Mengapa Negara Miskin Tidak Mencetak Uang yang Banyak saja biar Kaya?

Mengapa Negara Miskin Tidak Mencetak Uang yang Banyak saja biar Kaya?
Ilustrasi/istimewa
Jawaban untuk pertanyaan itu sebenarnya membutuhkan uraian panjang lebar, namun berikut ini saya usahakan seringkas mungkin.

Dalam menerbitkan atau mencetak uang, terdapat dua macam sistem, yang disebut “pseudo gold” dan “uang fiat”. Dalam sistem pseudo gold, uang yang dicetak dan beredar didukung dengan cadangan emas atau perak yang dimiliki badan yang menerbitkannya.

Sedangkan dalam sistem uang fiat, uang yang beredar tidak didukung aset yang riil, bahkan tidak didukung apa-apa. Artinya, dalam sistem fiat, pemerintah atau badan yang menerbitkan uang bisa mencetak uang sebanyak apa pun sesuai keinginan.

Dalam ekonomi, kita tahu, harga barang akan tergantung pada perbandingan jumlah uang dan jumlah persediaan barang. Jika barang lebih banyak dari jumlah uang yang beredar, maka harga akan cenderung turun.

Sebaliknya, jika jumlah barang lebih sedikit dibanding jumlah uang yang beredar, maka harga-harga akan cenderung naik. Karena itulah, pencetakan uang secara tak langsung juga ditentukan oleh hal tersebut, agar tidak terjadi inflasi.

Apabila suatu negara—dengan alasan miskin—mencetak uang sebanyak-banyaknya, yang terjadi bukan negara itu menjadi kaya, tetapi justru akan semakin miskin. Karena, ketika jumlah uang yang beredar semakin banyak, harga-harga barang akan melambung tinggi, dan inflasi terjadi. Akibatnya, meski uang dicetak terus-menerus, uang itu tidak bisa disebut kekayaan, karena nilainya terus merosot turun.

Indonesia juga pernah melakukan pencetakan uang dalam jumlah banyak, pada masa kepresidenan Soekarno. Karena pemerintah belum bisa maksimal memungut pajak dari rakyat waktu itu, Soekarno pun mengambil kebijakan untuk mencetak uang secara berlebih. Hasilnya tentu inflasi.

Semakin banyak uang dicetak, harga barang semakin tinggi, dan terjadi hiperinflasi. Finish-nya, kita tahu, adalah demonstrasi yang terkenal dengan sebutan Tritura (tiga tuntutan rakyat), yang salah satunya permintaan agar harga-harga diturunkan.

Kasus yang terbaru terjadi di Zimbabwe. Pada 2008, pemerintah Zimbabwe mengeluarkan kebijakan untuk mencetak uang dalam jumlah sangat banyak, yang ditujukan untuk memperbanyak pegawai negeri yang diharapkan akan mendukung pemerintah. Hasilnya adalah inflasi yang gila-gilaan. Negara itu bahkan memegang rekor dalam hal inflasi tertinggi di dunia, yaitu 2.200.000% (2,2 juta persen) pada 2008.

Sebegitu cepatnya tingkat inflasi terjadi, hingga kenaikan harga di Zimbabwe tidak terjadi dalam hitungan minggu atau bulan, tetapi menit bahkan detik. Dalam setiap beberapa detik, para pegawai di toko-toko Zimbabwe terus sibuk mengganti label-label harga pada barang-barang yang mereka jual, karena terus terjadi pergantian harga akibat inflasi yang menggila. 

Pada 20 Juli 2008, bank Zimbabwe bahkan menerbitkan pecahan uang senilai 100 milyar dollar, yang merupakan rekor pecahan uang dengan nominal terbesar di dunia.

Uang dengan nominal besar itu, ironisnya, tidak memiliki nilai yang sama besarnya, karena digerus oleh inflasi akibat harga-harga yang melambung luar biasa tinggi. Untuk membeli sembako, misalnya, orang di Zimbabwe harus membawa uang sampai seember.

Jadi, negara miskin (ataupun negara yang tidak miskin) tidak mencetak uang dalam jumlah berlebihan, karena adanya pertimbangan seperti yang digambarkan di atas.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Related

Umum 9167453306945365543

Posting Komentar

  1. makasih gan,ane baru ngerti sekarang setelah baca postingannya =)))

    BalasHapus
  2. mohon dijelas dengan logika perumpamaan lain.. ane belum mudeng... maklum gak makan sekolahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, penjelasan di atas masih sulit dipahami ya?

      Begini. Kalau negara (bank) mencetak uang dalam jumlah banyak, namun persediaan barang yang ada di negara tersebut lebih sedikit, maka tentu harga-harga akan naik, karena jumlah uang yang beredar lebih banyak dibanding jumlah barang yang tersedia. Ketika itu terjadi, maka muncullah inflasi (kenaikan harga-harga barang).

      Sebaliknya, jika jumlah uang yang ada di sebuah negara lebih sedikit dibanding jumlah barang yang tersedia, maka harga-harga akan cenderung turun, karena persediaan (barang) lebih banyak dibanding jumlah uang yang beredar.

      Karena itu, idealnya, jumlah uang yang beredar di sebuah negara harus seimbang dengan jumlah barang yang tersedia, agar harga-harga cenderung stabil. Karena itu pula, negara pun berusaha untuk tidak mencetak uang banyak-banyak, karena yang penting di sini bukan jumlah banyaknya uang, namun keseimbangan antara jumlah uang beredar dengan barang yang tersedia.

      Semoga penjelasan ini bisa lebih dipahami ya.

      Hapus
    2. Yg menjadi indikator pemerintah tau jumlah uang yg beredar dan jumlah brg yg tersedia dinegara tsb..apa om

      Hapus
    3. pencetakan uang salah satunya bergantung pada neraca panbayaran, contohnya semakin banyak ekspor maka rupiah akan menguat sehingga bisa menambag percetakan uang supaya rupiah tidak selalu menguat sehingga ekspor tetap aman.

      Hapus
  3. mohon penjelasan mengenai macam jenis2 barang yg di maksud

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Barang" yang dimaksud dalam penjelasan artikel ini adalah semua hal yang biasa kita perjualbelikan, dari bahan makanan sampai aneka barang hiasan dan hiburan.

      Hapus
    2. benar apa kata hoeda manis.. semua barang.. bahkan 1 buah karat gelang pun bisa seharga ratusan juta...

      Hapus
    3. Cetak uang banyak lalu belanja ke luar negeri, bagaimana

      Hapus
    4. Belum tentu semudah itu, Rupiah itu lemah sekali di mata mereka. Jika demikian seperti yang disampaikan Ramses, maka akan terjadi pelemahan Rupiah sampai berkali-kali lipat

      Hapus
  4. yg mau ane tanyakan gan..knp hutang keluarnegri harus ada..dan kenapa suatu negara itu terkadang susah untuk keluar dari hutang tsbt..paling tidak suatu negara itu bisa mencetak uang untuk membayar hutang kenagara lain...tq gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya diskusi di kolom ini mulai keluar dari topik artikel. Khusus untuk pertanyaan ini jawabannya bisa panjang lebar. Nanti kapan-kapan kita bahas dalam artikel tersendiri saja, agar pembahasannya lebih terfokus.

      Hapus
    2. Betul banget. Kenapa tidak cetak uang khusus buat bayar hutang luar negeri.

      Hapus
    3. bila kita mencetak banyak uang, itu belum tentu dibuat membayar hutang. karena hutang dibayar dengan mata uang negara pemberi hutang. akhirnya uang yang dicetak di dalam negeri harus ditukar ke uang luar negeri. yang mengakibatkan turunnya nilai mata uang negara yang membayar hutang. bila salah tolong dikoreksi.

      Hapus
    4. kan bayarnya diluar negeri kaga ngaruh kali didalam negeri....gimana kalo salah koreksi yah

      Hapus
    5. tentu sangat berpengaruh, ketika kita mencetak uang untuk membayar hutang ke negara lain harus sesuai kesepakatan. biasanya pembayaran harus menggunakan uang USD atau uang negara pemberi hutang, maka uang yang kita cetak perlu ditukarkan ke dolar yang mengakibatkan melemahnya nilai tukar rupiah, naiknya harga produk impor, dan melambungnya inflasi yang berpengaruh pada pasar. terima kasih

      Hapus
  5. Terima kasih atas daftar referensinya. Sangat membantu teman-teman yang ingin mempelajari topik ini lebih lanjut.

    BalasHapus
  6. Bukan kah semakin banyak nya uang dicetak ekonomi negara akan membaik?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti yang dijelaskan di atas, jumlah uang harus seimbang dengan jumlah barang yang tersedia. Jika negara mencetak uang lebih banyak dibanding barang yang tersedia, maka terjadi inflasi (harga-harga akan naik). Artinya, mencetak uang lebih banyak tidak otomatis menjadikan suatu negara lebih baik.

      Hapus
    2. Cetak uang banyak lalu belanja ke luar negeri, bagaimana

      Hapus
    3. kan kalo belanja ke luar negeri harus tukar ke dolar dulu yang mengakibatkan melemahnya rupiah, trims

      Hapus
  7. smpah ane pun ngk mdeng dengan inflasi2....tpi yg ane pikirin tu,,,indonesia kn utang nya bnyak,,,ksian smpai ngk bsa byar htang smpai pulau2 d jual,,,nah klau lh kta mncetak uang sbnyk2 nya untuk byar htang kn lbih baik, , trus buat byar subsidi minyak,,,dll....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Topik ini mungkin memang agak ruwet. Meski saya sudah menjelaskannya dengan bahasa awam, tapi rupanya masih banyak yang bingung.

      Intinya, seperti yang sudah saya jelaskan berkali-kali di atas, jumlah uang yang dicetak harus sepadan/seimbang dengan jumlah barang yang tersedia di suatu negara. Dalam hal ini, negara tidak bisa serta merta mencetak uang sebanyak-banyaknya tanpa menimbang jumlah persediaan barang yang tersedia.

      Contohnya yang terjadi dengan Zimbabwe. Mereka mencetak uang sebanyak-banyaknya, tanpa menghiraukan jumlah barang yang tersedia. Karena jumlah uang jauh lebih banyak dibanding barang yang ada, maka harga-harga pun melambung tinggi, yang disebut inflasi.

      Catatan: Untuk lebih memahami masalah ini, ada baiknya membaca buku-buku dasar ekonomi/keuangan. Tanpa dasar pengetahuan ekonomi, topik ini tetap akan sulit dipahami.

      Hapus
    2. saya paham sih dengan maksud " uang lebih banyak daripada barang maka harga barang jadi mahal dan kalo barang lebih banyak daripada uang maka harga barang jadi lebih murah" nahh kalo seumpama negara nyetak uang buat masuk ke pasar saya bisa paham dengan maksud di atas ..yg jd pertanyaan saya gimana kalo cetak uang nya buat bayar hutang jangan di masukin ke pasar ..kalo anda kurang paham dengan pertanyaan saya saya per detail lagi....umpamanya gini..kita hutang ma si amerika umpamanya $.1 dolar anggap aja 1 dolar=10rb nahh knapa indonesia gak cetak aja tuh duid 10rb trus kasihkan ke amerika..?? kalo pun itu duid rupiah nya ntar balik lg ke indo setelah di jadikan dolar oleh amerika kan catatan utang nya dah jd 0 ato lunas tuh...nah pas duid nya balik ke indo ancurin aja jangan masuk ke pasar biar gak inflasi?soalnya kalo dari sudut pandang saya terhadap keterangan di atas inflasi tu terjadi karena jumlah uang yg lebih banyak dari barang jd klo uang nya yg kebanyakan itu kita bakar inflasinya gak jd.... hehehe mohon pencerahanya..

      Hapus
    3. Hehehe, sebenarnya saya pun dulu pernah mikir gitu. Kita cetak saja uang sebanyak-banyaknya buat melunasi utang ke IMF atau negara lain, hingga semua utang Indonesia lunas. Tetapi, kalau dipikir-pikir, jika kita yang rakyat kecil saja punya pikiran semacam itu, maka tentunya para pejabat yang berwenang dalam hal pencetakan uang tentu juga sudah mikir begitu, kan? Tapi mengapa mereka tidak melakukannya? Jawabannya kembali pada mekanisme pencetakan uang sebagaimana yang telah dibahas di atas.

      Untuk lebih memuaskan semua pembaca, topik khusus ini (soal mencetak uang untuk membayar utang) biar nanti saya tulis dalam artikel tersendiri saja, agar pembahasannya lebih jelas dan tuntas, juga agar komentar yang muncul lebih berhubungan dengan topiknya. Semoga bisa dalam waktu dekat ini.

      Hapus
    4. Oh ya, untuk menjawab rasa penasaran, berikut ini sedikit penjelasan penting atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Saya tulis dalam bentuk poin-poin saja, agar lebih mudah dipahami.

      ~ Sistem pencetakan uang sebenarnya tidak dipegang oleh pemerintah, melainkan bank sentral. Di Indonesia, yang mencetak uang bukan pemerintah Indonesia, melainkan Bank Indonesia (BI). Begitu pula di Amerika, misalnya, bukan pemerintah Amerika yang mencetak uang, melainkan The Fed (semacam BI-nya Amerika). Dalam hal ini, pemerintah tidak bisa ikut campur pada kebijakan bank sentral dalam hal mencetak uang. Berapa banyak uang yang dicetak, semuanya dikendalikan oleh bank sentral.

      ~ Pihak yang berutang ke luar negeri adalah pemerintah, bukan bank sentral. Karena yang berutang pemerintah, secara kasar bisa dibilang bahwa yang bertanggung jawab menanggung utang itu adalah pemerintah. Padahal, pemerintah tidak berhak mencetak uang, karena yang berhak mencetak uang adalah bank sentral.

      ~ Mengapa pencetakan uang harus dikendalikan bank sentral? Tujuannya tentu agar nilainya stabil. Untuk tujuan itu pula pemerintah tidak bisa mencampuri urusan pencetakan uang tersebut, sehingga kebijakan bank sentral dalam mencetak uang tidak bisa dipengaruhi untuk mencetak banyak atau sedikit. Jika pemerintah memegang kendali dalam hal pencetakan uang, yang terjadi adalah kekacauan ekonomi. (Penjelasan tentang hal ini bisa panjang lebar).

      ~ Jadi, kita kembali pada pertanyaan, "mengapa pemerintah tidak mencetak uang banyak untuk membayar utang?" Jawabannya sekarang mulai jelas, yang mencetak uang bukan pemerintah, tapi bank sentral, dan pemerintah tidak bisa campur tangan. Yang bisa dilakukan pemerintah adalah berusaha mengumpulkan uang, tapi tidak bisa mencetak uang. Pengurangan subsidi, pengumpulan pajak, dan lainnya, adalah di antara cara pemerintah dalam hal mengumpulkan uang.

      ~ Terakhir, utang Indonesia ke luar negeri dalam mata uang dolar, sementara bank sentral hanya mencetak rupiah. Nilai tukar antara rupiah dan dolar tergantung tingkat inflasi yang terjadi. Balik lagi ke topik awal, jika semakin banyak uang dicetak, nilainya akan turun. Jika umpama sekarang 1 dolar = Rp. 10.000, maka bisa jadi akan naik menjadi 1 dolar = Rp. 1.000.000 jika uang dicetak semakin banyak, karena tidak sebanding dengan kekayaan atau jumlah barang yang tersedia. Akibatnya, utang kita makin besar, dan tetap saja kita kesulitan membayarnya.

      ~ Kesimpulannya, mencetak uang lebih banyak (meski itu dilandasi tujuan untuk membayar utang) tetap saja akan menjadi lingkaran setan selama takaran antara jumlah uang dan jumlah barang tidak seimbang. Itu pula yang menjadi alasan mengapa hak mengendalikan uang ada pada bank sentral, dan bukan pada pemerintah.

      Semoga poin-poin di atas bisa cukup menjawab, ya.

      Hapus
    5. hahaha thx a lot buat pencerahannya...walaupun agak lemot juga saya mencerna nya...hehehe

      Hapus
    6. Syukurlah. Jadi penjelasan di atas sudah cukup ya?

      Hapus
    7. cukup kok thx .,btw kalo bisaa sih di tunggu nih artikel tentang ''kenapa pencetakan uang harus dikendalikan oleh bank central ? dan kenapa pemerintah tidak bisa ikut campur?'' intinya sih yg bikin saya bingung apa bank central di kendalikan oleh 1 orng? karena kalo tidak melalui system pemerintahan asumsi saya berarti di kendalikan oleh seseorang????kalaupun ada system yang menggerakan bank central sedunia system nya ini di kendalikan siapa pada akhirnya kalo bukan oleh pemerintahan manapun .di tunggu artikel selanjutnyaaa hehehe

      Hapus
    8. Memang benar, ada sistem yang menggerakkan bank sentral sedunia, yaitu Bank Dunia (World Bank). Semua bank sentral di setiap negara (termasuk Indonesia) tunduk pada aturan Bank Dunia.

      Lalu siapa yang menciptakan sistem Bank Dunia? Jawaban untuk pertanyaan ini bisa sepanjang sebuah buku, karena harus membuka sejarah dan berbagai kepentingan yang membelitnya. :D

      Hapus
    9. min, siapa yang mengatur ekonomi dunia, apakah iluminati??

      Hapus
    10. Silakan baca ini: https://hoedamanis.blogspot.co.id/2016/12/urusan-paling-gila-di-dunia.html

      Hapus
  8. Penjelasan Hoeda Sip. Paham Banget udah,, Saya sndri gak pernah mikir hal ini, cuma teman2 suka nanya ke saya :)

    BalasHapus
  9. bang satu pertanyaan, kenapa Zimbabwe bisa nyetak uang sampai inflasi besar-besaran apa mereka nggak punya bank sentral

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zimbabwe memang contoh bagus untuk kasus ini. Inflasi gila-gilaan yang terjadi di Zimbabwe adalah contoh nyata ketika pemerintah melakukan intervensi terhadap pencetakan uang yang seharusnya menjadi otoritas bank sentral.

      Pemerintah Zimbabwe menggunakan uang untuk tujuan politis. Mereka melakukan kebijakan mencetak uang lebih banyak agar bisa memperbanyak pegawai negeri. Hasilnya sama saja seperti yang sudah dijelaskan di atas. Jika pemerintah "ngerusuhi" pencetakan uang yang seharusnya menjadi otoritas bank sentral, maka inflasi akan terjadi.

      Hapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. gue suka nih topik.makasi pelajarannya

    BalasHapus
  12. ane mau nanya nih. apa inflasi itu ngefek ga ke negara yg ga punya utang di luar negeri? n klo ada, efeknya sama besar ga dengan negara yg punya utang dari luar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara rata-rata, efek inflasi sama saja pada suatu negara, entah punya utang luar negeri atau gak. Karena yang menjadi penyebab inflasi sebenarnya bukan utangnya, melainkan jumlah uang yang tak imbang dengan jumlah barang.

      Hapus
  13. gmn klo pertanyaan ane kyk gini. mana yg gede and paling sering kena inflasi antara negara yg blum terkontaminasi produk ato barang dari negara lain atau negara yang dah terkontaminasi barang dari negara lain?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang menjadi penyebab inti terjadinya inflasi tetap pada keseimbangan antara barang yang tersedia (yang dihasilkan suatu negara) dan jumlah uang yang beredar. Masuknya barang dari luar negeri sebenarnya tidak menjadi masalah, selama jumlah barang yang dihasilkan tetap seimbang dengan jumlah uang yang dicetak. Toh ada kebijakan ekspor/impor, sehingga suatu negara bisa memasukkan barangnya ke negara lain, mengimbangi negara lain yang memasukkan barang ke negaranya.

      Sebenarnya, masalah inflasi ini juga tidak sesederhana yang saya jelaskan di artikel maupun di kolom komentar. Umpama negara kita mencetak uang secara seimbang dengan jumlah barang yang tersedia sekali pun, selalu ada kemungkinan untuk terjadi inflasi. Misalnya, karena ada kerusuhan atau ketidakstabilan ekonomi, banyak konglomerat yang menyimpan uangnya di luar negeri. Itu pun bisa menjadi faktor penyokong terjadinya inflasi.

      Omong-omong, saat ini ada uang milik orang Indonesia sebanyak US$ 200 miliar atau Rp 1.500 triliun yang disimpan di Singapura. (Sumber: Direktur Utama Bank Mandiri, Budi G Sadikin, dalam acara konferensi pers Outlook 2013 Bank Mandiri). Alasannya karena Singapura dinilai lebih stabil dalam bisnis dan ekonomi, dibanding Indonesia. Kenyataan itu ikut menyokong naiknya inflasi yang telah terjadi di Indonesia.

      Hapus
  14. Aduuhh.. inflasi ya, pnjelasannya c mmg detail, cm otakku msh binun nih gan, hihi.. tp gapapa, ak akan baca berulang kali biar faham, maklum ga sekolah hiiiii....

    BalasHapus
  15. Aduuhh.. inflasi ya, pnjelasannya c mmg detail, cm otakku msh binun nih gan, hihi.. tp gapapa, ak akan baca berulang kali biar faham, maklum ga sekolah hiiiii....

    BalasHapus
  16. gan ane mau nanya,
    1. Indonesia itu mencetak Uang menggunakan Konsep pseudo Gold apa fiat ?
    2. Kalo BI mencetak Uang berdasarkan Emas yang kita miliki, kira kira bakal ada Inflasi ga yah ?
    3. Menurut ane Inflasi adalah salah satu faktor yang membuat harga barang selalu naik, dan oleh karena itu kita harus selalu giat mencari uang karena nilai uang yang kita punya selalu menurun harganya sedangkan harga barang GA TURUN TURUN. Bisa ga sih Indonesia bikin system Ekonomi tanpa adanya Inflasi, Jadi 100 Juta hari ini sama berharganya dengan 100 Juta 10 tahun kemudian ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa gan kalau indonesia membuat mata uang rupiahnya bersifat reedemable dengan emas dengan nilai yang fix,hal ini sebenarnya yang inign dilakukan oleh pak karno dahulu. tapi tentunya golongan elit yang menciptakan system uang ini tdk akan tinggal diam dan berusaha mengancurkannya

      Hapus
  17. sama satu lagi gan , bisa ga jelasin BI Rate itu apa sih ? dari mana munculnya BI Rate ? dan kenapa kita perlu BI Rate ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawaban dan penjelasannya, nanti di artikel lain saja ya, biar bisa lebih jelas.

      Hapus
  18. Pertanyaan saya sedari kecil terjawab sudah. Maturnuwun!

    BalasHapus
  19. Great Article.
    I wish you for the best.

    BalasHapus
  20. mksiih ya..pertanyaan yg bekecimuk dlm pikiran sy sejak kecil terjawab jg mesti sy blm sepenuhnya mengerti..sy kn jd tkw di LN capek knp ampek ke KN cr uang..knp indonesia gk cetak uang bt byr gaji rakyat yg tingi bt mencukupi kebutuhan,br gk hrs kerja kenegara laen,ternyata semua ada aturannya heehee thanks

    BalasHapus
  21. gan mau tanya nie trs knp indonesia umr gajinya sgt rendah rakyat kecil upah kerja yg sgt kecil tdk dpt mencukupi kebutuhan.knp upah dan gajibmsrakat tdk dinaikan

    BalasHapus
  22. knp gaji diindonesia msh sgt jauh dr standar dolar..seandainya gaji dinaikkan ap ad mslh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawaban untuk pertanyaan ini nanti dibahas dalam artikel lain saja ya, soalnya bisa sangat panjang.

      Hapus
  23. saya mau tanya, uang di cetak byk apa hubungannya dengan harga kebutuhan bisa naik? kl penduduk indonesia sedikit apa bisa cetak uang banyak, tp kebutuhan sehari2 ada semua? apa gk cepat kaya org2 indonesia? akar masalahnya di dunia itu 1, terlalu banyak penduduk, negara indoensia kl buat makan serba bisa di tanam, cetak uang byk jg gk masalah, asal jml penduduk indonesia sedikit, apa akibatnya kl penduduk sampe 300 jt seperti sekarang? gmn mau makmur? bayanhgkan kl penduduk kita di kendalikan dari dulu, uang banyk beli tanah buat perumahan,dll gk ada guna nya toh penduduknya jg sedikit, malah kita bisa ekspor, bener gk?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Logika semacam itu juga ada benarnya. Kalau penduduk suatu negara (misalnya Indonesia) tidak banyak, maka rumah dan pemukiman tidak akan sepadat sekarang, dan tanah-tanah kosong yang masih banyak bisa menjadi sawah, ladang, tempat menanam aneka kebutuhan, dll. Jika memang seperti itu, maka kebutuhan sehari-hari (khususnya makanan) bisa diperoleh dengan mudah sekaligus murah, bahkan bisa mengekspor, karena persediaan melimpah. Hasilnya, negara dan rakyatnya menjadi kaya.

      Sebenarnya, dari dulu, pemerintah kita udah mencoba mengendalikan tingkat kelahiran (melalui program KB), tapi tampaknya program itu tidak terlalu berhasil.

      Hapus
  24. SALAH..! Para ilmuwan sering berkata "Di dunia ini tidak ada yang bernilai kecuali waktu, hanya waktu lah yang akan menilai"., bagaiamanpun hukum fisika tidak dapat dilawan., nilai uang pun hanya ilusi, karena tidak masuk akal kita membeli rumah dengan kertas. Kalo rumah, beras dan lainnya naik, ya karena kita ngukur pake duit kertas, tpi coba di ukur pake emas, semua sama aja. tahun 70an, harga kambing sama dengan 4 gram emas, tahun 2010 harga kambing sama dengan 4 gram emas. tahun sekarang pun pasti sama. 1000 tahun yg lalu pun sama. mau bukti liat aja sejarah arab yang membeli 1 kambing dengan 1 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas), Dan dari ilusi uang terjadi kasus yang lebih parah yaitu perbankan, Contoh : Seorang bapak menabung 10 juta pertahun pada bank agar krlak 10 tahun kemudian dia dapat membeli rumah seharga 100juta type 100. padahal bapak itu tidak menabung karena 10 tahun kemudian rumah itu seharga 1milyar. Justru sang bapak disini sebenarnya sedang membiayai bank untuk membeli rumah tersebut dan memberikannya pada bank, bagaimana caranya..?? gampang, bank tinggal beli emas aja dari setiap angsuran tabungan bapak tadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas tambahannya.

      Hapus
    2. dan kenapa amerika menjadi negara kaya?
      karena emas kita di papua di geruk sama PT.preeport indonesia(pencuri emas).
      Negara Indonesia dirugikan dengan adanya PTFI. Sebanyak jutaan Ton Bijih Emas, Perak, dan Tembaga ditambang dari Papua, negara Hanya mendapatkan paling banyak 10% dari keuntungan yang didapat oleh PTFI. Karena PTFI melakukan pemurnian di negara asalnya yaitu Amerika serikat.

      Hapus
  25. kurang jelas gan ghimana kalo negara mencetak uang dan ditukar dengan dolar secara perlahan tidak langsung ditukar semua dibayarkan dikit demi sedikit untuk utang luarnegeri, jadi rakyat tidak merasakan uang itu ??? tapi hutang negara akhirnya lunas bingungkan ??? saya juga bingung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba baca komentar-komentar di atas. Pertanyaan itu sebenarnya sudah masuk di komentar-komentar di atas.

      Hapus
  26. Oya negara kita ktanya banyak hutang knpa g bikin uang untuk bayar hutang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawabannya sudah dibahas di komentar-komentar sebelumnya. Silakan dibaca kembali.

      Hapus
  27. jawabannya sederhana gan.,.
    negara kita itu negara kaya,.,di indonesia itu bnyak sekali bahan baku namun untuk menjadikanya barang jadi masih sangat sedikit.
    imbasnya kita jual ke luar negri lalu kita beli produk jadi dari mereka yang tentunya harganya lebih mahal lalu pemerintah mencari pinjaman ke luar negri untuk memenuhi kebutuhan rakyat karna itulah negara kita bnyak utang makanya kita sebagai bangsa indonesia harus mencintai produk" negara kita sendiri walaupun produk negara kita lebih mahal tapi imbasnya nilai tukar rupiah akan jadi semakin menguat.

    BalasHapus
  28. Thank's banget nih buat ilmunya, sangat bermanfaat, :')

    BalasHapus
  29. Thanks buat ilmunya. Sangat membantu saya dalam belajar dan menambah pengetahuan saya... Sekali lagi thanks gan...

    BalasHapus
  30. intinya peran pemerintah harus ketat terhadap rakyatnya,,, mau miskin atau kaya di sebuah negara tergantung ketegasan pemerintahnya. contohnya cina sudah di embargo amerika tapi nyatanya embargonya gak berarti apa²,,, seandainya pemerintah indonesia serius mengolah SDA dan SDM rakyatnya dengan baik dan rakyatnya bersatu padu untuk kemajuan bersama dan tidak ada rasa rakus, maka gak usah menunggu puluhan tahun untuk mencapai kemakmuran. bikin aja kebijakan² dan hukum yang tegas agar rakyatnya gak mementingkan diri sendiri pasti kemakmuran akan datang, sayangnya semuanya sulit di capai karena banyak kepentingan terlibat

    BalasHapus
  31. Rumit ya bang tapi sy mau tanya bang
    1.kenapa indonesia punya utang
    2.tuk di apa kan dana utang itu
    3.bank sentral itu milik siapa
    4.siapa aja nasabah2 bank sentral itu
    5.seandainya utang indo ini lunas kebahagian seperti apa yg bakal didapatkan?
    Mohon penjelasanya trimakasih bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, itu pertanyaan-pertanyaannya bisa panjang sekali jawabannya. Nanti kita bahas tersendiri di post lain saja ya.

      Hapus
  32. INDONESIA harus mandiri dan tidak boleh masuk organisasi yang di dalangi oleh Amerika maupun asing-asing lainnya, semua perusahaan asing yang berlabel Indonesia dipajak 60 % kalau ga mau ga usah masuk ke Indonesia.

    BalasHapus
  33. Sebagai bahan penambah wawasan ada pernyataan mngejutkan ttg masalah tatanan ekonomi dunia saat ini n siapa dalang dibaliknya oleh Syeikh Imran Hosein di youtube.

    BalasHapus
  34. Gue mo nanya
    1 knapa kita gak menerapkan kurs tetap atau setidaknya ada ambang batas jadi bisa membatasi spekulan yg sellu memetik untung dr kenaikan dollar
    2 utang yg begitu besar kenapa indonesia tidak berani meminta pemotongan hutang
    3 kenapa selalu menggunakan dollar bahkan untuk transaksi di dalam negeri
    Kenapa tidak bangga dengan rupiah

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1.kurs tetap memerlukan devisa negara yang besar
      2.pemotongan hutang memerlukan dana yang besar
      3.dolar adalah salah satu uang internasional selain yen jepang, euro eropa, yuan china, poundsterlling inggris.

      Hapus
  35. Berarti amerika bisa memproduksi dollar dengan sesuka hatinya, karena dollar di pake dunia.
    Apakah mungkin Rupiah bisa menyaingi dollar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak. Amerika atau negara lain tidak bisa mencetak uang seenaknya. Di Amerika juga ada The Fed (semacam BI di Indonesia) yang mengatur pencetakan uang di sana. Meski dollar dipakai banyak negara, tapi Amerika tetap tidak bisa mencetak uang seenaknya atau sebanyak-banyaknya.

      Hapus
  36. semua jawaban menurut saya benar.karena yg sangat mempengaruhi adalah emas : emas menjadi faktor harga tambang teringgi di pasar dunia. jadi intinya tambang emas di indonesia seharunya di kelola sendiri.selesai sudah.

    BalasHapus
  37. Cetak uang banyak lalu belanja ke luar negeri, bagaimana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa artikel berikut ini mungkin bisa sedikit memberi jawaban:

      http://belajar-sampai-mati.blogspot.com/2015/01/apa-yang-disebut-inflasi.html

      http://belajar-sampai-mati.blogspot.com/2015/01/apa-penyebab-timbulnya-inflasi.html

      http://belajar-sampai-mati.blogspot.com/2015/01/secara-teoritis-mengatasi-inflasi-bisa.html

      Hapus
    2. Rupiah tidak berlaku di luar negeri, apabila rupiyah banyak beredar maka nilai rupiyah jadi anjlok ( hukum barang : semakin banyak barang tersedia semakin murah nilainya)

      Hapus
  38. Aku orang malaysia pon faham post ini..bagus maklumatnya..

    BalasHapus
  39. Bagus juga ni topiknya
    boleh ikut mengacau nggak...
    disini saya punya penjelasan tentang uang, entah ini benar atau salah itu terserah yang membaca, langsunbg aja broow.
    pada jaman dahulu kala.......

    Indonesia punya Sapi 10 ekor dan mencetak uang Rp.100.000
    jadi harga 1 ekor sapi di indonesia Rp. 10.000
    Amerika punya Air 100 liter dan mencetak uang USD.100.000
    jadi harga 10 liter air di Amerika USD. 10.000

    kita anggap kurs RP. ke USD. masih normal yaitu 1 dollar = 1 rupiah


    kenapa Indonesia punya hutang ke Amerika ????

    kita anggap saja di Indonesia tidak punya Air jadi indonesia harus membeli Air ke amerika tapi jika ingin membeli Air di amerika harus memakai uang dollar, maka indonesia meminjamlah uang pada amerika USD 20.000 unuk 20 litter air.

    Bagaimana cara membayar hutang Indonesia???

    Indonesia bertanya pada amerika "mau nggak beli sapi saya?"
    "waduh gue enggak perlu sapi loe" kata amerika sama indonesia
    jadi bingunglah si Indonesia :(

    #BERSAMBUNG ....( sampai saya dapet ide tentang inflasi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. truss amerika mencetak uang Dolar mereka sebanyak mungkin untuk membeli EMAS dan MINYAK di negara Kita ( yang terjadi KERTAS ditukar dengan EMAS dan MINYAK)

      Hapus
    2. Lebih tepatnya dijarah, semua tambang indo dikuasai as, padahal as ga menguntungkan bagi indo, mending jepang dan korea barang dan jasa sudah membantu aktifitas indonesiA

      Hapus
    3. maaf jadi ikut nimbrung nih hhaha
      kalo d misalkan kita beli Air 20 liter itu hutang ke amerika
      .kan Air itu d jual belikan juga di indonesia bukan? ketika sudah terjual habis kenpa tidak d bayar saja hutang kepada amerika? dan laba nya untuk kepentingan negara

      Hapus
  40. bgini aja .. BI mencetak uang hanya untuk investasi saham di negara lain,klo jumlah barang bisa banyak dr ngara lain bisa masuk,jumlah impor dr luar negeri d tambah (dengan perhitungan jumlah barang) income dan otomatis uang yg tadi d cetak banyak bisa d keluarkan scara bertahap untuk mnjaga nilai tukar rupiah.hehe nah untuk persediaan di negara kita kita seimbangkan dengan pasar bebas ekonomi asean:-) kan pasti banyak lagi barang masuk :-) dari bea juga udah ada keuntungan nya banyak.untuk menekan harga supaya murah dilakukan lah oleh pemerintah dengan membeli dari pasar domestik secara mahal dan menjual ke pasar nusantara dengan murah :-).. dan insya alloh ekonomi berjalan lancar :-).

    BalasHapus
  41. “Para penguasa kapitalisme keuangan mempunyai sebuah rencana yang berjangkauan luas, tidak kurang dari menciptakan suatu sistem pengendalian keuangan dunia di tangan swasta yang mampu mendominasi sistem politik tiap negara dan ekonomi dunia secara keseluruhan. Sistem ini dirancang untuk dikendalikan secara feodalis oleh bank-bank sentral dunia yang bertindak dengan persetujuan bersama, melalui kesepakatan-kesepakatan rahasia yang dicapai dalam pertemuan dan konferensi yang sering diselenggarakan. Puncak dari sistem itu adalah Bank For International Settlements di Basel, Switzerland (*), sebuah bank swasta yang dimiliki dan dikendalikan oleh bank bank sentral kelas dunia yang mereka sendiri adalah perusahaan-perusahaan swasta.”
    Masing-masing bank sentral berupaya mendominasi pemerintannya melalui kemampuannya untuk rnengendalikan pinjaman, memanipulasi pertukaran uang, mempengaruhi tingkat kegiatan ekonomi didalam negeri, dan mempengaruhi politisi-politisi yang kooperatif dengan hadiah-hadiah ekonomis dalam dunia bisnis".

    Sumber
    http://non-gharqadian.blogspot.com/2012/04/bank-dunia-dan-perbudakan-bangsa-bangsa.html

    BalasHapus
  42. memang pusing juga berbicara tentang uang seperti kita mencarinya ? terima kasih pencerahannya gan !

    BalasHapus
  43. Pertanyaan : Bayar Utang (Luar Negeri/Dalam Negeri) dalam mata uang USD dg mencetak uang yg banyak, bisakah ???

    Jawaban : TIDAK BISA !!!

    Penjelasan : Utang kita (Indonesia) dalam mata uang USD (jika dikonversi dalam rupiah) jumlahnya mencapai ribuan triliun rupiah. Untuk membayar utang tersebut kita harus tukar dulu uang rupiah kita dg mata uang USD. Nah, untuk menukar uang sebanyak itu tentu kita membutuhkan "pasar" untuk menukarnya, karena saya rasa tidak ada individu yg memiliki uang sebanyak itu... kalopun ada, maka individu tersebut akan sangat dirugikan karena bingung mau tukar duit sebanyak itu kemana... dan pada akhirnya akan kembali ke pasar jg...

    Nah, seandainya kita tukar (gelontorkan) uang sebanhyak itu maka yg terjadi adalah penurunan habis2an Mata Uang Rupiah karena (antrian harga) pembeli Rupiah jg pasti akan semakin menuju pada (antrian) yg termurah.

    Demikian...

    BalasHapus
  44. mungkin bisa dijadikan bahan bacaan yg memperluas wawasan

    http://jakartagreater.com/sejarah-pedagang-uang-money-changer/

    BalasHapus
  45. mungkin ini bisa dijadikan bahan bacaan untuk menambah wawasan kita
    http://jakartagreater.com/sejarah-pedagang-uang-money-changer/

    BalasHapus
  46. Terima kasih pake banget... Cukup dimengerti oleh orang awam macam saya

    BalasHapus
  47. Izin masuk
    Gini sy juga punya pikiran gini,kita gunakan uang kertas yang ada sekarang karena kita semua setuju kalo.itu alat bayar yg sah, kita bisa saja mnggunakan benda benda lain yang banyak dan mudah didapat layaknya daun daun,yg perlu dilakukan adalah orang nomor satu indonesia mnginstruksikan untuk menggunakan mata uang itu dan kita bisa punya uang banyak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idenya keren, nih. Semoga presiden/pemerintah kita membaca usulan ini ya. :D

      Hapus
  48. negara yang miskin adalah negara yang mencetak uang banyak (zimbabwe)
    negara yang kaya adalah negara yang memiliki kandungan emas dan minyak (Indonesia)
    negara yang kaya raya adalah negara yang memiliki & MENGELOLA Emas dan Minyak (Arab Saudi, UEA)

    Itu intinya

    Uang kerta bernilai karena pemerintah menetapkan sebagai alat tukar pembayaran yang sah, artinya tanpa ada jaminan penetapan pemerintah, itu hanya uang kertas permainan monopoli

    EMAS kawan, EMAS
    dari jaman rasul dulu untuk membeli 1 kambing cukup 1 dinar (emas 22 karat)
    sekarang pun untuk membeli kambing cukup 1 dinar (bandingkan harga kambing sekarang dengan harga 1 dinar)

    artinya
    Emas atau Dinar dari dulu nilainya selalu menyesuaikan dengan jaman

    mengacu mata uang rupiah kepada mata uang Dollar layaknya David Vs Goliath

    sudah jelas rupiah sulit menandingi sampai cucu 7 turunan, krn dollar alat tukar/pembayaran yang berlaku di seluruh dunia, sedangkan Rupiah adalah mata uang Lokal, artinya hanya berlaku di wilayah indonesia, keluar dari indonesia, wajib konversi ke mata uang asing

    SOLUSINYA?
    Gunakan Emas/dinar sebagai alat pembayaran yang sah, kita punya tambang emas, kenapa tidak dinasionalisasi demi kepentingan publik?

    Niscaya mata uang tertinggi di dunia sekalipun akan mental dengan emas



    BalasHapus
    Balasan
    1. tulisan ini sempat menarik perhatian saya dan membuat saya berfikir: "jika pembayaran dengan emas sudah sangat bagus kenapa para pendahulu kita melakukan kebodohan dengan menciptakan suatu sistem pembayaran yang memusingkan bernama uang?"

      dan saya akhir menghabiskan cukup banyak waktu untuk menjawab pemikiran saya tersebut dengan googling sana-sini. dan akhirnya saya tau jawabannya.. (tidak, saya tidak akan menulisnya disini. terlalu panjang)

      menabung dengan emas adalah solusi, tapi kalo menjadikan emas sebagai alat pembayaran, kita akan ditertawakan para pencipta uang :)

      Hapus
    2. jujur saya tertarik dengan tulisan agan, dan saya menyukainya. terima kasih gan udah membuat tulisan yg luar biasa!

      Hapus
  49. Tambahan Solusi
    Indonesia harus mempunyai 2 alat pembayaran yang sah
    alat pembayaran yang kesatu hanya dapat digunakan untuk pembayaran atau konversi

    BalasHapus
  50. Terima kasih gan atas penjelasan nya.saya sedikit paham.di tunggu artikel selanjut nya.

    BalasHapus
  51. jangan2 kalau terjadi kenaikan harga secara tiba2 karena bi habis cetak uang baru dan diedarkan kepada masyarakat secara diam diam........

    BalasHapus
  52. Gimana kalau bank memproduksinya tidak diketahui negara lain? Maksudnya, habis mencetak uang yg banyak, uang itu digunakan buat impor2. Kelar, kan? Ya, butuh kerjasama pemerintah, sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo rupiahnya buat balik impor ke indonesia gimana? Sm aja bohong kan.. he..he,,

      Hapus
  53. makasih gan infonya sangat bermanfaat,, hampir 18 tahun saya bertanya2 tntg ini dan baru tahu skrg hehehee

    tapi saya mikir kalo yg kita butuhin sekarang adalah gimna caranya supaya indonesia sedikit mncetak uang tapi tuh dollar as atau mata uang lain semakin byk masuk ke indonesia. dgn kata lain kita bikin strategi buat mancing dollar as atau mata uang lain masuk ke indonesia.

    misalnya kita buat barang/jasa yg sangat dibutuhin sama negara2 lain, tapi yang pure produk kita, tidak ada campur tangan pihak lain.
    nah dengan begitu negara lain yang mau membelinya dari kita akan membayar dgn rupiah atau hrs tukar dulu dgn uang rupiah kita tergantung si penjual.
    dengan begitu kan rupiah kita akan dibutuhin dan sgt berharga bagi negara2 lain.
    so kita hrs bisa optimalkan SDA dan SDM kita yg sgt berlimpah ini
    saya kepikiran buat jadiin indonesia sbg negara wisata terfavorit di dunia, gimana kalo setiap daerah diubah total jd daerah wisata wkwkwk
    maafin saya yg ngawur ini gan, saya msh bocah ingusan soalnya wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idenya bagus, gan. Memang untuk menguatkan nilai rupiah, di antaranya adalah mengutakan SDM (sumber daya manusia) dan SDA (sumber daya alam). Kalau SDM bagus sehingga mampu menghasilkan produksi bagus, juga SDA terkelola dengan baik, negara kita bisa cukup tertolong.

      Hapus
  54. mau tanya dong gan fungsi pemerintah yg stabilisasi bila kehabisan cadangan uang kenapa utang ke luar negeri ya? trms

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena kalau nyetak uang sendiri, hasilnya adalah inflasi. Dan, omong-omong, yang nyetak uang bukan pemerintah, tapi swasta (Bank Central).

      Hapus
  55. dari penjelasam di atas , saya punya usul bagai mana kalau uang yg beredar di kurangi dan di ganti dengan uang elektrik apa bisa menekan inflasi,......mohon penjelasan nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang menjadi inti masalah sebenarnya bukan bentuk uangnya (elektrik atau bukan), melainkan perbandingan antara jumlah uang dengan jumlah barang. Memakai uang elektrik pun, kalau jumlah barang yang dimiliki tidak seimbang tetap saja akan terjadi inflasi.

      Hapus
  56. karna dunia ini hanya panggung sandiwar

    BalasHapus
  57. Makanya peredaran uang palsu dipasar hukumnya haram...negara sangat dirugikan..karena akan terbebani dengan inflasi...uang ilegal yg beredar saja bisa berbahaya..apalagi uang resmi dicetak oleh bank sentral dengan sebanyak banyaknya. Article diatas sudah sangat jelas dan gamblang kenapa uang tidak sembaragan untuk dicetak....semua butuh perhitungan

    BalasHapus
  58. ikut koment ya n sharing info ..

    mengenai hutang piutang / atau pinjaman luar negeri setahu saya begini penjelasan mudahnya, sebelum RI meminjam sejumlah dana kepada " sebutlah " World Bank (WB) harus ada jaminannya yaitu berupa Asset Negara tersebut. asset tersebut bisa berupa apa saja (Sumber daya bumi dan kekayaan alam lainnya termasuk kekayaan BUDAYA NUSANTARA) dengan catatan yg di akui oleh Dunia sebagai milik RI, dengan jaminan tersebut RI bisa meminjam sejumlah Dana kepada WB yang pastinya dalam bentuk US$ disinilah peran The FED dalam mengawasi peredaran Dollar AS yang erat kaitannya dengan nomor seri yang tertera di Dollar tsb, anggap saja RI meminjam US$ 100 Jt..nah uang dollar tersebut menjadi Koleteral Asset sbg dasar untuk mencetak uang dalam hal ini Rupiah dengan No. Seri yang sah teregister di BI
    - jika dikurskan menjadi anggaplah US$ 1 = Rp. 10.000 = Rp. 1 trilyun, maka RI berhak mencetak Rupiah sejumlah tersebut.
    - setelah tercetak Rp. tersebut, RI harus pintar2 mengolahnya didalam negeri, yg mana hasil olahannya bisa dijual (Export) dan mendapatkan Fresh Dollar disinilah semua kalangan pelaku Industri dan perdagangan terutama bidang Export Import berperan,komoditi, pelaku UKM yang mana kualitasnya harus bisa bersaing dengan negara-negara lainnya, semakin bagus produknya maka akan semakin banyak Dollar yang didapat(tapi itu hanya satu contoh olahan, masih banyak cara2 lain yg Legal untuk dijalankan... selanjutnya...
    - Dollar yang didapat dr hasil perdagangan tersebut akan ditukarkan kembali menjadi Rupiah dan Rupiah tersebut diambil dari hasil cetakan tadi yang disebar kebeberapa PRIME Bank dan peredaran Rupiah tersebut terus berputar .. contoh Dolarnya disimpan di BANK/ditukarkan diBANK/MC -- (Disetorkan ke BANK/BI), BANK/BI memberikan Rupiah -- Rupiah tsb digunakan untuk membayar gaji karyawan, atau kuli bangunan dll -- mereka membelanjakannya -- Rupiah yang dibelanjakan dimasukan atau disimpan lagi ke Bank ... nah kan akhirnya kembali lagi ke BANK-BANK juga,
    Catatan : disinilah peran sistem pembayaran berbasis Kartu debit dipermudah sampai kejalur Internet/M-BANKING dengan tujuan agar mudah mengawasi peredaran Rupiah dengan No. seri tsb...selanjutnya

    - anggaplah semua sistem berjalan baik sehingga Dolar terkumpul semakin banyak (DEVISA) sampai sejumlah diatas US$ 100jt, mengapa harus lebih ? .. kan ada bunga pinjamannya juga yang harus dibayar
    - dolar yang didapat terlebih dahulu harus dilaporkan ke WB dan The FED untuk diverifikasi ... apakah benar dolar tsb dari hasil perdagangan dari suatu negara yang sah beredar keseluruh negara, jika memang demikian maka :
    1. Dolar tersebut sah untuk kembali dijadikan kolateral Asset sebagai dasar untuk mencetak uang Rupiah selanjutnya (tentu saja dengan tahun cetakan yang berbeda, mengenai cirinya... itu terserah RI)
    2. Dolar yang awal pinjaman dikembalikan kepada WB dengan pengawasan The FED berikut dengan bunga pijamannya

    he..he.. itu teorinyaa, tapi pada kenyataannya bisa membayar bunga pinjamannya saja itu sudah cukup buuaaguus ..
    itupun harus ada faktor disiplin/kejujuran/tidak korupsi/tidak rakus dan serakah/dan yang paling penting mencintai Negara dan Bangsa ini yaitu NKRI

    BalasHapus
  59. kalo uangnya bukan untuk kebutuhan primer kan juga bisa, contoh , untuk buat jalan tol.. alat militer, asal tidak untuk kebutuhan primer kan juga bisa , sehingga uang yg beredar tidak banyak di masyarakat justru untuk kekuatan negara sendiri, gimana,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyetak uang untuk bikin jalan tol, misalnya. Sekarang pikirkan, untuk membuat jalan tol, dibutuhkan batu, aspal, semen, sampai harus membayar pekerja. Mau tidak mau uangnya akan tetap ke masyarakat. Karena "barang" yang dibahas di sini tidak sekadar barang kebutuhan pokok semacam beras dan gandum, tapi segala macam barang yang dapat dibeli dengan uang, termasuk "tenaga pekerja".

      Hapus
  60. Yg nyetak uang di dunia ini si FED aja ya.. Yg megang uang d dunia ini cuma swasta .hahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, dan hal itu yang kurang dipahami kebanyakan orang. Mereka mengira bahwa uang dicetak pemerintah, padahal kekuasaan uang ada di tangan swasta. Misalnya The Fed di Amerika, atau Bank Central di Indonesia.

      Hapus
  61. Kalo cetakan uang diperbanyak tapi untuk bayar utang negara dan bukan untuk disebarkan di masyarakat gmana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa aja jadinya hutang kita lunas. tapi setelah itu nilai rupiah jadi terjun bebas. solusinya orang yang duitnya banyak harus dimusnahkan oleh pemerintah.

      Hapus
    2. Kalau kita (indonesia) nyetak uang, apa yang dicetak? Rupiah. Padahal utang kita dalam bentuk dollar. Baru sampai di situ pun sudah menghadapi masalah. Karena itulah pemerintah kita tidak melakukannya.

      Hapus
  62. Cetak uang banyak trus beliin 200 sukhoi, 300 kapal selam, 100 f22 ..klo gt mempengaruhi inflasi gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau caranya semudah itu, pemerintah kita (dan pemerintah-pemerintan lain di dunia) pasti sudah melakukannya sejak dulu.

      Hapus
  63. Masalah ini tampaknya masih membingungkan banyak pihak. Sepertinya harus ada penjelasan lain yang lebih lengkap dan jelas, agar urusan ini lebih mudah dipahami. Semoga dalam waktu dekat ini saya bisa menulisnya.

    BalasHapus
  64. Jdi pertanyaan saya gini...bagaimana kalau uangx di cetak sebanyak mungkin untuk membeli barang di luar negeri..kemudian barang tsb sampe di indonesia dijual ke rakyat dg harga murah...bisa nga yaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak semudah itu. Kalau Indonesia mencetak banyak uang, apa uang yang dicetak? Rupiah! Sedangkan untuk membeli barang di luar negeri, harus menggunakan mata uang luar negeri (misalnya dollar). Jadi, untuk bisa membeli barang di luar negeri, rupiah harus ditukar dulu dengan dollar, dan itu artinya akan menghadapi penurunan nilai rupiah terhadap dollar. Inflasi lagi.

      Hapus
  65. Menarik untuk dibaca :)

    supaya tidak terjadi inflasi maka persedian barang harus banyak.. begitu om ? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara garis besar seperti itu, meski sebenarnya juga tidak sesimpel itu.

      Hapus
  66. Mohon infonya,
    Kalau saya ingin menabung untuk membeli sesuatu (contohnya : membeli rumah) dalam jangka waktu tertentu, bagusnya menabung dalam bentuk uang atau emas? Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekadar ilustrasi saja: Uang lebih rentan mengalami inflasi (penurunan nilai), sementara emas cenderung lebih stabil nilainya. Jadi kalau milih uang atau emas untuk tujuan investasi, sepertinya lebih bagus emas.

      Hapus
  67. jadi semakin banyak uang keretas yang dicetak menjadikan inflasi ya gan,coba jelaskan mengapa setelah kita menggunakan uang kertas terjadi inflasi padahal dahulu kala sebelumnya kita menggunakan emas dan perak sbg uang tidak ditemukan adanya inflasi,satu hal mungkin yang belum dijelaskan agan diatas adalah sistem internasional yang ada sekarang adalah berbasis uang kertas usd,pd awal uang kertas dicetak adalah berfungsi sbg cek agar bs ditukar dng uang nyata yang memiliki nilai intrinsik yaitu emas dan perak.melalui perjanjian bretton woods hanya usd yang bersifat dpt ditukar dng emas dng kadar tertentu,sisanya adalah kertas biasa,tdk memiliki nilai hal inilah yang menyebabkan ketidak adilan dalam sistem mata uang kertas,sampai2 prancis mengetes sistem dng selau menukar usd yang dimiliki prancis ke emas amerika dan akhirnya kedok kebusukan system ini terbongkar,amerika terlalu banyak mencetak usd daripada emas yang dimiliki akibatnya sistem ini colaps dan amerika mencari cara untuk menguatkan kembali nilai usdnya dengan petro dollar(yaitu hanya bs membeli minyak dengan hanya usd)sehingga nilai usd tetap tinggi,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalah ini memang rumit, dan tidak sesimpel yang tampak di atas. Uraian dalam artikel ini pun sebenarnya hanya ditujukan untuk menjawab pertanyaan di atas, yaitu "mengapa negara tidak mencetak uang..."

      Jika kita ingin membahas persoalan dan rumitnya topik ini seutuhnya, dibutuhkan artikel yang sangat panjang, sehingga dapat menguraikan dan menjelaskan hal-hal terkait dengan lebih detail. Saya sudah mempersiapkan artikel semacam itu, cuma sampai saat ini belum selesai.

      Hapus
  68. semoga indonesia menerapkan sistem keungan seperti di negara arab

    BalasHapus
  69. Teman-teman, saya sudah menulis topik ini lebih luas, yang menjelaskan beberapa hal yang kalian tanyakan di kolom komentar ini. Untuk membaca tulisan tersebut, silakan lihat di sini: https://hoedamanis.blogspot.co.id/2016/12/urusan-paling-gila-di-dunia.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa yg mungkin terjadi bila suatu negara bisa membayar semua utang pokoknya? Berarti uang yg beredar di masyarakat hilang ya? Trs kalo uang yg beredar sdh hilang, bagaimana bisa membayar bunganya? Apakah hrs berutang lg utk membayar bunga? Saya kok bingung

      Hapus
  70. Apa yang terjadi bila suatu negara bisa membayar semua utang pokok? Apakah peredaran uang kertas di masyarakat menjadi hilang? Trs bagaimana dgn bunganya, kalo uang kertas sdh tdk beredar lg, apakah hrs hutang lagi? Saya bingung nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan baca ini dengan cermat: https://hoedamanis.blogspot.co.id/2016/12/urusan-paling-gila-di-dunia.html

      Hapus
    2. intinya... lebih baik kembali kezaman nabi. muhammad, dengan jual beli menggunakan berat emas, maka tidak ad penipuan ekonomi, karna cara penghitungan emas itu sama di seluruh negara, entah indo / negara lainnya.
      dari emas ini juga kita tau kekayaan alam kita,
      tpi lw uang kertas, kita tidak tau, karna nominal uang indo yg mengendalikan bukan indo sendiri, tpi ad keterlibatan dengan negara lain. ( anggap saja kita belum merdeka )

      Hapus
    3. intinya... lebih baik kembali kezaman nabi. muhammad, dengan jual beli menggunakan berat emas, maka tidak ad penipuan ekonomi, karna cara penghitungan emas itu sama di seluruh negara, entah indo / negara lainnya.
      dari emas ini juga kita tau kekayaan alam kita,
      tpi lw uang kertas, kita tidak tau, karna nominal uang indo yg mengendalikan bukan indo sendiri, tpi ad keterlibatan dengan negara lain. ( anggap saja kita belum merdeka )

      baru lw nilai uang kertas disama ratakan di seluruh dunia, seperti halnya emas, baru itu jelas, kita gk bakalan krisis. dan utang indo pun bs di nilai secara logis.

      Hapus
    4. intinya... lebih baik kembali kezaman nabi. muhammad, dengan jual beli menggunakan berat emas, maka tidak ad penipuan ekonomi, karna cara penghitungan emas itu sama di seluruh negara, entah indo / negara lainnya.
      dari emas ini juga kita tau kekayaan alam kita,
      tpi lw uang kertas, kita tidak tau, karna nominal uang indo yg mengendalikan bukan indo sendiri, tpi ad keterlibatan dengan negara lain. ( anggap saja kita belum merdeka )

      baru lw nilai uang kertas disama ratakan di seluruh dunia, seperti halnya emas, baru itu jelas, kita gk bakalan krisis. dan utang indo pun bs di nilai secara logis.

      Hapus
  71. Maaf numpang komen
    dari pada dijelaskan panjang lebar
    dan jarang ada yg ngerti
    pergi aja ke youtube
    tulis di search engine
    "Mike Maloney Hidden Secret Of Money Episode 4"
    selamat menonton

    BalasHapus
  72. intinya... lebih baik kembali kezaman nabi. muhammad, dengan jual beli menggunakan berat emas, maka tidak ad penipuan ekonomi, karna cara penghitungan emas itu sama di seluruh negara, entah indo / negara lainnya.
    dari emas ini juga kita tau kekayaan alam kita,
    tpi lw uang kertas, kita tidak tau, karna nominal uang indo yg mengendalikan bukan indo sendiri, tpi ad keterlibatan dengan negara lain. ( anggap saja kita belum merdeka )

    BalasHapus
  73. Kenapa tidak dicetak aja yang banyak tukar ke mata uang asing beli tanah di luar, kirim orang wni yg sudah nikah diluar atau sudah berasimilasi disana beli seluas2nya dan akhirny sekalipun jumlah peredaran uang berlebih toh untuk beli tanah di luar negeri dan itu punya Indonesia,lebih keren lagi tanah yang dibeli ada emas hitamny juga... adakah yang terpikir seperti ini ikuti langkah pak harto..

    BalasHapus
  74. Sebenernya yg jadi masalah utama nya hutang yg ada bunga nya. Sementara uang untuk bayar hutang ny tidak pernah di cetak atau ada wujudnya..
    Jadi minus terus sampai kiamat, walaupun ada ahli ekonom sejagat dunia pun gak akan ada yg sanggup bayar utang negara.. Pasti akan terus bertambah..
    Tahun ini sanggup bayar bunga nya dulu, tahun depan ada kejadian luar biasa bikin sulit ekonomi pinjem lagi ke world bank, nambah lagi bunga ny.
    Emang hal yg mengerikan kalo ngomongin uang, utang dan kawan" ny.
    Dan masih bingung sampe sekarang awal lahirnya inflasi, padahal jaman dulu kayanya gk pernah ada inflasi. Jaman nya masih pake alat tukar emas.
    Tapi ya repot juga sih bawa 1 milyar dalam bentuk koin emas.
    Bisa laku keras yang jualan truk fuso.
    Yg jadi masalah utama nya tetap di sistem menurut ane, terlalu cacat. Walaupun secara fungsi emang manfaat banget.
    Ibarat nya kita sedang menggunakan produk kecantikan yang tadi nya bahan pembuat produk nya bahan berkualitas membuat pengguna cantik, tapi gara" kenakalan produsen ada yang masukin merkuri ke produknya. Dan kita masih terbuay dengan produk kecantikan tersebut tanpa tau efek merkuri tsb selama" beberapa tahun kemudian sampa mati.

    BalasHapus
  75. Owh iya sebelum nya ane bisa nemu blog ini, dari browsing peraturan yang mewajibkan bank bayar pajak. Tapi sampai saat ini belum nemu tuh artikel yang menyatakan perusahaan perbankan bayar pajak.
    Sementara kita tau sendiri perusahaan yang lain kena wajib pajak.
    Bahkan dapet hadiah pun tanpa ampun langsung potong pajak 10%.
    Padahal tujuan lahirnya pajak kan buat ngurangin duit yg kaya, buat bantu yang miskin.
    Jelas nyatanya kalo perbankan kaya semuanya.

    BalasHapus
  76. Jika anda sebagai pengusaha importir, bagaimana cara mengatasi lonjakan kurs tukar nilai mata uang yang tinggi untuk membayar import barang.? Strategi apakah yang anda gunakan?

    BalasHapus
  77. Jika anda sebagai pengusaha importir, bagaimana cara mengatasi lonjakan kurs tukar nilai mata uang yang tinggi untuk membayar import barang.? Strategi apakah yang anda gunakan?

    BalasHapus
  78. Terimaksih min, meski gak utuh dapat saya fahami, tapi intinya saya tau dan pertanyaan yg selama ini selalu ada dibenak saya sudah terjawab.

    BalasHapus
  79. Terimaksih min, meski gak utuh dapat saya fahami, tapi intinya saya tau dan pertanyaan yg selama ini selalu ada dibenak saya sudah terjawab.

    BalasHapus
  80. Klo gitu harusnya setiap negara punya hak untuk mencetak dollar. Atau harusnya dunia ini hanya mencetak satu macam uang shg nilai tukarnya bs sama terhadap uang negara lain. Contohnya eropa dg euronya.

    BalasHapus
  81. Yg jelas di dalam pemerintah kita gk sehat , kita punya sumber daya alam, ketika kita cetak uang sebanyak2 nya, kebutuhan utk masyarakat jgn ada yg import ... Jelas2 Indonesia itu bodoh atau di bodoh2i

    BalasHapus
  82. Indonesia di bodohi , kita punya sumber daya alam yg bnyk, klw memang bisa cetak uang sebanyak2 nya kita produksi barang sendiri , jgn import , kalau alasannya barang di Indonesia gk logis . Yg jelas Indonesia antara bodoh atau di bodoh2i

    BalasHapus
  83. Saya mau ikut tanya boleh y.1 Apakah ada dalam UUD ttg pencetakan uang gk? 2. Siapa yg tahu atau mengontrol pencetakan uang tsb shg seandainya dicetak banyak maka; 1. Kita/masyarakat pun tidak tahu setelah uang dicetak dgn jumlah berapa?trus di kemana? 2.jika tdk ada sanksi atau pelanggaran ttg pencetakan uang dgn jumlah banyak, shg pemerintah bisa mengatur dlm pembelajakan brang2 utk pembangunan negara atau pembayaran utang setidaknya lunas shg tdk melibatkan masyarakat utk pembayaran utg negara. Artinya negara berutang utk pembangunan infrastruktur setelah selesai menunggu hasil dan pajak dari masyarakat baru di bayar utang jadi kan pajak dari masyarakat kan. Dlam proses menunggu infrastruktur selsai blm tentu lgsg utang dilunasi Krn menunggu hasil dari infrastruktur/pembangunan itu. sementara utang semakin tinggi Krn oleh bunga. Shg yg nanggung masyarakat sendiri.
    Jadi, ini mencari solusi bkn tujuan ambil jalan pintas tpi perlu smart jg shg rakyat terutama rakyat kecil bsa bebas dari pajak yg tinggi. Dan satu lagi apabila negara bebas atau minim dari utang pasti rakyat sejahtera jika pemerintah fokus dan mau punya tujuan melawan kelemahan kemiskinan. Tolong di jawab

    BalasHapus
  84. Cetak banyak buat lunasin utang dlu Napa? Biar masyarakat di pedulikan dan diurus jika tdk ada utang

    BalasHapus

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item