Apa yang Disebut Post-truth?

Ilustrasi/kompas.com
Post-truth adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu situasi ketika fakta-fakta objektif jadi kurang penting dalam membentuk opini publik daripada emosi, keyakinan pribadi, dan narasi yang subjektif. Istilah ini mulai populer pada tahun 2016 dan sering dikaitkan dengan perkembangan media sosial dan politik kontemporer.

Dalam era post-truth, fakta-fakta tidak lagi menjadi landasan kokoh dalam pembentukan opini publik atau pengambilan keputusan. Sebaliknya, pandangan individu seringkali didasarkan pada preferensi, keyakinan, dan pengalaman pribadi, yang dapat mengabaikan fakta-fakta yang tidak sesuai dengan narasi atau pandangan mereka. Dalam banyak kasus, emosi dan hasutan dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap fakta, sehingga cenderung memilih narasi yang memperkuat keyakinan mereka sendiri.

Ada beberapa faktor yang berperan dalam munculnya era post-truth. Salah satunya kecenderungan penyebaran informasi yang cepat dan luas melalui platform media sosial. Dalam lingkungan digital yang terhubung, informasi dan berita dapat dengan mudah disebarluaskan tanpa adanya mekanisme verifikasi atau validasi yang memadai. Hal ini memungkinkan munculnya berita palsu, informasi yang salah, atau klaim yang tidak dapat diverifikasi untuk dengan cepat menyebar dan mempengaruhi persepsi publik.

Selain itu, adanya polarisasi politik dan pertentangan ideologis juga memainkan peran penting dalam era post-truth. Dalam suasana politik yang membagi masyarakat, fakta-fakta sering kali disalahgunakan atau diabaikan untuk kepentingan politik atau ideologis. Strategi retorika yang mengandalkan emosi dan narasi sederhana dapat menggantikan diskusi berbasis fakta dan analisis yang mendalam.

Era post-truth juga menghadirkan tantangan bagi jurnalisme dan media tradisional. Kecepatan produksi berita dan tekanan persaingan dapat menyebabkan kualitas dan keakuratan berita jadi terkompromi. Selain itu, keberadaan media alternatif yang memiliki agenda tertentu dapat memperkuat narasi yang bias dan mengabaikan fakta-fakta yang bertentangan dengan pandangan mereka.

Dampak era post-truth dapat berbahaya bagi masyarakat dan demokrasi. Ketika fakta-fakta tidak lagi menjadi dasar yang diakui secara kolektif, terjadi penghancuran kepercayaan dan kredibilitas institusi publik, termasuk lembaga pemerintahan, media, dan ilmu pengetahuan. Perpecahan sosial dan polarisasi dapat meningkat ketika persepsi dan realitas tidak lagi sejalan.

Untuk mengatasi era post-truth, penting untuk mempromosikan literasi media yang kritis dan kuat. Individu perlu dilengkapi keterampilan untuk memilah, menganalisis, dan memverifikasi informasi. Peran media tradisional dan organisasi jurnalisme independen dalam menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya juga sangat penting.

Selain itu, peran pemerintah dan lembaga internasional dalam mengembangkan regulasi yang membatasi penyebaran berita palsu dan menegakkan standar kebenaran harus diperkuat. Kerjasama lintas sektoral antara pemerintah, media, dan lembaga pendidikan juga diperlukan untuk melawan era post-truth.

Hmm... ada yang mau menambahkan?

Related

Istilah Ilmiah 7407214248649970541

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item