Simon Trakinski Menghitung Kereta Perang yang Lewat

Ilustrasi milik BSM
Simon Trakinski belajar menghitung gerakan tentara Jerman ketika usianya belum dua puluh tahun. Ia tidak sedang mengikuti kursus intelijen. Tidak ada meja dengan peta besar, lampu kuning, telepon lapangan, atau perwira yang memberinya pensil untuk menandai garis depan. 

Ia tumbuh di Vilna, kemudian melarikan diri bersama keluarganya ke Smorgon ketika perang pecah pada 1939. Setelah Jerman menyerbu Uni Soviet pada 1941, orang-orang Yahudi Smorgon dipaksa masuk ghetto. Di usia ketika seorang anak biasanya masih memikirkan sekolah, Simon sudah memperhatikan siapa yang datang, siapa yang pergi, ke mana tentara bergerak, dan bagaimana seseorang bisa tetap hidup ketika seluruh lingkungan di sekelilingnya sedang dihapus.

Cerita hidupnya tidak memiliki garis lurus. Keluarganya sempat kembali ke Vilna. Simon dan teman-temannya membawa senjata. Di kota tersebut ia bergabung dengan United Partisan Organization, kelompok perlawanan Yahudi yang berhubungan dengan Abba Kovner. 

Ketika Ghetto Vilna dikunci pada 1943 dan pemberontakan gagal, Simon berhasil melarikan diri bersama kelompoknya. Keluarga mereka tertinggal. Detail itu sering lewat begitu saja dalam biografi pendek: “melarikan diri dari ghetto.” Kalimatnya terlalu ringan. Yang sebenarnya terjadi adalah seorang anak muda keluar hidup-hidup sementara orang-orang yang membentuk dunianya masih berada di belakangnya.

Setelah keluar, Simon bergabung dengan brigade Yahudi yang dipimpin Fyodor Markov. Kelompok tersebut beroperasi di hutan sekitar Vilna dan berhadapan bukan hanya dengan Jerman, tetapi juga dengan persoalan lama gerakan partisan: siapa yang berkuasa atas wilayah, siapa yang boleh membawa senjata, kelompok mana yang mau bekerja sama, dan kelompok mana yang menganggap kelompok lain sebagai musuh. Partisan Yahudi menghadapi ancaman tambahan karena sebagian kelompok nasionalis Polandia juga memburu orang Yahudi yang melarikan diri dari ghetto. Hutan tidak otomatis menjadi tempat aman.

Kemudian kamp Markov diblokade Jerman.

Simon harus keluar lagi.

Ia bertemu unit partisan Soviet yang sedang membutuhkan orang lokal yang mengenal wilayah tersebut. Ia diterima. Perubahan itu penting karena sejak saat itu Simon tidak hanya menjadi pejuang Yahudi yang mencoba bertahan bersama orang-orang dari komunitasnya sendiri. Ia bekerja bersama unit yang dibentuk oleh tentara Soviet reguler, menerima perintah melalui jaringan Soviet, dan menjalankan pekerjaan yang lebih dekat dengan intelijen militer: mengamati pergerakan pasukan, melacak suplai, memilih sasaran, menanam ranjau, dan menghancurkan jembatan.

Pekerjaan seorang mata-mata sering terdengar lebih glamor daripada kenyataannya. Simon harus mengetahui apa yang sedang bergerak sebelum orang lain tahu bahwa ia sedang mengamatinya. Kereta barang lewat. Truk lewat. Pasukan berpindah. Persediaan dikirim. Sebuah jalan digunakan lebih sering dari biasanya. Informasi kecil semacam itu dikumpulkan dan dibawa kembali kepada kelompok yang dapat menggunakannya.

Ia tidak perlu mengetahui seluruh rencana perang Jerman. Ia hanya perlu tahu cukup banyak untuk memahami sebuah jalan jadi berbahaya bagi orang yang melewatinya.

Kelompok Simon sangat aktif di sepanjang jalur Berlin–Moskow, salah satu jalur suplai penting yang digunakan Jerman untuk menggerakkan personel dan material. Mereka mengumpulkan informasi mengenai pergerakan pasukan dan suplai, memasang ranjau di jalan, serta meledakkan jembatan. Dalam salah satu operasi, unit Simon bersama ribuan partisan menyerang jalur kereta dan menghancurkan bagian rel dalam jumlah besar. Pasukan Jerman yang menjaga jalur tersebut begitu kewalahan sehingga meninggalkan bunker mereka dan lari ke hutan.

Saya suka detail bunker itu, karena ia menghilangkan sedikit romantisme dari kata “sabotase”. Sebuah bunker dibuat agar seseorang merasa aman. Dinding, atap, senjata, penjagaan. Kemudian ribuan partisan datang, ledakan merambat sepanjang jalur, dan orang-orang yang seharusnya menjaga rel memilih keluar dari tempat perlindungan mereka.

Rel kereta adalah salah satu benda paling penting dalam perang modern. Ia tidak punya senjata sendiri. Ia hanya menghubungkan tempat-tempat. Pabrik dengan gudang. Gudang dengan stasiun. Stasiun dengan garis depan. Tentara dengan peluru. Tank dengan bahan bakar. Ketika sebuah bagian rel dihancurkan, efeknya tidak berhenti pada baja yang bengkok. Kereta terlambat. Muatan tertahan. Jadwal berubah. Orang harus menunggu beberapa jam lebih lama untuk menerima sesuatu yang dibutuhkan di garis depan.

Itulah pekerjaan yang dilakukan Simon. 

Bekerja dengan informasi berarti hidup dalam keadaan tidak lengkap. Simon tidak mungkin melihat seluruh jaringan suplai Jerman. Ia melihat potongan-potongannya. Sebuah kendaraan. Sebuah kereta. Gerakan tentara di jalan tertentu. Perubahan penjagaan. Berita dari penduduk lokal. Potongan informasi kemudian dibawa ke unit partisan. Keputusan dibuat berdasarkan sesuatu yang sebenarnya selalu kurang.

Di sini, kata “mata-mata” jadi lebih menarik. Mata-mata tidak selalu tahu lebih banyak daripada orang lain. Ia sering hanya tahu sedikit lebih awal.

Sedikit lebih awal bisa cukup untuk memasang ranjau. Bisa cukup untuk menunggu kereta. Bisa cukup untuk menaruh bahan peledak di jembatan.

Jembatan yang dihancurkan Simon juga memiliki kualitas yang agak brutal karena bentuknya sederhana. Sebuah struktur yang dibangun manusia untuk membuat perjalanan lebih mudah tiba-tiba jadi sasaran perang. Kayu, baja, batu, sungai di bawahnya. Ledakan mengubah hubungan antara dua tepi sungai. Setelah itu tentara harus berhenti dan mencari jalan lain.

Simon melakukan pekerjaan tersebut ketika perang belum memiliki kepastian bagi dirinya. Ia belum tahu kapan perang akan berakhir. Ia belum tahu apakah keluarganya selamat. Ia bahkan belum tahu seperti apa kehidupan setelah perang. Ia hanya tahu sesuatu yang lebih pendek: jalan ini digunakan, pasukan lewat, suplai bergerak, dan jalur itu harus diganggu. 

Jewish Partisan Educational Foundation (JPEF) menyimpan beberapa foto dan wawancara Simon dari masa tuanya. Salah satu keterangan arsipnya berbunyi “Working on reconnaissance”; lainnya “Mining railroad tracks” dan “Partisan tactics.” Foto-foto tersebut memberi sedikit bentuk pada nama yang biasanya hanya muncul sebagai satu paragraf dalam sejarah Holocaust.

Ada ironi kasar dalam hidupnya setelah perang. Simon tidak terus menjadi pejuang. Ia meninggalkan partisan, dan bekerja untuk pemerintah Soviet sebagai guru di sebuah desa terpencil di Rusia. Kemudian Tirai Besi mulai turun. Ia kembali ke Polandia, menyelundupkan diri ke Barat, dan menghabiskan tiga tahun di Austria, lalu berusaha mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat. Pada 1948 ia akhirnya diizinkan masuk.

Perubahan dari sabotir menjadi guru terasa hampir terlalu besar. Pagi hari seorang pria bisa menghitung kereta Jerman; beberapa tahun kemudian ia berdiri di depan anak-anak membawa pelajaran. Tangannya pernah memasang ranjau. Tangan yang sama kemudian memegang kapur tulis.

Simon menetap di New York dan menjalani kehidupan yang, dari luar, jauh lebih biasa. Ia menikah dengan Ruth, memiliki anak, bekerja sebagai pengusaha, dan hidup sampai 83 tahun. Ia meninggal pada 2 Januari 2009 di rumahnya di New York. Obituari New York Times menyebutnya sebagai veteran partisan Yahudi Perang Dunia II sekaligus pengusaha yang telah lama menjalani kehidupan sipil.

Bagian terakhir itu sering membuat kisah perang terasa janggal. Kita menyukai manusia dalam bentuk yang sederhana: pejuang tetap pejuang, korban tetap korban, pahlawan tetap pahlawan. Simon tidak mau tinggal dalam kategori tersebut. Ia seorang anak Vilna. Pengungsi. Tahanan ghetto. Pemberontak yang gagal. Pelarian. Anggota brigade Markov. Mata-mata. Sabotir. Guru di Soviet. Pengungsi pascaperang. Imigran. Pengusaha. Ayah.

Semuanya orang yang sama.

Dalam sebuah wawancara yang disimpan Jewish Partisan Educational Foundation, Simon pernah menjelaskan perlawanan Yahudi dengan membandingkannya dengan cara orang Amerika mempelajari Revolusi Amerika. Bagi orang Amerika, leluhur mereka menghadapi senapan Inggris untuk membangun sebuah negara. Bagi dirinya, generasinya menghadapi senapan Jerman untuk melawan pemusnahan dan, kalau bisa, mencegah kematian orang lain.

Simon berusia sekitar delapan belas tahun ketika ia keluar dari Ghetto Vilna dan masuk ke hutan. Ia kemudian menghabiskan bagian perang dengan memperhatikan sesuatu yang sangat konkret: siapa yang bergerak, dari mana suplai datang, rel mana yang dipakai, jalan mana yang bisa dipasangi ranjau, jembatan mana yang bisa diruntuhkan.

Mungkin pada suatu malam ia berdiri dekat rel dan menunggu suara kereta. Mula-mula mungkin hanya terdengar roda. Kemudian getaran kecil di tanah.

Simon menghitung.


Related

Sejarah 1064673362565197799

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item