five; betapa banyak orang sebenarnya melihat tanda-tanda aneh sejak awal, lalu memilih mengabaikannya. Burgess mabuk dan sembrono. Maclean mengalami tekanan mental berat. Philby terlalu licin. Tapi formalitas Inggris waktu itu lebih takut terlihat tidak sopan kepada sesama elite dibanding takut ditembus Soviet.

Di kantor-kantor kayu tua Whitehall, dengan bau kertas lembap dan mantel wol basah terkena hujan London, mereka terus saling merekomendasikan teman sekolah, teman klub, teman minum.

Lalu Moskow membaca semuanya dengan tenang.

Related

Peristiwa 4862276451959192274

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item