Kisah Branch Davidians, Sekte Gila yang Bikin Geger Amerika

Ilustrasi/atlasobscura.com
Asap hitam naik lambat dari kompleks kayu di Texas, sementara kamera helikopter televisi terus menyorot dari udara. Penyiar berita bicara cepat, terlalu cepat, dengan nada khas liputan bencana Amerika tahun 1990-an. Ada sesuatu yang absurd ketika tragedi manusia disiarkan seperti pertandingan olahraga panjang; sudut kamera terbaik, analisis langsung, countdown ketegangan. Rumah besar bernama Mount Carmel terbakar selama berjam-jam, dan jutaan orang menontonnya sambil makan siang atau duduk di sofa.

Di dalam kompleks itu ada anak-anak.

Wajah David Koresh selalu terlihat seperti seseorang yang tidur terlalu sedikit selama bertahun-tahun. Rambut panjang berminyak, mata merah lelah, suara datar Texas Selatan yang kadang terdengar seperti montir mobil sedang menjelaskan mesin rusak. Sulit membayangkan orang seperti itu bisa membuat puluhan orang rela menyerahkan hidup mereka.

Masalahnya, karisma jarang terlihat spektakuler dari luar. Kadang karisma cuma kemampuan membuat orang merasa dipahami sepenuhnya.

Branch Davidians sebenarnya sudah ada sebelum Koresh mengambil alih. Kelompok itu merupakan pecahan dari gerakan Advent Hari Ketujuh dengan obsesi kuat terhadap Kitab Wahyu dan kiamat. Mereka percaya dunia modern bergerak menuju kehancuran besar dan hanya orang-orang tertentu yang memahami pesan Tuhan dengan benar.

Koresh datang membawa sesuatu yang sangat Amerika; campuran agama literal, paranoia senjata, individualisme, dan ego mesianik.

Nama aslinya Vernon Howell. Ia lahir di Houston pada 1959 dari ibu remaja. Masa kecilnya kacau. Disleksia, kesulitan sekolah, sering dianggap aneh. Ia mulai tenggelam dalam Alkitab sejak muda, dan menemukan satu hal yang tidak diberikan dunia lain kepadanya; rasa penting.

Banyak pemimpin sekte tampaknya punya pola yang sama. Dunia biasa menolak mereka. Lalu mereka membangun dunia sendiri tempat mereka menjadi pusat tata surya.

Koresh mengambil alih komunitas Mount Carmel dekat Waco, Texas, setelah konflik internal keras pada 1980-an. Bahkan ada baku tembak antarfaksi sebelum pengepungan FBI terkenal itu. Orang sering lupa bagian ini; kekerasan sudah hadir jauh sebelum pemerintah datang.

Kompleks Mount Carmel sendiri bukan benteng futuristik seperti di film aksi. Foto-fotonya terlihat lebih seperti asrama religius murah di pinggir jalan Texas. Bangunan kayu besar. Tanah datar luas. Debu. Mobil pickup tua. Bau rumput kering dan solar panas mungkin menempel di udara.

Koresh mulai mengajarkan bahwa dirinya adalah “Anak Domba” dalam Kitab Wahyu—satu-satunya manusia yang bisa membuka Seven Seals. Pengikutnya memanggilnya dengan hormat yang hampir total. Ia bermain gitar, berkhotbah berjam-jam, mengutip ayat dengan ingatan luar biasa. 

Ia juga tidur dengan banyak perempuan dalam komunitas, termasuk gadis di bawah umur. Koresh menyebut mereka “istri spiritual”. Suami-suami resmi beberapa perempuan bahkan diminta berhenti berhubungan seksual dengan istri mereka, karena Koresh mengklaim semua perempuan dipilih Tuhan untuk melahirkan keturunannya.

Yang menyeramkan bukan cuma penyimpangannya. Cara semua itu dibungkus dengan bahasa wahyu dan pengorbanan rohani membuat eksploitasi terdengar seperti tugas suci.

Amerika punya hubungan sangat aneh dengan figur semacam itu. Negara yang dibangun dari semangat kebebasan individu juga menghasilkan tradisi panjang nabi pinggiran, pengkhotbah apokaliptik, dan komunitas religius bersenjata. Dari luar negeri, semua itu kadang tampak seperti campuran koboi dan Kitab Wahyu. Di Texas, campuran itu bisa berarti gudang penuh senjata. 

Pemerintah federal mulai memperhatikan Mount Carmel karena dugaan pelanggaran senjata. Agen ATF percaya Branch Davidians menyimpan senapan otomatis ilegal dan granat. Wartawan lokal juga mulai menggali laporan pelecehan anak dalam komunitas.

Penggerebekan pertama pada 1993 berubah kacau hampir seketika. Agen ATF datang dengan trailer kuda dan kendaraan besar, sebagian media sudah mencium operasi itu lebih dulu. Ada wartawan yang tanpa sengaja bertanya arah ke Mount Carmel kepada tukang pos yang ternyata kerabat Branch Davidians. Elemen kejutan hancur sebelum operasi dimulai.

Siapa yang menembak duluan masih diperdebatkan sampai sekarang. Fakta yang tersisa; peluru beterbangan brutal. Empat agen federal tewas. Enam anggota Branch Davidians juga mati. Kamera berita menangkap sebagian kekacauan dari kejauhan. Orang-orang merangkak di atap. Tubuh bersenjata di jendela.

Setelah itu, pengepungan dimulai. Lima puluh satu hari. Amerika menontonnya setiap malam di televisi.

FBI mengelilingi kompleks dengan kendaraan lapis baja. Negosiator berbicara lewat telepon dengan Koresh yang makin tidak stabil. Musik keras diputar malam-malam untuk mengganggu penghuni kompleks. Lampu sorot diarahkan ke bangunan. Generator dimatikan. Tank merobek pagar. Anak-anak masih berada di dalam selama semua itu berlangsung.

Koresh terus berkhotbah tentang akhir zaman. Ia percaya pengepungan membuktikan nubuat Alkitab. Semakin pemerintah menekan, semakin keyakinan pengikut mengeras. Itu jebakan yang sering muncul dalam konflik sekte; aparat berpikir tekanan akan menghancurkan loyalitas, padahal tekanan justru menguatkan narasi penganiayaan suci.

Tubuh manusia bisa hidup sangat lama dalam keadaan tegang terus-menerus, sampai ketegangan berubah jadi ritme harian.

Beberapa anak berhasil keluar selama negosiasi awal. Mereka menggambarkan kehidupan di dalam kompleks dengan detail yang campur aduk; pelajaran Alkitab panjang, hukuman fisik, latihan militer, nyanyian religius, stok makanan terbatas. Sebagian masih memuji Koresh. Otak anak kecil memang belum punya alat lengkap untuk memahami manipulasi.

Pada 19 April 1993, FBI memulai serangan akhir. Kendaraan lapis baja menembus dinding bangunan dan menyuntikkan gas CS ke dalam kompleks. Gas itu membuat mata terbakar, tenggorokan pedih, paru-paru sesak. Rekaman video menunjukkan debu putih menyebar dari lubang-lubang dinding. Anak kecil menghirup semua itu.

Api mulai muncul di beberapa titik hampir bersamaan. Sampai sekarang perdebatan soal asal api belum benar-benar berhenti. Pemerintah menyalahkan Branch Davidians. Sebagian penyintas dan kritikus pemerintah percaya operasi federal memperparah situasi secara fatal.

Yang tidak terbantahkan; api menyebar sangat cepat. Kayu kering Texas terbakar seperti kertas. Orang-orang keluar sambil berlari dari asap. Sebagian ditembak anggota sendiri, menurut beberapa laporan. Sebagian tetap tinggal di dalam bersama Koresh. Kamera televisi menangkap kubah api besar dan asap hitam membubung ke langit biru Texas yang kosong.

Suara reporter tetap tenang. Profesional. Hampir dingin.

Tujuh puluh enam anggota Branch Davidians tewas hari itu, termasuk lebih dari dua puluh anak-anak. Tubuh beberapa korban ditemukan bertumpuk di bunker beton kecil di bawah bangunan. Sebagian mati karena asap. Sebagian tertembak. Sebagian terbakar. David Koresh ditemukan tewas dengan luka tembak di kepala.

Foto pasca-kebakaran Mount Carmel terlihat seperti akhir dunia versi murah; rangka logam bengkok, abu hitam, puing hangus, tanah gosong luas di tengah Texas. Sisa mainan anak-anak ditemukan di antara reruntuhan. Mainan plastik meleleh punya bentuk yang sangat menyedihkan.

Pengepungan Waco meninggalkan luka besar dalam budaya Amerika. Kelompok anti-pemerintah memakai tragedi itu sebagai simbol tirani federal. Kaum religius ekstrem melihat Koresh sebagai martir. Negara melihat bukti bahaya fanatisme bersenjata.

Beberapa tahun kemudian, Timothy McVeigh memilih tanggal pengeboman Oklahoma City, bertepatan dengan ulang tahun kebakaran Waco. Asap dari Mount Carmel ternyata belum benar-benar hilang. 

Ada rekaman Koresh bermain gitar di dalam kompleks sebelum semuanya berakhir. Lagu rock sederhana. Suaranya tidak terlalu bagus. Pengikut duduk mendengarkan, seperti murid sekolah kecil yang terlalu patuh. Salah satu anak terlihat mondar-mandir di belakang ruangan sambil memegang mainan.

Kamera VHS terus merekam.


Related

Internasional 8337612302634239358

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item