Tafsir al-Tabari: Kitab Tafsir Paling Awal, Penting, dan Kontroversial
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/tafsir-al-tabari-kitab-tafsir-paling.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Membuka Tafsir al-Tabari kadang terasa seperti masuk ke ruangan yang terlalu penuh orang. Satu ayat dibacakan, lalu muncul pendapat Ibn ‘Abbas. Pendapat Mujahid. Pendapat Qatadah. Pendapat Al-Hasan al-Basri. Riwayat lain menyodorkan pemahaman berbeda. Seorang ahli bahasa bisa masuk untuk menjelaskan bentuk sebuah kata. Penyair Arab pra-Islam tiba-tiba ikut dipanggil karena satu bait syair dianggap membantu menjelaskan makna kata Qur’ani. Setelah semuanya ditumpuk, Al-Tabari tidak sekadar mengangkat tangan dan berkata: selesai, inilah jawabannya. Ia membandingkan, menimbang, memilih.
Di situlah kejutan terbesar Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Kitab yang sekarang sering disebut sebagai salah satu tafsir paling awal dan paling penting ini ternyata tidak terasa seperti kitab yang berasal dari sebuah tradisi tafsir yang sudah rapi. Ia justru menyimpan suara-suara yang ramai, kadang saling bertentangan, sebagian berasal dari generasi yang sangat dekat dengan masa Nabi, sebagian lagi dari ulama sesudah mereka.
Library of Congress bahkan menekankan bahwa arti penting Tafsir al-Tabari antara lain terletak pada pelestarian komentar-komentar awal dan pendekatan penafsiran yang sebagian sudah tidak bertahan dalam bentuk lain. Membaca Al-Tabari berarti membaca bukan hanya tafsirnya, tetapi juga reruntuhan besar perpustakaan tafsir yang lebih tua.
Muhammad ibn Jarir al-Tabari lahir di Amol, Tabaristan, sekitar 839 dan menghabiskan sebagian besar kehidupan intelektualnya dalam perjalanan mencari ilmu sebelum menetap di Baghdad. Ia belajar hadis, fikih, bahasa, dan berbagai disiplin keislaman.
Ia juga menulis kitab sejarah berskala raksasa, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, sehingga dua karya terbesarnya memperlihatkan kebiasaan intelektual yang sama: mengumpulkan bahan sebanyak mungkin, menyebutkan jalur transmisi, dan membiarkan pembaca berhadapan dengan perbedaan riwayat. Encyclopaedia Iranica mencatat bahwa karya tafsir dan sejarahnya sama-sama terkenal karena ketelitian dalam mengutip banyak sumber yang kadang saling bertentangan.
Kebiasaan itu terasa sangat jelas ketika Al-Tabari membahas sebuah kata yang tampaknya sederhana. Misalnya sebuah istilah Arab memiliki lebih dari satu kemungkinan makna. Ia tidak buru-buru memilih arti yang paling nyaman. Riwayat dikumpulkan. Pendapat para ahli bahasa dimunculkan. Penggunaan kata tersebut dalam syair Arab diperiksa. Struktur kalimat diperhatikan. Bila satu tafsir menurutnya lebih kuat, ia menjelaskan alasan pemilihannya.
Itu membuat Tafsir al-Tabari terasa agak mengejutkan bagi pembaca yang tumbuh dengan bayangan bahwa sebuah ayat “memiliki tafsir”. Seolah-olah tafsir adalah benda yang sudah tersedia, tinggal dibuka dari rak, lalu ditemukan jawabannya. Al-Tabari memperlihatkan proses yang lebih berantakan. Sebelum satu pemahaman menjadi “tafsir yang kita kenal”, pernah ada sejumlah manusia yang memperdebatkan apa sebenarnya makna ayat tersebut.
Salah satu kekuatan kitab ini terletak pada kesediaannya menyimpan perdebatan itu. Dalam pembahasan kisah Yusuf, misalnya, Al-Tabari mengumpulkan sejumlah besar riwayat yang memberi informasi di luar cerita Qur’an sendiri. Beberapa menyampaikan pendapat berbeda, beberapa membawa informasi serupa melalui jalur periwayatan berbeda. Untuk satu detail mengenai ketampanan Yusuf saja, ia dapat menghadirkan beberapa riwayat yang tidak sepenuhnya identik. Pembaca bisa merasa sedikit kewalahan. Memang begitu bentuk pengetahuan yang sedang disimpan di sini.
Yang lebih penting, Al-Tabari tidak sekadar menjadi gudang kutipan. Ia memiliki preferensi. Encyclopaedia Iranica mencatat bahwa dalam tradisi hermeneutika yang diwakili Jami‘ al-Bayan, Al-Tabari kerap memilih satu penjelasan hadis dibanding penjelasan lain karena sejumlah pertimbangan, dan faktor gramatikal termasuk alasan yang sering dipakai. Jadi formula “al-Tabari hanya mengumpulkan riwayat” terlalu sederhana. Ia mengumpulkan, tetapi juga menilai.
Kadang keputusan itu muncul setelah persoalan bahasa menjadi rumit. Bahasa Arab pada abad ketiga Hijriah bukan sekadar alat untuk menyampaikan tafsir. Bahasa adalah salah satu medan pembuktiannya. Apakah sebuah bentuk kata memang mungkin berarti seperti itu? Apakah susunan kalimat mendukung tafsir tertentu? Apakah penggunaan kata itu dikenal dalam bahasa Arab? Apakah sebuah syair lama dapat menjadi bukti pemakaian? Di meja kerja al-Tabari, seorang ahli tafsir harus sedikit menjadi ahli tata bahasa, sedikit menjadi ahli hadis, sedikit menjadi filolog.
Hal itu juga menjelaskan mengapa syair-syair Arab pra-Islam dapat muncul dalam pembahasan Qur’an. Bagi kita, perpindahan dari ayat suci ke puisi pagan mungkin terasa aneh. Bagi ahli bahasa klasik, justru itu bahan bukti. Kalau sebuah kata Qur’ani memiliki makna tertentu, penggunaan kata yang sama dalam bahasa Arab lama dapat membantu menunjukkan bagaimana kata tersebut dipahami. Bahasa tidak dianggap benda yang turun dari langit dalam bentuk kamus. Ia mempunyai sejarah pemakaian.
Al-Tabari sendiri hidup dalam masa ketika persoalan seperti itu sangat serius. Baghdad tempat ia menetap merupakan pusat intelektual yang dipenuhi ahli hadis, fuqaha, ahli bahasa, teolog, dan kelompok-kelompok dengan posisi doktrinal berbeda. Ia bahkan mendirikan mazhab fikih sendiri, Jaririyah, meskipun mazhab tersebut tidak bertahan lama. Jadi sosok di balik Tafsir al-Tabari bukan seorang penyalin pasif yang menerima semua warisan sebelumnya. Ia seorang intelektual yang terbiasa memilih posisi, berdebat, dan mempertahankan penilaiannya.
Ada konsekuensi yang menurut saya lebih menarik daripada sekadar kekaguman terhadap “keluasan ilmu” Al-Tabari. Kitab ini membuat sejarah penafsiran Qur’an kelihatan manusiawi. Kita melihat bagaimana pengetahuan dibentuk oleh orang-orang yang membawa ingatan, bahasa, otoritas guru, reputasi perawi, dan kemampuan argumentasi mereka masing-masing. Mereka tidak duduk dengan seluruh jawaban di tangan. Mereka bekerja dari bahan yang tersedia.
Tentu saja itu tidak berarti semua tafsir sama benarnya, atau Al-Tabari menganggap setiap pendapat memiliki bobot identik. Justru kebalikannya. Ia menunjukkan bahwa perbedaan pendapat menuntut seleksi. Riwayat memiliki kualitas. Penafsiran memiliki kekuatan dan kelemahan. Bahasa dapat menguatkan satu pendapat dan menjatuhkan pendapat lain. Rangkaian transmisi juga penting. Dalam dunia seperti itu, tafsir menjadi kegiatan penalaran yang sangat aktif.
Karena itu gambaran tentang “tafsir awal” sebagai masa ketika semua orang hanya menyampaikan makna yang sudah mapan terasa menyesatkan. Tafsir al-Tabari memperlihatkan sesuatu yang lebih gaduh. Sahabat menafsirkan. Tabi‘in menafsirkan. Murid-murid mereka meneruskan. Ahli bahasa ikut campur. Riwayat bertambah. Pendapat bertabrakan. Seorang mufasir kemudian duduk di tengah tumpukan itu dan mengatakan: yang ini lebih kuat karena alasan ini; yang itu lebih lemah karena alasan itu.
Bayangkan berapa banyak percakapan yang hilang sebelum Al-Tabari menuliskan hasilnya. Kita bahkan tidak selalu mengetahui siapa yang pertama kali mengucapkan sebuah pendapat yang kemudian ia kutip. Beberapa karya yang ia gunakan sudah lenyap. Nama-nama guru dan perawi tetap hidup karena Al-Tabari membawa suara mereka masuk ke dalam bukunya.
Karena itulah kitab setebal ini terasa lebih hidup daripada sebuah buku yang hanya memberi “jawaban”. Ketika mata bergerak dari satu sanad ke sanad lain, dari satu pendapat ke pendapat lain, dari sebuah riwayat ke sebuah syair Arab yang usianya bahkan lebih tua daripada Islam, yang terbaca sebenarnya adalah proses sebuah peradaban mencoba memahami satu teks yang dianggap suci. Tidak selalu anggun. Tidak selalu sepakat. Kadang sangat teknis sampai kepala terasa penuh.
Tetapi justru tumpukan itulah yang membuat Tafsir al-Tabari berharga. Kita dapat melihat sebuah tafsir sebelum sejarah menghapus sebagian besar orang yang pernah ikut menafsirkannya. Al-Tabari menyimpan mereka, satu per satu, bahkan ketika jawabannya tidak sama.
Catatan terkait: Al-Risalah, Kitab Al-Shafi‘i yang Jadi Fondasi Metodologi Fiqih
.jpg)

