Maudy Ayunda dan Persoalan Mindfulness di Tengah Bad News

Ilustrasi/harianterbit.com
Telepon bisa diletakkan. Berita bisa ditutup. Video bisa dihentikan sebelum selesai. Tetapi kalau rumah kebanjiran, harga beras naik, seseorang kehilangan pekerjaan, anak sakit karena lingkungan yang buruk, atau keluarga sedang mencari orang yang hilang, tombol “mute” tidak banyak gunanya.

Mungkin karena itu video Maudy Ayunda tentang mindfulness di tengah bad news membuat sebagian orang marah.

Video berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” sebenarnya sudah diunggah pada 21 Agustus 2026, lalu baru beberapa minggu kemudian jadi bahan perdebatan besar di media sosial. Maudy bercerita tentang perasaannya menghadapi arus berita negatif dari Indonesia dan dunia. Ia mengaku berita-berita tersebut dapat membuatnya marah, menangis, dan merasa kewalahan. Salah satu gagasannya adalah mengatur bagaimana dan kapan seseorang menerima berita, memilih sumber yang dipercaya, membaca dari beberapa perspektif, serta menyediakan waktu tertentu untuk mengikuti perkembangan berita.

Secara psikologis, gagasan dasarnya sama sekali tidak aneh.

Mindfulness dalam psikologi tidak berarti berpura-pura dunia sedang baik-baik saja. American Psychological Association mendefinisikannya sebagai kesadaran terhadap keadaan internal dan lingkungan, dengan kemampuan mengamati pikiran, emosi, dan pengalaman saat ini tanpa langsung bereaksi terhadap semuanya. Dalam praktiknya, perhatian dan penerimaan menjadi dua unsur penting: menyadari apa yang sedang terjadi, tapi tidak otomatis terseret oleh setiap pikiran atau emosi yang muncul.

Jadi ketika seseorang membaca berita tentang bencana kemudian merasa marah, mindfulness tidak mengharuskannya berkata, “Jangan marah.” Ia belajar mengenali, “Saya sedang marah.” Dua kalimat itu kelihatannya mirip, tetapi secara mental sangat berbeda. Kalimat pertama memerangi emosi. Kalimat kedua mengakui emosi tanpa menyerahkan seluruh kendali kepadanya.

Masalahnya, orang yang sedang membaca berita dari tempat yang aman memang bisa melakukan itu dengan lebih mudah.

Orang yang rumahnya terendam banjir setinggi dada tidak sedang menghadapi bad news. Ia sedang menghadapi air setinggi dada.

Perbedaan kecil dalam kata-kata itu menjelaskan sebagian besar kemarahan terhadap Maudy. Ketika seseorang mengatakan, “Saya terlalu banyak membaca berita tentang banjir,” ia masih mempunyai pilihan untuk menutup aplikasi. Orang yang rumahnya kebanjiran tidak mempunyai pilihan yang sama. 

Ketika seseorang berkata, “Saya perlu mengambil jarak dari berita tentang PHK,” kalimat itu terdengar berbeda bagi orang yang baru kehilangan pekerjaan. 

Ketika seseorang menyebut kebakaran hutan sebagai berita yang membuat pikirannya penuh, orang yang menghirup asapnya mungkin mendengar sesuatu yang sama sekali lain.

Berita adalah informasi tentang kenyataan. Kenyataan tidak selalu bisa dimatikan.

Kritik warganet kemudian bergerak ke persoalan privilese: siapa yang mempunyai cukup jarak untuk mengatur seberapa banyak realitas masuk ke kepalanya? Kritik itu tidak muncul dari ruang kosong. Dalam klarifikasi yang disampaikan melalui komentar pada videonya, Maudy sendiri mengakui bahwa ia belum cukup membicarakan perspektif orang-orang yang tidak mempunyai pilihan untuk menjauh karena persoalan yang diberitakan berdampak langsung pada hidup mereka. Ia meminta maaf dan mengatakan perspektif tersebut merupakan sesuatu yang terlewat dari pembahasannya.

Menurut saya, itu memang kekurangan penting dalam video tersebut.

Tetapi setelah sampai di sana, perdebatan internet sering melakukan lompatan yang terlalu jauh. Karena konteksnya kurang, seluruh gagasan tentang menjaga kesehatan mental seolah ikut dibuang ke tempat sampah. Seolah-olah ketika seseorang mengatakan, “Jangan biarkan berita buruk menguasai seluruh pikiranmu,” ia sedang berkata, “Jangan pedulikan orang yang menderita.”

Padahal dua hal tersebut tidak sama.

Saya bisa membaca berita tentang korban bencana sampai mata terasa panas dan kepala penuh. Saya bisa marah kepada keadaan. Saya bisa ikut menyumbang. Saya mungkin bisa membantu. Saya bisa ikut mengawasi pemerintah. Saya bisa berdiskusi panjang tentang penyebab masalah. Setelah itu saya tetap membutuhkan tidur.

Otak manusia tidak dirancang untuk menerima aliran penderitaan tanpa batas. Layar ponsel membuat semua bencana terasa hadir bersamaan: kecelakaan di satu kota, perang di negara lain, video orang menangis, harga kebutuhan yang naik, kabar korupsi, kebakaran, komentar marah, komentar yang lebih marah, video klarifikasi, potongan video klarifikasi, lalu orang lain membuat video tentang video tadi. Jempol terus menggulir. Dada ikut tegang. Mata pedih. Kita duduk di kursi yang sama selama satu jam sambil merasa seolah-olah sedang berada di dua puluh tempat yang berbeda.

Mindfulness berguna justru karena manusia perlu kemampuan untuk berhenti bereaksi secara otomatis terhadap semuanya. Literatur psikologi tentang mindfulness memang membedakannya dari sekadar meditasi atau usaha menjadi tenang; inti konsepnya adalah perhatian terhadap pengalaman saat ini dengan sikap menerima dan tidak menghakimi.

Persoalan yang jauh lebih besar justru muncul setelah ponsel dimatikan.

Mengapa berita buruk terus datang?

Pertanyaan itu jauh lebih tidak nyaman daripada pertanyaan tentang cara mengatur screen time.

Kalau setiap beberapa bulan kita harus diajari cara tetap waras menghadapi banjir, kebakaran, harga naik, PHK, kerusakan lingkungan, kekerasan, ketidakadilan, dan berbagai kegagalan institusi, mungkin persoalannya tidak seluruhnya berada di kepala orang yang membaca berita. Kesehatan mental individu memang penting. Kemampuan mengatur perhatian juga penting. Tetapi masyarakat tidak bisa menyelesaikan semua masalah dengan menyuruh orang bernapas lebih pelan.

Bayangkan seorang pekerja yang kehilangan pekerjaan membaca buku tentang “resilience”. Ia bisa belajar menerima kecemasannya. Ia bisa mengatur napas. Ia bisa mengurangi konsumsi berita. Semua itu mungkin membantunya bertahan. Besok pagi ia tetap harus mencari pekerjaan.

Di sini, saya justru khawatir dengan cara kita sering menggunakan bahasa kesehatan mental. Istilah-istilah seperti self-care, healing, mindfulness, dan boundaries, sangat berguna ketika dipakai untuk menjaga manusia dari kelelahan yang menghancurkan. Tetapi istilah yang sama bisa menjadi terlalu nyaman kalau dipakai untuk memindahkan seluruh persoalan sosial ke dalam kepala individu. Dunia membuat seseorang lelah, kemudian orang itu diajari cara mengelola rasa lelahnya, sementara penyebab kelelahan dibiarkan berjalan.

Maudy tidak mengatakan semua itu. Kita tidak perlu memasukkan kalimat yang tidak ia ucapkan ke dalam mulutnya. Video tersebut sedang berbicara tentang hubungan seseorang dengan arus informasi, bukan menawarkan teori lengkap tentang mengapa berbagai persoalan sosial terjadi. Kritik yang tepat justru harus berhenti pada kekurangan yang benar-benar ada: pembahasannya kurang memberi ruang kepada orang yang tidak bisa mengambil jarak, karena berita tersebut adalah kehidupannya sendiri. Maudy kemudian mengakui kekurangan itu.

Saya kira permintaan maafnya masuk akal. Gagasan mindfulness-nya juga tetap masuk akal. Dua hal itu bisa hidup bersamaan tanpa harus memilih salah satunya.

Kita membutuhkan orang yang bisa berkata, “Saya tidak sanggup membaca berita lagi malam ini.” Itu bukan tanda tidak peduli. Seorang dokter yang sepanjang hari menangani pasien tidak menjadi lebih peduli hanya karena ia memaksa dirinya memikirkan semua pasien ketika sudah pulang. Orang yang bekerja membantu korban bencana juga membutuhkan waktu mandi, makan, tidur, bercanda, bahkan menonton film bodoh tanpa harus merasa bersalah. Tubuh mempunyai batas. Perhatian juga mempunyai batas.

Kita juga membutuhkan orang yang tidak mau membiarkan berita buruk berubah menjadi sekadar suara latar.

Kalau sungai terus meluap, kita tidak hanya membutuhkan orang yang mampu mengelola kecemasan setiap kali hujan turun. Kalau harga kebutuhan terus membebani keluarga, kita tidak hanya membutuhkan teknik bernapas agar orang merasa lebih tenang ketika membuka dompet. Kalau sebuah kebijakan menghasilkan kerugian bagi masyarakat, kesehatan mental orang yang terdampak tidak menggantikan kebutuhan untuk memperbaiki kebijakan tersebut.

Jeda tetap diperlukan.

Kepedulian tetap diperlukan.

Satu orang boleh menutup aplikasi berita pukul sepuluh malam karena kepalanya sudah penuh. Orang lain mungkin pukul sepuluh malam masih berada di lantai rumah yang basah, mengangkat kasur ke tempat yang lebih tinggi.

Keduanya sedang menghadapi dunia yang sama. Hanya saja, bagi yang satu, itu bad news. Bagi yang lain, banjir sudah masuk ke kamar tidur.


Related

Indonesia 5501181507153638444

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item