Tragedi Terowongan Mina 1990, Bencana Haji Paling Mematikan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/tragedi-terowongan-mina-1990-bencana.html
![]() |
| Ilustrasi/liputan6.com |
Orang sering membayangkan bahaya dalam ibadah haji datang dari padang pasir, kelelahan, penyakit, atau cuaca yang mematikan. Imajinasi itu masuk akal. Gurun memang keras. Matahari Hijaz pada musim panas mampu membuat udara terasa seperti keluar dari mulut tungku. Bibir pecah, kepala berdenyut, tenggorokan seperti dilapisi pasir halus. Sejarah haji penuh dengan kisah kafilah yang diserang perampok, wabah kolera, bahkan peperangan.
Yang menewaskan lebih dari seribu orang di Mina pada musim haji 1990 bukan salah satu dari semua itu. Yang membunuh mereka adalah manusia lain yang juga sedang beribadah.
Bukan karena niat jahat. Bukan karena kekerasan. Tubuh manusia dalam jumlah sangat besar memiliki hukum fisik sendiri. Pada titik tertentu, kerumunan berubah menjadi sesuatu yang hampir menyerupai zat cair. Ia mengalir, menekan, bergelombang dan, ketika ruang jadi terlalu sempit, ia dapat membunuh tanpa seorang pun benar-benar memutuskan untuk membunuh.
Mina terletak beberapa kilometer di timur Makkah. Selama musim haji, wilayah itu berubah menjadi kota sementara yang luar biasa besar. Jutaan orang datang dari berbagai negara, bahasa, usia, dan kondisi fisik. Tenda-tenda putih membentang sejauh mata memandang. Jalan-jalan dipenuhi pejalan kaki. Bau keringat bercampur debu dan asap kendaraan. Suara doa, pengeras suara, percakapan dalam bahasa Arab, Urdu, Turki, Indonesia, Hausa, Persia, dan puluhan bahasa lain, saling bertabrakan di udara.
Pada 2 Juli 1990, kalender hijriah sedang berada pada musim haji. Salah satu titik penting pergerakan jamaah adalah sebuah jalur pejalan kaki yang menghubungkan Mina dan Makkah melalui Terowongan Al-Ma'aisim, sering disebut juga Terowongan Mina. Panjangnya sekitar setengah kilometer. Lebarnya cukup besar menurut standar biasa. Menurut standar jutaan manusia yang bergerak hampir bersamaan, definisi "cukup besar" berubah drastis.
Laporan-laporan setelah tragedi berbeda dalam beberapa detail. Angka korban pun berbeda tergantung sumber. Pemerintah Arab Saudi mengumumkan sekitar 1.426 korban jiwa. Beberapa pihak di luar Saudi menduga jumlah sesungguhnya lebih tinggi. Yang tidak diperdebatkan adalah kenyataan bahwa ribuan orang terjebak dalam satu peristiwa desak-desakan paling mematikan dalam sejarah modern.
Versi yang paling banyak diterima menyebutkan bahwa kerumunan jadi sangat padat di dalam terowongan. Sebagian laporan menyebut kegagalan sistem ventilasi memperburuk keadaan. Sebagian lagi menyoroti arus manusia dari arah yang berbeda yang bertemu pada saat bersamaan. Ketika kepadatan mencapai tingkat ekstrem, pilihan individu praktis menghilang.
Orang yang belum pernah berada dalam kerumunan sangat padat sering membayangkan korban terinjak karena jatuh lalu dilangkahi. Gambaran itu tidak sepenuhnya tepat. Dalam banyak bencana massa modern, kematian justru terjadi ketika tubuh-tubuh masih berdiri. Tekanan datang dari segala arah. Dada tidak lagi mampu mengembang. Tulang rusuk terjepit. Napas jadi pendek. Beberapa orang pingsan. Ketika satu tubuh jatuh, tubuh lain terdorong ke atasnya. Tumpukan manusia mulai terbentuk.
Seorang penyintas menggambarkan keadaan yang nyaris mustahil dibayangkan. Kaki tidak lagi menyentuh tanah secara normal. Tubuhnya bergerak karena tekanan massa di belakang. Bukan berjalan. Lebih dekat pada diseret oleh lautan manusia.
Saya pernah membaca berbagai laporan tentang bencana kerumunan, dari stadion sepak bola hingga konser musik. Detail yang selalu mengganggu justru bukan angka korban. Detail yang mengganggu adalah betapa cepat manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Seseorang masih sadar, masih punya kehendak, masih ingin bergerak ke kiri atau ke kanan, tetapi tubuhnya sudah menjadi bagian dari mekanisme fisik yang jauh lebih besar.
Terowongan Mina pada hari itu berubah menjadi mesin penghancur yang tidak dirancang untuk menghancurkan.
Suhu musim panas memperburuk segalanya. Udara panas yang terperangkap di ruang tertutup membuat tubuh bekerja lebih keras. Orang yang kekurangan cairan lebih mudah kolaps. Kepanikan mempercepat pernapasan. Oksigen terasa semakin tipis.
Beberapa korban ditemukan dengan wajah tanpa luka berarti. Tidak ada darah yang dramatis. Tidak ada luka tusuk atau tembakan. Penyebab kematian banyak di antaranya adalah sesak napas akibat tekanan massa. Kematian yang nyaris tidak terlihat dari luar.
Pemandangan setelah tragedi lebih mengerikan daripada deskripsi statistik mana pun. Foto-foto dari masa itu memperlihatkan deretan jenazah berselimut kain. Barisan panjang yang membuat mata cepat lelah menghitungnya. Petugas penyelamat bergerak di antara tubuh-tubuh yang sudah tidak bergerak lagi. Rumah sakit penuh. Kamar jenazah kewalahan.
Korban berasal dari banyak negara. Indonesia termasuk salah satunya. Pakistan, Mesir, Turki, Bangladesh, Nigeria, dan negara-negara lain kehilangan jamaah mereka. Banyak keluarga menunggu kabar selama berhari-hari. Pada era sebelum internet dan telepon seluler jadi umum, informasi bergerak jauh lebih lambat. Sebagian orang baru mengetahui anggota keluarganya meninggal setelah penantian panjang yang melelahkan.
Peristiwa itu memukul citra pengelolaan haji Saudi secara serius. Kritik muncul dari berbagai arah. Pertanyaan diajukan mengenai desain infrastruktur, manajemen arus jamaah, kapasitas jalur pejalan kaki, sistem keamanan, hingga kesiapan menghadapi kepadatan ekstrem.
Pemerintah Saudi kemudian melakukan berbagai perubahan besar dalam dekade-dekade berikutnya. Terowongan diperbaiki. Sistem ventilasi ditingkatkan. Jalur pergerakan jamaah diatur ulang. Infrastruktur Mina dan Jamarat mengalami renovasi raksasa bernilai miliaran dolar.
Masalahnya, haji adalah fenomena yang hampir tidak memiliki padanan di dunia.
Konser terbesar, pertandingan olahraga terbesar, demonstrasi politik terbesar—semuanya tampak kecil jika dibandingkan dengan jutaan orang yang bergerak dalam ruang terbatas selama beberapa hari. Haji bukan acara yang bisa dipindahkan ke stadion lebih besar atau dijadwalkan ulang ke bulan berikutnya. Ritualnya memiliki lokasi spesifik, waktu spesifik, dan urutan spesifik. Jutaan manusia harus bergerak menuju titik yang sama.
Beberapa tahun setelah tragedi 1990, bencana kerumunan kembali terjadi dalam berbagai bentuk di kawasan haji. Tahun 1994. Tahun 1998. Tahun 2004. Tahun 2006. Tahun 2015. Angka korbannya berbeda-beda, penyebab langsungnya berbeda-beda, tetapi pola dasarnya tetap serupa: ketika kepadatan melampaui batas tertentu, fisika mengambil alih.
Saya tidak menganggap Tragedi Mina 1990 sebagai kisah tentang kegagalan agama. Saya juga tidak menganggapnya sekadar kisah kegagalan teknis. Bencana itu memperlihatkan sesuatu yang lebih aneh. Peradaban manusia mampu mengirim wahana ke planet lain, memetakan genom, membangun gedung pencakar langit, tetapi masih bisa kalah oleh persoalan mengalirkan tubuh manusia dari satu titik ke titik lain.
Kita sering menganggap kerumunan sebagai kumpulan individu. Pada kepadatan tertentu, kerumunan berhenti menjadi kumpulan individu. Ia berubah menjadi fenomena fisika.
Petugas penyelamat yang memasuki Terowongan Al-Ma'aisim, setelah desakan mereda, menemukan lapisan-lapisan tubuh yang saling menekan. Sebagian masih menggenggam tas kecil. Sebagian masih mengenakan pakaian ihram putih. Sebagian tidak membawa apa pun kecuali identitas yang kemudian digunakan untuk mengenali mereka.
Musim haji berikutnya tetap datang. Jutaan orang tetap bergerak menuju Mina.
Terowongan yang sama tetap berdiri, meskipun dengan berbagai perubahan dan perbaikan. Di bawah cahaya lampu, dinding beton tampak biasa saja. Tidak banyak yang tersisa dari pagi ketika ribuan orang masuk ke sana sebagai peziarah, dan ratusan petugas keluar dengan kantong-kantong jenazah yang terus bertambah.


