Catatan Perjalanan Seorang Tentara di Akhir Perang Dunia II

Ilustrasi milik BSM
Kereta pasukan sedang membawa Irving Oblas ke California ketika perang mendadak kehilangan tujuan.

Ia sudah menempuh perjalanan melintasi Amerika Serikat dan punya alasan untuk menganggap perjalanan itu baru permulaan. California bukan rumah. California adalah pintu menuju Pasifik, menuju Jepang, menuju sesuatu yang selama bertahun-tahun dibicarakan melalui peta, berita radio, daftar korban, dan nama-nama pulau yang semakin banyak. Oblas adalah Yeoman First Class Angkatan Laut Amerika Serikat, anggota 19th Fleet, dan sejak 1943 menjalani dinas yang seluruhnya berlangsung di dalam negeri. Pada Agustus 1945, ia akhirnya bergerak ke barat untuk dikirim ke Jepang.

Ia membawa kebiasaan yang kelihatannya sepele: menulis kepada istrinya, Lilyan.

Kebiasaan itu menghasilkan sesuatu yang sekarang jauh lebih berharga daripada yang mungkin pernah ia bayangkan. Setiap kali kereta berhenti, Oblas mengirim kartu pos. Bukan satu kartu untuk seluruh perjalanan, bukan surat panjang setelah tiba di tujuan, tetapi kartu dari pemberhentian demi pemberhentian. Library of Congress mencatat secara khusus bahwa dalam perjalanan menuju California tersebut ia mengirim kartu pos kepada Lilyan dari setiap tempat kereta pasukannya berhenti.

Kartu tanggal 9 Agustus 1945 datang dari Salt Lake City. Di depannya tercetak gambar Queen Victoria di Bryce National Park, Utah. Oblas menulis bahwa kereta hanya berhenti selama dua puluh menit dan tidak ada banyak hal yang bisa dilihat—bahkan Coke pun tidak tersedia. Ia masih menunggu melihat warna-warna pegunungan yang hidup seperti pada kartu pos. Pegunungannya sendiri, menurut dia, “grand”.

Detail semacam itu membuat perjalanan tersebut terasa aneh.

Ia seorang pelaut yang sedang dikirim menuju perang terbesar yang pernah dijalani Amerika, tetapi pada sebuah pemberhentian singkat ia mengeluh tidak menemukan Coca-Cola.

Saya kira justru di situlah manusia biasanya berada ketika sejarah sedang bergerak sangat cepat. Ia tidak setiap saat memikirkan sejarah. Ia ingin minum sesuatu. Ia melihat gunung. Ia menghitung berapa menit kereta berhenti. Ia menulis kepada istrinya.

Besoknya kartu pos berikutnya memperlihatkan Golden Gate Bridge. San Francisco sudah dekat. Di belakang kartu itu Oblas menulis bahwa ia merindukan Lilyan dan Rema, dan sedang menunggu kabar dari mereka. Ia juga menambahkan bahwa berita perang yang menggemparkan tentu membuat Lilyan senang.

Berita tersebut adalah kabar tentang Jepang yang sedang menuju penyerahan.

Kecepatan perjalanan Oblas membuat situasinya terasa hampir absurd. Selama bertahun-tahun perang telah memindahkan jutaan manusia secara paksa menuju berbagai tempat. Kini, ketika Oblas sendiri akhirnya bergerak ke arah Pasifik, perang justru sedang mengerem.

Ia tiba di kawasan San Francisco pada saat dunia sedang menunggu berakhirnya perang. Pada 14 Agustus, ketika penyerahan Jepang diumumkan secara resmi melalui radio, Oblas masih berada di California. Ia kemudian mencatat hari tersebut dalam suratnya kepada Lilyan. Pukul 5:45 sore ia sebenarnya memiliki janji dengan dokter gigi. Ia berjalan sekitar lima belas menit menuju klinik dan mendapati dokter-dokter gigi sudah dibebaskan untuk merayakan kabar baik. Para perwira mendapat libur. Para prajurit tamtama? Tidak. Oblas mencatatnya dengan nada jengkel.

Detail itu nyaris lucu.

Perang dunia berakhir, tetapi seorang Yeoman First Class masih harus berurusan dengan jadwal dokter gigi.

Sesudah itu ia pergi ke San Francisco. Perjalanannya membutuhkan sekitar dua jam: bus menuju Oakland, kemudian kereta melintasi teluk menuju kota. Ia menggambarkan kereta tersebut dengan cukup teliti—bukan kereta dalam pengertian yang biasa, tetapi beberapa gerbong trem yang dirangkai menjadi satu. Kota sedang penuh orang. Restoran-restoran yang buka memiliki antrean di luar.

Kota yang seharusnya menyambut kemenangan ternyata juga tampak kacau.

Oblas mencatat perilaku para pelaut yang mabuk di jalan, melempar botol, berkelahi, mengenakan topi perwira atau topi perempuan, menyalakan petasan, memanjat patung, dan mengganggu perempuan yang lewat. Ia melihat polisi dan Shore Patrol hampir tidak mampu mengendalikan semuanya. Sejumlah pelaut bahkan mencoba membalik sebuah mobil. Beberapa hari kemudian kebebasan keluar pangkalan dibatalkan.

Kesaksian seperti itu mengganggu gambaran populer tentang V-J Day. Foto-foto perayaan memang menunjukkan kegembiraan, dan kegembiraan tersebut nyata. Tetapi kegembiraan manusia tidak selalu berwujud bagus di dalam foto. Kadang ia berupa mabuk, teriakan, keributan, orang yang bertingkah bodoh, dan petugas yang sudah kelelahan mengurus semuanya.

Oblas sendiri tidak ikut terseret terlalu jauh ke dalam kegembiraan semacam itu. Surat-suratnya menunjukkan seorang lelaki yang lebih sibuk mengamati hidup di sekitarnya, dan memikirkan Lilyan daripada menikmati kemenangan secara romantis.

Perjalanan yang seharusnya membawa dia ke Jepang berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

Ia tetap berada di Shoemaker, California. Ia menulis tentang kehidupan pangkalan, antrean gaji, pekerjaan kantor, kebebasan keluar pangkalan, bus, kota San Francisco, orang-orang yang baru dikenalnya, dan teman-teman yang satu demi satu mendapat penempatan baru. Dalam surat 16 Agustus, ia mengeluh tentang “lines, lines, lines”: pada hari gajian terdapat dua antrean yang masing-masing membentang lebih dari lima blok. Setelah menunggu sekitar satu jam, ia menyerah dan merobek slip gajinya.

Perang sudah selesai, tetapi administrasi Angkatan Laut belum selesai. Itu bagian yang menurut saya paling tajam dari kisah Oblas. Perang besar tidak berhenti serempak. Presiden mengumumkan penyerahan. Radio menyiarkan berita. Orang turun ke jalan. Jepang menyerah. Kemudian mesin militer tetap bekerja: daftar nama, antrean, skor demobilisasi, penempatan, surat perintah, kapal yang harus dinonaktifkan, pangkalan yang harus dibereskan.

Oblas bahkan menjadi semacam pengamat tidak resmi proses demobilisasi. Pada akhir Oktober ia menulis dari baraknya bahwa orang-orang di sekelilingnya terus membicarakan sistem poin, draft keluar-masuk, pendaftaran ulang, dan siapa yang akan pulang lebih dulu. Ia menyebut dirinya, dengan sedikit humor, “demobilization yeoman”.

Kedengarannya sangat Amerika: perang dunia selesai, tetapi semua orang masih berdebat soal angka.

Koleksi Oblas jadi sangat besar karena ia terus menulis. Bukan hanya selama perjalanan menuju California. Surat-suratnya membentang dari 1943 sampai 1946 dan menggambarkan kehidupan militer sehari-hari dalam jumlah yang tidak biasa. Library of Congress menyimpan 492 item korespondensi dari koleksinya. Ia menulis kepada Lilyan ketika sedang berada di pangkalan, ketika mendapat libur, ketika menghadapi pekerjaan kantor, ketika pindah barak, ketika melihat kota baru, bahkan ketika sekadar menunggu.

Kebiasaan itu juga memperlihatkan betapa kecilnya dunia pribadi di tengah mobilisasi raksasa.

Lilyan muncul terus-menerus dalam suratnya. Rema, anak mereka, ikut masuk ke dalam cerita. Pada Oktober ia menulis bahwa ketika kembali ke San Francisco setelah tiga minggu tidak berada di sana, ia memikirkan Lilyan yang sedang sibuk berkemas dan pindah rumah. Ia merasa tidak berdaya karena berada jauh dari rumah ketika istrinya harus mengurus semuanya. 

Pada titik tertentu, perang bahkan berubah menjadi soal apartemen.

Oblas membicarakan kemungkinan Lilyan datang ke California, tetapi ia juga memikirkan buruknya kondisi perumahan dan ketidakpastian berapa lama ia masih berada di Angkatan Laut. Beberapa minggu kemudian ia bekerja di pabrik kertas dan pabrik pengalengan sebagai bagian dari pekerjaan pascaperang. Ia pernah mengeluh tangannya lecet akibat pekerjaan tersebut. Pada Oktober ia menulis tentang hujan pertama yang dilihatnya selama 59 hari di California. Ia terlalu lelah untuk pergi keluar.

Jadi begitulah perang berakhir bagi seseorang yang tidak pernah sampai ke medan perang.

Tidak ada pendaratan di Okinawa. Tidak ada kapal Jepang di hadapannya. Tidak ada tembakan yang menghantam geladak. Tidak ada kampanye di pulau Pasifik. Yang ada adalah kereta, kartu pos, Golden Gate Bridge, Bryce Canyon, antrean gaji, bus yang penuh, barak, pekerjaan kantor, tangan lecet, hujan California, dan seorang istri di New York yang terus menerima surat.

Oblas memang akhirnya meninggalkan California, tetapi bukan menuju Jepang. Pada akhir Oktober ia menerima perintah menuju Bremerton, Washington, untuk bertugas pada Bremerton Group, Reserve Fleet. Ia akan terus melakukan perjalanan, katanya, dan melihat lebih banyak bagian Amerika Serikat.

Pada 2 November 1945, sebuah kartu pos lain datang dari perjalanan kereta. Kali ini ia sedang menuju Bremerton. Ia baru turun dari kereta untuk pemberhentian lima jam dan sempat mendapatkan makanan enak di kantin. Besok pagi ia diperkirakan tiba.

Jepang sudah menyerah.

Oblas masih berada di kereta.

Kartu posnya tetap berjalan ke arah timur, sementara perang yang tadinya hendak membawanya ke seberang Pasifik sudah tidak punya tempat untuknya.


Related

Sejarah 699716040021846010

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link hidup ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item