London, Kota dengan Banyak Kehidupan dalam Satu Tubuh

Ilustrasi milik BSM
London punya kebiasaan membuat orang merasa sedang berpindah kota padahal kereta belum berhenti terlalu lama. Keluar dari Tube di Bank, yang terlihat adalah gedung-gedung kaca, pria berjas berjalan cepat sambil menatap ponsel, dan nama-nama perusahaan keuangan yang terdengar seperti sesuatu yang bisa memindahkan miliaran pound sebelum makan siang. 

Lima menit berjalan kaki, jalan kecil di sekitar St Bartholomew's Church mendadak membawa kita ke London yang jauh lebih tua, dengan lorong sempit, batu tua, pub gelap, dan sisa tembok Romawi. Beberapa blok kemudian muncul Barbican yang brutalistis, lalu St Paul's Cathedral yang usianya membuat sebagian besar gedung di sekitarnya terlihat seperti anak kemarin sore.

London tidak terlihat seperti satu kota yang berkembang dengan rencana yang masuk akal. Ia lebih mirip kota yang berkali-kali ditimpa kota lain, tetapi lapisan sebelumnya tidak pernah benar-benar dibuang.

Hal itu paling terasa di City of London, kawasan kecil yang sering membuat turis bingung. Secara administratif, City of London bukan sekadar nama lama untuk pusat kota. Ia memiliki pemerintahan sendiri, Lord Mayor sendiri, polisi sendiri, dan sejarah pemerintahan yang berakar jauh sebelum parlemen modern. William Sang Penakluk mengakui hak-hak kota itu pada 1067, dan hak warga untuk memilih wali kota sendiri diberikan oleh Raja John pada 1215.

Nama “London” seolah terlalu sederhana untuk tempat seperti itu.

Orang berjalan melewati Bank Junction sambil melihat Bank of England berdiri dengan wibawa seperti institusi yang sudah tahu bagaimana cerita akan berakhir. Bank itu didirikan pada 1694 untuk membantu pemerintah memperoleh kredit guna membangun kembali angkatan laut. Uang, utang negara, perdagangan, kekuasaan kerajaan—semuanya bertemu di tempat yang sekarang dipenuhi laptop dan kartu akses kantor.

Beberapa meter dari sana, nama jalan masih menyimpan pekerjaan yang dilakukan orang berabad-abad lalu. Threadneedle Street. Cornhill. Bread Street. Poultry. Cheapside. London modern begitu sibuk menciptakan gedung baru sampai kadang lupa mengganti nama jalan yang berasal dari dunia lama.

Itu bagian yang agak lucu. Kota finansial global ini masih berjalan di atas kosakata para pedagang abad pertengahan.

Sejarah London juga tidak pernah benar-benar pergi setelah kalah. Ketika kebakaran besar 1666 menghancurkan sebagian besar kota, Christopher Wren membangun kembali puluhan gereja dan kawasan di sekitarnya. Ketika Revolusi Industri mengubah kota menjadi mesin ekonomi raksasa, rel kereta dan pabrik datang. Ketika perang dan bom menghantamnya, bangunan modern muncul di atas reruntuhan. Setelah itu datang gedung-gedung tinggi dengan nama yang lebih cocok untuk produk teknologi: Gherkin, Walkie Talkie, Cheesegrater. Di kawasan Bank, jejak Roman, abad pertengahan, Georgia, Victoria, brutalist, dan arsitektur teknologi tinggi memang berdiri dalam jarak yang sangat dekat.

London tidak pernah memilih satu wajah.

Itu bahkan terlihat dari sungai. Di sebelah timur, kawasan bekas pelabuhan yang dulu dipenuhi gudang dan aktivitas perdagangan berubah menjadi Canary Wharf, tempat menara-menara kaca menjulang di atas bekas Docklands. Turun di stasiun Canary Wharf, eskalator membawa penumpang ke ruang besar yang terasa seperti lobi bandara futuristis. Naik ke permukaan, orang melihat HSBC, Barclays, JPMorgan, dan perusahaan global lain mengisi gedung-gedung tinggi. Jubilee Line, DLR, dan Elizabeth line, bertemu di kawasan yang dulu sama sekali tidak memiliki aura pusat keuangan modern seperti sekarang.

Beberapa pemberhentian Tube kemudian, London bisa berubah total.

Pergilah ke Whitechapel dan bahasa kota ikut berubah. Restoran India, Bangladesh, toko halal, pasar kecil, grafiti, rumah-rumah tua, pekerja rumah sakit, mahasiswa, pedagang, dan penumpang Tube, bercampur dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari pusat finansial. Di London, imigrasi bukan aksesori budaya yang ditambahkan belakangan untuk membuat kota tampak kosmopolitan. Imigrasi sudah menjadi salah satu bahan pembentuk kota itu sendiri.

Menurut sensus 2021, 40,6 persen penduduk London lahir di luar Inggris Raya. Lebih dari empat dari setiap sepuluh orang yang tinggal di London membawa tempat kelahiran lain di belakang namanya.

Angka itu jauh lebih mudah dipahami ketika kita berhenti membaca tabel statistik dan berdiri di sebuah jalan London.

Di satu meja restoran bisa terdengar bahasa Bengali. Di sebelahnya seorang pekerja kantor berbicara dalam bahasa Prancis melalui telepon. Tukang kebab mungkin berasal dari Turki atau Kurdistan. Sopir taksi mungkin lahir di Pakistan. Kasir supermarket bisa berasal dari Polandia. Orang yang duduk di sebelah kita di Tube mungkin lahir di Lagos, Mumbai, Bucharest atau London sendiri. Semua itu terdengar biasa karena London sudah terlalu lama melakukannya.

Kerajaan juga masih ada, tentu saja. Istana Buckingham tetap menerima kepala negara dan wisatawan. Para penjaga berkuda masih muncul dalam seragam yang tampaknya dirancang pada masa ketika perang dilakukan dengan kuda dan meriam. Beberapa kilometer dari sana, seorang analis keuangan bisa sedang menghitung risiko mata uang yang bergerak karena keputusan bank sentral di Tokyo.

London bisa membuat dua hal itu terasa normal dalam satu hari.

Kerajaan, imigrasi, kapitalisme global, kota abad pertengahan, budaya pop, komunitas diaspora, universitas, pasar, gereja, masjid, klub sepak bola, museum, gedung pencakar langit. Semuanya berebut ruang tanpa benar-benar saling menggantikan. Kota itu tidak membersihkan masa lalu sebelum memasukkan masa depan.

Mungkin karena itu London kadang terasa sedikit berantakan secara intelektual. Kita ingin memasukkannya ke dalam satu kalimat—ibu kota Inggris, kota kerajaan, pusat finansial, kota multikultural, kota tua—tetapi setiap label langsung ditabrak oleh contoh yang berlawanan.

Jalan kecil di City bisa membuat kita merasa sedang berada di Inggris abad ke-17. Lima belas menit kemudian seorang perempuan dengan hijab berjalan melewati toko bubble tea sambil terburu-buru mengejar Elizabeth line. Di Westminster, turis memotret Big Ben. Di Shoreditch, anak muda memakai pakaian yang mungkin tidak pernah akan dikenakan seorang anggota parlemen. Di Canary Wharf, orang makan sushi di bawah gedung yang tingginya ratusan meter. Di pub tua, seorang pria mabuk mungkin sedang berdebat tentang Arsenal.

Semua terjadi tanpa rapat koordinasi.

London bahkan memiliki bagian kota yang secara harfiah dibangun karena kebutuhan zaman yang berbeda. City of London tumbuh dari pusat perdagangan kuno di tepi Thames. Westminster berkembang sebagai pusat kerajaan dan pemerintahan. Docklands lahir dari perdagangan maritim dan kemudian berubah menjadi kawasan bisnis modern. Ketiganya sekarang dianggap bagian dari London, padahal mereka membawa logika kota yang berbeda. Sejarah pemerintahannya pun mengakui bahwa London dulu pada dasarnya terdiri dari dua pusat: City yang berorientasi pada perdagangan dan Westminster yang menjadi pusat kerajaan, administrasi, dan agama.

Mungkin itu yang membuat berjalan kaki di London terasa seperti kegiatan yang sedikit tidak masuk akal. Kita tidak hanya melewati tempat; kita melewati keputusan-keputusan lama yang belum selesai.

Di dekat London Wall, misalnya, sisa pertahanan Romawi masih bisa ditemukan di antara gedung modern. Tembok itu dibangun sekitar abad kedua atau awal abad ketiga dan pernah membatasi kota selama berabad-abad. Hari ini orang melewatinya sambil membawa kopi takeaway.

Saya membayangkan orang Romawi yang dulu berdiri di atas tembok itu akan mengalami gangguan kecil pada sistem sarafnya jika tiba-tiba melihat Gherkin.

Mereka mungkin lebih bingung lagi ketika mengetahui bahwa kota yang mereka bangun sebagai pusat perdagangan kini menjadi salah satu pusat keuangan dunia, dihuni jutaan orang yang leluhurnya berasal dari seluruh planet, memiliki wali kota dengan kekuasaan metropolitan modern, tetapi masih menyisakan sebuah City kecil yang mempertahankan struktur pemerintahan dan hak istimewa yang usianya lebih tua daripada banyak negara modern.

London memang tidak tampak selesai.

Mungkin memang tidak akan pernah selesai. Pagi hari, jas dan sepatu mengilap memenuhi Liverpool Street. Siang hari, turis mengerumuni Tower Bridge. Sore hari, penumpang Tube pulang dalam keadaan lelah. Malamnya, restoran di Brick Lane mulai ramai, lampu kantor Canary Wharf masih menyala, dan di suatu jalan kecil dekat Smithfield mungkin seseorang masih membuka pintu pub tua yang lantainya sudah diinjak manusia selama ratusan tahun.

Kereta terus bergerak di bawah kota. Di atasnya, London menambahkan satu lapisan lagi.


Related

Geografi 6300477180812822908

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item