Sulitnya Menjalani Kehidupan Orang Dewasa di London
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/sulitnya-menjalani-kehidupan-orang.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Di sebuah gerbong Tube (kereta bawah tanah) yang penuh, seorang perempuan berdiri sambil mendengarkan percakapan dalam bahasa yang tidak ia pahami, membaca judul berita dari ponsel orang di depannya, mencium parfum seseorang yang baru naik di Oxford Circus, lalu turun beberapa stasiun kemudian tanpa pernah berbicara dengan satu pun dari mereka.
Di luar gerbong, seorang kasir mungkin menyapanya dengan aksen Nigeria, pengemudi bus berasal dari Polandia, dokter di klinik memakai nama keluarga India, dan tetangga di lantai atas berbicara bahasa Arab kepada anaknya. London membuat keberagaman begitu biasa, sampai-sampai keberagaman sendiri berhenti terasa sebagai peristiwa.
Itu salah satu hal yang agak menipu tentang kota tersebut. Kita sering menganggap bahwa semakin sering manusia bertemu dengan orang yang berbeda, semakin dekat pula mereka. London memberi kesempatan yang luar biasa besar untuk pertemuan semacam itu, tetapi kesempatan bukan hubungan. Kamu bisa duduk berdampingan dengan lima kebangsaan berbeda setiap pagi selama bertahun-tahun dan tetap tidak tahu nama siapa pun.
Angka-angka tentang kehidupan sosial London bahkan menarik karena memperlihatkan jarak tersebut. Dalam Survey of Londoners, hanya sekitar 15 persen warga London mengatakan semua teman mereka berasal dari latar etnis yang sama.
Sekilas angka itu terdengar sangat kosmopolitan. Tetapi survei yang sama menemukan bahwa 27 persen warga London tergolong mengalami isolasi sosial, karena tidak memiliki seseorang yang dapat mereka andalkan dalam keadaan darurat. Hampir separuh warga memang saling meminjam barang atau bertukar bantuan dengan tetangga, tetapi kelompok usia 25–34 tahun dan orang yang baru pindah ke lingkungan tersebut jauh lebih jarang berinteraksi dengan tetangga.
Jadi seseorang bisa memiliki teman dari etnis berbeda, dan tetap kesepian. Ia bisa bekerja dengan orang dari lima negara, makan siang di restoran Ethiopia, membeli bahan makanan dari toko Turki di Dalston, pergi ke masjid atau gereja atau klub olahraga, lalu pulang ke flat dan tidak memiliki siapa pun yang bisa ditelepon ketika sesuatu yang genting terjadi.
Kata yang sering tercampur di sana sebenarnya berbeda: diversity, contact, friendship, belonging. London sangat kuat pada yang pertama. Yang kedua juga terjadi terus-menerus. Yang ketiga lebih selektif. Yang keempat paling sulit diukur dan mungkin paling menyakitkan ketika tidak ada.
Seorang penumpang bus tidak otomatis menjadi kenalan. Kenalan tidak otomatis menjadi teman. Teman tidak selalu menjadi orang yang membuat sebuah tempat terasa seperti rumah.
Psikolog Gordon Allport sudah membicarakan persoalan itu sejak 1950-an melalui contact hypothesis: kontak antarkelompok dapat mengurangi prasangka, terutama ketika pertemuan itu berlangsung dalam kondisi yang memungkinkan interaksi yang setara, tujuan bersama, dan dukungan institusional. Penelitian setelahnya menunjukkan bahwa kontak antarkelompok memang sering berkaitan dengan berkurangnya prasangka, tetapi kualitas kontak tetap penting. Sekadar berbagi trotoar jelas berbeda dari bekerja bersama, belajar bersama, bermain dalam satu tim, atau berteman.
London menyediakan kontak dalam jumlah yang hampir absurd. Tube, sekolah, rumah sakit, universitas, kantor, pasar, stadion, taman, pub, masjid, gereja, klub malam. Manusia terus dilempar ke dalam ruang yang sama. Tetapi kota juga memungkinkan kita menghindari hubungan yang lebih dalam dengan sangat efisien.
Itu terdengar paradoks, tetapi sebenarnya masuk akal.
Di London, kamu dapat membeli makanan dari orang Bangladesh tanpa pernah mengenal seorang Bangladesh secara pribadi. Kamu dapat memiliki rekan kerja Ghana tanpa pernah masuk ke rumahnya. Anakmu mungkin bersekolah bersama anak keluarga Somalia, tetapi pertemanan orang tua tetap berjalan dalam kelompok masing-masing. Kamu dapat tinggal di sebuah blok apartemen yang dihuni berbagai kebangsaan dan tidak mengetahui siapa yang tinggal tiga pintu dari rumahmu.
Penelitian Patrick Sturgis, Ian Brunton-Smith, Jouni Kuha, dan Jonathan Jackson, mengenai lingkungan London, menunjukkan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada gagasan bahwa keberagaman otomatis merusak kohesi sosial. Setelah memperhitungkan tingkat deprivasi ekonomi, keberagaman etnis lingkungan berkaitan dengan persepsi kohesi sosial yang lebih tinggi, terutama pada kelompok usia muda. Sebaliknya, segregasi etnis berkaitan dengan kohesi yang lebih rendah.
Artinya, “lingkungan yang beragam” dan “lingkungan tempat kelompok-kelompok hidup terpisah” tidak boleh diperlakukan sebagai hal yang sama.
Itu penting karena London penuh dengan lingkungan yang memiliki identitas sangat kuat. Southall, Brixton, Chinatown, Stamford Hill, Whitechapel, Green Lanes, Edgware Road. Nama-nama itu membawa makanan, bahasa, toko, tempat ibadah, sejarah migrasi, dan jaringan sosial yang berbeda. Bagi pendatang, konsentrasi semacam itu dapat menjadi sesuatu yang sangat menolong. Kamu menemukan toko yang menjual bahan makanan yang kamu kenal. Mendengar bahasamu sendiri di jalan. Menemukan orang yang memahami lelucon yang tidak perlu dijelaskan.
Rasa aman itu tidak otomatis buruk bagi integrasi. Penelitian James Laurence tentang London dan Inggris menunjukkan bahwa dampak keberagaman terhadap kepercayaan tetangga sangat dipengaruhi oleh tingkat segregasi yang lebih luas. Lingkungan beragam yang berada dalam kawasan yang lebih terintegrasi tidak menunjukkan hukuman kepercayaan yang sama dengan lingkungan beragam yang berada dalam struktur pemisahan sosial yang lebih kuat.
Kita sering menggunakan kata “multikultural” seolah-olah semua budaya yang hadir di satu kota pasti saling berinteraksi. Padahal sebuah kota dapat menjadi sangat multikultural dan sangat terkotak-kotak pada saat yang sama.
London bahkan memperlihatkan bentuk yang lebih halus lagi: orang bisa berinteraksi tanpa benar-benar bertukar kehidupan.
Saya bisa tahu nama makananmu tanpa tahu bagaimana kamu membesarkan anak. Saya bisa tahu aksenmu tanpa tahu apa yang membuatmu takut kehilangan pekerjaan. Saya bisa bekerja denganmu setiap hari tanpa pernah melihat rumahmu. Saya bisa tahu agamamu karena simbol yang kamu kenakan, tetapi tidak tahu bagaimana kamu memikirkan agama tersebut ketika sendirian.
Persahabatan membutuhkan sesuatu yang lebih mahal daripada toleransi: waktu yang tidak memiliki tujuan langsung.
Sekolah sering jadi tempat yang bagus untuk melihatnya. Penelitian Sabahat Bagci dan koleganya, terhadap 684 siswa Year 7 di sembilan sekolah menengah multietnis di sekitar London, menemukan bahwa persahabatan lintas etnis memang terjadi dan dapat diteliti bukan hanya berdasarkan jumlah teman, tetapi juga kualitas hubungan tersebut. Penelitian ESRC/UCL tentang anak-anak dan orang tua di kawasan London yang sangat beragam juga menemukan sekolah sebagai tempat penting bagi perjumpaan sehari-hari, pertukaran, dan pembentukan pertemanan di tengah perubahan populasi serta gentrifikasi.
Anak-anak punya keuntungan yang kadang hilang ketika manusia dewasa. Mereka duduk sebangku. Mereka berebut bola. Mereka mengerjakan tugas kelompok. Mereka bertengkar karena sesuatu yang sangat bodoh. Identitas etnis mungkin tetap penting, tetapi hubungan memiliki bahan lain untuk tumbuh.
Orang dewasa jauh lebih pandai mengatur jarak.
Kita memilih meja yang sama di kafe tetapi tidak berbicara. Memakai headphone di kereta. Mengirim pesan kepada teman yang tinggal tiga blok jauhnya. Menyapa tetangga seperlunya. Memiliki ratusan kontak di ponsel tetapi hanya dua atau tiga nama yang akan dipanggil ketika ada masalah genting.
Kehidupan kota modern memang memberi kita kebebasan seperti itu. London bahkan mungkin salah satu tempat terbaik untuk menjalankannya. Kamu dapat menemukan komunitas sendiri tanpa harus mengenal seluruh masyarakat. Masalah muncul ketika seseorang ternyata ingin merasa menjadi bagian dari tempat yang lebih besar daripada komunitas kecilnya sendiri.
Riset Tak Wing Chan dan Juta Kawalerowicz yang terbit pada 2024 memberi gangguan kecil terhadap narasi populer tentang keberagaman. Dalam data nasional Inggris yang mereka gunakan, keberagaman memang berkaitan negatif dengan beberapa ukuran kohesi sosial ketika karakteristik individual diperhitungkan. Setelah tingkat deprivasi lingkungan dimasukkan, sebagian besar hubungan tersebut menghilang. Kesimpulan mereka jauh lebih mengganggu bagi cerita sederhana tentang “diversity versus cohesion”: kondisi material tampaknya memainkan peran yang jauh lebih besar daripada keberagaman itu sendiri.
Mungkin karena manusia tidak mengalami “keberagaman” sebagai variabel statistik. Manusia mengalami harga sewa, perjalanan dua jam menuju kantor, kamar sempit, gaji yang tidak cukup, sekolah anak, pekerjaan yang tidak pasti, tetangga yang berisik, dan rasa bahwa kota itu terlalu mahal untuk benar-benar menjadi miliknya.
London dapat membuat seseorang merasa dunia berada di sekelilingnya. Itu pengalaman yang menyenangkan ketika hidup sedang baik.
Pada hari lain, kamu keluar dari stasiun, mendengar tiga bahasa dalam sepuluh detik, melewati restoran dari negara yang belum pernah kamu kunjungi, melihat orang-orang dari seluruh penjuru dunia bergerak ke tujuan masing-masing, dan tiba-tiba sadar bahwa tidak satu pun dari mereka menunggumu.
Di situlah perbedaan antara hidup di tengah banyak manusia, dan memiliki seseorang untuk pulang jadi sangat terasa.
Di sebuah meja kafe, dua orang yang baru berkenalan mungkin masih berbicara tentang pekerjaan. Salah satunya bertanya sudah berapa lama tinggal di London. Yang lain menyebut sebuah borough. Mereka tertawa kecil ketika menyadari ternyata pernah naik bus yang sama.
Nomor telepon belum ditukar.
Pelayan datang membawa dua cangkir yang mengepul, dan percakapan bergeser ke tagihan.
Catatan terkait: London, Kota dengan Banyak Kehidupan dalam Satu Tubuh
.jpg)

