Kasus Kematian 9 Pendaki yang Sangat Misterius

Ilustrasi/history.com
Yuri Yudin tidak pernah menyangka bahwa sakit yang dialaminya justru menyelamatkannya dari kemungkinan mati terbunuh secara mengerikan sekaligus misterius—seperti yang dialami teman-temannya.

Sepuluh anak muda (8 pria dan 2 wanita) merencanakan petualangan selama 2 minggu di Pegunungan Ural, Rusia. Mereka terdiri dari Igor Dyatlov, yang menjadi pemimpin kelompok; Zinaida Kolmogorova, Lyudmila Dubinina, Alexander Kolevatov, Rustem Slobodin, Yuri Krivonischenko, Yuri Doroshenko, Nicolai Thibeaux-Brignolle, Alexander Zolotarev, dan Yuri Yudin.

Di tengah perjalanan, Yuri Yudin mengeluh sakit, dan merasa tidak mampu melanjutkan petualangan. Karenanya, dengan berat hati, ia pun pamit untuk pulang, dan membiarkan 9 sahabatnya untuk meneruskan petualangan tanpa dirinya.  

Belakangan, sembilan teman Yuri Yudin ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Mayat-mayat para pendaki itu tercerai-berai, terpisah dari kemah, sementara kemah yang mereka dirikan ditemukan dalam keadaan rusak.

Beberapa mayat ditemukan hanya memakai pakaian dalam, sedangkan yang lain ditemukan memakai baju milik teman mereka. Dua mayat ditemukan memiliki cedera pada kepala, dua lainnya mengalami cedera pada dada, sementara satu mayat terakhir ditemukan dengan lidah terpotong. 

Yang lebih mengejutkan, otopsi yang dilakukan pada mayat-mayat itu membuktikan bahwa korban-korban yang tewas mengalami kebutaan. Sementara pada baju-baju mereka ditemukan jejak radioaktif. Kulit tubuh mereka berubah menjadi oranye, sementara rambut mereka berubah warna menjadi abu-abu. Mayat-mayat mereka ditemukan di kawasan gunung yang disebut Kholat Shyakl, alias Gunung Kematian.

Kisah selengkapnya

Sepuluh orang itu adalah para mahasiswa yang berteman, dan sama-sama aktif menjadi pendaki gunung. Mereka semua berkuliah di tempat yang sama, yaitu Ural Polytechnical Institute. Pada Januari 1959, mereka berencana mendaki gunung di wilayah Sverdlovsk Oblast di Pegunungan Ural, Rusia.

Tujuan mereka adalah mendaki Gunung Otorten, melalui jalur yang bisa dikategorikan sulit. Tapi mereka adalah pendaki profesional, dan melewati medan yang sulit adalah tantangan yang menyenangkan. Kelompok itu pun tiba dengan kereta di Ivdel, kota terdekat dengan lokasi tujuan, lalu menumpang sebuah truk ke Vizhai, pemukiman terakhir yang terisolir. 

Setelah melewati Vizhai, mereka hanya menemukan hamparan salju tanpa kehidupan di pegunungan beku Ural. Pada 27 Januari 1959, mereka mulai bergerak meninggalkan Vizhai. Namun, pada hari berikutnya, salah satu anggota, yaitu Yuri Yudin, sakit. Merasa tidak mampu meneruskan petualangan, ia memutuskan untuk kembali ke Vizhai. Akhirnya, kelompok itu pun terdiri dari 9 orang, dan melanjutkan perjalanan tanpa teman mereka. 

Layaknya pendaki profesional lain, khususnya di masa itu, mereka melengkapi diri dengan kamera video dan catatan diari, yang merekam aktivitas mereka dari hari ke hari. Belakangan, rekaman video dan diari itu sangat berguna dalam melacak perjalanan mereka, setelah sembilan orang itu ditemukan tewas dalam kondisi misterius.

Pada 31 Januari 1959, sembilan orang itu bersiap memulai pendakian. Dari video dan diari, diketahui kondisi mereka saat itu baik-baik saja. Peralatan mereka juga lengkap, bahkan persediaan makanan mereka lebih dari cukup.

Memasuki 1 Februari 1959, dipimpin oleh Igor Dyatlov, mereka mulai mendaki melalui jalur yang direncanakan semula. Namun tanpa diduga, muncul badai salju, sehingga mereka kehilangan arah, dan justru berjalan menuju Kholat Syakhl, Gunung Kematian. Ketika menyadari tersesat, mereka lalu mendirikan kemah di gunung tersebut. Di tempat inilah nasib mereka berakhir.

Sebelumnya, mereka dan pihak universitas sudah menyepakati bahwa Igor Dyatlov, sang pemimpin rombongan, akan mengirim telegram dari Vizhai, begitu ekspedisi selesai pada 12 Februari 1959. Namun, telegram yang diharapkan tak kunjung tiba, dan hal itu membuat pihak universitas serta keluarga jadi cemas.

Akhirnya, pada 20 Februari 1959, karena tidak juga mendapat kabar dari sembilan pendaki itu, pihak keluarga pun berkoordinasi dengan pihak universitas untuk mengirim tim pencari.

Semula, tim pencari hanya terdiri dari para mahasiswa dan dosen di kampus mereka. Namun kemudian polisi dan tentara terlibat dalam pencarian itu, dengan menggunakan pesawat dan helikopter pencari. Upaya pencarian itu berhasil. Tapi yang mereka temukan menjadi awal misteri yang sangat membingungkan.

Pada 26 Januari 1959, tim pencari tiba di Kholat Syakhl, dan menemukan tenda kosong dalam kondisi rusak parah. Dari arah tenda, mereka melihat jejak-jejak kaki menuju ke hutan terdekat. Di hutan tersebut, tim pencari menemukan sisa-sisa api dan dua mayat pertama, yaitu Yuri Krivonischenko dan Yuri Doroshenko. 

Dua mayat itu ditemukan dalam kondisi hanya mengenakan celana dalam, dan tanpa sepatu. Dari pemeriksaan singkat, mereka menemukan bahwa tampaknya dua orang itu telah berupaya menyelamatkan diri dengan memanjat pohon di dekat mereka, hingga kulit di jari-jari mereka mengelupas. Tapi menyelamatkan diri dari apa? 

Pertanyaan itu belum terjawab, ketika tim pencari menemukan mayat-mayat lainnya, yaitu Igor Dyatlov (pemimpin tim), Zinaida Kolmogorova (salah satu anggota perempuan), dan Rustem Slobodin, dalam jarak terpisah antara 300, 480, dan 630 meter, dari tempat mayat kedua teman mereka sebelumnya ditemukan. 

Tiga orang yang ditemukan telah menjadi mayat itu tampaknya mati satu per satu, dan belakangan diketahui mereka dalam keadaan buta. Salah satu di antara mereka ditemukan dengan kondisi tengkorak retak, namun diduga penyebab kematian adalah hipotermia. Sekarang telah ditemukan 5 mayat dengan kondisi misterius, sementara 4 lainnya masih hilang. 

Tim pencari masih terus melanjutkan pencarian, untuk menemukan empat orang yang lain, dan pencarian atas empat orang itu membutuhkan waktu hingga dua bulan. Pada 4 Mei 1959, pencarian mereka menemukan empat orang yang hilang tersebut—semuanya telah mati dan terkubur sedalam 4 meter di bawah salju.

Mayat Nicolai Thibeaux-Brignolle ditemukan dengan kondisi kepala hampir pecah. Alexander Kolevatov dan Alexander Zolotarev ditemukan dengan luka parah di dada dan rusuk patah. Sementara Lyudmilla Dubunina ditemukan tewas dengan lidah terpotong. 

Kematian sembilan orang dengan kondisi aneh itu menimbulkan desas-desus, bahwa bisa jadi mereka dibunuh oleh suku pribumi Mansi (suku yang menetap di kawasan itu), karena dianggap melanggar wilayah mereka. Namun desas-desus itu ditepiskan, lantaran tidak ada temuan bekas perkelahian atau kekerasan apa pun. Lebih dari itu, tidak ada jejak kaki orang lain yang ditemukan di sana, selain jejak-jejak kaki sembilan orang yang tewas tersebut.

Para penyelidik juga menemukan bukti bahwa sembilan orang itu telah meninggalkan kemah pada tengah malam, karena kemah tampaknya dibuka dari dalam (tidak ada bukti “sesuatu” yang memaksa masuk). Bahkan ada bukti bahwa beberapa pendaki keluar dengan bertelanjang kaki. Padahal suhu pada malam itu sangat rendah (minus 25-30 derajat Celcius) dan saat itu ada badai tengah berkecamuk. 

Apa yang menyebabkan mereka begitu panik, sampai keluar tenda di tengah badai salju? Apa yang mereka lihat atau dengar saat itu? Lalu mengapa dua tubuh ditemukan tanpa baju, sedangkan beberapa tubuh lainnya ditemukan “bertukar pakaian” dengan teman-teman mereka yang lain? 

Berbeda dengan mayat-mayat yang meninggal karena kedinginan dan hipotermia, empat korban yang ditemukan terkubur dalam salju diperkirakan tewas karena luka-luka pada tubuh mereka. Seorang dokter forensik, yang memeriksa tubuh mereka, mengatakan bahwa luka-luka itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia, karena kekuatan yang diperlukan untuk menimbulkan luka tersebut harus sangat besar. 

Kondisi mayat mereka mirip dengan kondisi seseorang yang ditabrak mobil. Tapi di tengah gunung bersalju, benda apa yang mungkin menabrak mereka hingga mengakibatkan luka seperti itu? Ada yang berpendapat hal tersebut disebabkan longsoran salju. Namun di sekitar lokasi itu tidak ditemukan bekas adanya longsor. Lalu mengapa mayat salah satu wanita dalam tim itu ditemukan tanpa lidah? 

Otopsi yang dilakukan menemukan dosis radioaktif yang sangat tinggi pada pakaian dan tubuh korban. Yang aneh, kulit para korban berubah menjadi kecokelatan (bahkan oranye), sementara rambut mereka berubah warna abu-abu. 

Penelitian selanjutnya membuktikan bahwa di Kholat Syakhl ditemukan jejak radioaktif yang mungkin bisa menjelaskan radiasi pada tubuh dan pakaian korban. Namun tak pernah ditemukan apa penyebab radiasi di gunung itu. 

Secara tak terduga, muncul kesaksian dari tim pendaki lain, yang saat itu berada 50 km arah selatan dari lokasi insiden tersebut. Orang-orang dari tim pendaki lain itu menyatakan bahwa pada malam terjadinya insiden, mereka melihat cahaya oranye yang aneh di langit, tepat dari arah Kholat Syakhl. 

Penuturan itu dibenarkan para warga Ivdel (kota terdekat dari lokasi itu), yang menyebutkan cahaya oranye itu terus muncul sejak Februari hingga Maret 1959. Lebih aneh lagi, di sekitar lokasi itu juga ditemukan potongan-potongan besi yang mengisyaratkan pernah ada aktivitas tertentu di tempat tepencil tersebut. 

Bisa jadi, beberapa orang yang tewas itu keluar dari tenda di malam kejadian, karena menyaksikan “cahaya oranye” yang muncul di langit. Kemungkinan itu bisa menjelaskan kenapa mereka sampai keluar dari kemah, meski cuaca malam itu sangat dingin. Tapi, apa cahaya oranye yang mereka lihat itu? Dan bagaimana dengan potongan-potongan besi yang belakangan ditemukan di sana? Dari mana pula munculnya jejak radioaktif di tempat itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak pernah terjawab. Yang jelas, insiden itu kemudian dikenal dengan nama Insiden Dyatlov Pass—merujuk pada nama pemimpin grup pendaki yang tewas. Belakangan, penyelidikan terhadap kasus ini dihentikan, bahkan cenderung ditutup-tutupi oleh pemerintah komunis yang berkuasa saat itu. 

Pada tahun 1967, seorang jurnalis bernama Yuri Yarovoi menerbitkan buku berjudul Of The Highest Rank Of Complexity, yang menceritakan insiden Dyatlov Pass. Tapi buku itu disensor oleh pemerintah, dan dilarang terbit. Pada 1980, Yuri Yarovoi meninggal dunia, dan segera setelah itu semua foto serta tulisannya mengenai insiden itu tiba-tiba hilang.

Kholat Syakhl, lokasi tempat ditemukannya mayat-mayat itu, sejak lama memang memiliki reputasi mengerikan. Di tempat yang disebut Gunung Kematian itu, sembilan penduduk suku Mansi pernah menghilang secara misterius. Tahun 1991, lokasi itu kembali meminta korban jiwa, ketika sebuah pesawat jatuh dan menewaskan sembilan orang. 

Jadi, sembilan orang dari suku setempat pernah menghilang secara misterius. Sembilan penumpang pesawat pernah terbunuh di sana. Kemudian sembilan mahasiswa ditemukan tewas di tempat yang sama. Apakah jumlah korban yang selalu sembilan orang itu hanya kebetulan... ataukah ada artinya?

Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu, sama seperti tak ada yang bisa menjawab apa yang sebenarnya terjadi di sana, dan apa yang menyebabkan sembilan orang itu tewas dalam kondisi misterius. 

Related

Misteri 6569173198808476653

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak dibaca

item