Benarkah Orang Introver Enggan Ikut Demonstrasi?

Benarkah Orang Introver Enggan Ikut Demonstrasi?
Ilustrasi/idntimes.com
Ada yang menarik dari peristiwa demonstrasi yang dilakukan masyarakat dan mahasiswa, tempo hari, saat mereka memprotes beberapa hal terkait kebijakan pemerintah. Dalam demo bertajuk “Gejayan Memanggil”, ada sebuah poster bertulisan, “NEGARA SUDAH DARURAT SAMPAI INTROVERT RELA IKUT DEMO”.

Kalimat itu, bisa jadi, menyiratkan orang-orang introver enggan ikut demonstrasi dan turun ke jalan, karena—dalam bayangan mereka, mungkin—orang-orang introver tidak suka berada di tengah kerumunan banyak orang, seperti aksi demonstrasi. Tapi benarkah orang introver enggan ikut demonstrasi turun ke jalan?

Premis bahwa introver tidak nyaman berada di tengah banyak orang mungkin benar, karena hal itu sering menjadi salah satu sifat atau penanda orang introver. Tapi tidak berarti bahwa orang-orang introver enggan atau sama sekali tidak mau berkumpul dengan banyak orang—dalam hal ini ikut demonstrasi dan turun ke jalan.

Di zaman kuliah dulu, saya puluhan kali ikut turun ke jalan, berdemonstrasi dengan banyak orang; dengan sesama mahasiswa, ormas, dan masyarakat. Saya aktif di organisasi ekstra-kampus, dan organisasi itu pula yang membentuk saya menjadi aktivis. Di organisasi tersebut, saya menjalankan banyak tanggung jawab, termasuk berbicara di hadapan banyak orang, sampai melakukan upaya-upaya advokasi untuk berbagai kalangan.

Di internal kampus, saya pernah menduduki hampir semua jabatan—dari pengurus UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), anggota DLM (Dewan Legislatif Mahasiswa), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), sampai MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa). Puncaknya, saya nyaris menjadi Presiden BEM, tapi batal—karena waktunya bertepatan saat saya memutuskan drop out dari kampus.

“Portofolio” semacam itu tentu jauh dari sosok introver yang selama ini terkesan—atau dikesankan—suka sendirian, menjauhi orang lain, dan tampak seperti orang kuper. Padahal, saya introver. Dan saya mampu melakukan banyak hal yang dilakukan orang-orang ekstrover—bahkan, dengan sedikit sombong, mengungguli mereka.

Setahu saya, orang introver memang tidak nyaman bersama banyak orang, jika—dan hanya jika—kebersamaan itu tidak memiliki arah atau tujuan jelas. Energi mereka akan cepat habis, ketika berada di tengah banyak orang yang ngalor-ngidul tanpa tujuan jelas. Karena itulah, mereka lebih suka menyendiri.

Sebaliknya, mereka nyaman-nyaman saja bersama banyak orang, jika kebersamaan dengan banyak orang itu memiliki tujuan jelas. Dalam contoh gamblang; aksi demonstrasi turun ke jalan. Orang-orang introver tidak menolak diajak aksi semacam itu, karena ada tujuan jelas yang akan/ingin dicapai!

Tujuan—itu kunci paling penting dalam diri orang introver! Sifat terbesar orang introver adalah peragu. Asal kita memberinya tujuan yang jelas—dan mereka mampu melihat/membayangkannya—mereka akan mengesampingkan keraguan, dan akan bergerak bersama.

Kalau kita mengajak orang introver, “Ketemuan, yuk,” mereka tidak akan tertarik. Ingat, energi mereka akan cepat habis jika bersama orang lain tanpa kegiatan/tujuan jelas.

Tapi kalau kita mengajak orang introver, “Ketemuan, yuk. Nanti kita akan melakukan ini,” mereka akan tergerak, karena ada tujuan jelas, sehingga mereka tidak ragu-ragu. Dengan catatan, “ini” yang ditawarkan memang membuat mereka tertarik.

Kalau ingin menggerakkan orang introver, beri mereka tujuan!

Karenanya, dalam keseharian, orang-orang introver memang menjauhi atau kurang suka kumpul-kumpul dengan banyak orang secara sembarangan, yang hanya berisi basa-basi tidak jelas. Karena kumpul-kumpul semacam itu memang biasanya tidak memiliki tujuan yang terarah, dan—di sisi lain—energi orang introver akan habis sia-sia.

Tapi bukan berarti orang introver sama sekali tidak mau mengobrol ngalor ngidul tidak jelas. Bagaimana pun, mereka tetap manusia yang membutuhkan interaksi sosial. Biasanya, orang-orang introver memiliki teman-teman dekat—yang jumlahnya tidak banyak—dan dengan teman-teman dekat itulah mereka menghabiskan waktu untuk ngobrol ngalor ngidul.

Di tempat saya tinggal, kadang ada tetangga yang mengundang orang-orang untuk ikut tahlilan, tasyakuran, atau semacamnya. Mendapat undangan semacam itu, tentu saya akan datang, dan berkumpul dengan orang-orang lain.

Saat ada tetangga yang punya hajat, misal menikahkan anak, saya juga ikut datang dan berkumpul bersama tetangga. Di lain hari, saat ada kerja bakti, saya pun ikut gabung dengan masyarakat, dari mencabuti rumput-rumput liar sampai membersihkan selokan.

Semua kegiatan itu jelas “berkumpul dengan banyak orang”—tapi juga jelas punya tujuan. Kami memang saling berkomunikasi dan berinteraksi, bahkan saling guyon seperti umumnya manusia, tapi ada tujuan yang terarah dalam semua kegiatan itu.

Dan di luar kegiatan-kegiatan semacam itu, saya memilih sendirian, mengerjakan hal-hal yang ingin saya kerjakan.

Bagi seorang introver seperti saya, sendirian jauh lebih menyenangkan, daripada berkumpul dengan banyak orang tapi tanpa tujuan.

Anyway, saya paham bahwa poster dalam demonstrasi tempo hari hanya untuk lucu-lucuan, sama seperti beberapa poster lain yang juga ikut muncul dalam acara itu. Saya pun menulis catatan ini bukan untuk “mengoreksi” tulisan dalam poster itu, melainkan untuk “menjelaskan” hal-hal yang mungkin terlewat dari pikiran sebagian orang.

Related

Psikologi 1048325949199840328

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item