Kota-Kota Indah dan Bersejarah yang Kini Lenyap

Kota-Kota Indah dan Bersejarah yang Kini Lenyap
Djémila, Aljazair/romeartlover.com
Di sepanjang sejarah, ada kota-kota yang pernah berdiri megah, lalu lenyap dengan berbagai alasan, untuk kemudian dibangun kembali.

Aude de Tocqueville, penulis Prancis yang menulis buku Atlas of Lost Cities: A Travel Guide to Abandoned and Forsaken Destinations, menyatakan bahwa kota tak jauh beda dengan makhluk hidup, yang lahir, bertumbuh melewati sejumlah siklus, sampai kemudian mati, dan—kadang-kadang—dihidupkan lagi.

Meski begitu, tidak semua kota melewati siklus yang sama. Ada pula kota-kota yang lenyap, dan tak pernah kembali—tidak dihidupkan lagi—dan hanya meninggalkan kisah keindahan serta kebesaran sejarahnya di masa lalu. Berbeda dengan Pompeii atau Angkor Wat, kota-kota berikut ini juga lenyap, namun jarang diketahui.

Tikal, Guatemala

Di masa kini, Kota Tikal hanya berwujud kumpulan puing yang tertutup oleh tumbuhan merambat. Tetapi di masa lalu, Tikal pernah berjaya sebagai jantung peradaban Maya (250-900 M). Kota ini dihuni setidaknya oleh 500 orang, dihiasi dua piramida saling berhadapan. Piramida tersebut masih ada sampai saat ini.

Sejumlah arkeolog menduga bahwa dua piramida itu dulu digunakan para pemimpin Maya untuk berkomunikasi. Dugaan itu sepertinya benar, mengingat salah satu terjemahan untuk kata “Tikal” adalah “tempat suara-suara”.

Tikal pernah menjadi tempat yang makmur, tapi kemudian ditinggalkan para penghuninya pada abad ke-10. Diperkirakan, tempat itu ditinggalkan secara tergesa-gesa, karena adanya masalah alam semisal kekeringan atau masalah lain, yang menghabiskan sumber daya di tempat tersebut. Kini, Tikal sangat sepi tanpa penghuni.

Centralia, Amerika Serikat

Centralia adalah kota yang terletak di jantung negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Di kota itu terdapat sumber api yang telah menyala selama 50 tahun, dan sampai sekarang belum padam.

Di masa lalu, Centralia adalah kawasan pertambangan, dengan penduduk yang padat. Rata-rata penduduk di sana bekerja sebagai penambang batubara. Suatu hari, menjelang Memorial Day tahun 1962, sejumlah pegawai pemerintah kota setempat membakar setumpuk sampah di dekat tempat pemakaman kota.

Tak disangka, api yang membakar sampah itu kemudian menjalar ke sejumlah tambang batubara, yang terhubung hingga ke bawah tanah wilayah kota.

Semula, keberadaan api yang menjalar itu tidak terlalu dihiraukan, meski menimbulkan beberapa gangguan seperti semburan asap karbon monoksida melalui sejumlah rekahan tanah.

Peristiwa semacam itu terus terjadi selama beberapa bulan, tapi warga Centralia masih tetap tinggal di sana, dan masih menganggap itu bukan masalah besar. Sementara itu, api yang menyala di sana tidak juga padam, meski juga tidak merembet ke mana-mana.

Sekitar 20 tahun kemudian, seorang anak lelaki di sana terjeblos ke dalam tanah, dan nyaris terbakar api yang menyala-nyala di bawahnya. Peristiwa itu menyadarkan warga dan pemerintah kota bahwa rupanya api yang sangat besar tengah menyala di bawah tanah mereka.

Peristiwa itu pula yang akhirnya mendorong pemerintah untuk mengambil keputusan mengungsikan seluruh warga dari sana. Pada tahun 2002, kode pos kota Centralia pun secara resmi dihapus.

Sampai saat ini, kobaran api di Centralia masih terus menyala, dan diperkirakan akan tetap menyala sampai 200 tahun mendatang. Itu waktu yang diperlukan untuk membakar semua batubara yang terkandung di dalam tambang-tambang bawah tanah di sana.

Djémila, Aljazair

Sebelumnya, kota ini bernama Cuicul, dan didirikan pada tahun 96 Masehi. Sejak berdiri, kota itu pernah ada dalam kekuasaan Romawi, Kristen, Vandal, hingga Bizantium. Cuicul terletak di dataran sempit yang terkurung ngara-ngarai, dan menunjukkan bagaimana bangsa Romawi membangun kota dengan menyesuaikan kawasan pegunungan.

Kota itu kemudian diabaikan serta tidak dihuni selama berabad-abad, dan penyebabnya masih misterius.

Meski begitu, patung-patung yang rusak di sana, serta bukti-bukti keberadaan api besar yang pernah menyala, serta hilangnya logam mulia yang semula berada di sana, menimbulkan dugaan kalau kota itu ditinggalkan akibat penjarahan atau penyerbuan bangsa lain.

Meski telah ditinggalkan penghuninya, arsitektur kota itu masih berdiri, dan menunjukkan keindahannya. Pada abad ke-7, kaum Muslim menemukan kota tersebut, dan mengganti namanya menjadi Djémila. Mereka tidak mengubah apa pun di sana, dan membiarkan kota itu sebagaimana sebelumnya, sebagai upaya untuk menghormati kota tersebut.

Albert Camus, dalam salah satu tulisannya, pernah menulis tentang kota ini, dan dia mengilustrasikannya sebagai, “jerit tangis dari kesedihan dan kekelaman bebatuan di pegunungan, langit, dan kesunyian.” Sedangkan penghuni kota yang menghilang, menurut Albert Camus, “hanyalah angin, yang terus menerus menerjang reruntuhan rumah dan gelanggang, yang membentang hingga ke gapura di kuil.”

Prora, Jerman

Prora adalah kawasan yang diisi bangunan-bangunan yang berderet membentang di sepanjang Pantai Rügen, sebuah pulau milik Jerman di lautan Baltik. Semula, tempat itu akan dinamai “Colossus of Prora”, yang akan menjadi tempat berlibur bagi para pejabat Jerman anak buah Adolf Hitler.

Kalau saja perang dunia tidak terjadi, saat ini Prora mungkin telah menjadi tempat memukau yang menarik banyak wisatawan ke sana.

Dalam rencana yang dulu disusun, Prora akan berisi apartemen-apartemen, sejumlah kolam renang, hingga restoran. Di sana juga akan terdapat sejumlah pengeras suara yang akan digunakan untuk menyebarkan propaganda kepada para penghuni.

Menjelang Perang Dunia II, proyek pembangunan Prora masih berlangsung. Tetapi, ketika perang akhirnya pecah, kawasan itu dijadikan rumah sakit militer, pada 1944. Setelah Jerman kalah dalam perang, kota yang diimpikan indah itu pun ditinggalkan dan diabaikan.

Kini, di sana yang tertinggal hanya reruntuhan menyedihkan, dengan balok-balok beton berlubang yang semula direncanakan sebagai rangka jendela, dikelilingi semak belukar yang tak pernah dipangkas.

Ada sejumlah rencana untuk membangun Prora kembali, sebagai sebuah resor pantai, tapi masa silam sejarah menghantui kota tersebut. Bagaimana pun, bayang-bayang Nazi dan Hitler sulit dilepaskan, termasuk dengan tinggalannya.

He Cheng dan Shi Cheng, Cina

He Cheng dan Shi Cheng adalah kota-kota di Cina yang terendam dalam air. Kisahnya dimulai pada 1959, ketika pemerintah di masa itu berencana membangun PLTA di tepi Sungai Xin’an.

Untuk mendapatkan air sebagai pasokan energi, mereka membutuhkan tempat penampung. Maka dibuatlah danau buatan bernama Danau Qiandao, yang terletak di kaki gunung Wu Shi.

Kebetulan, di sana ada dua kota tua, yaitu He Cheng dan Shi Cheng. Dua kota kuno itu dibangun pada masa Dinasti Han dan Dinasti Tang. Karena danau akan dibangun di sana, dengan terpaksa dua kota megah itu—beserta sejumlah desa modern yang ada di sana—harus ikut terendam air. Sekitar 300.000 warga yang tinggal di sana pun lalu diungsikan.

Empat puluh tahun kemudian, pada 2001, sekelompok penyelam berkelana ke dasar air di Danau Qiandao. Saat menyelam ke dalam air yang jernih, mereka seolah menemukan Atlantis yang hilang. Ternyata dua kota kuno yang dulu ditenggelamkan—He Cheng dan Shi Cheng—masih utuh dan terawetkan di bawah air.

Secara khusus, Shi Cheng masih dalam kondisi baik, dengan patung-patung dan ukiran-ukiran hewan serta bunga. Sekarang, tempat itu menjadi salah satu tempat menyelam yang terkenal di dunia. Pemerintah pun berupaya mencari cara untuk melestarikan keindahan yang telah terbenam air tersebut.

Mandu, India

Mandu adalah kota kuno terbesar di India, yang terletak di sisi pegunungan Vindhya. Lokasinya terlalu terpencil, sehingga orang asing atau wisatawan jarang mengenali tempat ini. Meski begitu, bagi warga India, reruntuhan Mandu terkenal sebagai tempat yang meninggalkan kisah indah.

Di masa lalu, seorang pangeran Muslim bernama Baz Bahadur saling jatuh cinta dengan Rupmati, seorang wanita Hindu yang menjadi gembala. Mereka saling mencintai, dan sang pangeran membangun kota beserta istana megah bagi kekasihnya. Kota serta istana yang disebut Mandu itu menghadap ke lembah tempat sang pangeran dilahirkan.

Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sultan Akbar dar Moghul menyerbu Kota Mandu, dan menduduki istana, dan sang pangeran melarikan diri. Sementara Rupmati, yang tertinggal di sana, meracuni diri supaya tidak ditawan oleh para penyerbu.

Kini, kota beserta istana indah yang ada di sana kosong tak berpenghuni. Namun, bagi warga lokal India, tempat itu sering dijadikan ruang pertemuan anak-anak muda yang sedang saling jatuh cinta.

Hmm... ada yang mau menambahkan?

Related

Sejarah 5922146151009009012

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item