Menanam Cabai di Belakang Rumah

Ilustrasi/kompas.com
Dua hari sebelum Ramadan, saya datang ke rumah Husni, setelah janjian terlebih dulu, untuk membahas sesuatu. Ketika mengetuk pintu rumahnya, istri Husni yang membukakan. Dia berkata, “Mas Husni lagi di belakang. Langsung ke sana aja.”

Saya pun menuju belakang rumah, melalui lorong di samping. Di belakang rumah Husni memang ada tanah kosong, dan kami kadang nyangkruk di sana, karena suasananya adem. Di belakang rumah, siang itu, saya mendapati Husni lagi asyik dengan beberapa pot tanaman. Sepertinya dia lagi menanam sesuatu.

“Nanam apa, Hus?” sapa saya.

“Nanam cabai,” jawab Husni. “Tempo hari istri bilang, harga cabai naik. Terus aku iseng nanam cabai sendiri, ternyata berhasil.”

Saya memperhatikan, ada pot-pot kecil, ada pula pot besar. Husni tampak memindahkan benih cabai—yang ukurannya sekitar 5-10 centimeter—dari pot kecil ke pot-pot yang lebih besar, satu per satu. Setelah selesai, ia semprotkan air tipis-tipis ke benih-benih itu.

Dengan tertarik, saya berkata, “Kayaknya kamu berbakat jadi petani cabai.”

Husni tertawa. “Aku belajar lewat internet. Waktu pertama punya ide nanam cabai, aku nggak ngerti gimana caranya. Terus aku googling, dan nemu caranya. Aku ikuti aja, ternyata beneran berhasil.”

Jadi, menurut Husni, cara menanam cabai adalah, pertama, memilih biji cabai dari cabai berkualitas, dalam arti cabai yang masih segar dan tidak layu. Sayat cabai di bagian tengah, lalu ambil biji-bijinya yang di bagian tengah cabai. Taburkan biji-biji cabai itu di media tanam (Husni pakai pot kecil), dan tutupkan tanah tipis-tipis hingga semua biji tertutup tanah. Sekitar 3 sampai 5 hari kemudian, tunas akan muncul. Tunggu sampai tunas setinggi 5 sampai 10 centimeter, lalu pindahkan satu per satu ke media tanam yang diinginkan (Husni memakai pot-pot lebih besar).

“Mudah,” kata Husni setelah menjelaskan uiraian tadi. “Yang sulit sebenarnya bukan cara menanamnya, tapi menunggunya tumbuh.”

“Maksudnya?” saya bertanya.

“Kalau sekadar menanam, kayaknya mudah, kan? Tinggal tabur aja biji-biji cabai ke pot, lalu tunggu sampai bertunas. Setelah itu pindahkan satu per satu tunas atau benihnya ke pot lain agar tumbuh mandiri. Nah, yang nggak mudah, waktu nunggu tunas-tunas itu tumbuh dan berbuah. Aku kadang sampai melolotin tanaman-tanaman kecil ini, berharap mereka tumbuh lebih cepat agar bisa segera dipanen.”

“Emang berapa lama baru bisa dipanen?”

“Sekitar tiga bulan,” jawab Husni. “Ini cabai rawit, ya. Aku nggak ngerti kalau cabai lain, karena belum pernah nyoba. Karena istri cuma butuh cabai rawit, sementara ini aku cuma nanam cabai rawit.”

“Tiga bulan, ya,” saya mengangguk-angguk.

“Lama nggak, tuh?” 

“Lumayan, sih.”

“Lumayan lama,” ujar Husni, “dan kalau kamu menanamnya sendiri, kamu akan ngerasa tiga bulan itu sangat lama. Dulu, pertama kali nanam cabai, aku sampai nengokin setiap saat, melihat apakah udah tumbuh lebih tinggi. Tapi ya namanya tanaman, proses tumbuhnya juga alami. Nggak bisa ujug-ujug kita tanam sekarang terus besok udah tumbuh semeter.”

Selama menunggu tanaman cabai itu tumbuh, menurut Husni, dia harus rutin menyirami, juga memupuk. Mula-mula, tunas cabai tumbuh sangat lambat. Tetapi, perlahan namun pasti, tunas itu terus bertumbuh, hingga, di satu titik tertentu, pertumbuhannya makin cepat. Memasuki waktu satu bulan, tunas sudah—meminjam istilah Husni—“berbentuk jelas sebagai tanaman”. Saat usia dua bulan, tanaman mulai tumbuh membesar. Dan memasuki usia tiga bulan, tananam mulai menumbuhkan cabai-cabai yang ranum.

“Aku girang sekali waktu pertama kali melihat itu,” cerita Husni. “Rasanya kayak sukses banget, bisa menanam cabai dari biji sampai akhirnya jadi tanaman yang menghasilkan banyak cabai.”

Tetapi, kata Husni, menunggu proses tumbuhnya itu sangat berat.

“Tanaman cabai ini mengajariku hal penting,” ujar Husni, “bahwa segala hal harus melewati proses yang kadang nggak sebentar. Dari biji berubah jadi tunas, lalu mulai tumbuh perlahan-lahan. Bagaimana pun, aku harus nerima proses itu. Kalau misal aku nggak sabar, terus menarik paksa tunas-tunas itu agar tumbuh lebih cepat, mereka malah nggak tumbuh, dan mati. Mau nggak mau, aku harus nerima kenyataan bahwa biji butuh waktu untuk menumbuhkan tunas, dan tunas butuh proses untuk jadi tanaman yang menghasilkan buah.”

Saya manggut-manggut dan setuju mendengar penjelasan itu. Lalu bertanya, “Omong-omong, kamu udah panen berapa kali?”

“Baru satu kali,” jawab Husni. “Waktu panen pertama, hasilnya masih sedikit. Terus aku banyakin nanam biji, biar nanti hasil panen lebih banyak.”

Saya tersenyum. “Lama-lama, kamu bisa jadi pengusaha cabai, Hus.”

“Hahaha, semoga aja kejadian. Nggak nolak, lah, jadi pengusaha cabai.” Setelah itu, Husni berkata, “Sekarang aku mulai ngerti kenapa sesuatu yang kecil butuh waktu lama untuk mulai besar. Tapi setelah besar, biasanya lebih cepat untuk membesar lagi. Karena itu proses alami. Dari biji menjadi tunas, lalu mulai tumbuh perlahan, itu benar-benar lama sekali, dan butuh kesabaran. Tapi setelah tumbuh dan membesar, pertumbuhannya jadi lebih cepat.”

Saat mendengar itu, saya menyadari, proses yang dikatakan Husni bukan hanya relevan untuk tanaman cabai, tapi juga untuk banyak hal lain dalam kehidupan. Karena nyatanya semua butuh proses, yang kadang tidak sebentar. Dan, kalau kita tidak mau melewati proses itu, hasilnya bukan terus tumbuh tapi justru mati. Karena alam punya aturan yang harus dipatuhi.

Related

Hoeda's Note 523512742212364990

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item