Bank Terbesar Paraguay Kolaps, Rakyat Menuntut Uang Mereka
https://www.belajarsampaimati.com/2026/11/bank-terbesar-paraguay-kolaps-rakyat.html
![]() |
| Ilustrasi/wvnews.com |
Selama beberapa tahun, Ueno Bank tumbuh begitu cepat sampai-sampai namanya melekat pada kehidupan sehari-hari masyarakat Paraguay. Logo bank itu terpampang di stadion nasional, menjadi sponsor tim sepak bola, dan muncul di puluhan kantor cabang. Aplikasi ponselnya menawarkan pembukaan rekening dengan mudah, promosi belanja, dan berbagai fasilitas yang membuat bank tradisional tampak lamban. Sekitar tiga juta orang jadi nasabahnya. Di negara berpenduduk sekitar 6,5 juta jiwa, angka itu berarti lebih dari 60 persen penduduk dewasa.
Kemudian, dalam hitungan hari, aplikasi tersebut berhenti berfungsi.
Kartu tidak bisa digunakan. Transfer terhenti. Nasabah yang mencoba masuk ke rekening mereka mendapati uangnya tidak bisa disentuh. Sebagian mendatangi kantor cabang Ueno di Asunción, ibu kota Paraguay, berharap memperoleh penjelasan langsung.
Pintu-pintu bank tertutup. Orang-orang yang selama ini menyimpan gaji, tabungan keluarga, dan uang pensiun di sana, mendadak berhadapan dengan ketidakpastian yang bahkan tidak bisa mereka selesaikan melalui layanan pelanggan.
Krisis Ueno Bank meledak pada awal November 2026. Bank Sentral Paraguay mengambil alih pengelolaan lembaga keuangan tersebut setelah pemeriksaan menemukan bahwa kondisi permodalannya jatuh jauh di bawah batas minimum yang diwajibkan. Setelah pembukuan dikoreksi, modal Ueno ternyata kurang dari separuh ketentuan minimum yang harus dipenuhi sebuah bank.
Penyelidikan menemukan persoalan yang lebih mengkhawatirkan. Ueno diduga memberikan pinjaman dalam jumlah besar kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemegang saham pengendalinya, Grupo Vázquez. Sebagian pinjaman tidak didukung dokumentasi memadai, sementara sejumlah pengeluaran bank dicatat sebagai aset secara tidak semestinya. Praktik semacam itu membuat kondisi keuangan perusahaan tampak lebih sehat daripada keadaan sebenarnya.
Persoalannya kemudian melebar. Siapa yang mengawasi bank sebesar itu? Bagaimana sebuah lembaga keuangan yang melayani jutaan orang bisa mengalami kerusakan permodalan sedemikian parah tanpa tindakan pencegahan yang efektif?
Nama Santiago Peña segera muncul.
Peña adalah presiden Paraguay yang terpilih pada 2023. Sebelum memasuki dunia politik, ia dikenal sebagai ekonom dan pernah bekerja di Dana Moneter Internasional. Hubungannya dengan kelompok usaha pemilik Ueno menjadi sumber kecurigaan publik. Peña pernah memiliki saham di Grupo Vázquez dan mengakui bahwa kepemilikan tersebut baru dilepaskannya pada Maret 2025. Ia membantah pernah menjadi pemegang saham langsung Ueno Bank.
Perbedaan itu penting secara hukum. Memiliki saham dalam kelompok usaha yang berkaitan dengan sebuah bank tidak otomatis berarti memiliki saham langsung di bank tersebut. Namun, persoalan politiknya jauh lebih rumit.
Peña juga menunjuk Carlos Carvallo sebagai kepala Bank Sentral Paraguay. Sebelum menduduki jabatan pengawas tertinggi sektor perbankan itu, Carvallo pernah memimpin Financiera Ueno, lembaga keuangan yang menjadi pendahulu Ueno Bank. Ketika bank tersebut akhirnya diambil alih pemerintah, Carvallo mengundurkan diri.
Bayangkan susunan hubungan itu: sebuah bank dimiliki kelompok usaha yang pernah menjadi tempat investasi presiden, sementara lembaga yang bertugas mengawasi bank dipimpin mantan pimpinan perusahaan pendahulunya. Masing-masing hubungan mungkin mempunyai penjelasan administratif dan legal. Namun, ketika bank tersebut ambruk, penjelasan administratif tidak lagi cukup untuk meredakan kecurigaan.
Ueno juga bukan bank kecil yang hanya melayani nasabah perkotaan. Perusahaan itu mengelola sekitar 800–850 juta dolar dana publik, termasuk uang milik lembaga negara. Salah satu yang paling disorot adalah Instituto de Previsión Social (IPS), institusi jaminan sosial Paraguay yang mengelola dana pensiun sekaligus layanan kesehatan pekerja.
Sekitar 380 juta dolar dana IPS ditempatkan atau diinvestasikan melalui Ueno. Angka itu membuat persoalan semakin sensitif. Uang yang dipertaruhkan bukan hanya simpanan individu yang bisa dipindahkan ke bank lain, tetapi juga dana lembaga yang berkaitan dengan masa depan para pekerja dan pensiunan.
Sekitar 32.000 pensiunan menerima pembayaran melalui Ueno. Mereka tidak memiliki kepentingan terhadap hubungan bisnis Grupo Vázquez, keputusan investasi pemerintah, atau perdebatan mengenai jabatan Carlos Carvallo. Mereka hanya membutuhkan uang pensiun yang seharusnya masuk pada waktunya.
Di Asunción, kemarahan mulai memenuhi jalanan. Pada 4 November, para pensiunan, mahasiswa, pekerja, dan nasabah, mendatangi kawasan Kongres. Mereka menuntut uang mereka dikembalikan dan meminta pertanggungjawaban pemerintah. Polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa. Nama Peña ikut diteriakkan dalam demonstrasi.
Salah seorang demonstran, Luis Pineda, menuduh Peña dan Partai Colorado telah mengambil tabungan rakyat. Pernyataannya mencerminkan suasana yang berkembang: masyarakat mulai memandang keruntuhan bank sebagai persoalan korupsi dan hubungan kekuasaan, bukan semata-mata kegagalan bisnis.
Pada saat bersamaan, pemerintah berusaha mencegah kepanikan menyebar ke seluruh sektor perbankan. Nasabah Ueno berbondong-bondong membuka rekening di bank lain. Lonjakan aktivitas itu bahkan menyebabkan gangguan pada aplikasi beberapa bank. Orang yang tidak memiliki hubungan langsung dengan Ueno ikut kesulitan mengakses layanan keuangan.
Pemerintah kemudian mengesahkan aturan untuk mempercepat pembayaran dana nasabah yang tertahan. Dana penjaminan simpanan diperkirakan dapat menutup seluruh saldo sekitar 97 persen nasabah, dengan batas perlindungan sekitar 36.000 dolar per orang. Pembayaran dijadwalkan berlangsung bertahap. Ketentuan itu penting karena pemberitaan mengenai tiga juta nasabah yang kehilangan akses uangnya tidak berarti seluruh simpanan mereka telah hilang secara permanen. Proses penyelesaian dan pemindahan rekening masih berlangsung.
Nasib dana IPS senilai sekitar 380 juta dolar jauh lebih rumit. Pemulihannya membutuhkan proses tersendiri karena melibatkan investasi institusional, aset bank, dan persoalan hukum mengenai kewajiban Ueno.
Peña mencoba mempertahankan posisinya ketika tekanan politik meningkat. Namun dukungan dari lingkungan politiknya sendiri mulai runtuh. Pada 5 November, ia mengumumkan pengunduran diri melalui media sosial X. Parlemen justru bergerak lebih cepat: majelis rendah menyetujui proses pemakzulan secara bulat. Kedua kamar parlemen menolak menerima pengunduran dirinya dan memilih melanjutkan proses politik tersebut. Karenanya, pengunduran diri yang diumumkan Peña belum otomatis mengakhiri persoalan jabatannya.
Jaksa Agung Emiliano Rolón Fernández memerintahkan tiga penyelidikan kriminal terkait krisis Ueno, termasuk dugaan keterlibatan pejabat pemerintah. Polisi juga menahan sejumlah petinggi bank. Pendiri Ueno, Miguel Vázquez, dan presiden bank, Juan Manuel Gustale, termasuk di antara eksekutif yang menghadapi proses hukum. Sebanyak 27 pejabat bank dan rekan bisnisnya telah didakwa atas dugaan pelanggaran kepercayaan dan percobaan penipuan.
Terdapat satu detail lain yang membuat peristiwa itu semakin ironis. Ueno pernah menjadi salah satu simbol keberhasilan modernisasi ekonomi Paraguay. Bank tersebut memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat yang sebelumnya kurang terlayani bank tradisional. Promosi uang kembali untuk belanja kebutuhan sehari-hari, pembukaan rekening melalui ponsel, dan jaringan lebih dari 70 lokasi, membuatnya sangat dikenal. Perusahaan itu bahkan mensponsori tim nasional sepak bola dan menempatkan namanya di stadion terbesar negara tersebut.
Pertumbuhan cepat itu dibanggakan sebagai bukti bahwa Paraguay mampu melahirkan perusahaan keuangan modern. Ueno memperoleh pendanaan internasional sekitar 510 juta dolar, termasuk penerbitan obligasi 350 juta dolar di Wall Street yang melibatkan JPMorgan dan Bank of America.
Sekarang, nama yang dulu dipajang di stadion justru menjadi sumber kemarahan masyarakat. Logo Ueno telah dihapus dari sejumlah tempat, sementara para pegawainya sendiri ikut turun ke jalan menuntut gaji dan pesangon yang tertahan. Kementerian Tenaga Kerja memperkirakan keruntuhan kelompok usaha tersebut berdampak terhadap sekitar 7.000 pekerjaan langsung maupun tidak langsung.
Paraguay sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada kebangkrutan satu perusahaan. Sistem keuangan membutuhkan kepercayaan, tetapi kepercayaan itu sulit dipertahankan ketika hubungan antara pemilik bank, pejabat pengawas, dan presiden negara terlihat begitu berdekatan.
Santiago Peña mungkin sudah menyatakan mundur. Carlos Carvallo sudah meninggalkan Bank Sentral. Sejumlah eksekutif Ueno telah ditahan. Tapi jutaan nasabah masih menunggu kepastian mengenai uang mereka, sementara dana pensiun IPS senilai ratusan juta dolar harus melewati proses pemulihan yang tidak sederhana.
Di Paraguay, sebuah bank yang dulu menjanjikan kemudahan mengakses uang melalui layar ponsel kini membuat jutaan orang harus mencari cara lain untuk membuktikan bahwa uang dalam rekening mereka memang masih menjadi milik mereka.
Catatan terkait: Singularitas, Kiamat Ekonomi, dan Manusia yang Jatuh di Titik Nol


